
Di kelas Reyhan.
Saat masuk kelas, Reyhan terus tersenyum mengingat tingkah konyol Clara. Dia memang sengaja mengikutinya karena ingin mengingatkan kalau mereka harus belanja pakaian.
Reyhan tertawa saat mengingat Clara merentangkan tangannya sambil mengatakan sesuatu dengan berteriak.
"Lo gak sakit kan Rey, masih waras kan?" Dimas meletakkan telapak tangannya di kening Reyhan yang langsung menepisnya.
"Gue gak sakit dan gue masih waras! Lagian Lo kenapa nanya kayak gitu?" Tanya Reyhan dengan kening berkerut.
"Lo dari tadi senyum senyum sendiri terus tadi ketawa sendiri padahal gak ada yang lucu" Terang Dimas.
"Apa iya?" Reyhan masih tak percaya.
"Swear, kalau Lo gak percaya, tanya tuh sama yang lain" Tunjuk Dimas dengan dagunya.
Reyhan menatap sekelilingnya yang juga menatapnya aneh.
"Emang dari tadi gue senyum senyum sendiri?" Tanya Reyhan.
Mereka mengangguk.
"Ketawa sendiri juga?"
Mereka mengangguk lagi.
"Gue gak nyangka ya kalau kulkas yang isinya cabe rawit ternyata kalau senyum manis juga"
"Iya, apalagi kalau ketawa maniss banget"
"Sayang banget tadi aku gak sempat rekam, jarang lho Reyhan senyum kayak gitu"
"Bisa viral Reyhan di sekolah, judulnya 'Kulkas yang isinya cabe rawit semua keciduk tersenyum dan tertawa sendiri' hahaha"
Semua siswi di kelas Reyhan terus menyambar bagaikan petir yang bersahut sahutan.
"Udah deh jangan lebay, kayak gak pernah lihat orang senyum sama ketawa aja" Cibir Dimas.
Sedangkan Reyhan hanya termenung, dia masih tidak percaya kalau dia tertawa sendiri karena Clara.
'Apa bener yang di bilang sama temen temen tadi? Biasanya aku hanya akan tertawa kalau bersama orang orang terdekatku saja. Tapi ini aku malah tertawa sendiri seperti orang gila, dan itu karena Clara. Apa aku mulai menyukainya? Apalagi jantungku tidak bisa diam saat bersamanya'
...----------------...
Clara berjalan sambil melamun, dia tidak menghiraukan Santi dan Mita yang asik bersenda gurau.
Mengingat kejadian di taman tadi membuat nya terus kepikiran. Dia sampai di tegur karena melamun saat jam pelajaran.
"Ra, Lo kenapa sih? Pas pelajaran tadi, Lo asik melamun, pas ngerjain hukuman, Lo juga diem aja, apa Lo sakit?" Cemas Santi.
"Bener Ra, Lo gak biasanya kayak gini, seharian Lo keliatan gak semangat" Timpal Mita.
Clara tak mendengarkan dan terus berjalan.
Mita dan Santi berhenti. "Aneh tuh anak, gak biasanya dia kek gini" Ucap Santi.
"Bener, dari tadi pagi emang mukanya lesu banget, tapi kalau di ingat ingat, selepas dia dari taman mukanya tambah lesu dan diam terus" Balas Mita.
"Kita harus selidiki San, sekarang waktunya detektif MiSan beraksi!"
"Eh, sejak kapan kita jadi detektif?" Tanya Santi.
"Sejak sekarang, San"
Mita dan Santi menyusul Clara yang sudah berjalan jauh.
*Bruughh*
"Aww!!"
Karena melamun dia sampai tak sadar menabrak orang. Clara mengusap bokongnya karena terjatuh.
"Lo kalau jalan pakai mata!!" Hardik seseorang.
Mata Clara membulat. 'Heehh, baru tadi gue mikirin dia, eh dia malah muncul, kayaknya gue gak boleh mikirin dia deh, soalnya kalau gue pikirin, dia selalu muncul kayak jin'
"Heh!! Di bilangin kok diem, owh atau jangan jangan Lo ngelamunin gue karena belum bisa move-on, hahaha kasian banget Lo, Ra" Wildan tertawa di sambut tertawaan temannya yang lain.
Clara berdiri di bantu Santi yang baru datang, sedangkan Mita langsung menyusul Wildan yang pergi bersama teman temannya.
*Buughhh*
Sebuah tendangan keras mendarat di bokong Wildan, begitu juga dengan teman teman Wildan yang menertawakan Clara. Mereka semua jatuh tersungkur.
"Rasain Lo pada! Berani kalian menertawakan Clara lagi, gue patahin tulang kalian"
Santi menepuk jidatnya melihat kelakuan bar bar sahabatnya itu. Mita tidak berpikir tindakannya bisa menimbulkan perang dunia ke tiga dan membuat mereka semua di hukum pak Rudi lagi.
"Dasar cewek gila!" Hardik Wildan.
"Cukup!"
__ADS_1
Santi berjalan menghampiri Wildan dan Mita yang berseteru.
Santi berbisik pada Mita "Mita, kamu tidak perlu menggunakan kekerasan untuk melawan banci ini, lihat caraku mengatasinya"
Santi berjalan ke arah Wildan sambil melipat tangannya.
"Oh ya Wildan, setahuku kita berjalan menggunakan kaki bukan dengan mata. Atau jangan jangan matamu ada di kaki ya, karena itu kamu tidak bisa melihat kalau yang namanya manusia jalan itu pake kaki. Atau kamu ini spesies hewan baru, yang matanya ada di kaki dan kakinya ada di mata" Santi berkata dengan senyum sinisnya, matanya menatap rendah Wildan.
Wildan yang emosi langsung menampar Santi, tapi belum sempat tangannya menempel di pipi Santi, tangannya sudah di pelintir hingga membuatnya meringis kesakitan.
"Lo lihat, Ta, kalau udah gak bisa di bilangin pakai kata kata maka baru menggunakan kekerasan. Jangan belum Lo kasih pencerahan, udah Lo gaplok aja."
Mita berdecak kagum melihat cara Santi mengatasi masalahnya. Mita langsung memberikan dua jempolnya untuk Santi.
Setelah Santi melepaskan tangannya, Wildan langsung pergi bersama teman temannya, tapi baru beberapa langkah dia sudah di hadang oleh Reyhan.
"Heh Wildan! Gue kasih tau ya, Clara itu ngelamun bukan karena belum move-on dari Lo, tapi dia lagi mikirin gue. Dia lagi mikirin hal hal indah yang gak bisa dia dapatkan dari Lo!. Lo bilang Clara belum bisa move on dari Lo? Heh gendeng! Lo gak ingat kalau Clara ini udah punya pacar dan gue pacarnya!! Jangan jangan bukan mata Lo aja yang pindah ke kaki tapi otak Lo juga! Jadi gitu deh, otaknya rendah ingatannya"
Wildan yang tidak ingin mendengar celotehan mereka memilih pergi. Dia meringis kesakitan sambil memegangi tangannya, sedangkan temannya yang lain memegangi bokongnya akibat tendangan maut Mita.
Reyhan langsung menghampiri Clara. "Ra, Lo gak papa, gak ada yang luka kan?"
"Aku gak papa kak"
"Tapi tangan Lo lecet, Ra!"
"Cuma lecet doang kok kak"
Reyhan langsung menghembus telapak tangan Clara. Setelah di rasanya baik, dia langsung menggenggam tangan Clara.
"Duuh, so sweet banget sih, jadi pengen" Mita langsung memeluk Santi yang berada di sampingnya.
"Dih, lepas Ta, gue masih normal ya"
Mita mencebik dan melepaskan pelukannya.
Clara dan Reyhan langsung menghampiri mereka berdua sambil berpegangan tangan.
"Kyuw kyuw, ekhem, pegangan terus dari tadi kayak mau nyeberang" Goda Mita.
Clara dan Reyhan yang tersadar langsung melepaskan tangan mereka.
"Kenapa di lepas sih? Sah sah aja kan karena kalian emang pacaran" Ucap Mita.
"Bukan muhrim" Jawab keduanya.
"Hm, belum nikah aja udah kompak apalagi kalau nikah beneran. Gue doain kalian sampai ke pelaminan" Ucap Mita yang di balas pelototan Clara.
"Aamiin" Santi langsung mengaminkannya.
"Oh ya, kita gak di kenalin nih?" Tanya Mita pada Clara.
"Hehe, hampir lupa. Kak, kenalin mereka sahabatku, yang itu Mita dan yang itu Santi. Jangan heran kalau sikap mereka kadang aneh, soalnya mereka kurang gizi" Ucap Clara sambil memperkenalkan kedua sahabatnya.
"Sialan Lo Ra, gue sehat wal Afiat dan tidak kekurangan gizi sedikitpun, malah gue makan bisa sampe tiga piring" Ucap Mita.
"Walaupun gue lebih kurus dari kalian tapi gue makan bisa dua piring"
"Eleh, gue yang makan lima piring sehari aja santuy"
"Ra! Kalau sehari ya gue juga banyak makannya!" Ucap Mita kesal.
"Udah, kasian tuh kak Reyhan di cuekin" Ucap Santi mengingat kan mereka.
"Oh iya, sampai lupa hehe" ucap Clara cengengesan.
"Kenalin gue_
"Udah gak perlu, kita udah tau kok nama kakak, kulkas isi cabe rawit. Kita juga tau kalau kakak dan Clara cuma pura pura pacaran, alias pacar bayaran" Ucap Mita.
Reyhan langsung melihat Clara.
Seperti tau apa yang di pikirkan Reyhan Clara langsung menjawab "Kakak gak perlu khawatir, mereka bisa di percaya kok."
Reyhan bernafas lega.
"Oh ya kak, boleh nanya kan? Kakak sama Santi saudara ya?"
Semua mengerutkan kening mendengar pertanyaan Mita.
"Kenapa Lo nanya gitu?" Tanya Santi.
"Karena kalian itu mirip, mulutnya sama sama pedas. Siapa tau kalian itu dulunya saudara yang yang terpisah"
Santi menepuk jidatnya. "Hadeehh, mending kakak pergi sebelum Mita ngomong yang gak wajar lagi"
Reyhan membawa Clara ke motornya dan melajukan nya setelah berpamitan dengan Mita dan Santi.
Reyhan berhenti di mall kota, kemudian mereka melangkah masuk. Clara langsung berdecak kagum melihat betapa besarnya mall itu, apalagi dengan barang barang mewahnya.
Reyhan menggenggam tangan Clara membuat Clara mengkerut kan keningnya. "Biar gak hilang"
__ADS_1
"Cih, emang gue anak kecil apa" gumam Clara.
Reyhan membawa Clara menuju lift "Ayo masuk!"
Clara masuk dengan wajah takut, tentu karena ini baru pertama kalinya dia naik lift.
Tahu Clara sedang ketakutan, Reyhan mengeratkan genggaman tangannya.
"Lo gak perlu takut, lift nya gak bakalan makan Lo kok" Ucap Reyhan.
"Bukan itu kak, aku emang takut dengan ruangan sempit, takut gak bisa nafas" Balas Clara.
"Bilang aja baru pertamakali"
_Ting
Lift berhenti, Reyhan langsung menggandeng Clara keluar.
"Napa Lo?" Tanya Reyhan saat melihat Clara memegangi kepalanya.
"Pusing kak abis naik lift"
"Dasar kampungan"
Reyhan membawanya ke toko pakaian dan memilihkan beberapa dress untuknya.
"Cepat pakai" Ucap Reyhan dengan wajah dinginnya.
Beberapa pengunjung dan pramuniaga menatap kagum ke arah Reyhan yang membuatnya risih.
"Duh, gantengnya"
"Kapan aku punya pacar kayak dia, walau mukanya dingin tapi hatinya sehangat kuah bakso"
"Masnya romantis banget"
Reyhan tak bergeming mendengar celotehan mereka.
Clara langsung masuk ke fitting room, setelah selesai dia menunjukkan nya pada Reyhan sambil memutar tubuhnya.
"Gimana kak, bagus gak?"
Reyhan terpana melihat kecantikan Clara. Gadis itu terlihat anggun dan juga imut.
"Kak!"
Reyhan langsung tersadar dari lamunannya saat mendengar suara Clara.
"Ekhem, b aja" Jawab Reyhan.
"Cih" Clara langsung menyungutkan wajahnya.
"Ini, ini, dan ini, pakailah, jika cocok beritahu aku" Ucap Reyhan memberikan beberapa dress lagi.
"Tapi kak_"
*Wuushh
Clara langsung berlari saat melihat wajah Reyhan yang tak bersahabat lagi.
"Sudah di bilang tidak boleh nolak"
Setelah selesai berbelanja, Reyhan langsung membawa Clara ke food court.
"Makasih ya kak, maaf kalau aku nyusahin kakak, padahal aku bisa kok pake uang yang hari itu. Kakak juga gak seharusnya beliin aku sebanyak ini" Ucap Clara merasa tidak enak. Reyhan membelikannya beberapa dress, high heels, dan produk produk kecantikan.
Bukannya Clara tidak menolak saat di belikan barang barang mahal oleh Reyhan, dia sudah menolaknya beberapakali yang di balas tatapan tajam yang membuat nya ngeri.
"Tidak apa, anggap saja itu bayaran mu. Lagi pula lo jangan kegeeran, ingat, gue ngelakuin ini karena gak mau lo keliatan kayak gembel di depan orang tua gue"
Clara memajukan mulutnya mendengar jawaban Reyhan.
"Oh ya, kalau boleh nanya kenapa tadi pagi Lo jalan ngelamun, pake senyum senyum sendiri kayak orang gila sampai gak sadar ada tiang listrik"
"Oh, itu karena aku lagi chatting sama Devan"
'Devan? Apa nama laki laki itu Devan' Batin Reyhan.
"Lo kenal di mana?" Reyhan bertanya sambil menyuap makanan ke mulutnya.
"Di restoran. Dia juga lho yang nyelamatin aku dari preman"
"Saran nih ya, Lo jangan deket deket dengan yang namanya Devan itu, karena bisa aja dia orang jahat" Saran Reyhan.
"Kakak tenang aja, dia gak jahat kok. Apa kakak jealous ya aku dekat dengan Devan? Hayo ngaku, pake bilang Devan orang jahat lagi" Tuding Clara.
"Jangan geer, gue gak mungkin dan gak akan pernah jealous sama Devan"
"Sekarang aja bilang gak mungkin dan gak akan pernah, tapi kalau udah bucin susah lho kak"
__ADS_1
"Serah"
Setelah selesai dengan makanannya, Reyhan langsung membawa Clara keluar dengan menjinjing belanjaan di kedua tangannya.