
5 TAHUN KEMUDIAN
Clara sudah mengubur kenangan tentang Reyhan maupun benda benda yang berhubungan dengan pemuda itu. Sampai sekarang ia masih bingung kenapa Reyhan menuduhnya melakukan yang tidak tidak dengan Farel.
Sebulan yang lalu ia lulus sarjana administrasi perkantoran di usianya yang ke 22 tahun. Beberapa hari yang lalu Clara sudah melamar kerja ke sebuah perusahan ternama di Jakarta. Kebetulan ada lowongan menjadi sekretaris dan ia merasa dirinya cocok dengan pekerjaan itu. Hari ini adalah hari pertamanya bekerja.
Pukul 07:30 Clara sampai di Setya.
"Selamat datang di Setya Company, nona Clara. Perkenalkan saya Tomi, manager HRD. Saya akan mengantar anda untuk berkeliling perusahaan dan mengenalkan anda pada para dewan direksi, direktur, dan manager" Ucap Tomi yang usianya sekitaran tiga puluh tahun.
Clara mengangguk dan segera mengikuti Tomi. Jujur ia sangat gugup karena bertemu banyak orang-orang baru.
Tomi membawanya ke sebuah ruangan. Di sana sudah berkumpul para dewan direksi, direktur, dan manager. Tatapan mereka seperti mengintimidasinya membuatnya bertambah gugup.
"Semuanya, perkenalkan dia nona Clara. Sekretaris baru CEO kita. Saya harap kalian bisa bekerja sama dan membantunya jika ada yang tidak dia mengerti" Ucap Tomi mengenalkan Clara pada mereka.
Mereka mulai mengenalkan diri masing-masing. Clara mencoba mengingat wajah dan nama mereka satu persatu.
Setelah sesi pengenalan, Tomi mengajaknya ke ruangan CEO. Ruangan CEO dan sekretaris di buat satu ruangan untuk memudahkan mereka berkomunikasi dan agar tidak ribet jika ada perlu. CEO sendiri yang mengusulkan ide itu.
Sekarang mereka sudah berada di ruangan tersebut.
"Ini meja anda" Ucap Tomi menunjukkan meja Clara.
Clara melihat ke sekeliling ruangan. Ada pembatas berupa dinding yang membatasi meja CEO dan dapur, di sebelah dapur ada toilet khusus. Meja Clara tepat menghadap dapur. Di samping meja CEO ada sebuah pintu yang entah apa isinya dan di depan meja tersebut ada sofa untuk menerima klien.
"Apa anda bisa memasak?" Tanya Tomi yang di angguki Clara.
"Pak Hendra lebih suka makanan yang di masak sendiri. Beliau pasti akan menyuruh anda memasak makanan untuknya dan itu adalah salah satu tugas anda di sini" Terang Tomi.
"Apa aku juga boleh menggunakan dapur itu?" Tanya Clara.
"Tentu boleh. Oh ya, pak Hendra akan masuk jam sembilan. Anda bisa menyelesaikan dokumen ini selagi menunggunya. Anda hanya tinggal menjadwal nya saja" Ucap Tomi menyerahkan setumpuk dokumen.
'Astaga, banyak sekali. Ah sudahlah, lagian ini juga pekerjaan ku' Clara pun segera mengerjakan pekerjaannya.
Setengah jam kemudian, lelaki paruh baya dengan perut buncit dan dagunya yang berlipat memasuki ruangan.
Clara segera berdiri dan menyapa pria itu. "Selamat pagi, pak"
"Pagi, apa kau sekretaris baruku?" Tanya pria paruh baya itu yang ternyata adalah pak Hendra.
"Iya pak"
Pak Hendra berjalan menuju kursi kebesarannya dan duduk di sana.
"Kau tahu kan jadwalku hari ini?" tanya Pak Hendra.
"Tentu pak, anda ada jadwal bertemu dengan klien di restoran Z jam 11.00 siang" Jawab Clara.
"Aku ingin kau sendirilah yang menemuinya. Katakan aku tidak bisa hadir karena suatu urusan" ucap pak Hendra membuat Clara terkejut. Bukankah tugas itu terlalu berat untuknya yang baru masuk kerja? Apalagi sendirian.
__ADS_1
"Kenapa kau diam?! Cepat pelajari kontrak kerjasamanya! Aku harap kau mendapatkan kontrak itu"
Clara mengangguk dan ingin pergi namun pak Hendra kembali memanggilnya.
"Hei berhenti! Siapa yang menyuruhmu pergi? Cepat buatkan aku makan siang! Aku ingin makan semur jengkol, tempe orek, kentang balado, ayam crispy dan aku ingin semua selesai dalam waktu 1 jam!" Titah pak Hendra membuat Clara menelan ludah mendengarnya.
'Kenapa kakek ini banyak sekali permintaannya?' gerutu Clara dalam hati.
Clara segera melaksanakan perintah Pak Hendra. Setelah selesai membuat makan siang untuk bosnya, ia segera mempelajari kontrak kerjasama dengan sebuah perusahaan retail. Setya Company bergerak dalam bidang kontruksi, properti dan furniture.
"Pak, saya sudah melakukan seperti yang bapak suruh .... Iya, saya menyuruhnya memasak makanan untuk saya ... Mengganggu konsentrasi nya? Aku tidak yakin dia akan mendapatkan kontraknya jika aku menggangu nya ... Baik pak, akan saya lakukan" Pak Hendra langsung mematikan handphone nya saat Clara muncul dari dapur dan mengatakan makanan telah siap.
Clara tidak bisa fokus karena Pak Hendra terus memanggilnya untuk melakukan pekerjaan yang tidak penting seperti memesankan nya makanan, membuat kan minum, bahkan bertanya jam berapa sekarang. Padahal jam tangan melekat di tangannya.
Clara segera ke restoran Z begitu pukul 10.40 diantar taksi. Setelah sampai, ia segera berlari memasuki restoran.
"Maaf pak, saya terlambat" Ucap Clara karena ia terlambat lima menit.
"Santai saja"
"Pak Hendra tidak bisa datang karena ada urusan penting. Ia menyerahkan kontrak kerja sama ini dengan saya" Ucap Clara, pria itu hanya mengangguk.
"Siapa namamu?" Tanya pria itu.
"Clara, pak"
"Namaku Nio, kau panggil aku Nio saja. Aku terlalu muda untuk dipanggil bapak"
"Karena Pak Hendra tidak datang, kita makan berdua saja ya" Ucap Nio.
Tak lama makanan pun datang. Butuh waktu setengah jam mereka menghabiskan makanan itu.
"Kau pasti tahu kan kalau perusahaan ku adalah perusahaan retail terbesar di Jakarta. Barang-barang furniture yang kami pasarkan juga berkualitas. Apakah kau yakin barang barang furniture yang kalian produksi itu berkualitas?" tanya Nio membuka pembicaraan.
"Tentu barang-barang kami berkualitas. Jika anda tidak percaya, anda boleh mengeceknya sendiri" Jawab Clara lugas.
"Setya Company bukan satu-satunya perusahaan bisnis furniture di Jakarta. Masih banyak perusahaan furniture yang tak kalah bagusnya. Apa alasan aku harus memilih perusahaan kalian?"
Clara terdiam sejenak mendengar pertanyaan Nio.
"Memang benar masih banyak perusahaan furniture di luaran sana. Tapi furniture yang kami hasilkan selalu berkualitas dan laku di pasaran. Anda juga bukan satu-satunya perusahaan retail di Jakarta. Saya bisa saja menandatangani kontrak dengan perusahaan lain. Bukankah Anda yang lebih dulu mengajukan kontrak kerjasama dengan kami?" tanya Clara yang membuat Nio yang sekarang terdiam.
Prok prok prok
"Kau hebat Clara. Aku suka gayamu. Benar yang kau katakan, barang furniture yang kalian hasilkan memang selalu laku di pasaran, karena itu aku ingin bekerja sama dengan kalian. Bagaimana kalau kita menandatangani nya sekarang?"
Clara tersenyum dan menyetujuinya. Akhirnya pekerjaannya selesai. Ia segera kembali ke Setya Company.
"Hai bro. Gue udah ngetes sekretaris baru lo. Sumpah, dia keren banget. Bisa bisanya dia mengembalikan kata kata gue dan membuat gue mati kutu. Sikapnya juga tenang dan sangat elegan, selain itu orangnya juga cantik. Pokoknya sekretaris baru lo ini sangat the best!" Ucap Nio menelpon seseorang.
Sesampainya Clara di Setya Company. Ia baru membuka pintu, ia bahkan belum masuk namun sudah di suguhi dengan berbagai pertanyaan.
__ADS_1
"Bagaimana, apa berhasil? Kau tidak membuat masalah kan? Kau tidak salah menyebut nama perusahaan kita kan? Kau tidak gugup saat menjawab pertanyaan nya kan?" Tanya Pak Hendra yang sudah berdiri di depan pintu.
"Astaga, pak. Setidaknya biarkan aku duduk dulu. Kerjasama nya berhasil dan aku tidak membuat kesalahan sedikitpun" Clara segera duduk di kursinya dan melewati pak Hendra begitu saja. Terlihat tidak sopan, namun ia tidak peduli karena lelah.
"Kerja bagus!"
'Hanya itu apresiasi pak Hendra setelah apa yang aku lakukan?' Batin Clara kesal.
Pak Hendra keluar dari ruangan. Ia terlihat menelpon seseorang dengan nada berbisik.
"Halo pak, sekretaris baru itu sudah mengerjakan pekerjaannya. Ia mendapatkan kontrak itu. Sepertinya dia gadis yang ulet dan cerdas ... Aku tidak yakin ia penyabar, tapi dia memiliki pekerjaan yang bagus"
Setelah memberi laporan, pak Hendra pun masuk kembali ke ruangannya.
Pukul 5 sore Clara selesai dengan pekerjaan nya. Ia sedang menunggu taksi dan tak lama taksi pun datang mengantarnya ke rumahnya.
Clara merebahkan dirinya di kasur. Ia baru selesai mandi.
Tring!
"Ra, ngumpul yuk! Di kafe biasa ya" Ajak Mita.
Mau tidak mau ia harus datang karena ia tahu Mita pasti akan marah jika ia tidak datang.
Pukul 7 malam ia sampai di kafe. Terlihat sahabat sahabatnya sudah berkumpul.
"Masam amat muka lo, Ra" Ucap Mira melihat wajah Clara.
Clara tak merespon dan segera duduk.
"Padahal lo udah jadi sekretaris CEO loh. Seharusnya wajah lo bahagia karena wajah CEO itu pasti tampan tampan" Ucap Mita.
"Tampan? Mirip kuda nil gitu lo bilang tampan. Gue eneg sama bos gue. Banyak banget permintaannya" Keluh Clara.
"Emang bos lo jelek?" Tanya Rena polos.
"Gak jelek sih, Ren. Cuma wajahnya kurang enak di lihat" Sahut Clara.
"Udah lama juga ya kita gak hang out bareng. Kalian semua pada sibuk sama kerjaan masing masing" Celetuk Santi.
"Kita udah dewasa, San. Bukan anak SMA lagi. Gue jadi kangen masa SMA" Ucap Mira mengenang masa lalu.
"Kangen masa SMA atau kangen sama kak Dimas? Hahaha" Tanya Mita mengejek.
"Kangen masa SMA lah, ngapain gue kangen sama cowok itu?" Ucap Mira kesal.
"Bilang aja masih cinta. Lagian siapa yang nyuruh kalian putus" Ucap Clara juga tertawa.
Malam itu Clara menghabiskan waktunya bersama para sahabatnya. Mereka membahas masa sekolah dulu, pekerjaan juga asmara.
********
__ADS_1