
"Tom, please maafin gue. Maaf karena udah ngakuin lo sebagai pacar gue. Gue gak bermaksud apa apa kok, swear. Gue cuma_"
"Gak apa apa kok. Lo gak usah khawatir, gue gak marah sama lo. Lagian, gue juga mau jadi pacar lo yang sesungguhnya" Ucap Tomi menatap lekat kearah Clara. Clara terkejut mendengar ucapan Tomi.
"Maksud lo?"
"Gue suka sama lo, Ra. Gue mau jadi pacar lo. Ah tidak, lo mau kan jadi pacar gue?" Tanya Tomi.
Clara masih terdiam mencoba mencerna ucapan Tomi.
"Gue tahu ini buat lo terkejut. Jujur, gue suka sama lo dari awal kita ketemu. Gue bukan diemin lo, tapi gue terlalu bahagia dan gugup karena lo ngakui gue sebagai pacar lo"
"Ra, gue harap lo mau nerima gue sebagai pacar lo" Lanjut Tomi. Clara melihat tatapan tulus dari pria di depannya. Tomi tidak sedang main main.
Ia bingung mau menjawab apa hingga ia terdiam cukup lama.
"Maaf Tom, gue gak bisa. Gue cuma menganggap lo sebagai saudara gue. Gue gak punya perasaan lebih. Maaf kalau gue mengakui lo sebagai pacar gue, itu karena gue gak mau bikin kak Mira khawatir. Gue gak mau dia berpikir gue belum move-on dari mantan gue"
"Maaf Tom, tapi gue gak bisa menerima lo" Ucap Clara, ia menunduk. Ia tidak berani menatap Tomi, ia yakin Tomi kecewa dengannya.
Tomi terdiam. Ia kecewa karena Clara menolaknya. Tapi ia tidak bisa berbuat apa apa. Berada di dekat Clara dan melihat wanita itu tersenyum sudah cukup baginya.
"Gak apa apa Ra. Gue ngerti dan gue gak memaksa" Ucap Tomi mengusap rambut Clara.
Clara menatap sendu ke wajah Tomi. Ia tahu Tomi pasti sangat kecewa. Bagaimana pun juga, Tomi sudah di anggap sebagai kakaknya.
"Kita masih saudara kan?" Tanya Clara menatap lekat wajah pria didepannya.
"Iya adek ku" Tomi mencubit pipi Clara dengan gemas.
"Makasih ya bang karena udah ngertiin aku" Ucap Clara tersenyum yang dibalas senyuman juga oleh Tomi.
Tomi mengantar Clara sampai ke rumah nya. Ia melambaikan tangan saat Clara menutup pintu rumahnya. Wajahnya seketika berubah sedih saat Clara sudah masuk ke rumahnya. Pupus sudah harapannya untuk bisa bersama Clara.
*****
Keesokan harinya saat Clara bekerja. Ia merasa Reyhan terus mengawasinya dengan tatapan mengintimidasi. Itu membuatnya tak nyaman. Ia meletakkan dokumen dengan kasar dan balik menatap Reyhan.
"Kenapa sih pak? Emangnya aku ada salah?" Tanya Clara kesal.
"Lo beneran pacaran sama Tomi?" Tanya Reyhan sambil meminum kopinya.
"Astaga pak! Aku pikir aku melakukan kesalahan, ternyata hanya karena ini!!"
"Karyawan tidak boleh pacaran karena akan mengganggu kinerja saja. Kerjaan kalian akan kacau karena tidak fokus" Ucap Reyhan.
"Biarin, lagian gak ada peraturan yang melarang pacaran sekantor" Ucap Clara sinis dan meninggalkan Reyhan.
****
Di jam istirahat, Clara memutuskan untuk menemui Tomi. Saat sampai di ruangan Tomi, Ia bingung kenapa Tomi membereskan barang barangnya.
"Tom!" Panggilnya.
"Eh, lo di sini" Tomi segera menarik Clara duduk.
"Kenapa lo beresin barang barang lo?" Tanya Clara.
Tomi tersenyum kecut. "Pak Reyhan memindah tugaskan gue ke kantor cabang di Bogor"
__ADS_1
"What?!" Clara terlihat terkejut. Apa alasan Reyhan memindah tugaskan Tomi?
"Tapi kenapa?" Tanya Clara.
"Dia menyuruhku untuk mengurus kantor itu. Lagian aku manager HRD kan, pasti banyak yang akan melamar kerja di sana dan aku harus mengurus itu" Ucap Tomi.
"Jadi lo bakalan pindah ke Bogor?" Tanya Clara berkaca kaca. Sudah dua bulan ia bekerja di sini dan hanya Tomi satu satunya orang yang begitu dekat dengannya. Ia bahkan sudah menganggap pria itu sebagai saudara nya.
"Jangan sedih, gue janji akan sering mengunjungi lo. Jika ada masalah, ceritakan sama gue. Gue akan siap mendengarkan nya" Ucap Tomi, namun Clara tetap saja sedih.
"Kapan lo pergi?"
"Setelah gue selesai membereskan barang-barang di sini" Sahut Tomi.
"Beritahu gue saat lo akan pergi. Saat sampai di Bogor, jangan lupa untuk mengabari gue" Ucap Clara.
"Iya adek ku yang manis" Ucap Tomi.
Clara kembali ke ruangannya, ia berjalan cepat menuju meja Reyhan kemudian menggebraknya.
"Apa maksud lo memindah tugaskan Tomi ke Bogor?!" Tanya Clara dengan penuh amarah.
"Apa itu salah? Gue juga punya alasan ngelakuin ini. Agar kalian tidak pacaran saat di kantor" Jawab Reyhan dengan santai.
Clara benar benar marah, hanya karena itu ia sampai memindah tugaskan Tomi. Sungguh keterlaluan.
*****
Hari hari berikutnya Clara bersikap ketus pada Reyhan. Ia masih marah pada bos nya itu. Terbesit di pikirannya untuk resign dari pekerjaannya.
"Clara! kenapa kopiku asin?!" Tanya Reyhan memuntahkan kopi yang sudah ia minum.
"Buatkan gue lagi!" Perintah Reyhan.
"Kenapa gak lo buat sendiri. Tangan masih ada, kaki ada, mata ada, otak juga masih ada. Semua masih lengkap. Jadi lo bisa kan buat sendiri" Ucap Clara ketus.
"Lo mau gue pecat?!" Teriak Reyhan.
"Pecat aja, gue gak peduli"
Reyhan memilih diam daripada terus meladeni Clara.
"Hai semuanya!!" Sapa Adel memasuki ruangan.
"Hai Adel" Balas Clara.
Adel segera duduk di sampingnya.
"Kak, lo bisa gak bujuk kak Reyhan buat ngedate sama gue nanti malam" Pinta Adel dengan berbisik.
Clara mengerutkan keningnya. Kenapa Adel meminta padanya? Kenapa tak ia sendiri yang membujuk Reyhan?
"Kenapa gak lo aja?" Tanya Clara dengan berbisik juga.
"Gak mempan kak. Gue yakin lo bisa" Ucap Adel. Clara akhirnya setuju setelah Adel terus mendesaknya.
"Pak, Adel ngajakin lo kencan tuh" Ucap Clara masih ketus.
"Udah gue bilangin, gue sibuk" Ucap Reyhan tanpa melihat Clara.
__ADS_1
"Lo harus mau atau ..." Clara mendekatkan dirinya pada Reyhan hingga pria itu bisa merasakan hembusan nafas Clara menerpa pipinya.
Clara segera membisikkan sebuah kalimat yang membuat Reyhan ketakutan.
"Atau gue akan meneror lo dengan kostum hantu, membuat lampu hidup mati, menceritakan kisah seram, memutar suara kuntilanak, dan menyanyikan kidung pemanggil arwah untuk mu, hihihi"
"Oke, gue akan pergi ngedate sama Adel" Ucap Reyhan pada akhirnya. Adel berteriak kegirangan. Clara tersenyum miring saat usahanya berhasil.
"Baik, tapi sebelum itu anda harus pergi menemui investor di hotel Bintang" Ucap Clara bersedekap dada.
"Gue gak bisa. Gue kan harus ngedate sama Adel karena lebih cepat lebih baik. Jadi lo harus pergi sendiri" Ucap Reyhan menatap tajam Clara.
"Gak bisa gitu dong pak" Kesal Clara.
"Kenapa gak pergi sendiri aja. Tangan masih ada, kaki ada, mata ada, otak juga masih ada. Semua masih lengkap. Jadi lo bisa kan pergi sendiri" Ucap Reyhan menirukan ucapan Clara.
"Lagian gue ada urusan. Ayo kita pergi" Reyhan menarik tangan Adel untuk meninggalkan Clara.
"Sial! Awas lo, bakalan gue teror beneran, sampai lo terkencing kencing di celana" Ancam Clara, namun Reyhan sudah pergi.
Ia segera pergi menuju hotel Bintang.
Sesampainya di sana, Clara menunggu di lobby hotel. Ia segera menghubungi investor tersebut.
"Halo, saya sudah menunggu di lobby. Saya menggunakan pakaian bewarna biru muda.... Baiklah, saya akan menunggu" Clara kemudian memainkan ponselnya selama menunggu.
"Permisi" Ucap seseorang dari belakang. Clara menoleh. Matanya membulat sempurna, bibirnya tersenyum menatap pria tampan di depannya.
"Farel!"
"Cla! Wah, aku tidak menyangka akan bertemu denganmu di sini" Farel segera duduk di depan Clara.
"Siapa anak di gendongan mu itu?" Tanya Clara. Farel memang menggendong seorang anak laki laki tampan dari tadi.
"Dia keponakan ku. Tampan bukan? Jo, ayo perkenalkan dirimu" Ucap Farel.
"Hai Tante, aku Jonathan. Tante cantik, Tante mau gak jadi pacar aku?" Tanya Jonathan dengan wajah menggemaskan.
"Astaga, apa kau yang mengajarkan nya?" Farel hanya tersenyum mendengar pertanyaan Clara.
"Jo, kau masih kecil, belum boleh pacaran. Belajar dulu yang rajin, oke" Ucap Clara. Anak 4 tahun itu mengangguk sambil tersenyum.
"Aku tidak menyangka kalau kau sekretaris Reyhan" Ucap Farel.
"Yah, begitulah takdir"
"Lebih baik kita pergi ke tempat yang lebih nyaman untuk bicara. Kau mau kan?" Tanya Farel. Clara mengangguk.
"Tante, aku ikut!" Ucap Jonathan.
"Kalau begitu ayo" Ajak Clara.
"Tapi aku mau di gendong sama Tante" Ucap Jonathan merengek.
Farel melarangnya namun Clara mengatakan tidak apa apa dan segera menggendong Jonathan. Mereka terlihat seperti keluarga yang bahagia, ada ibu, ayah dan anak, senyum menghiasi wajah mereka.
•
•
__ADS_1
"Apa Clara sudah punya anak dari Farel?" Tanya Reyhan tak percaya, ia menatap dari kejauhan.