
Nasywa sampai ke rumah dengan kondisi tubuh yang lemah tak berdaya. Seluruh semangat dan tenaganya seolah hilang bersama Kenzo yang sudah benar-benar meninggalkannya atas kemauannya.
Bahkan begitu lemahnya tubuhnya luruh ke lantai sebelum ia sampai kamar.
Hasna yang baru keluar dari kamar mandi begitu terkejut dan langsung berlari mendekati putrinya.
"Sayang... Apa yang terjadi?" Hasna mendekap tubuh Nasywa dan membenamkan kepalanya di dadanya. Dengan kasih sayang seorang ibu, Hasna mengusap-usap kepala Nasywa dan mengecup pucuk kepalanya.
Mendengar tangisan Nasywa dan suara Hasna, Herman keluar dari kamar dan melihat tangis pilu anak tiri dan istrinya yang masih terduduk di lantai.
"Ken sudah pergi ibu... Ken sudah pergi..." ucapan itu membuat Hasna semakin sedih dan merasa bersalah karena masa lalu nya. Ia membuat putrinya berpisah dari pria yang begitu ia cintai. Namun tidak dengan Herman, Herman nampak menarik ujung bibirnya dan menunjukkan sedikit giginya mengadakan ia begitu bahagia mendengar jika Kenzo telah meninggalkan Nasywa.
"Tapi Sayang bukankah itu sudah menjadi keputusan mu sebelum kamu pergi berlibur dengan nya, Lalu kenapa sekarang kamu seperti ini?"
"Aku tidak menyangka akan sesakit ini ibu. Aku tidak sekuat yang ku bayangkan."
Hasna tidak bisa lagi berkata-kata dan hanya bisa memeluk erat Nasywa dan menciuminya bertubi-tubi.
Seperti halnya Nasywa, Hasna juga benar-benar merasa sedih dan selalu merasa menjadi orang yang paling bersalah atas kandasnya hubungan Nasywa dan Kenzo.
"Ibuuu..." lirih Nasywa yang kemudian jatuh pingsan.
"Nasywaaaa..." pekik Hasna sambil menepuk-nepuk pipinya.
__ADS_1
Melihat Nasywa yang tidak membuka matanya, Hasna menoleh ke belakang dan melihat Herman berdiri tak jauh darinya.
"Mas kenapa diam saja, Bantu Aku bawa Nasywa ke kamar."
"E...Ya." Herman langsung berjongkok mengambil alih Nasywa dari dekapan Hasna, Hasna bergegas bangun membukakan pintu kamar.
Namun bukannya cepat-cepat membopong tubuh Nasywa, Herman malah terdiam melihat setiap lekuk tubuh Nasywa yang membuat ia menelan salivanya.
"Mas! Apa yang Mas tunggu, Cepat bawa Nasywa ke kamar."
"E... Ya." Herman bergegas membopong tubuh Nasywa dan membaringkannya di ranjang. Sementara Hasna langsung pergi ke kamarnya untuk mengambil ponsel dan menelpon Dokter terdekat.
Herman yang kini berdua dengan Nasywa di dalam kamar kembali memandangi tubuh mulus anak tirinya yang terbaring tak sadarkan diri. Dari ujung kaki hingga ujung rambut tak ada satu inci pun yang terlepas dari pandangannya.
Melihat Hasna yang tidak juga kembali, Herman duduk di ujung ranjang menyentuh telapak kaki Nasywa yang nampak begitu bersih dan mulus. Di angkatnya kaki itu perlahan dan di hirupnya dengan penuh naf'su.
"Hhhfffhhh..." Herman memejamkan mata menikmati perbuatan yang tak pantas di lakukan oleh Bapak kepada anak tirinya. Tidak cukup hanya mengecup ujung kakinya, Herman menaikan sedikit sapuan hidungnya hingga nyaris sembawh lutut. Namun kenikmatan itu terhenti tatkala Nasywa menyebut nama Kenzo di bawah ketidak sadarannya. Terlebih suara langkah kaki Hasna yang semakin mendekati pintu kamar.
Dengan jantung berdegup kencang karena takut ketahuan, Herman langsung turun dari ranjang dan berdiri dengan gugup.
Hasna yang melihat sikap Herman merasa ada yang aneh. Namun ia langsung menepisnya karena melihat Nasywa yang terus meracau memanggil-manggil nama Ken.
"Nasywaaaa... Nasywa, Sadarlah Sayang." Hasna mencoba mengusap kening Nasywa yang penuh keringat dingin, Bahkan sekarang suhu tubuhnya terasa begitu panas.
__ADS_1
"Ken... Ken... Ken..." hanya kata itu yang terucap dari bibir Nasywa di bawah ketidak sadarannya.
"Hasna bukankah kamu sudah memanggil Dokter, Kenapa lama sekali!" ucap Herman yang ikut menjadi panik melihat kondisi Nasywa.
"Mungkin sebentar lagi, Sekarang ambilkan air untuk mengompresnya," ucap Hasna memerintah.
Tidak membantah, Herman melakukan apa yang Hasna suruh.
Ia pergi ke dapur untuk menuangkan air termos ke dalam baskom.
Namun baru saja ia ingin membawa baskom tersebut ke kamar Nasywa, Terdengar ketukan pintu dan salam dari luar. Herman pun meletakkan kembali baskom itu dan membukakan pintu.
Ckleekkk...
"Dokter..." sapa Herman.
"Selamat sore Pak,"
"Sore Dokter, Silahkan masuk." Herman langsung mengantar Dokter ke kamar Nasywa dan mempersilahkan Dokter untuk langsung memeriksanya.
Sementara ia dan Hasana berdiri menunggu hasil pemeriksaan yang tengah Dokter lakukan.
Bersambung...
__ADS_1