
Keesokan harinya di perusahaan Setya. Akibat kebakaran itu membuat perusahaan nya mengalami kerugian yang cukup besar. Beruntungnya klien klien nya mau mengerti dan tidak menuntutnya.
Akibat kebakaran itu juga membuat ia harus bekerja ekstra dan mungkin akan lembur beberapa hari.
"Pak, ini kopinya" Ucap Clara meletakkan kopi Reyhan di meja. Reyhan mengangguk tanda terimakasih.
Tok tok
"Masuk" Ucap Reyhan tanpa menoleh.
"Pak, ini dokumen yang anda minta. Itu semua mencakup kerugian kita dan barang barang yang terbakar habis maupun sebagian. Dan ini, pak Badrun, beliau dari kepolisian" Ucap Pak Bono. Polisi alias pak Badrun yang berdiri di sebelahnya mengangguk.
"Saya Reyhan" Ucap Reyhan menjabat tangan pak Badrun.
Pak Bono pamit undur diri. Reyhan memberikan dokumen tersebut kepada Clara kemudian mengajak pak Badrun bicara.
"Apa ada sesuatu pak?" Tanya Reyhan.
"Begini pak Reyhan, kami memeriksa cctv di rumah depan pabrik anda. Di situ terekam orang misterius menggunakan hoodie. Di tangannya ada jerigen yang kami duga berisi minyak bensin. Ia berjalan ke belakang pabrik anda dan setelah ia kembali, kebakaran itu pun terjadi" Ucap pak Badrun sambil menunjukkan rekaman tersebut.
"Jadi maksud anda, ada yang sengaja membakar pabrik ku?" Tanya Reyhan. Clara yang mendengar dari mejanya, terkejut.
"Benar, dugaan kami seperti itu. Kami akan terus menyelidikinya" Ucap pak Badrun. Setelah berbincang beberapa saat, pak Badrun pun pamit ke kantornya.
"Ini aneh" Gumam Clara.
Beberapa jam kemudian. Reyhan mendapat telpon dari Dimas yang mengajaknya bicara. Reyhan bergegas mengajak Clara menuju tempat yang di katakan Dimas.
Sesampainya mereka di tempat yang di maksud yaitu sebuah warung makan sederhana. Mereka berempat segera membicarakan masalah yang menimpa mereka.
"Gue punya berita buruk dan berita bagus Rey. Lo mau dengar yang mana dulu?" Tanya Dimas.
"Berita bagus"
"Gue dan Nio udah datangi orang yang bernama Tini. Kemungkinan dialah yang menuangkan racun ke makanan itu. Sepertinya polisi tidak peduli dengan kasus ini, terbukti mereka belum mengunjungi Tini sampai saat ini" Ucap Dimas.
"Tapi sidik jari kak Mira ada di botol itu" Ucap Clara.
"Gue tahu. Pasti ada trik yang di gunakannya hingga bukan sidik jarinya yang ada di botol itu" Ucap Dimas.
"Berita buruknya?" Tanya Reyhan.
"Semalam barang barang gue di tukar oleh beberapa orang. Di perjalanan ada yang menghadang pekerja gue dan membuatnya pingsan. Orang misterius itu menggantikan orang orang gue dan menukar mobil box gue. Karena hal itu gue harus ganti rugi karena barang yang dikirim kualitas nya buruk. Beruntungnya Nio memasang cctv di setiap mobil box dan setelah kami melihat rekaman nya, mobil itu di bawa ke sebuah gudang di pinggiran kota" Ucap Dimas menjelaskan.
"Lo udah tahu siapa pelakunya?" Tanya Reyhan.
"Belum. Tapi mereka menggunakan hoodie hitam sama seperti yang merusak cctv rumah di samping restoran" Ucap Dimas.
"Hoodie hitam. Tadi malam pabrik gue di kota b terbakar. Ada yang sengaja membakarnya dan orang itu menggunakan hoodie hitam juga. Apa mereka orang yang sama?" Tanya Clara. Reyhan, Dimas dan Nio terlihat berpikir. Tiba tiba Nio menjentikkan jarinya.
"Gue tahu, jangan jangan itu suruhan Fathan!" Ucapnya.
__ADS_1
"Benar, Fathan pasti ingin balas dendam. Pertama kak Mira, kak Dimas kemudian pak Rey. Pasti dia dalangnya" Balas Clara. Ia dan Nio langsung adu tos. Reyhan yang melihatnya menunjukkan wajah tak suka.
"Itu bisa jadi. Kita hanya harus mencari bukti" Ucap Dimas.
"Dia ingin balas dendam sama kita. Gue, Dimas dan Mira, baru tiga orang. Bukankah masih ada .." Ucap Reyhan tergantung.
"Mita dan Santi!" Lanjut Clara. Ia terlihat khawatir.
"Kita harus menemui mereka" Ucap Nio. Clara menyarankan untuk pergi ke kafe milik Mita. Ia juga sudah menelpon Santi agar ke sana.
Sesampainya di sana. Terlihat Mita sedang adu mulut dengan seseorang. Melihat Clara dan lainnya datang, ibu ibu yang adu mulut dengan Mita tadi memilih pergi.
"Ta, apa yang terjadi?" Tanya Clara menghampiri Mita yang terlihat kesal.
"Pemilik kafe ini, dia bilang ada yang ingin membelinya dengan harga fantastis. Dia nyuruh gue segera angkat kaki. Gue udah bayar setengah dari harga kafe ini dan gue udah merenov ulang ni kafe, enak aja dia nyuruh gue pergi" Kesal Mita. Clara segera memberikan segelas air pada Mita yang langsung di teguk wanita itu.
"Eh, kok lo tumben ke sini?" Tanya Mita yang baru sadar, ia juga baru sadar jika Clara tidak sendiri.
"Ini kak Reyhan kan? Wah, tambah ganteng aja. Tapi kenapa kalian bisa bareng?" Tanya Mita.
"Reyhan doang yang lo sapa, gue engga?" Tanya Dimas. Mita mengerutkan keningnya dan mencoba mengingat siapa pria di depannya itu.
"Astaga, lo gak ingat gue Ta? Gue Dimas, temannya Reyhan" Ucap Dimas kesal. Mita menutup mulutnya sangking terkejutnya.
"Kak Dimas?! Astaga, kenapa mukanya berubah ya? Jadi lebih ganteng, beda banget sama yang dulu, hihi" Ucap Mita. Dimas hanya melengos mendengarnya.
"Ra, jawab! Kenapa kalian bisa bareng gini? Emangnya ada apa sih?" Tanya Mita mengulang pertanyaannya.
"Gue sekretaris pak Reyhan" Ucap Clara kikuk.
"Bukan Ta, nanti gue jelasin deh" Ucap Clara. Clara kemudian menceritakan semuanya, tentang Reyhan yang ternyata bos nya, Fathan yang kembali untuk balas dendam, Mira yang di tahan, dan masalah yang di alami Reyhan dan Dimas. Mita mengangguk paham.
Tak lama, Santi juga datang. Ia cukup terkejut melihat Reyhan dan Dimas ada di sana. Berbeda dengan Mita yang tidak mengenali Dimas, Santi masih mengingat jelas wajah keduanya. Clara langsung menceritakan persis seperti yang di ceritakannya pada Mita. Tak lupa, mereka juga berkenalan dengan Nio.
Mereka langsung bicara serius. Clara bertanya apakah terjadi sesuatu pada mereka.
"Beberapa hari ini, ada aja orang yang ngelempar batu ke kafe gue. Gue jadi sering gonta ganti kaca karena hal itu. Di batu itu juga ada ancaman, gue harus ninggalin kafe ini atau dia akan bakar kafe gue" Ucap Mita. Ia menarik nafas sebentar.
"Gue pernah ngejar orang itu. Dia pake Hoodie hitam. Sayangnya orang itu terlepas" Lanjut Mita.
"Gue juga akhir akhir ini di ikuti orang misterius. Kemanapun gue pergi, orang itu pasti selalu ngikutin. Gue juga pernah beberapa kali hampir ketabrak mobil" Ucap Santi. Semua terkejut mendengarnya.
"Kita memang di serang oleh orang yang berbeda namun dari pemimpin yang sama. Kita harus mencari bukti jika pemimpin itu adalah Fathan" Ucap Reyhan.
"Gue, Reyhan, Mira, Mita dan Santi. Kita semua sudah pernah di serang oleh orang misterius itu. Hanya satu orang yang belum .." Semua orang langsung melihat ke arah Clara saat Dimas mengatakan itu.
"Gue?!" Tanya Clara. Reyhan terlihat cemas. Entah apa yang akan dilakukan Fathan pada Clara.
"Benar. Begini saja, bagaimana jika kita mengawasi salah satu dari kita? Yang paling dia serang adalah Santi, dan Clara belum tersentuh sama sekali. Bagaimana jika kita mengawasi mereka berdua?" Usul Mita. Semua mengangguk setuju.
"Tapi gue gak bisa ikut. Gue harus mengawasi mobil box gue yang sudah di curi" Ucap Dimas.
__ADS_1
"Begini saja, Mita mengawasi Santi, Dimas dan Nio pergi ke gudang pinggiran kota dan pak Reyhan .. mengawasi gue" Usul Clara yang di setujui oleh mereka.
Setelah membicarakan hal itu, mereka kembali ke aktivitas masing masing.
Saat Reyhan dan Clara kembali ke kantor, jam sudah menunjukkan pukul tiga sore. Reyhan kembali ke laptopnya sedangkan Clara memilih mengajak Tomi bicara di atap. Lagipula saat ia sampai di ruangan, Adel sudah berada di sana. Ia tidak ingin menjadi obatnyamuk bagi mereka.
"Napa lo? Kok muka lo kusut?" Tanya Tomi sambil memberikan minuman dingin pada Clara.
"Banyak beban gue. Kerjaan menumpuk, belum lagi ada yang pengen balas dendam sama gue" Ucap Clara kemudian meminum minuman nya.
"Siapa yang pengen balas dendam sama lo?" Tanya Tomi khawatir.
Clara tertawa melihat Tomi yang begitu khawatir. "Santai Tom, orangnya gak seberbahaya itu kok" Ucap nya menenangkan.
"Gak berbahaya gimana? Orang kalau mau balas dendam, pasti pakai cara yang ngeri ngeri sedap. Kalau lo luka gimana?" Tanya Tomi.
"Uuuu, perhatian banget sih Abang aku ini. Lo tenang aja, gue pasti baik baik saja kok" Ucap Clara.
"Gue antar pulang lo malam ini" Ucap Tomi setengah memaksa.
"Gue lembur"
"Sampai pagi pun bakalan gue tunggu" Ucap Tomi. Clara akhirnya mengalah dan membiarkan Tomi mengantarnya malam ini.
...----------------...
Jam sudah menunjukkan pukul sembilan malam. Clara bersiap untuk pulang sedangkan Reyhan masih sibuk dengan laptopnya.
"Pak, aku pulang dulu ya" Pamit Clara. Reyhan hanya berdehem.
"Bapak gak pulang?" Tanya Clara.
"Gue bisa tidur di sini" Jawab Reyhan tanpa mengalihkan pandangannya dari laptop.
"Baik pak, saya pamit dulu" Clara segera meninggalkan ruangan. Saat ia akan menutup lift, tiba tiba Reyhan memanggil nya.
"Ra, tunggu" Reyhan segera memasuki lift dan berdiri di samping Clara. "Gue bakalan anter lo pulang. Mungkin malam ini giliran lo" Ucap Reyhan. Lift turun melewati lantai lantai yang ada di bawahnya.
"Terimakasih pak, tapi saya sudah di tunggu sama Tomi. Saya akan pulang bareng dia" Ucap Clara.
"Bareng gue aja, lebih aman daripada sama dia" Paksa Reyhan. Clara tetap menolak. Reyhan terus mengikutinya sampai parkiran.
"Pak Reyhan juga mau pulang?" Tanya Tomi basa basi.
"Biar gue aja yang anter Clara pulang" Ucap Reyhan.
Tomi menatap Clara. Ia bingung harus berkata apa.
"Tidak perlu pak, Tomi bisa mengantar saya kok" Ucap Clara.
Reyhan akhirnya setuju. Setelah Clara dan Tomi pergi, ia segera mengikuti mereka diam diam. Ia merasa akan terjadi sesuatu yang buruk pada Clara. Benar saja dugaan nya, baru beberapa kilometer berjalan, ada sebuah mobil yang ingin menabrak mobil Tomi. Beruntungnya Tomi bisa menghindar. Reyhan segera melajukan mobilnya untuk mengejar mobil misterius itu.
__ADS_1
Clara segera keluar bersama Tomi. Beruntungnya mereka tak terluka sedikitpun. Clara dan Tomi memutuskan untuk menunggu Reyhan yang mengejar mobil misterius itu.
Reyhan kembali karena ia kehilangan jejak mobil tersebut. Untuk berjaga jaga, ia juga ikut mengantar Clara pulang.