Cinta Yang Bertemu Kembali

Cinta Yang Bertemu Kembali
Bab 70


__ADS_3

"Bagaimana, apa lo mendapatkan data datanya?" Tanya Mita pada Nio yang sedang berkutat dengan laptopnya.


"Dapat!"


"Benarkah?" Mita dan Santi langsung mendekat pada Nio.


Nio terlihat gugup saat dia diapit oleh dua wanita cantik. Apalagi Santi juga begitu dekat dengannya.


"Ini data data orang yang pernah memesan hotel itu. Dan beberapa orang ini adalah pelanggan setia hotel itu. Mereka juga sering tertangkap kamera cctv sedang melakukan transaksi dengan manager hotel atau sesama mereka" Jelas Nio.


"Kenapa hotel ini benar benar kacau? Dan kak Reyhan sama sekali tidak mengetahui nya" Ucap Mita.


"Tugas CEO itu banyak. Tidak mungkin ia terus mengawasi hotel ini sedangkan bisnis nya yang lain masih banyak" Balas Nio.


"Kita harus menemui orang orang ini" Usul Santi yang di setujui oleh mereka.


Mereka bertiga mendatangi kediaman tuan Kenzo yang merupakan salah satu dari pelanggan setia hotel yang sering melakukan transaksi di sana.


"Ada keperluan apa kalian ke sini?" Tanya tuan Kenzo yang duduk menyilangkan kakinya di sofa.


"Anda orang yang sering melakukan transaksi jual beli narkoba di hotel SC kan?" Ucap Nio to the point.


Mereka sedang duduk di ruang tamu.


"Apa yang anda bicarakan? Aku sudah tua, aku tidak ingin menyentuh barang haram itu. Lagian kalian tidak punya bukti" Tuan Kenzo terlihat begitu santai menghadapi mereka.


Nio segera menunjukkan bukti cctv di salah satu ruangan yang sepertinya memang sengaja di gunakan untuk bertransaksi.


"Lalu ini apa? Apa ini bukan anda?"


"Sial! Ternyata selama ini dia memasang cctv di sana" Maki Tuan Kenzo.


"Dia memasang cctv pasti untuk keamanan dirinya juga. Jika ia tertangkap, maka orang orang yang bertransaksi dengannya juga akan tertangkap. Manager itu tidak bodoh juga" Ucap Nio. Ia juga mendapatkan data data orang yang melakukan transaksi dengan manager hotel itu.


"Apa hanya manager ini yang paling sering bertransaksi dengan kalian? Apa tidak ada orang lain di baliknya?" Tanya Nio dengan tatapan mengintimidasi.


"Setahuku ada. Hanya saja aku tidak mengetahuinya. Mungkin yang di beritakan itu benar, bahwa CEO Setya Company sendirilah dalang sebenarnya" Ucap Tuan Kenzo. Ia akhir nya buka mulut jika ia memang sering bertransaksi di hotel itu.


"Tidak ada yang tahu siapa dalang sebenarnya. Hanya manager itulah yang mengetahuinya. Percuma jika kalian bertanya pada yang lain, karena mereka juga tidak tahu" Ucap Tuan Kenzo. Ia bercerita jika selama ini ia dan yang lainnya hanya melakukan transaksi dengan manager hotel itu.


"Baiklah, terimakasih atas informasinya" Santi kemudian mengajak Mita dan Nio untuk pergi dari kediaman pria itu.


...----------------...


"Terimakasih pak karena sudah mengeluarkan saya" Ucap Manager hotel pada Anton. Ia sedang berada di mobil mewah milik Anton yang terparkir di depan kantor polisi.


"Sama sama. Ingat, jaga baik baik rahasia ini. Jangan pernah memberitahukan nya pada siapapun jika kau ingin selamat" Ucap Anton mengancam.


Manager itu terlihat gemetar ketakutan. Anton memang mengancam akan membunuhnya jika sampai ia buka mulut.


Saat perjalanan pulang, mobil manager hotel itu di hadang oleh beberapa motor. Ia begitu ketakutan karena berpikir sedang menghadapi begal.


"Hei! Buka pintu mobil mu!" Ucap seorang pria menggedor pintu mobil. Pria lainnya juga merengsek menghancurkan kaca mobil dan menarik paksa manager itu.


"Ampuni saya. Jika kalian ingin uang, maka ambillah. Tapi tolong jangan bunuh saya" Pinta manager itu mengiba.


Salah seorang pria langsung memukul tengkuknya hingga ia pingsan. Mereka membawa manager itu ke sebuah gudang.


Mereka menyiramkan air es ke tubuh pria itu hingga membuat sang empu terbangun.


"Anda sudah sadar pak manager?" Dimas terlihat duduk di kursi di depan manager itu.


"Siapa kau? Dimana aku?" Teriak manager itu ketakutan.


"Aku temannya Reyhan, orang yang kau jebak. Apa kau lupa denganku? Kita baru bertemu tadi siang di kantor polisi"


"Tolong lepaskan aku.." Pinta manager itu setelah mengingat siapa Dimas.


"Katakan yang sebenarnya. Siapa yang memerintah mu? Aku janji setelah ini akan melepas mu" Ucap Dimas. Ia memerintahkan para pria sangar di belakangnya untuk menakuti manager itu.


Para pria itu membawa senjata tajam di tangan mereka, ada juga yang membawa pistol. Mereka mengacungkan nya pada manager itu.

__ADS_1


"Jawab! Siapa yang memerintah mu?!"


"Baiklah, baiklah! Aku mengaku. Pak Anton lah yang memerintah ku. Aku hanya menjalankan bisnis narkoba nya. Aku hanya kaki tangannya. Dia yang menyuruh ku mengaku bahwa pak Reyhan lah bos dari jual beli narkoba itu. Aku hanya menjalani perintahnya. Jika aku tidak mau atau membongkar rahasianya maka dia akan membunuhku" Terang manager gemetar. Ia begitu ngeri saat melihat sebuah pisau yang hanya berjarak beberapa centi dari lehernya.


"Apa hanya Anton saja? Apa tidak ada yang lain?"


"Tidak! Aku yakin hanya pak Anton"


"Aku harap kau mau menjadi saksi di pengadilan nanti. Jika tidak, maka keluarga mu akan tamat" Dimas kemudian berdiri dan meninggalkan manager itu.


"Bagaimana penampilan gue tadi? Menyeramkan bukan? Sepertinya gue akan sangat cocok jika menjadi gangster atau mafia" Ucap Dimas tersenyum sombong.


"Ya ya, itu sudah cukup bagus" Mita memutar bola matanya malas.


"Lo udah merekam semuanya kan?" Tanya Nio memastikan.


Dimas menunjukkan ponselnya pada Nio. "Semua udah beres. Kita hanya harus mengeluarkan Reyhan saja"


"Terimakasih ya Rena atas bantuan lo" Ucap Clara pada Rena.


"Sans aja. Kabarin gue kalau kalian butuh bantuan anak buah gue lagi" Rena kemudian pamit karena dia masih ada urusan.


"Apa kita akan melepaskannya?" Tanya Santi. Maksudnya melepaskan manager itu.


"Biarkan saja dia disini. Kita akan membawanya besok" Jawab Dimas. Mereka kemudian pulang ke rumah masing masing. Sedangkan manager itu masih di gudang dengan penjagaan ketat dari anak buah Rena.


...----------------...


"Pak! Ini gawat!" Ucap seseorang menelpon Anton.


"Gawat karena apa? Kau jangan mengikuti dialog ku!" Ucap Anton kesal karena merasa terganggu.


"Manager hotel itu di tangkap oleh beberapa orang. Mereka sekarang sedang menyekapnya di sebuah gudang di jalan X" Ucap orang tersebut.


"Sial! Bagaimana bisa tertangkap?! Bukankah aku menyuruhmu untuk melindungi nya" Ucap Anton kesal. Ia kemudian menghisap rokoknya dalam dalam.


"Siapa yang menangkap nya?" Tanyanya.


"Apa dia sudah mengaku?"


"Sudah pak! Sepertinya mereka menggunakan jasa gangster untuk menakuti manager itu"


"Sial! Manager sialan! Dia pasti mengakui aku sebagai dalang utamanya!"


"Kenapa paman? Apa terjadi sesuatu?" Tanya Raja yang dari tadi hanya memerhatikan Anton yang terlihat gusar.


"Manager itu di tangkap oleh teman teman Reyhan dan dia sudah mengaku bahwa akulah dalang utama nya. Ini akan menjadi masalah bagi kita" Ucap Anton mengusap keringat yang mengalir di dahinya.


"Masalah kita? Yang benar itu hanya kau paman"


"Jadi kau ingin melimpahkan semua ini padaku? Kau juga ikut andil dalam hal ini, Raja!" Ucap Anton berang.


"Baiklah tenang. Sekarang kita pikirkan bagaimana cara membuat jika manager itulah dalang utamanya" Ucap Raja menenangkan Anton.


"Maksudmu menjadikannya kambing hitam?"


"Ya. Ini mungkin akan membuat Reyhan bebas, tapi setidaknya kepercayaan para dewan dan pemegang saham akan menurun. Ini juga akan menguntungkan bagi kita" Ucap Raja.


"Kalau begitu aku akan menelpon Alex untuk mengurus semua ini" Ucap Anton kemudian menghubungi seseorang. Ia memerintahkan orang itu agar membebaskan manager hotel dan membawa pria itu padanya.


...----------------...


Malam itu manager hotel berusaha melarikan diri. Setelah berhasil membuka ikatan tangannya. Ia mengendap endap keluar.


Ia mendengar suara orang orang berkelahi dan juga suara pistol. Ia tambah terkejut saat pintu gudang di dobrak paksa hingga hancur.


"Kau tenang saja. Aku di tugaskan pak Anton untuk membebaskan mu" Ucap pria yang mendobrak pintu tadi.


Ia membawa manager itu meninggalkan gudang.


Salah seorang anak buah Rena segera menghubungi Dimas dan memberi tahunya jika manager itu berhasil kabur. Tentu itu membuat Dimas kesal.

__ADS_1


"Biarkan saja. Yang penting kita sudah memiliki bukti yang kuat" Ucap Nio menenangkan Dimas.



"Hei, bagaimana kabarmu?" Anton menepuk bahu manager hotel itu yang gemetar.


"Aku ada tugas baru untukmu. Di persidangan nanti, kau harus mengaku jika kaulah dalang utama dari transaksi narkoba di hotel SC. Kau sengaja menuduh Reyhan agar kau selamat dari tuduhan. Hadirkan juga beberapa orang saksi untuk mendukung pernyataan mu ini" Perintah Anton dengan wajah bengis.


"Ta_tapi pak. Aku akan di penjara nanti. Bagaimana nasib keluarga ku?" Tanya manager tersebut lirih.


"Kau tenang saja. Saat mobil polisi membawamu, kami akan menghadangnya dan akan membawamu pergi. Kami akan menyiapkan identitas palsu untukmu dan keluarga mu di luar negeri. Jadi kau aman" Ucap Anton. Manager itu terlihat setuju.


*Sampailah saat pengadilan di mulai.


Nio segera menunjukkan bukti bukti yang dimiliki nya. Data data dari hotel itu, keterangan beberapa saksi juga keterangan manager hotel yang sudah mereka rekam. Dari bukti bukti tersebut menunjukkan jika Reyhan tak bersalah sama sekali.


Sampailah saat keterangan dari manager hotel yang membuat semua orang terkejut. Ia mengaku jika dialah dalang utamanya. Ia berbohong jika Reyhan yang memerintah nya. Ia juga berbohong saat mengatakan Anton lah dalang utamanya. Itu semua dia lakukan agar bebas dari hukuman. Ia sengaja menggunakan kedua orang penting di perusahaan untuk menyelamatkan dirinya.


Pernyataan nya di dukung oleh beberapa saksi dan juga pelaku lain. Setiap kali melakukan transaksi, mereka hanya melakukan nya dengan manager hotel. Tidak ada orang lain yang campur tangan dalam hal itu.


"Saya ingin bertanya, kenapa anda mengakuinya sekarang?" Tanya hakim.


".. Itu karena.. Saya tahu saya akan di tangkap juga suatu saat nanti. Daripada terus menyembunyikan nya, lebih baik saya mengakuinya sekarang" Jawab manager hotel terlihat gugup. Ia terus mencuri curi pandang ke arah Anton.


Hakim kemudian memvonis bersalah kepada manager hotel dan membebaskan Reyhan dari segala tuduhan. Clara dan teman temannya terlihat bersorak gembira. Keluarga Reyhan yang juga hadir di sana terlihat bernafas lega saat Reyhan di bebaskan.


"Syukurlah, aku tahu kakak tidak bersalah" Adel langsung memeluk Reyhan saat pemuda itu menghampiri keluarga nya.


Reyhan langsung membalas pelukan Adel dan melirik pada Clara.


Clara yang melihatnya hanya bisa menarik nafas dalam untuk melegakan hatinya. Santi menghampiri nya dan menepuk bahu wanita itu.


"Kau kuat" Ucap Santi membuat Clara tersenyum simpul.


"Terimakasih karena sudah membantu gue" Ucap Reyhan pada teman temannya.


"Sama sama. Tapi menurut gue, ini aneh. Apa kalian percaya jika manager itu dalang utamanya? Bukankah awalnya dia mengatakan itu Anton? Kenapa dia sekarang mengubah pernyataan nya?" Dimas menanyakan pendapat teman temannya.


"Gue juga berpikir begitu. Gue curiga kalau manager itu di ancam oleh Anton untuk berkata seperti itu. Mungkin kita harus menyelidikinya lagi" Sahut Nio.


"Apapun yang terjadi. Yang penting kak Reyhan udah terbebas dari tuduhan itu dan kita bisa pulang. Jika kalian ingin menyelidikinya lagi, maka silahkan. Gue gak mau ikut campur lagi" Ucap Mita yang di setujui Clara dan Santi.


"Kalau begitu kita cabut dulu" Ucap Clara kemudian pergi bersama Mita dan Santi.


"San!" Langkah Santi terhenti saat Nio memanggil nya.


"Mau bareng?" Tanya Nio.


Santi menjawabnya dengan senyuman. Mereka kemudian berjalan menuju mobil Nio.


"Pepet teruss!!" Ucap Mita membuat Nio dan Santi salah tingkah.


...----------------...


"Kenapa mobil itu terus mengikuti kita?" Ucap orang yang mengemudikan mobil yang membawa manager itu.


Saat mereka berada di tempat yang sepi. Mobil yang dari tadi mengikuti mereka tiba tiba menabrak kan diri ke mobil mereka. Hal itu tentu membuat mobil oleng dan menabrak pembatas jalan.


Dua orang pria keluar dari mobil tersebut dan berjalan ke mobil polisi. Mereka berdua melihat dua orang petugas dalam keadaan pingsan. Tanpa aba aba mereka langsung menembak mati dua petugas tersebut.


Salah satu dari mereka segera membuka pintu mobil dan mengeluarkan manager hotel.


"Kalian pasti suruhan pak Anton! Terimakasih karena sudah menolong ku_" Manager itu tercekat saat merasakan sebuah pistol di keningnya.


"A_apa yang kalian lakukan?"


"Apa kau berpikir pak Anton akan membiarkan mu hidup?"


Dor!


Manager hotel ambruk ke tanah tak lama setelah bunyi pistol terdengar. Dua pria tadi langsung pergi meninggalkan jasadnya.

__ADS_1


__ADS_2