Cinta Yang Bertemu Kembali

Cinta Yang Bertemu Kembali
Bab 51


__ADS_3

Reyhan terbangun di pagi hari dan mendapati Clara tidur di pelukannya. Ia terkejut, tapi ia berusaha untuk tidak bergerak agar tidak membangunkan Clara. Hatinya bertanya tanya, kenapa Clara bisa tidur bersamanya?


Reyhan kemudian mengingat ingat kejadian semalam. Ternyata ia lupa bahwa ialah yang memindahkan Clara ke ranjang dan tanpa sadar tertidur di samping Clara. Sekarang ia sudah mengingat semuanya.


Di pandanginya wajah imut itu dari dekat. Wajah yang meneduhkan hati dan membuatnya jatuh cinta, tapi itu dulu. Sekarang ia begitu membenci wanita di pelukannya itu. Reyhan teringat dengan rencananya untuk membuat Clara cemburu dan tidak nyaman hingga akhirnya Clara memilih resign. Mungkin hari ini adalah waktu yang tepat untuk melakukannya.


Hoaamm!


"Pagi_Aaarrgh!!" Teriak Clara saat mendapati Reyhan ada di samping nya dalam keadaan memeluk dirinya.


Reyhan segera melepaskan pelukannya dan memasang ekspresi datar. "Akhirnya lo bangun juga. Nyaman ya tidur sambil meluk gue?"


"Ish, mana ada gue meluk lo!" Teriak Clara kesal. Ia menyingkap selimut nya dan bernafas lega saat pakaian nya masih lengkap.


"Untunglah gak ada yang kurang... Awas kalau tadi malam terjadi sesuatu, bakalan gue cincang lo terus gue kasih ke peliharaan gue" Ancam Clara menatap tajam Reyhan.


"Sok suci, padahal udah pernah begitu bareng Farel" Gumam Reyhan tak memedulikan Clara dan memilih untuk mandi.


Tak lama, Reyhan keluar dari kamar mandi dengan setelan jas nya. Clara sedikit kesal, ia berpikir bisa melihat roti sobek seperti di novel yang sering di bacanya.


***


Clara sedikit bingung, ia ingat sudah pindah ke sofa, bagaimana mungkin ia bisa kembali ke ranjang? Selama perjalanan menuju tempat cabang baru di bangun, hanya hal itu yang bersarang di pikirannya.


Mobil berhenti. Reyhan keluar dari mobil dan berjalan meninggalkan Clara. Clara menggerutu kesal dan segera mengikuti kaki jenjang Reyhan.


"Selamat datang pak Reyhan" Ucap seseorang menjabat tangan Reyhan.


"Perkenalkan saya Yono, saya yang bertanggung jawab atas pembangunan cabang baru ini"


"Baik pak Yono, kira kira sudah berapa persen pembangunan nya?" Tanya Reyhan, ia melihat sekeliling bersama pak Yono. Sedangkan Clara sibuk mencari Reyhan.


"Sudah 80% pak. Kira kira sebulan lagi akan selesai" Ucap pak Yono.


"Baiklah, saya akan terus pantau tempat ini selagi saya masih di sini. Kalau begitu saya pergi dulu" Ucap Reyhan.


"Mau saya antar pak?" Tawar pak Yono.


"Tidak perlu, lagian saya ingin melihat lihat dulu" Tolak Reyhan. Ia mulai berkeliling memperhatikan setiap sudut gedung dan para pekerja.


"Pak Rey!" Panggil Clara. Ia menghampiri Reyhan yang menatapnya sinis.


"Lama, jika tetap ingin menjadi sekretaris gue, lo harus gesit. Jika lo tertinggal lagi, maka gue akan langsung mecat lo" Ancam Reyhan.


"Lagian bapak cepat benget ngilang nya. Kalau jalan tuh harus pelan pelan, ini kayak di kejar setan" Ucap Clara. Ia mengikuti Reyhan berkeliling.


"Makanya kalau punya badan jangan mungil, jadinya kaki lo mungil juga kan" Balas Reyhan.


"Lebih baik daripada badan lo yang tinggi setinggi tiang listrik" Balas Clara.


"Itu lebih baik daripada lo yang pendek kayak kurcaci" Balas Reyhan.

__ADS_1


Clara yang kesal ingin mencubit Reyhan. Sayangnya Reyhan sudah lari duluan, jadinya ia hanya mencubit angin. "Dasar tiang listrik! Mau kemana lo?!"


Matanya terpaku pada Reyhan yang menolong seorang pekerja. Pekerja itu terlihat lemah, usianya kira-kira lima puluh tahun.


"Pak, bapak gak apa apa kan?" Reyhan menurunkan kayu yang di bawa bapak itu. Ia segera memapah bapak itu ke bawah pohon.


"Clara, belikan air mineral, cepat!" Perintah Reyhan. Clara segera menjalankan perintah Reyhan. Setelah membelinya, ia segera memberikannya pada bapak itu.


"Pak, bapak kan sudah tua, kenapa masih kerja aja pak?" Tanya Clara. Bapak itu telah selesai minum.


"Saya harus melakukannya jika ingin makan" Jawab bapak itu.


"Carilah pekerjaan yang lebih tepat untuk bapak. Saya akan berikan uang pensiun nya dua kali lipat, tapi bapak harus berhenti bekerja, biarlah anak anak bapak yang bekerja" Ucap Reyhan.


"Saya hanya tinggal sendiri, lagipula jika saya pensiun, saya akan kerja di mana, mencari pekerjaan sekarang sulit. Jika dapat pun, tidak akan cukup untuk sehari hari" Ucap bapak itu.


Reyhan terlihat berpikir, ia menelpon seseorang. Cukup lama ia berbincang dengan orang tersebut hingga ia mematikan sambungan nya. "Bapak pergilah ke supermarket yang baru selesai di bangun di jalan F besok. Katakan saja bapak adalah orangnya pak Reyhan" Ucap Reyhan.


"Hari ini adalah hari terakhir bapak kerja di sini. Saya sudah menghubungi pak Yono untuk mengurusnya. Ini kartu nama saya, hubungi jika ada yang ingin di tanyakan" Reyhan kemudian meninggalkan bapak tersebut yang bingung. Clara segera mengikuti Reyhan. Setelah mereka ada di mobil ..


"Pak Rey mecat bapak itu?" Tanya Clara.


"Ya"


"Tapi kenapa pak? Aku tahu bapak itu sudah tua untuk kerja bangunan. Tapi kalau di pecat, dia mau kerja di mana? Di supermarket yang bapak bilang?" Tanya Clara.


"Ya"


"Jadi apa? Jadi kasir atau tukang bersih bersih?" Tanya Clara lagi.


Mereka segera mencari hotel terdekat. Tentu mereka pindah dari hotel yang lama karena jaraknya yang jauh dan mereka harus tinggal satu kamar. Beruntungnya hotel ini masih banyak kamar yang kosong. Kamar mereka berhadapan.


***


Malamnya mereka bersiap siap untuk makan malam bersama klien di restoran tak jauh dari hotel. Clara terlihat cantik dengan balutan gaun malamnya. Ia menunggu Reyhan di depan kamarnya.


Tak lama Reyhan keluar dengan balutan jas hitamnya. Matanya terpaku dengan kecantikan Clara malam itu. Ia berpura pura sibuk dengan dasinya.


"Cepat pak! Nanti kita terlambat" Ucap Clara tak sabar.


"Sebentar" Ucap Reyhan yang masih sibuk dengan dasinya.


"Lama" Clara segera menarik dasi Reyhan ke atas hingga mencekik lehernya.


"Ekk, Ra, ke ke cekik" Ucap Reyhan terbata.


"Eh, maaf pak" Ucap Clara cengengesan, ia merapikan kembali dasi tersebut.


Dengan kesal, Reyhan meninggalkan Clara. Clara segera mengikuti pria itu, ia ingat ancaman Reyhan siang tadi.


Mobil mereka melaju ke restoran tempat pertemuan dengan klien. Sesampainya mereka di sana, mereka segera menyapa Pak Bowo dan Bu Nita serta satu orang wanita di samping mereka.

__ADS_1


"Malam juga pak Reyhan. Kenalkan ini putriku, Berlian" Ucap pak Bowo. Wanita muda yang ternyata anaknya itu tersenyum pada Reyhan. Reyhan mengangguk.


"Baiklah, kita makan saja dulu" Ucap pak Bowo. Mereka menyantapnya dengan canda tawa. Reyhan hanya bereaksi sedikit. Clara lah yang lebih sering berbicara. Clara melihat Berlian yang tersenyum menatap Reyhan. Reyhan cuek dan seperti tidak mengetahuinya.


"Baiklah, kita mulai bicara serius" Ucap pak Bowo sambil membersihkan mulutnya menggunakan tisu.


Clara yang mendengar itu segera mengeluarkan beberapa dokumen. Reyhan memasang posisi serius. Matanya terlihat tajam dengan ekspresi wajah yang dingin. Ia tahu jika Berlian terus menatapnya.


"Ini beberapa rincian tentang villa yang pak Bowo inginkan" Ucap Clara menyerahkan dokumen tersebut.


Pak Bowo segera melihatnya. Ia terlihat memilih, hingga akhirnya ia memilih salah satu villa tersebut.


"Aku ingin yang ini"


"Baiklah, besok kita akan ke sana dan melihat lebih dalam lagi" Ucap Reyhan.


"Baik. Saya tidak sabar untuk melihatnya" Ucap pak Bowo.


"Oh ya, pak Reyhan apa sudah punya pacar?" Tanya Bu Nita tiba-tiba.


Reyhan tersenyum tipis. Ia memilih untuk tidak menjawab.


"Kenapa bertanya seperti itu Ma? Itu tidak sopan" Ucap pak Bowo.


"Em, maaf kalau begitu. Aku hanya penasaran saja. Lagian sepertinya Berlian tertarik padamu" Ucap Bu Nita. Ia menatap putrinya yang malu.


"Sepertinya begitu. Pak Reyhan, jika tidak keberatan bisakah kau menjawabnya" Ucap pak Bowo.


"Tidak, aku tidak punya pacar" Jawab Reyhan.


"Wah, itu berita bagus untukmu Berlian" Ucap Bu Nita.


"Ya, aku tidak mempunyai pacar, tapi aku sudah bertunangan" Ucap Reyhan menunjukkan cincinnya.


Pak Bowo, Bu Nita dan Berlian terdiam. Clara tersenyum tipis melihatnya. Ia segera meminum jus miliknya.


"Ah, sudah bertunangan ya. Sayang sekali. Pasti nona Clara adalah tunangan pak Reyhan" Ucap Bu Nita.


Uhuk!!


Clara yang mendengar itu langsung tersedak. "Bu bukan, saya hanya sekretaris pak Reyhan saja"


"Sudahlah, jangan membahas hal itu lagi. Kalian menginap di mana sekarang?" Tanya pak Bowo.


"Di hotel S" Jawab Reyhan.


"Benarkah? Kita satu hotel ternyata. Jika begitu kau bisa berkunjung ke kamar kami" Ucap pak Bowo. Reyhan mengangguk.


"Kamar nomor berapa?" Tanya Berlian. Clara terkejut, ia pikir Berlian bisu karena hanya diam saja dari tadi.


"Nomor 327" Jawab Reyhan. Ia sengaja memberikan nomor kamar Clara. Clara menatap heran pada Reyhan, tapi pria itu tak memedulikan nya.

__ADS_1


"Baiklah, kami akan mengunjungi kalian nanti" Ucap Berlian, ia tersenyum manis pada Reyhan. Clara yang melihatnya jadi kesal sendiri.


"Kalau begitu kami pamit dulu" Ucap Reyhan. Ia kemudian menjabat tangan mereka dan pulang kembali ke hotel, tentunya bersama Clara.


__ADS_2