
Setelah selesai sarapan di jam makan siang, Reyhan memilih untuk menonton tv di kamarnya.
Tok tok
"Siapa yang datang di hari libur?" Gumam Reyhan. Ia segera beranjak dari duduknya dan membuka pintu.
"Vizah!"
"Siang Reyhan" Vizah nyelonong masuk tanpa meminta izin. Ia langsung duduk di sofa.
"Apa mau lo?" Reyhan segera duduk di depan wanita itu.
"Hanya berkunjung. Aku dengar posisimu sedang goyah" Sahut Vizah.
"Terus?"
"Aku bisa membantumu. Tapi dengan satu syarat.." Vizah mencondongkan tubuhnya menghadap Reyhan.
"Batalkan pernikahan mu dengan Adel"
Mata Reyhan membulat mendengar nya. Bagaimana mungkin ia membatalkan nya saat pernikahan mereka tinggal menghitung hari. Walaupun ia begitu ingin membatalkan pernikahan itu tapi tidak mungkin untuk sekarang.
"Jika gue gak mau? Dan apa untungnya bagi lo?"
"Untung bagiku adalah aku bisa mendapatkan mu. Jika aku tidak bisa memilikimu maka orang lain pun tidak.."
"Jika kamu gak mau.. maka akulah yang akan memisahkan mu dengan Adel sama seperti aku memisahkan mu dengan Clara dan juga dengan Ara"
Deg!
Jantung Reyhan serasa berhenti mendengar ucapan Vizah. Memisahkan nya dengan Ara? Apa maksudnya?
"Kau pasti bingung. Dengar Reyhan.. kau pasti sudah mendengar ceritanya dari Farel. Bagaimana aku dan dia memisahkan kau dan Clara. Tapi kau pasti belum mendengar cerita yang ini.." Vizah menyandarkan tubuhnya di sofa dan melipat kedua tangannya.
"Sebelum itu, kau pasti bertanya kenapa aku menceritakan nya sekarang padamu. Sebagai bukti, jika aku bisa melakukan apapun untuk mendapatkan mu. Jika kau bilang aku wanita gila. Aku terima karena itu memang benar. Aku tergila gila padamu Reyhan, bahkan sampai membunuh seseorang"
"Membunuh?!" Tanya Reyhan terkesiap.
"Ya. Aku tidak ingin melihat mu menyalahkan dirimu lagi atas kematian Ara. Sebenarnya.. akulah yang membunuh Ara"
Reyhan menatap tajam Vizah. Ia mencoba menahan emosinya yang sudah mencapai ubun ubun. Ia masih belum mengerti dengan ucapan Vizah. Ia tidak ingin gegabah.
"Hari itu aku melihatnya berlari di tengah hujan. Saat ia melintas, aku sengaja mengganggu supirku hingga tak sengaja menabraknya. Beruntungnya kau memanggil nya sehingga ia berhenti dan memudahkan ku untuk menabraknya. Tapi kau malah menyalahkan dirimu sendiri. Itu membuatku sedikit merasa bersalah. Tapi aku senang ternyata dia mati" Vizah menyeringai bahagia.
"Lo sakit! Lo gila! Kenapa lo lakuin itu ke Ara?! Selama 13 tahun gue selalu nyalahin diri gue yang udah membuat Ara tiada! Gue bahkan sampai depresi!" Reyhan berkaca kaca. Sungguh saat ini ia begitu ingin membunuh wanita di depannya itu. Tapi akal sehat nya masih berfungsi.
"Aku minta maaf soal itu. Aku hanya ingin memilikimu. Apa itu salah?" Tanya Vizah sendu.
"Tentu salah kalau cara lo kek gini!" Bentak Reyhan.
"Gue gak butuh bantuan lo. Lebih baik lo pergi, sebelum gue hilang kendali" Reyhan menatap tajam Vizah membuat wanita itu bergidik ngeri. Ia buru buru pergi meninggalkan Reyhan.
Reyhan terdiam cukup lama. Hingga tiba tiba ia menendang meja kerjanya dan menghancurkan barang apapun yang ada di ruangan itu. Kekacauan yang ia buat tadi malam saja belum di bereskan, di tambah dengan yang ini membuat ruangannya seperti terkena bom.
"Maafin gue, Ara.. Hiks, maaf. Bagaimana pun juga lo tiada karena gue. Gue penyebab kematian lo..." Reyhan terduduk setelah lelah menghancurkan barang barangnya. Ia memukul dadanya yang sesak menampung segala rasa bersalahnya selama ini.
Reyhan kemudian berdiri dan melangkah gontai meninggalkan ruangannya yang sudah hancur itu.
Reyhan melajukan mobilnya menuju sekolah SD nya dulu yang berjarak cukup jauh.
Sesampainya ia di sana. Ia sengaja berkeliling mengingat semua kenangan yang pernah terjadi di sana. Ia tersenyum kecil saat melihat tempat di mana pertemuan pertama kalinya dengan Ara. Gadis manis yang begitu tangguh dan berani melawan teman teman yang merundungnya.
__ADS_1
Ia berjalan ke tempat tempat yang paling suka di kunjungi Ara.
"Kenangan tetap kenangan. Sayang sekali aku tidak bisa bertemu dengan mu lagi, Ara. Jika bisa, aku akan mengajakmu ke sini dan mengingat kebersamaan kita. Sayangnya itu mustahil karena kau.." Reyhan tak sanggup melanjutkan perkataannya. Ia hanya menghela nafas dalam.
Ia berjalan ke perpustakaan, tempat yang paling di sukai Ara.
"Tak terkunci?" Reyhan membuka pintu dengan perlahan. Di lihatnya seorang pria tua sedang membersihkan rak rak buku.
"Eh, siapa ya?" Tanya pria tua itu menghampiri Reyhan.
"Saya Reyhan, pak. Alumni sekolah ini 13 tahun yang lalu" Reyhan kemudian mencium tangan pria itu.
"Silahkan duduk" Ajak pria itu.
"Ada perlu apa ke sini?" Pria itu duduk di depan Reyhan.
"Hanya berkunjung. Aku merindukan tempat ini" Reyhan menatap sekeliling. Banyak yang berubah namun suasana masih sama.
"Bapak penjaga perpus 13 tahun yang lalu kan? Ternyata bapak masih bekerja di sini" Ucap Reyhan menatap pria tua itu.
"Ya, aku ingin mengabdikan diriku di sekolah ini" Pak Marno sang penjaga perpustakaan tersenyum.
"Pak, apa kau mengenal Ara? Murid sekolah yang tewas tertabrak mobil 13 tahun yang lalu"
"Ara? Ara ya.. Em, ya aku ingat. Dia sering ke sini dulu. Kalau tidak salah aku masih menyimpan fotonya" Pak Marno berjalan ke mejanya dan membuka laci. Ia mengambil sebuah album foto dan menunjukkan nya pada Reyhan.
"Gadis kecil ini kan?" Pak Marno menunjuk salah satu foto.
"Ya.." Reyhan tersenyum getir melihatnya. Ia mengusap lembut foto Ara yang tersenyum sambil memegang buku.
"Apa kau teman sekelasnya?" Tanya pak Marno.
"Bukan. Aku hanya pernah dekat dengannya"
Reyhan terkejut mendengarnya. Bukan dia yang tiada? Jadi siapa? Ia yakin 13 tahun yang lalu kecelakaan itu menewaskan Ara. Ia melihat dengan mata kepalanya sendiri.
"Ma_maksud bapak?"
"Jadi begini. Yang tewas tertabrak mobil 13 tahun lalu bukan Ara tapi murid lain. Kebetulan baju yang mereka gunakan sama. Kenapa yang di beritakan itu Ara? Karena pelaku yang menabrak nya itu merupakan supir dari seorang anak konglomerat yang begitu membenci Ara"
'Vizah. Anak konglomerat itu pasti Vizah'
"Untuk menutupi hal itu, mereka sengaja mengehentikan penyelidikan kasus itu.. Yang tiada bukan Ara.. tapi Aira"
Deg!
"Dengan bantuan uang, mereka berhasil menetapkan nama korban yaitu Ara, bukan Aira. Itu mereka lakukan agar anak mereka tak kecewa dan tidak berusaha membunuh Ara lagi. Sungguh aku sangat bingung dengan pemikiran orang tua anak itu yang malah mendukung kelakuan anaknya yang jelas jelas bersalah" Terang pak Marno.
"Eh, nak, nak.. Hei, kau kenapa?" Pak Marno mengguncang tubuh Reyhan yang mematung.
"Nak Reyhan. Sadar, nyebut nak.."
"Ara masih hidup.."
Pak Marno mendengar gumaman Reyhan. Ia merasa Reyhan pasti memiliki hubungan dekat dengan Ara hingga begitu terpukul.
"Ya, dia masih hidup. Sehari setelah berita itu, dia pindah. Dia masih menemui ku di sini. Dia bilang ingin menemui seseorang sebelum ia pindah. Namun orang itu tak datang. Dia sangat kecewa saat itu"
"Apa bapak tahu dimana Ara pindah?" Tanya Reyhan menatap harap pada pak Marno.
"Sayangnya tidak"
__ADS_1
Reyhan kemudian pamit pada pak Marno.
Hari terlihat mendung, sebentar lagi sepertinya akan hujan. Reyhan melajukan mobilnya menuju tempat itu... tempat di mana Ara tiada.
Sesampainya ia di sana, bertepatan dengan hujan deras yang turun.
Reyhan menatap sendu tempat itu. Tak ada yang berubah. Lampu merah itu, jalanan itu, tempat penyebrangan itu, bahkan tempatnya berdiri sekarang sama seperti 13 tahun lalu.
Reyhan masih mengingat dengan jelas peristiwa kelam 13 tahun yang lalu. Bagaimana ia memanggil Ara dan membuatnya tiada. Semuanya masih teringat begitu jelas, suasananya, suara orang orang yang menjerit saat melihat kecelakaan itu terjadi dan juga suara ambulans yang membawa ia dan jasad Ara. Semuanya berputar di kepala Reyhan membuat kepalanya terasa pening. Pandangan nya memburam. Tempat ini merupakan tempat yang paling ia hindari setelah kecelakaan itu. Tempat yang membuatnya begitu merasa bersalah dan trauma. Tempat yang membuatnya begitu membenci dirinya. Tempat yang membuatnya enggan mendekati wanita karena takut membuatnya terluka seperti Ara... Tempat ia kehilangan cinta pertamanya.
"Pak Reyhan!" Seorang wanita berlari menghampiri Reyhan. Ia langsung memayungi Reyhan.
"Apa yang anda lakukan di sini? Kenapa berdiri di tengah hujan? Kau akan sakit jika begini" Clara menatap cemas ke wajah Reyhan yang pucat.
Reyhan yang dilanda kesedihan yang mendalam segera memeluk Clara dan menangis di pelukan wanita itu.
"Hei.. Kenapa? Apa terjadi sesuatu?" Clara melihat Reyhan begitu terpuruk hingga membiarkan pria itu tetap memeluknya.
Reyhan tidak bergerak membuatnya cemas.
"Pak! Apa dia pingsan?" Dugaan Clara benar. Reyhan sudah pingsan beberapa saat yang lalu.
Clara memapahnya memasuki mobil Reyhan. Ia segera memasang sabuk pengaman Reyhan dan bersiap untuk melajukan mobil itu.
"Aku harap aku tidak menabrak sesuatu" Ucap Clara kemudian menjalankan mobil itu pelan pelan.
"Bertahan lah, aku akan membawamu ke rumah sakit"
"Jangan.. Jangan rumah sakit" Ucap Reyhan lirih dengan mata masih terpejam.
Clara yang bingung harus membawa Reyhan kemana memilih untuk membawa Reyhan ke rumahnya.
Sesampainya ia di rumah. Clara segera memanggil ibunya untuk membantunya memapah Reyhan masuk.
"Dia kenapa nak?" Tanya Bu Tari membantu Clara memapah Reyhan.
"Aku juga tidak tahu.. Tiba tiba dia pingsan"
Clara membawa Reyhan ke kamarnya. Ia membaringkan pria itu, mencabut sepatunya dan menyelimuti nya.
"Dia basah kuyup. Kita harus mengganti bajunya"
"Ibu aja kalau gitu" Sahut Clara cepat.
"Kok ibu sih? Seharusnya kamu, kan dia bos kamu" Balas Bu Tari.
"Tapi aku malu Bu" Ucap Clara.
"Kalau gitu aku aja!" Celetuk Laila dari balik pintu.
"Jangan!" Teriak Clara dan ibunya bersamaan.
"Masih bocil. Gak boleh. Ingat sama pacar kamu" Ucap Clara menatap tajam adiknya yang berusia 17 tahun itu.
Mau tidak mau Clara lah yang mengganti pakaian Reyhan yang basah kuyup. Hanya bajunya saja, ia tidak berani jika mengganti celananya.
Clara pergi ke dapur untuk mengambil air hangat dan kain untuk mengompres Reyhan.
"Kau selalu saja begini. Apa tidak bisa tidak merepotkan aku? Kau selalu saja sakit akhir akhir ini" Ucap Clara sambil meletakkan kompres ke kening Reyhan.
Clara mengambil baju Reyhan dan menggantungnya. Iseng, ia merogoh saku baju Reyhan berharap ada uang di dalamnya. Tapi ia malah menemukan benda yang membuatnya terkenang masa lalu.
__ADS_1
"Aku tidak menyangka kau masih menyimpan gantungan kunci milikku" Clara memegang gantungan kunci itu sambil menatap Reyhan.