Cinta Yang Bertemu Kembali

Cinta Yang Bertemu Kembali
Bab 29


__ADS_3

"Apa Clara belum sadar juga?" Tanya Dimas menghampiri Reyhan yang duduk melamun di taman rumah sakit.


Dimas menghela napas saat Reyhan mengacuhkannya.


"Gue tahu, gue yang salah. Maafin gue, gue ju_"


Belum sempat Dimas menyelesaikan perkataannya, Reyhan yang geram langsung memukulnya.


Bughhh


Dimas menyeka sudut bibirnya yang berdarah.


"Gue tahu Lo marah sama gue, jadi Lo bebas mukulin gue untuk melampiaskan kemarahan Lo"


Reyhan segera menyerangnya, Dimas sama sekali tak melawan, karena dia tahu dia lah yang salah.


Setelah puas memukuli Dimas, Reyhan duduk dengan napas terengah-engah.


Dimas bangkit, tubuhnya terasa remuk setelah Reyhan menghajarnya.


"Gue udah ngurus surat izin sekolah kita dan gue juga udah menghubungi pak Joko untuk menjemput kita besok" Ucap Dimas duduk di samping Reyhan.


Melihat Reyhan tetap mengacuhkannya, Dimas berusaha membujuknya.


"Ayolah Rey, gue beneran minta maaf. Sumpah, gue gak tahu bakalan kek gini. Kalau gue tahu, gue gak bakalan pergi bareng Mira"


"Tapi setidaknya Lo mikir! Gak mungkin Clara dan teman-temannya menang ngelawan cowok! Kalau gue gak datang tepat waktu, gak bisa di bayangkan apa yang akan terjadi dengan Clara" Ucap Reyhan kesal.


"Iya maaf, gue terlalu senang karena bisa membongkar kebusukan sethan jadi gue turuti aja rencana Clara. Gue gak nyangka kalau mereka bakalan kek gini" Ucap Dimas merasa bersalah.


"Kenapa gue gak dilibatkan dalam rencana ini?"


"Kami takut Lo gak bakal ngizinin, jadi kami putuskan menjalankan rencana ini hanya berempat" Ucap Dimas.


"Brengsek!" Maki Reyhan.


Reyhan segera pergi meninggalkan Dimas dan kembali ke ruang rawat Clara.


"Yee, seharusnya Lo terima kasih sama gue, kalau gue gak datang tadi, Lo pasti udah masuk penjara gara-gara membunuh orang." Cibir Dimas.


Reyhan membuka pintu ruangan Clara. Gadis itu masih terpejam. Ia memutuskan untuk menemani Clara, tanpa sadar ia tertidur di samping Clara sambil menggenggam erat tangannya.


...****************...


Pagi sudah tiba. Perlahan Clara membuka matanya. Tenggorokan nya begitu kering. Ia merasakan tangannya hangat, ia menoleh dan melihat Reyhan yang tertidur sambil menggenggam tangannya.


Clara tersenyum, ia begitu haus namun tak tega jika harus membangunkan Reyhan. Clara menunggu sebentar sampai akhirnya dokter memasuki ruangan bersama perawat.


"Syukurlah anda sudah sadar. Bagaimana keadaan mu?" Sapa dokter.


"Baik dok, tapi saya haus"


Dokter mengangguk dan segera mengambilkan minum untuk Clara.


"Apa kau sudah sadar dari tadi?" Tanya dokter.


Clara mengangguk.


"Kenapa kau tak membangunkan kekasihmu dan malah menahan rasa hausmu?" Tanya dokter, kali ini ia hanya iseng bertanya saja.


"Aku tidak tega membangunkannya. Dia pasti sangat lelah" Ucap Clara dengan pipi merona saat dokter mengatakan Reyhan adalah kekasihnya. Walaupun kenyataannya mereka memang sepasang kekasih, tapi hanya sebatas kekasih bayaran.


"Ah, anak muda, aku jadi rindu masa mudaku" Ucap sang dokter tersenyum.


Mendengar suara berisik membuat Reyhan terbangun.


"Kau sudah sadar, Ra!" Ucap Reyhan berbinar.


"Kenapa tak membangunkan aku?" Tanya Reyhan.


"Dia tidak tega membangunkan kekasihnya" Jawab sang dokter membuat Reyhan dan Clara memerah.


Dokter memeriksa keadaan Clara, setelah selesai ia segera memberitahu Reyhan jika keadaan Clara membaik maka siang ini ia bisa pulang.


Reyhan mengangguk.


Tak lama perawat membawa sarapan untuk Clara. Reyhan segera mengambilnya kemudian menyuapi Clara.


"Oh ya! Bagaimana keadaan Mita dan Santi?" Tanya Clara yang baru teringat dengan kedua sahabatnya.


"Mereka baik-baik saja. Hanya saja Santi belum sadar" Jawab Reyhan.


"Kalau begitu ayo kita temui mereka"


Reyhan mengangguk dan mengajak Clara menuju ruang rawat Santi. Karena keadaan Clara yang masih lemah, ia terpaksa menggunakan kursi roda.


Clara merasa bersalah saat melihat kedua sahabatnya terluka karenanya.

__ADS_1


"Maafkan aku Ta, San. Andai saja aku tak melibatkan kalian dalam rencana ini, mungkin kalian akan baik-baik saja" Ucap Clara terisak.


"Kau jangan menyalahkan diri sendiri. Kami malah akan sangat marah jika saja kau tak melibatkan kami. Ini sudah takdir, lagian kami tidak terluka parah" Ucap Mita mencoba menenangkan Clara.


"Ini salahku, andai saja aku tidak meninggalkan kalian bertiga" Dimas pun merasa bersalah dan meminta maaf.


"Kenapa kalian berisik sekali?!!"


"Kau sudah sadar san?" Tanya Clara terkejut.


"Hem, kalian terlalu berisik! Aku tidak bisa tidur dengan tenang!"


Semua tersenyum senang. Dimas segera memanggil dokter.


"Huuaaaa, kenapa kau lama sekali sadarnya?" Ucap Mita.


"Maaf, kepalaku sangat sakit. Oh ya, apa yang terjadi?"


"Panjang ceritanya, nanti saja aku jelaskan karena kepalaku juga sakit" Ucap Clara memegang kepalanya.


"Yee, ikut ikutan" Cibir Mita.


Tak lama dokter datang dan langsung memeriksa keadaan Santi. Dokter mengatakan jika Santi sudah membaik, tapi kemungkinan dia belum boleh pulang. Kemudian, dokter pun pamit.


Clara segera menceritakan apa yang terjadi dengan mereka. Ia juga bertanya pada Dimas tentang kencan nya dengan Mira.


"Kacau, gue gak bisa fokus karena terlalu mikirin kalian. Akhirnya gue milih menghubungi Reyhan dan menyuruhnya pulang, karena gue tahu benar sifat Reyhan, gue milih balik ke villa dan firasat gue benar. Reyhan hampir membunuh Fathan." Ucap Dimas membuat semua orang melongo.


"Kejam bener kak Reyhan" Ucap Mita tak percaya.


"Kau tahu, aku juga akan melakukan hal yang sama, andai saja dia tak berbuat licik dan memukul kepalaku" Ucap Santi.


Tok tok tok


Semua menoleh ke arah pintu dan mendapati Mira yang berdiri di sana.


"Fathan sudah sadar. Apa kalian ingin menjenguknya?" Tanya Mira.


Mereka mengangguk. Setelah memindahkan Santi ke kursi roda, mereka segera menjenguk Fathan.


"Sepertinya tuhan masih menyayangimu sampai dia belum mencabut nyawamu, padahal itu serangan terbrutal yang pernah aku lakukan" Ucap Reyhan memasuki ruang rawat Fathan.


Reyhan tersenyum sinis melihat kondisi Fathan yang mengenaskan. Luka di sekujur tubuhnya yang di tutupi perban.


"Aku tidak ingin berlama-lama disini, lebih baik cepat selesaikan urusan kita" Ucap Santi yang muak melihat wajah Fathan.


Clara segera mengeluarkan handphone nya dan memutar rekaman kejadian di villa.


"Siang Clara"


"Si siang"


"Bagaimana keadaan mu?"


"Ba baik"


"Benarkah? Aku takut kau tak akan baik setelah ini"


Dreeet dreeet


"Angkatlah, siapa tau penting"


"Tidak perlu"


"Baiklah, kau tahu Clara. Aku selama ini selalu mengawasi mu dan sangat menunggu saat saat seperti ini. Kau tahu aku sangat bosan dengan Mira. Aku hanya iseng saja memacarinya. Sesekali aku ingin mencoba berpacaran dengan orang miskin"


Mira langsung membulat kan matanya tak percaya mendengar rekaman suara itu.


"Tapi aku juga orang miskin, apa kau masih ingin bersamaku?"


"Kau mungkin miskin, tapi entah kenapa aku lebih tertarik denganmu daripada Mira. Mira itu tidak cantik, dia tak pantas untukku. Tapi kau, aku jatuh cinta padamu saat pertama kali melihatmu"


"Apa kau mau menjadi selingkuhan ku, aku janji akan memberikan apapun padamu. Aku juga akan secepatnya memutuskan Mira karna aku hanya bermain-main dengannya"


Cuih


"Aku tidak akan mau menjadi selingkuhan mu! Kau lelaki brengsek! Bisa bisanya kau hanya bermain-main dengan kakakku!"


"Kau tahu, kau sangat menantang. Di saat gadis lain akan langsung setuju tapi kau malah menolak ku. Aku jadi semakin penasaran denganmu sayang"


"Pergi!"


"Kau sudah memancing ku sayang. Selagi kita hanya berdua lebih baik kita menikmatinya."


Mira diam mematung setelah mendengar rekaman tersebut. Ia menatap nanar ke arah Fathan.


Plaakk

__ADS_1


"Bermain main? Kau pikir aku mainan!" Seru Mira langsung menampar Fathan.


Dimas langsung menahannya dari belakang untuk menghentikan perbuatannya.


"Cukup Mir! Tenangkan dirimu"


"Lelaki brengsek! Akan ku bunuh kau! Jangan kira karena aku miskin kau bisa mempermainkan aku" Ucap Mira mencoba melepaskan diri dari Dimas.


"Brengsek! Aku menyesal menerimamu. Kenapa kau mendekati ku kalau hanya untuk main-main! Kau bahkan melukai teman temanku, dasar lelaki brengsek! Hiks hiks" Pertahanan Mira pun runtuh, gadis itu menangis dalam pelukan Dimas.


Dimas memeluk erat Mira, ia menepuk nepuk punggung Mira.


"Cih, kau saja yang terlalu baper saat aku menggodamu. Apa kau pikir aku akan menyukai gadis udik seperti dirimu? Lagian kau terlalu norak dan lebay, aku jadi malu jika bersamamu" Ucap Fathan mencibir.


Bugghh


"Aku sangat ingin membungkam mulut mu itu. Jika perlu aku akan merobeknya. Kenapa, apa kau ingin memukulku juga?" Tanya Dimas saat Fathan menatap nyalang ke arahnya.


"Cih, kau tidak mengenalku Fathan, kau tidak mengenal Dimas Anggara. Apa aku harus membuat perusahaan mu gulung tikar agar kau tahu sedang berhadapan dengan siapa?" Tanya Dimas menantang.


"Lakukan saja, aku juga benci melihat wajahnya" balas Reyhan kemudian mendorong kursi roda Clara keluar dari ruangan tersebut, diikuti yang lain yang menyusul di belakangnya.


"Cih, memangnya kau siapa? Aku akan membalas perbuatan kalian suatu saat nanti" Ucap Fathan saat melihat mereka pergi.


"Maafkan aku ya Ra, gara gara aku kalian jadi seperti ini." Ucap Mira langsung memeluk Clara.


"Bukan kakak yang salah, tapi Fathan. Dialah yang membuat kami terluka" Ucap Clara menghibur Mira.


"Tetap saja ini semua karena aku. Maafkan aku yang membuat kalian terluka bahkan sampai harus ke rumah sakit." Ucap Mira memandang Mita dan Santi.


"Sudahlah, benar yang di katakan Clara, ini bukan salah kakak." Ucap Mita.


"Anggap saja ini pelajaran untuk kita. Jangan mempercayai orang yang baru kita kenal, apalagi orang itu menyatakan perasaannya padahal kalian baru mengenal beberapa hari. Lihat kan, kalian berdua mengalami nasib yang sama. Devan dan Fathan sama sama brengsek!" Ucap Santi.


Clara dan Mira mengangguk. Mereka kembali ke ruang rawat masing-masing.


Pukul 3 sore.


Clara merengek pada Reyhan agar ia bisa cepat pulang. Ia mengatakan sudah tak tahan dengan lingkungan rumah sakit.


Setelah bertanya dengan dokter, Clara di izinkan pulang dengan catatan harus istirahat yang cukup dan konsumsi obat yang diresepkan.


Pukul 4 sore mereka sampai di villa. Clara segera menuju kamarnya di antar Reyhan. Kepalanya tiba-tiba sangat pusing.


Reyhan menyelimuti Clara, setelah itu ia pamit ke kamarnya.


Santi juga merasakan hal yang sama, sebenarnya dia belum boleh pulang namun dia memaksa untuk ikut.


Tak lama suara klakson mobil terdengar di depan villa. Dimas segera keluar dan tersenyum saat sopir pribadi papahnya telah sampai di villa.


Ia segera mengajaknya masuk dan menyuruhnya untuk beristirahat.


Pukul 7 malam semua berkumpul di meja makan.


"Apa kalian sudah packing barang-barang kalian?" Tanya Dimas yang di angguki semua orang.


"Kalau begitu kita akan berangkat jam 6 pagi. Sekarang lebih baik kita istirahat dulu." Ucap Dimas mengakhiri pembicaraan.


...****************...


Paginya tepat pukul enam, semua bersiap-siap untuk pulang.


Ayu, pak Broto beserta istrinya mengantar kepergian mereka.


"Kak Reyhan kapan kapan ke sini lagi ya, Ayu akan tetap menunggu kak Reyhan" Ucap Ayu genit.


"Aku juga akan menunggu, menunggu waktu yang tepat untuk membalas mu karena sudah membuat Clara tenggelam. Kau beruntung karena kau seorang wanita." Reyhan mengucapkan nya lirih, namun masih terdengar oleh Ayu. Gadis itu bergidik kemudian bersembunyi di belakang ibunya.


"Kalian hati-hati lah di jalan" Ucap pak Broto.


Mobil pun meninggalkan kawasan villa dan menuju kembali ke Jakarta.


Santi duduk di depan bersama pak Joko. Sedangkan Clara duduk di kursi tengah bersama Reyhan. Mita, Mira dan Dimas di kursi belakang.


Perjalanan yang panjang dan lama membuat mereka tertidur. Reyhan masih terjaga, biasanya dia lah yang paling mudah tidur tapi dia asik memandangi wajah Clara yang tertidur pulas di bahunya. Tiba-tiba kantuk menyerang nya, tanpa sadar dia terlelap.


Mobil itu mengantar mereka sampai menuju rumah masing-masing. Sekarang hanya tersisa Reyhan, Dimas dan pak Joko.


Tiba-tiba ponsel Reyhan berdering.


"Halo ma"


"Apa! baiklah Reyhan segera ke sana. Pak, bisa ke rumah sakit xx" Ucap Reyhan, wajahnya terlihat cemas.


Pak Joko segera melajukan mobilnya menuju rumah sakit tersebut.


Dimas tahu pasti terjadi sesuatu sampai membuat Reyhan begitu cemas.

__ADS_1


__ADS_2