
Beberapa hari berikutnya.
"Hai Rel, kok lo gak bilang sih pas mau pergi? Kan jadinya gue gak bisa ngantar lo pergi" Ucap Clara kesal.
"Maaf, tapi aku takut mengganggu mu. Lagian pesawat ku berangkat nya malam. Aku tidak ingin mengganggu tidurmu" Ucap Farel dari ujung telepon sana.
"Tetap saja kau harus mengabari ku dulu" Ucap Clara yang masih kesal.
"Iya maaf, udah ya Cla. Aku ada urusan penting. Jaga dirimu baik baik" Ucap Farel kemudian mematikan ponselnya.
"Lakukan pekerjaan mu! Ini masih jam kerja" Ucap Reyhan dingin.
"Iya pak" Jawab Clara acuh.
"Kenapa dia begitu menyebalkan! Aku berharap dia terjatuh dan kakinya patah" Gerutu Clara.
"Rapat sebentar lagi akan di mulai. Ayo cepat" Ucap Reyhan. Clara mengikutinya dari belakang.
Saat menuju ruang rapat, tak sengaja kaki Reyhan terpeleset karena menginjak lantai yang basah.
Bruugh!!
Aaarrgh!!
Reyhan memegang kakinya yang terasa begitu sakit, juga bokongnya yang sakit akibat mendarat dengan keras.
"Apa kau baik baik saja pak?" Tanya Clara membantu Reyhan berdiri.
"Apa menurut lo gue baik baik aja?!" Tanya Reyhan balik sambil meringis.
"Apa perlu aku panggil ambulans?" Tanya Clara.
"Tidak, panggil saja dokter ke sini" Ucap Reyhan.
Clara kemudian meminta beberapa karyawan pria untuk memapah Reyhan kembali ke ruangannya. Sedangkan rapat di batalkan karena kondisi Reyhan.
Mereka mendudukkan Reyhan di sofa.
"Aarrgh, bisa kalian pelan pelan! Bagaimana jika kaki ku patah?!" Bentak Reyhan pada karyawannya.
"Maaf pak"
"Aku tidak menyangka ucapanku akan menjadi kenyataan" Ucap Clara tiba tiba.
"Apa! Jadi tadi lo nyumpahin gue jatuh ?!" Bentak Reyhan.
"Maaf pak, gak sengaja" Ucap Clara menunjukkan dua jarinya sambil cengengesan.
Dokter datang kemudian segera mengobati Reyhan.
"Kaki anda sepertinya terkilir" Dokter tersebut segera memegang kaki Reyhan kemudian terdengar suara tulang bergemeletuk.
"Aaarrgh!!!!"
Clara hanya bisa meringis mendengar Reyhan menjerit. Pasti sangat menyakitkan.
"Bisa kau ambilkan minum untuknya" Ucap sang dokter.
Clara segera membawa dua cangkir teh hangat untuk mereka.
"Apa masih sakit pak?" Tanya dokter.
"Sudah mending_ aarrgh, masih sakit dok. Sepertinya harus ada yang mengurusku, bukan begitu dok?" Tanya Reyhan meminta pendapat dokter. Ia langsung berbohong mengatakan kakinya masih sakit saat melihat Clara menghampiri mereka. Ia ingin memberi pelajaran pada wanita itu karena sudah menyumpahi nya.
Dokter yang paham maksud Reyhan segera mengatakan kepada Clara bahwa Reyhan belum bisa berjalan dan ia harus menjaganya. Dokter kemudian permisi untuk pulang.
"Apa sangat sakit?" Tanya Clara duduk di samping Reyhan.
"Hmm. Bisa kau buka pintu itu" Ucap Reyhan memberikan kunci pintu pada Clara.
Clara segera berjalan menuju pintu yang berada di samping meja Reyhan. Dari awal bekerja ia begitu penasaran apa yang berada di balik pintu tersebut dan juga kenapa harus ada dapur di ruangan ini.
__ADS_1
"Kamar?" Tanya Clara saat ia berhasil membuka pintu tersebut.
"Bawa gue ke kamar" Ucap Reyhan.
Clara segera memapahnya memasuki kamar. Ia mendudukkan pria itu di ranjang.
"Kenapa ruangan ini benar benar aneh?" Tanya Clara bingung, ia menatap sekeliling.
"Emang kenapa?"
"Ini lebih mirip sebuah apartemen" Sahut Clara.
"Gue sering lembur karena itu membangun kamar di ruangan ini. Jadi gue bisa bermalam di sini. Mengenai dapur, gue juga sengaja membangunnya karena gue hampir mati karena memakan makanan luar yang ternyata ada racunnya" Terang Reyhan.
"Bisa saja aku meletakkan racun di makananmu" Celetuk Clara.
"Ada cctv di dapur" Ucap Reyhan.
"Karena kaki gue sedang sakit, maka lo harus mengerjakan pekerjaan gue. Semuanya!" Perintah Reyhan.
Clara langsung melotot mendengarnya. "Yang sakit itu kaki lo, bukan tangan lo! Jadi seharusnya lo masih bisa kerja kan!"
"Jangan ngelawan. Cepat laksanakan perintah saya atau anda saya pecat!" Ucap Reyhan. Clara tahu jika Reyhan sudah bicara formal dengannya, itu artinya ia sedang serius dan tak ingin di bantah. Ia terpaksa melaksanakan perintah dari bos nya itu.
Seharian itu Clara mengurus Reyhan. Mulai dari makan, minum, mengambilkan atau membuatkan sesuatu, mengantar ke toilet dan lain sebagainya.
"Pak, ini buburnya" Ucap Clara menyerahkan bubur pada Reyhan.
"Suapin" Pinta Reyhan.
"What! Bapak kan punya tangan, kenapa nyuruh saya?"
"Anda mau saya pecat?"
"Iya iya" Clara segera menyendok bubur kemudian menyuapkan ke mulut Reyhan.
"Ambilkan minum" Ucap Reyhan.
"Gimana kabar anak lo?" Tanya Reyhan setelah ia selesai meneguk minumannya. Ia iseng bertanya. Jujur jika ia mengingat kebersamaan Clara, Farel dan Jonathan di restoran, ia begitu cemburu, kesal dan kecewa. Padahal dulu ia membayangkan bisa membangun sebuah keluarga bersama Clara, memiliki anak anak yang lucu dan tentunya memiliki istri yang sangat ia cintai. Namun harapannya harus pupus saat dia mengetahui Clara yang sebenarnya.
Padahal yang sebenarnya, Clara bahkan tidak mengetahui dengan jelas apa alasan Reyhan begitu membencinya. Bahkan menuduh Jonathan sebagai anaknya. Yang ia tahu, Reyhan membencinya karena cemburu melihat ia lebih memilih Farel malam itu.
"Ha, anak? ... Maksud lo, Jonathan?" Tanya Clara memastikan.
"Iya, dia pasti sedih karena di tinggal ayahnya" Ucap Reyhan.
"Ayah?.. Gue rasa otak lo juga ikutan sakit sampai ngelantur gini" Ucap Clara menggeleng kepalanya.
Ia segera melangkah keluar namun perkataan Reyhan membuatnya begitu geram.
"Ra, buatkan gue bakwan ya" Pinta Reyhan sambil memainkan ponsel nya.
Dengan kesal Clara segera menuju dapur. Beberapa saat kemudian, beruntungnya Adel datang membuatnya bisa bernafas lega.
"Untung lo datang Del. Urus tuh, tunangan lo yang manja" Ucap Clara memberikan sepiring bakwan lengkap dengan sausnya kepada Adel.
"Lah, emangnya dia kenapa kak?" Tanya Adel.
"Kakinya terkilir. Udah, cepet sana lo urus. Gue mau istirahat dulu" Ucap Clara melenggang pergi.
Adel yang mendengar kaki Reyhan terkilir segera mendatangi pria itu di kamarnya.
"Kakak gak apa apa kan? Kaki mana yang sakit?" Adel meletakkan sepiring bakwan itu di ranjang dan langsung mengecek kaki Reyhan.
"Di mana Clara?" Tanya Reyhan menatap dingin ke arah Adel.
"Biarkan dia istirahat. Aku yang akan merawat kak Reyhan sekarang" Ucap Adel tersenyum manis.
"Tidak perlu" Reyhan segera berjalan menuju kamar mandi.
"Lah, katanya kakinya terkilir, kok bisa jalan sih?" Tanya Adel. Ia segera keluar dari kamar Reyhan dan menemui Clara yang asik membaca novel.
__ADS_1
"Kak, emang beneran kaki kak Reyhan terkilir? Kok tadi dia bisa jalan sih?" Tanya Adel duduk di sebelah Clara.
"Hah, bisa jalan?! Jangan jangan dia bohongin gue? Dasar kulkas isi cabe rawit! Gue capek capek ngerawat dia karena gue pikir kakinya sakit, ternyata kakinya gak apa apa. Tau gitu gue biarin aja dia tadi" Gerutu Clara begitu kesal.
Adel terdiam sambil menatap lekat Clara yang sedang menggerutu. 'Kenapa kak Clara bisa tahu nama panggilan kak Reyhan saat masa sekolah? Apa mereka satu sekolah dulu?'
Reyhan mengusap rambutnya yang basah. Ia baru saja selesai mandi, ruangan ini benar benar seperti kamar pada umumnya.
Ia berjalan menuju meja di samping tempat tidurnya. Ia kemudian mengambil sebuah memori card yang berisi data data di ponselnya dulu.
"Mungkin aku harus menunjukkan nya sekarang. Aku ingin tahu apa reaksinya setelah melihat ini" Gumam Reyhan. Ia segera keluar menemui Clara dan Adel.
"Ingat, lo harus lembur" Ucap Reyhan berdiri di depan mereka.
"Tapi kaki anda baik baik saja kan pak Reyhan. Jadi tidak ada alasan untuk saya lembur" Ucap Clara.
"Saya tidak peduli. Adel, lebih baik kita jalan jalan sekarang. Dia bisa mengerjakan pekerjaannya sendiri" Reyhan menarik tangan Adel untuk meninggalkan Clara.
"Oh ya, jika lo ingin tahu alasan lima tahun yang lalu. Semua jawabannya ada di memori card yang gue tinggalkan di meja dekat tempat tidur. Gue harap setelah itu lo gak bersikap seolah olah tidak mengetahui apapun"
'Lima tahun yang lalu? Sebenarnya ada hubungan apa mereka?' Batin Adel bertanya tanya.
...----------------...
"Kak, kakak punya hubungan apa sama kak Clara?" Tanya Adel. Mereka sedang makan di sebuah restoran. Sudah satu jam yang lalu matahari tergantikan oleh bulan dan taburan bintang.
"Gak ada" Jawab Reyhan acuh.
"Beneran?" Tanya Adel memastikan.
"Terserah lo mau percaya atau enggak" Sahut Reyhan.
Tiba tiba sudut matanya menangkap seseorang yang terlihat familiar berada di parkiran. Ia menajamkan matanya untuk memastikan penglihatannya.
"Bukannya itu anak yang bersama Clara?" Gumam Reyhan. Ia langsung berdiri dan meninggalkan Adel di restoran. Ia bergegas menuju parkiran.
"Maaf, apa itu anak bapak?" Tanya Reyhan pada seorang pria yang berdiri tak jauh dari mobilnya.
"Maksud anda?" Tanya pria tersebut yang kebingungan.
"Om pengganggu kok ada di sini?" Tanya Jonathan, ia segera turun dari gendongan ibunya.
"Ish, kamu gak boleh ngomong gitu sayang" Ucap wanita yang menggendong Jonathan tadi.
"Kamu kenal sama om ini?" Tanya Pria tersebut.
"Iya pah"
"Pah? Bukannya papah kamu itu Farel?" Tanya Reyhan yang mulai kebingungan.
"Farel? Maaf, tapi saya papahnya dan Farel adalah om nya" Jawab pria itu.
'Om?! Kenapa ini makin membingungkan?'
"Jonathan, apa kau menyebut om Farel sebagai papah mu di depan om ini?" Tanya ayahnya Jonathan.
"Hehehe, maaf pa" Jonathan cengengesan sambil memeluk ayahnya.
"Jadi dia bukan anaknya Farel?" Tanya Reyhan memastikan. Wajahnya terlihat mulai gelisah. Artinya selama ini ia salah karena sudah menuduh Clara memiliki anak dari Farel. Hal itu juga membuat nya mulai ragu tentang kebenaran video yang di kirim Farel lima tahun lalu.
"Tentu bukan, Farel bahkan belum menikah. Maaf, tapi kami harus segera pergi" Ucap pria itu membawa keluarga nya meninggalkan Reyhan yang masih mematung.
"Ah sial!! Itu artinya selama ini aku salah menuduhnya. Tunggu ... Apa dia sudah melihatnya?" Reyhan bergegas menuju mobilnya. Perasaannya kacau. Ia merasa begitu bersalah karena sudah menyakiti perasaan Clara. Ia sangat berharap Clara belum melihat video itu. Ia harus menyelidiki nya lagi. Menyelidiki kebenaran tentang video itu. Sungguh perasaan nya benar benar kacau sekarang. Ia semakin kesal saat melihat jalanan macet.
Sedangkan di kantor. Clara masih berkutat di laptopnya. Ia segera ke dapur untuk menyeduh kopi. Ia mulai lelah dan mengantuk walau belum larut malam. Tak sengaja matanya melihat kamar yang berada di ruangan itu terbuka. Ia pun jadi teringat ucapan Reyhan sebelum pria itu pergi. Dengan penasaran ia memasuki kamar itu dan mencari memori card yang di maksud Reyhan.
Ia segera membawa memori card itu ke mejanya dan memasangkannya di laptopnya.
"Apa yang dia ingin aku lihat?" Tanya Clara pada dirinya.
Melihat sebuah file dengan nama 'lima tahun lalu' membuatnya penasaran dan membukanya...
__ADS_1