
Setelah satu bulan berlalu Kenzo yang tidak juga menemukan Nasywa menjadi pribadi yang dingin dan kasar. Ia habiskan waktunya untuk bekerja siang dan malam tanpa memperhatikan makan dan kesehatan fisiknya yang memerlukan istirahat.
Hingga pada suatu malam, Ketika Kenzo baru menyelesaikan meeting di sebuah hotel. Pandangannya mulai kabur. Jalannya pun sempoyongan seperti orang mabuk. Namun ia tetap bertahan membuka matanya lebar-lebar dan memasuki lift.
Setelah semua orang keluar dari lift, Kini hanya Kenzo seorang diri di dalam lift tersebut, Tubuhnya terasa semakin lemah hingga ia nyaris tumbang berbarengan dengan pintu lift yang terbuka.
"Tuan!"
Suara gadis yang tidak begitu asing di telinga membuat Kenzo yang jatuh di pundak gadis tersebut mengangkat wajahnya. Namun belum sempat ia menatap gadis tersebut, Pandangannya semakin kabur dan kembali jatuh ke pelukan gadis tersebut.
Gadis itu yang tidak tau harus berbuat apa memutuskan untuk membawanya ke salah satu kamar. Dengan susah payah dan mengeluarkan seluruh tenaganya, Akhirnya gadis itu berhasil membawa Kenzo ke salah satu kamar yang paling dekat dengan lift.
Kenzo yang terpental ke ranjang kembali membuka mata dan mencoba melihat gadis yang menolongnya. Tubuhnya yang lemah membuat ia tidak begitu sadar dengan apa yang terjadi pada dirinya.
"Nasywaaaa..." lirih Kenzo yang kemudian kembali memejamkan matanya.
"Kenzo... Kenzo...."
__ADS_1
Sayup-sayup Kenzo mendengar suara seorang gadis memanggilnya. Ia mengerjapkan mata dan kembali menyipitkan matanya karena terkena silaunya matahari. Kenzo kembali mengingat-ingat aktivitas apa yang terakhir kali ia lakukan.
"Kamu tidak papa Ken?"
Kenzo yang sudah mengingat semuanya mengangkat kepalanya dan menatap gadis yang mengajaknya bicara. Namun ia begitu terkejut melihat gadis yang sekarang berdiri di hadapannya berbeda dengan apa yang ia ingat.
"Ken... Kamu baik-baik saja?"
"Tania! Bagaimana kamu ada di sini?" Kenzo memalingkan wajahnya dan memegangi kepalanya. Padahal ia ingat jika sebelum tidur seperti melihat Nasywa yang bersamanya, Tapi bagaimana bisa sekarang Tania yang berada di hadapannya?
"Kamu?"
"Ya Aku, Aku yang membawa mu kesini karena kamu hampir jatuh pingsan saat ingin meninggalkan hotel."
"Jadi lagi-lagi Aku hanya berhalusinasi?" batin Kenzo.
•••
__ADS_1
Sementara Edward di apartemennya sedang menikmati sarapan pagi yang di hidangkan oleh Nasywa. Selama satu bulan ini Nasywa dengan baik melayani nya layaknya seorang istri yang memenuhi segala keperluan Edward. Karena hal itu juga Edward semakin merasa nyaman dan terbiasa dengan keberadaan Nasywa. Bahkan saking nyamannya terkadang Edward melupakan sahabatnya yang masih terpuruk sedih karena ketidak hadiran Nasywa di sisinya.
"Terimakasih Nasywa..." ucap Edward menggenggam tangan Nasywa.
"Kenapa kamu selalu mengucapkan terimakasih Edward, Apa yang kamu lakukan padaku tidak sebanding dengan apa yang ku lakukan pada mu, Aku tidak tau bagaimana nasib ku jika saat itu tidak bertemu dengan mu."
Edward tersenyum menatap lekat Nasywa yang kembali melanjutkan makannya. Ia semakin tidak bisa membohongi perasaannya jika hatinya benar-benar menyukai kepribadian Nasywa yang sudah lebih dari satu bulan ini ia perhatikan.
"Andai saja Aku tidak memikirkan Kenzo, Pasti Aku tidak akan pernah menahan rasa ini." batin Edward.
Nasywa yang menyadari tatapan Edward menghentikan makannya dan menjadi canggung. Tatapan tajam yang sudah beberapa hari ini Edward tunjukkan kepadanya, Tatapan penuh ketertarikan kepada lawan jenis dapat Nasywa rasakan. Tapi selama ini Nasywa selalu menghindari tatapan itu karena tidak ingin terjadi masalah yang semakin rumit, Mengingat Edward adalah sahabat Kenzo.
"E... Aku... Akan merapikan ini," ucap Nasywa yang langsung membawa piring kotornya ke belakang.
Edward menghelai nafas panjang. Entah sampai kapan ia bisa menahan perasaannya kepada Nasywa karena merasa tidak enak dengan Kenzo.
Bersambung...
__ADS_1