
Esok hari pukul 10 pagi. Reyhan dan Clara sudah berada di villa yang di inginkan pak Bowo. Tak lama, pak Bowo tiba bersama istri dan anaknya.
"Villa nya lebih indah daripada di foto. Aku benar benar tak sabar untuk melihat bagian dalamnya" Ucap pak Bowo.
Reyhan dan Clara segera mengajak pak Bowo beserta keluarganya untuk berkeliling.
"Aku benar benar menyukainya pak Reyhan. Villa ini terlihat sederhana namun memiliki kesan yang indah. Tempat ini juga sangat menyejukkan mata. Aku tidak akan menyesal memilih villa ini" Ucap pak Bowo menatap Reyhan.
"Terima kasih pak Bowo. Syukurlah jika anda menyukainya" Ucap Reyhan.
"Kami akan mulai tinggal di sini besok. Oh ya, kapan pak Reyhan pulang, saya berencana ingin mengajak kalian makan malam lagi" Ucap Pak Bowo.
"Kami akan pulang lusa pagi" Jawab Reyhan.
"Kami pasti akan mengundang kalian makan malam sebelum kalian pulang" Ucap Bu Nita menghampiri bersama Berlian.
"Terima kasih. Kami pasti akan datang" Ucap Clara.
"Pak Reyhan tidak sibuk kan? Bagaimana jika kita makan siang bersama?" Tanya Berlian. Ia terlihat sangat berharap.
"Baiklah, lagi pula sebentar lagi waktu makan siang" Ucap Reyhan. Mereka segera memesan makanan dari restoran. Sembari menunggu, Reyhan berjalan ke belakang villa. Di belakang villa terdapat kolam renang dan banyaknya tanaman membuat mata sejuk memandangnya.
Reyhan duduk di tepi kolam. Tiba-tiba Berlian datang dan duduk di sampingnya.
"Kita belum berkenalan dengan baik. Bagaimana kalau kita berkenalan lagi, aku Berliana Gunanto" Ucap Berlian mengulurkan tangannya.
Reyhan hanya menatap sekilas dan mengabaikan tangan Berlian. "Reyhan" jawabnya
Berlian menarik tangannya dengan kecewa. "Ah, kau kuliah di mana?"
"Apa urusannya denganmu?" Reyhan tetap acuh.
"A aku hanya bertanya. Em, apa makanan kesukaan mu? Aku akan memasakkan nya besok" Berlian berucap dengan ragu. Ia sedikit kecewa dan sedih karena Reyhan tidak memandang nya sedikitpun.
"Kau tidak perlu memasak untukku. Belum tentu masakan mu enak" Reyhan berdiri dan ingin pergi. Ia jadi tidak nyaman karena ada Berlian.
"Aku tahu kau sudah bertunangan, tapi kau tidak boleh seperti itu jika bicara dengan wanita lain, setidaknya kau harus sopan" Ucap Berlian kesal.
Reyhan tak peduli dan tetap melangkahkan kakinya pergi. Tapi ia berhenti saat Clara terlihat menghampirinya.
'Ini waktu yang tepat ' Batin Reyhan. Ia segera membalikkan tubuhnya dan berjalan menghampiri Berlian.
"Apa aku tidak sopan? Baiklah, sebagai permintaan maaf ku, datanglah malam ini ke kamarku. Aku akan memberikan hadiah spesial untukmu" Reyhan jongkok di samping Berlian dan menatap wanita itu dengan tatapan lembut. Dalam hati, Reyhan muak dengan wanita itu.
Sedangkan Clara yang melihat Reyhan berbalik ke kolam renang segera mengikutinya. Reyhan meninggalkan handphonenya di meja. Clara yang melihat handphone Reyhan berdering dan ternyata Adel yang menelpon berencana untuk memberikannya pada Reyhan.
"Kak, kak Reyhan di mana? Kok lama banget ketemu nya" Adel terlihat kesal.
"Sabar Del, ini aku lagi nyari. Oh, itu pak Reyhan" Clara segera menghampiri Reyhan.
Reyhan yang melihat Clara sudah dekat berencana untuk membuat Clara cemburu. Ia yakin Clara masih menyukainya.
__ADS_1
"Hadiah apa?" Tanya Berlian.
"Hadiah spesial untuk wanita cantik di depanku" Ucap Reyhan. Ia tersenyum menatap Berlian. Berlian yang di tatap seperti itu jadi salah tingkah.
"Noh Del, tunangan lo lagi godain cewek tuh" Ucap Clara. Adel yang melihat dari layar handphone membulatkan matanya. Sungguh ia tidak percaya.
"Kak Reyhan!" Teriak Adel yang bisa di dengar oleh Reyhan. Reyhan berpikir itu suara Clara, jadi ia menoleh untuk melihat reaksi Clara, tapi ia bingung, kenapa Clara terlihat biasa saja?
Clara mengarahkan handphone ke wajah Reyhan yang sudah berdiri. "Udah godain nya? Kenapa gak di lanjutin lagi?" Tanya Adel. Reyhan terkejut. Apa Clara yang menelpon Adel? Batinnya bertanya tanya.
"Silahkan Adel, marahi tunangan mata keranjang mu itu" Ucap Clara menatap sinis ke arah Reyhan.
"Del, ini gak kayak yang lo pikirin. Lo kenal gue kan, gue gak mungkin godain wanita lain" Elak Reyhan.
'Sial, kenapa jadi gini? Pasti Adel ngadu ke mamah, bisa kena ceramah tujuh hari tujuh malam gue. Belum lagi sapu ajaib mamah, sial!'
"Aku gak peduli. Kak Clara, jewer telinga kak Reyhan!" Perintah Adel.
"Dengan senang hati nona Adel" Clara langsung menjewer telinga Reyhan. Jujur ia juga marah melihat Reyhan menggoda wanita lain. lima tahun tak bertemu ternyata Reyhan sudah pandai menggoda wanita.
"Lepasin Ra, gue bos lo. Mau lo gue pecat?!" Ancam Reyhan.
"Jangan kasih kendor kak, kalau kak Reyhan mecat kakak, kakak tinggal kerja di perusahaan papah aku aja" Ucap Adel enteng, ia terlihat begitu senang.
"Dah Adel. See you" Clara kemudian mematikan handphone nya. Ia melihat ke arah Reyhan.
"Lain kali jangan godain wanita lain ya pak. Sekarang aku udah jadi mata mata Adel loh" Clara melambaikan tangannya meninggalkan Reyhan. Reyhan hanya bisa mengusap telinganya yang memerah. Sayangnya rencananya tak berhasil dan ia malah kena batunya.
...----------------...
Tok tok!
"Ra, buka pintunya" Ucap Reyhan. Clara membuka pintu kamarnya.
"Ngapain lo di sini?" Tanya Clara. Reyhan nyelonong masuk begitu saja membuat Clara kesal.
"Numpang mandi"
"Hah?!" Clara mengerutkan keningnya.
"Kran shower gue rusak" Reyhan segera memasuki kamar mandi dan meninggalkan Clara.
"Kenapa gak nunggu aja sih pak?" Tanya Clara kesal.
"Kelamaan!"
Clara duduk di sofa sambil membaca novel dan tak lupa teh hangatnya. Clara melihat ponsel Reyhan berdering, Reyhan memang membawanya tadi.
"Halo, ini saya pak. Saya yang bapak suruh ke supermarket di jalan F. Ini beneran pak?" Tanya bapak tersebut.
"Maaf pak, saya Clara, sekertaris pak Reyhan. Apanya yang bener pak?" Tanya Clara bingung.
__ADS_1
"Ah, Bu Clara. Saya ingin tanya, apa benar saya di tugaskan untuk menjalankan supermarket ini?" Tanya bapak tersebut.
"Menjalankan? Maksudnya?"
"Iya, mereka bilang hari ini saya pemilik supermarket itu? Tapi saya tidak percaya. Bisa tanyakan hal ini pada pak Reyhan? Sungguh saya lagi bingung"
"Pak Rey, bapak ingat dengan pekerja yang bapak suruh ke supermarket itu?" Tanya Clara.
"Oh, bilang aja itu memang untuk dia. Hari itu Dimas ngasih ke gue, tapi lebih baik di urus sama bapak itu. Dia pasti bisa menjalankan nya" Sahut Reyhan dari kamar mandi.
'Aku pikir dia akan memberikan pekerjaan yang rendah untuk bapak itu. Tidak ku sangka dia malah memberikan supermarket itu pada bapak itu' Batin Clara terkagum.
Clara menyampaikan persis seperti Reyhan katakan. Ia juga mengingatkan bapak itu agar amanah, walau supermarket itu sudah di berikan padanya, ia harus tetap menjalankan nya dengan baik.
tok tok
"Siapa lagi yang datang?" Tanya Clara. Ia segera membuka pintu kamarnya.
"Loh, Berlian?!"
"Eh, Clara. Kenapa di sini?" Tanya Berlian. Wanita itu terlihat cantik. Ia memakai gaun yang indah.
"Em, ini kamar saya" Jawab Clara.
"Kamu tinggal bareng pak Reyhan?" Tanya Berlian bingung.
"Eng_"
"Siapa Ra?" Reyhan terlihat keluar dari kamar mandi. Ia mengeringkan rambutnya dengan handuk. Pintu Clara yang terbuka setengah membuat Berlian bisa melihat Reyhan.
"Kalian tinggal sekamar?!" Tanya Berlian terkejut.
"Enggak, dia itu, tadi cuman .." Ucap Clara tergagap.
"Ish! Katanya mau ngasih hadiah, apa ini hadiahnya?!" Berlian memilih pergi, ia menghentakkan kakinya karena kesal.
Clara menatap kesal Reyhan. Ini semua terjadi karena Reyhan memberikan nomor kamarnya pada Berlian.
"Biarin aja" Ucap Reyhan. Ia mengambil hp nya.
"Apa lo yakin dengan keputusan lo? Gimana kalau bapak itu tidak bisa menjalankan nya dengan baik?" Tanya Clara. Ia duduk di sofa nya.
"Gue yakin dia bisa. Sebelum mutusin hal itu, gue udah bicara dulu dengan pak Yono. Bapak itu orang yang baik dan amanah, dia juga sangat teliti dan memiliki jiwa pemimpin. Pak Yono sebenarnya sering memerhatikan nya karena bapak tersebut adalah pekerja tertua di sana. Ia takut bapak itu sakit karena bekerja terlalu berat. Aku yakin jika hanya hal ini, dia pasti bisa" Sahut Reyhan.
"Tapi itu malah nambah beban pikirannya" Ucap Clara.
"Dia pasti bisa. Akan ada orang yang mengajari dan mendampingi nya nanti.. Kalau gitu gue pergi dulu" Ucap Reyhan, ia membuka pintu kamar Clara dan kembali ke kamarnya.
...****************...
Rencana makan malam itu tetap berlanjut. Berlian terlihat kesal selama makan malam berlangsung. Ia langsung pergi setelah makan malam selesai. Reyhan dan Clara juga langsung pamit karena mereka harus mengemas barang-barang mereka. Esok harinya mereka kembali ke Jakarta.
__ADS_1