
Prankkkkk...!!!
Tanpa sengaja Kenzo menjatuhkan bingkai foto Nasywa yang baru saja ia letakkan. Dengan perasaan yang tiba-tiba tak karuan, Ia memunguti pecahan bingkai tersebut dan tanpa sengaja jari telunjuknya tertusuk oleh pecahannya.
"Aww..." ringis Kenzo yang kemudian memasukan jarinya ke mulut agar darahnya berhenti.
Kemudian ia mengambil lembaran foto Nasywa dari bawah pecahan bingkai tersebut. Ia menatap lekat foto Nasywa yang tengah tersenyum lebar menunjukkan giginya yang berjejer rapi.
"Kenapa perasaan ku tiba-tiba seperti ini, Apa yang terjadi dengan Nasywa?" batin Kenzo yang seolah merasa terjadi hal buruk pada wanita yang tidak bisa ia nikahi itu.
•••
Sementara Herman masih terus memaksakan kehendaknya hingga Nasywa merasa lemas dan tak memiliki tenaga lagi untuk melawan tubuh kekar Bapak tirinya, Ia mulai pasrah tatkala Herman dengan beringasnya menci'umi lehernya dengan leluasa karena Nasywa terus menengadahkan kepalanya ke atas untuk menghindari ciu'man Bapak tirinya.
Herman menyeringai karena telah berhasil mencicipi sedikit keharuman tubuh sang Anak tiri yang sedang merekah-merekahnya.
"Nasywaaaa... Tubuh mu begitu harum dan menggai'rahkan, Bagaimana Bapak bisa menahannya," ucap Herman di sela-sela ciu'mannya yang kini semakin turun hingga nyaris ke atas bukit yang terlihat begitu membusung. Namun belum sempat ia menikmati bukit indah itu suara motor yang berhenti di depan rumah membuat Herman menghentikan aksi bejad nya.
"Bu Hasna tumben masih siang sudah pulang?" tanya ibu-ibu yang semakin jelas terdengar di telinga Herman.
"Iya nih, Badan tiba-tiba ngrasa nggak enak banget." saut Hasna.
"Siallll...!" umpat Herman yang langsung bangkit dari atas tubuh Nasywa dan merapikan pakaiannya yang berantakan.
Ckleekkk...
Hasna yang baru masuk terkejut melihat Herman terlihat berdiri tegang tak jauh dari Nasywa yang begitu kusut duduk di sofa.
"Ada apa ini?" selidik Hasna.
__ADS_1
"E... Sayang... Kamu sudah pulang?" Herman mendekati sang istri untuk mengalihkan pembicaraan. Namun Hasna yang penasaran kembali mengulangi pertanyaannya.
"Apa yang terjadi, Kenapa kalian terlihat tegang dan kenapa Mas siang-siang di rumah, Bukannya Mas seharusnya pergi kerja."
"T-tidak ada yang terjadi Sayang, Nasywa hanya kembali merasa tidak enak badan dan dia belum makan seharian jadi dia terlihat lesu."
"Nasywa?!" Hasna yang masih tidak puas dengan jawaban Herman menunggu jawaban keluar dari bibir putrinya.
"Ibu... S-sebenarnya..."
Herman menatap Nasywa dengan tegang. Tapi bukan karena dia takut jika Hasna akan marah dan meminta cerai darinya. Melainkan dia akan semakin sulit mendapatkan Nasywa jika mereka berpisah.
"Nasywa, Sebenarnya apa?"
"Ibu... Sebenarnya... Bapak... Mau... M-m..."
Ucapan Nasywa terhenti saat Hasna tiba-tiba merasa mual dan berlari ke kamar mandi.
Nasywa yang belum sempat mengatakan apa yang akan Herman lakukan padanya menggelengkan kepala dengan kekecewaannya.
Namun sebaliknya dengan Herman, Ia nampak tersenyum lega karena Nasywa tidak jadi memberitahukan yang sebenarnya pada Hasna.
Mendengar Hasna yang terus muntah-muntah dan tidak juga kembali, Herman mendekati Nasywa untuk mengintimidasinya.
"Apa kamu akan mengatakan yang sebenarnya pada Ibu mu dan berharap adik mu akan lahir tanpa kehadiran seorang Bapak di sisinya seperti mu?"
Mendengar hal itu Nasywa begitu terkejut, Benarkah ibunya hamil? Nasywa yang melihat Herman pergi menyusul ibunya ke kamar mandi ikut mengikutinya dari belakang.
"Sayang... Kamu baik-baik saja?" tanya Herman sembari memijat tengkuk Hasna dengan penuh kelembutan.
__ADS_1
"Sejak beberapa hari ini badan ku terasa meriang Mas, Aku juga sering merasa mual, Tapi hari ini yang paling parah."
"Apa jangan-jangan kamu hamil?!" tanya Herman menunjukkan antusiasnya.
"Hamil?" Hasna balik bertanya dengan tatapan tak percaya.
"Iya Hamil, E... Kapan kamu terakhir datang bulan?"
Hasna terdiam mengingat-ingat kapan terakhir ia datang bulan.
"E.. Bulan lalu sekitar tanggal lima belas atau enam belas," ucap Hasna ragu.
"Tuh kan, Sekarang aja sudah tanggal dua puluh enam, Itu artinya kamu sudah telat, Jadi ada kemungkinan kamu hamil Sayang," dengan kata-kata manisnya Herman melirik Nasywa yang berdiri di ambang pintu. Ia ingin Nasywa mengurungkan niatnya untuk memberitahukan yang sebenarnya pada Hasna jika Hasna benar-benar hamil.
"Tapi masa sih Mas, Aku kan sudah tua," ucap Hasna yang tidak yakin.
"Kata siapa kamu tua, Kamu itu masih muda dan cantik buktinya Aku cinta mati padamu." Herman mengatakan itu sambil mencium kening Hasna seolah ingin menunjukan cintanya pada Hasna dan membuat Hasna tidak akan mempercayai apa yang Nasywa katakan.
"Mas bisa aja gombalnya, Gak enak tau di lihat sama Nasywa," ucap Hasna dengan senyum malu-malu mendengar rayuan manis dari herman.
"Iiih ya biarin aja, Kan biar Nasywa jadi saksi jika Mas benar-benar mencintai mu.Ntar Mas beli testpack yah biar tau jamu benar-benar hamil atau tidak."
Hasna mengangguk-anggukan kepalanya dan tersenyum memeluk Herman.
Sementara Nasywa berbalik badan meninggalkan Ibu dan Bapak tirinya dengan perasaan yang gundah gulana.
"Bagaimana jika ibu benar-benar hamil?" batin Nasywa.
Bersambung...
__ADS_1