Cinta Yang Bertemu Kembali

Cinta Yang Bertemu Kembali
Bab 50


__ADS_3

Clara dan Reyhan berada di mobil yang melaju menuju Bogor. Mereka berencana membangun cabang baru di sana, lagipula ada klien yang ingin bekerja sama dengan mereka.


Adel sempat merengek untuk ikut, namun Reyhan melarangnya karena Adel harus kuliah. Jadilah ia hanya pergi berdua dengan Clara. Kemungkinan mereka akan di sana beberapa hari.


'Ingat Clara, tujuan lo ke sana itu kerja, jangan pikirin hal lain. Tapi kenapa dia cuma ngajak gue sih? Males gue berduaan sama dia' Batin Clara. Ia mulai 'sedikit' terbiasa bersama Reyhan.


"Jaga bicara lo saat bersama Adel, gue gak mau dia tahu kalau dulu kita saling kenal" Ucap Reyhan, matanya fokus ke jalan.


"Yee, kan lo gitu juga. Emang di bioskop hari itu lo ngapain? Untung mereka gak curiga" Ucap Clara.


"Gak sengaja" Sahut Reyhan.


"Ya gue gitu juga dong" Balas Clara.


Duarr!!


Tiba-tiba ban mobil meledak hingga membuat mobil oleng dan menabrak pohon.


Braakk!!


Kejadian itu begitu cepat bagaikan petir yang menyambar. Clara mengusap keningnya, ada darah yang menempel di tangannya.


"Pak, pak Reyhan" Clara mencoba membangunkan Reyhan, tapi sepertinya pria itu pingsan. Clara segera memapah Reyhan keluar dan mendudukkannya tak jauh dari mobil mereka. Ia menjadi khawatir melihat kening Reyhan yang terluka dan mengeluarkan banyak darah. Ia segera mengambil tisu di mobil kemudian membersihkan luka Reyhan.


Cukup lama Clara berusaha membangunkan Reyhan hingga akhirnya Reyhan sadar. "Apa yang terjadi, Ra?" tanya Reyhan lirih, kepalanya terasa pusing.


"Mobil kita nabrak pohon. Bengkel juga jauh dari sini. Mendingan kita panggil mobil derek aja" Usul Clara yang di setujui Reyhan.


"Sekalian carikan hotel atau apalah. Kepala gue sakit, kita istirahat aja hari ini, besok baru kita lanjut lagi" Ucap Reyhan.


"Sekalian kita ke rumah sakit ya Pak, kepala bapak luka nih" Ucap Clara menempelkan tisu di luka Reyhan.


"Kepala lo juga luka, apa lo gak sadar?" Tanya Rehan sambil mengusap darah di kening Clara. Clara menatap lekat Reyhan Begitupun sebaliknya. Mereka hanyut dengan suasana yang sudah lama tak mereka rasakan.


"Kenapa kau melakukan hal ini kak?" Tanya Clara tiba-tiba, ia bahkan tidak sadar mengucapkannya. Reyhan yang sadar langsung menjauhkan tangannya. Suasana menjadi canggung.


Clara berdiri, ia memilih untuk segera menjalankan perintah Reyhan. Setelah mobil derek membawa mobil mereka, Clara segera memesan taksi untuk ke hotel. Sayangnya saat mereka sampai di hotel, hanya ada satu kamar yang tersisa. Karena jarak hotel lain yang lumayan jauh, mereka berdua terpaksa menyewa kamar tersebut.

__ADS_1


Reyhan sudah merebahkan dirinya di ranjang. Clara segera mencari kotak obat. Setelah ketemu ia membawanya ke ranjang untuk mengobati Reyhan.


"Lo mau ngapain? Menggoda gue? Jangan lo pikir gue akan tergoda sama kayak Farel" ucap Reyhan tajam sambil menepis tangan Clara.


"Jangan su'udzon, gue cuma mau ngobatin luka lo doang kok. Kalau nggak mau ya udah obati aja sendiri" Ucap Clara yang terlanjur kesal. Reyhan segera mengobati lukanya. Ia kesulitan karena tidak melihat lukanya sendiri.


"Bodoh, sini!" Clara merebut antiseptik di tangan Reyhan. "Kalau susah kan tinggal pakai kaca, gitu aja kok susah. Jadi CEO harus pintar dong"


"Lo PMS ya? Kok dari tadi emosian mulu" Tanya Reyhan. Clara segera mencubit pinggang Reyhan. "Salah lo sendiri kenapa nuduh gue yang nggak-nggak" Sahut Clara.


"Bisa nggak lo hilangin kebiasaan nyubit lo itu" Ucap Rehan meringis. Clara hanya memasang ekspresi datar.


"Eh lo mau ke mana?" Tanya Reyhan menarik tangan Clara.


"Mau ke toilet!"


Reyhan menarik Clara duduk dan segera mengobati lukanya. Clara terkejut, tapi ia tetap diam. Reyhan begitu telaten mengobati Clara. Reyhan pura pura tak memedulikannya, padahal ia begitu gugup dan deg degan.


"Sekarang lo boleh ke toilet, gue mau tidur dulu" Ucap Reyhan kemudian membaringkan tubuhnya dan memejamkan matanya. Clara masih diam di tempatnya selama beberapa menit.


"Gue juga benci lo, Ra" Entah sadar atau tidak, ia meneteskan air matanya juga.


 


...----------------...


"Pak bangun, makanan nya udah siap tuh" ucap Clara. Reyhan mengerjapkan matanya. Reyhan mencuci wajahnya kemudian menyusul Clara untuk makan. Mereka berdua makan dengan tenang. Mereka berdua memilih diam dan menikmati makan malam itu tanpa suara.


Selesai makan, Clara segera menghidupkan TV, ada drakor yang harus ia lihat. Reyhan terlihat mengerjakan sesuatu di laptopnya. Clara menunggu dengan sabar karena ini episode terakhir drakor tersebut. Tiba-tiba Reyhan datang merebut remote dan menukar channel nya.


"Ish, apa apaan sih, gue duluan" sungut Clara.


"Gue dulu, klub bola favorit gue lagi main nih" Bales Reyhan.


"Nonton di HP atau laptop kan bisa. Ini episode terakhir, nggak boleh gue lewatin" Ucap Clara mengambil remote dari tangan Reyhan. "Kalau gitu lo aja" balas Reyhan.


"Ngalah kenapa sih, gue cewek dan gue lebih muda" Sungut Clara berdiri dan bertolak pinggang.

__ADS_1


"Gue cowok, gue lebih tua, gue yang bayar hotelnya dan gue atasan lo" Reyhan mengambil kembali remote tersebut. Clara sudah kalah telak sekarang. Clara yang kesal menendang kaki Reyhan. Reyhan yang kesakitan mengangkat kakinya sambil meringis. Clara menggunakan kesempatan itu untuk mengambil remote di tangan Reyhan. Sayangnya karena pegangan Reyhan yang begitu kuat, ia juga ikut tertarik dan kehilangan keseimbangan tubuhnya hingga menimpa Clara.


Mereka berdua saling menatap dengan jantung berdebar-debar. Ada rindu yang terselip di mata mereka. Ada cinta yang terpendam dalam kebencian. Ada rasa sayang yang tidak bisa di berikan. Ada rasa bahagia yang tak bisa di ungkapkan karena lebih memilih ego. Mereka berdua masih saling menatap dalam diam, sampai tiba tiba ..


"Kak Rey" Panggil Clara.


"Hm" Raihan menatap lekat wajah imut di bawahnya, wajah yang begitu ia rindukan namun selalu ia tepis dengan dalih kebencian.


"Bangun, gue nggak bisa napas!" Ucap Clara. Reyhan yang tersadar segera mengangkat tubuhnya. Clara masih terbaring mengatur nafasnya dan degup jantungnya. 'Ra, ingat, jangan jatuh cinta lagi dengan dia, cukup 5 tahun yang lalu, jangan lagi' Batin Clara mengingatkan dirinya.


Clara bangkit dari baringnya, ia jadi tak semangat untuk menonton drakor. Di ujung sofa Reyhan juga diam. 'Ada apa dengan gue? Gue harus kuat, gue nggak boleh jatuh cinta lagi sama dia. Cukup 5 tahun yang lalu gue dikhianati'


Reyhan beranjak dari duduknya menuju ranjang. Ia menutup seluruh tubuhnya dengan selimut. Clara menyandarkan tubuhnya di sofa, dengan kesal ia mematikan TV.


"Kenapa sih akhir-akhir ini gue ngalami kejadian romantis sama dia. Pertama di gudang, kemudian di dapur, terus di bioskop, sekarang di hotel. Perasaan pas kita masih pacaran nggak ada tuh romantisnya, sebenarnya ada sih, tapi gak sesering ini! Eh, kenapa gua malah ngomongin masa lalu ya? Nggak nggak, kejadian lima tahun yang lalu terlalu menyakitkan untuk gue lupakan, jadi gue nggak boleh jatuh cinta lagi sama dia" Ucap Clara.


Reyhan yang mendengarnya dari balik selimut terkekeh sendiri. "Emang bener kejadian lima tahun terlalu menyakitkan untuk dilupakan, tapi buat gue, bukan lo"


Tiba-tiba Reyhan merasakan ada seseorang yang tidur di sebelahnya. Ia segera membuka selimut yang menutupi wajahnya. "Ngapain lo di sini?" tanya Reyhan pada Clara.


"Ya tidurlah Pak Reyhan yang paling saya hormati" Ucap Clara penuh penekanan.


"Lo tidur di sofa" Suruh Reyhan.


"Nggak kebalik Pak? Saya kan wanita jadi seharusnya saya yang tidur di ranjang, bapak yang tidur di sofa. Pria harus mengalah pada wanita" Ucap Clara.


"Terserah lo, gue nggak peduli" Reyhan kembali menarik selimutnya.


"Gue juga nggak peduli, pokoknya gue yang tidur di sini" Ucap Clara melakukan hal yang sama. Satu jam berlalu, Clara tidak bisa tidur. Ia menyesal kenapa tidak tidur di sofa dari awal. Bagaimana mungkin ia bisa tidur dengan seorang pria yang adalah bosnya dan mantan pacarnya?


Clara duduk dengan hati-hati, ia menyingkap selimut Reyhan. "Yah, dia beneran tidur lagi. Apa dia gak deg degan ya tidur sama wanita? Atau emang udah biasa?"


Dengan hati hati Clara turun dari ranjang menuju sofa. Tak lupa ia membawa bantalnya. Tak lama kemudian ia tertidur di sofa.


Reyhan yang sebenarnya juga tidak bisa tidur membuka matanya. Ia duduk sambil menatap Clara. Ia merasa bersalah, tapi mau bagaimana lagi. Selama beberapa jam ia hanya menatap Clara. Entah kenapa ia tidak pernah bosan menatap wajah imut itu. Ia memutuskan untuk memindahkan Clara ke ranjang. Ia mengangkat tubuhnya dengan hati hati dan memindahkannya. Ia menarik selimut untuk menutupi tubuh Clara.


Reyhan berbaring di samping Clara, ia ingin menatap wajah itu lebih lama. Hingga tanpa sadar ia malah tertidur di sampingnya hingga pagi tiba.

__ADS_1


__ADS_2