
Dengan lemah Nasywa kembali ke kamarnya. Rasa hancurnya kehilangan Kenzo seolah belum cukup sehingga ia harus di beri cobaan hidup dengan perlakuan Bapak tirinya terhadapnya.
Niyatnya untuk memberitahukan atas apa yang Herman lakukan kepadanya pun harus ia kubur dalam-dalam jika seandainya sang ibu benar-benar hamil.
Ia yang telah kehilangan Ayahnya sejak usia yang belum genap dua tahun tidak ingin melihat adiknya tumbuh tanpa kasih sayang seorang Ayahnya.
"Tapi bagaimana jika sang Ayah seperti Herman?"
Nasywa memejamkan mata mengingat bagaimana Herman memaksakan kehendaknya. Dengan jijik ia menggosok-gosok lehernya yang sempat di sentuh oleh Herman. Tidak cukup hanya menggosok-gosok dengan tangannya, Nasywa mengambil sembarang kain untuk mengelapnya, Masih belum puas dengan cara itu, Nasywa berlari ke kamar mandi dan langsung mengguyur tubuhnya menggunakan gayung di barengi dengan tangisnya.
Suara air dari dalam kamar mandi yang tanpa jeda, Membuat Hasna heran dan mendekati pintu kamar mandi.
"Nasywa kamu lagi mandi apa nguras bak mandi?"
"Ada apa Sayang?"
Belum sempat Nasywa menjawab pertanyaan ibunya, Ia mendengar suara Bapak tirinya.
"Sedang apa Nasywa, Suruh dia cepat keluar, Kamu harus melakukan tes kehamilan ini, Aku sudah tidak sabar lagi."
Nasywa yang menguping pembicaraan mereka dari dalam kamar mandi semakin merasa resah jikalau ibunya benar-benar hamil.
"Sabar dong Mas, Sepertinya Nasywa sedang mandi." Hasna tersenyum manja dan menyandarkan kepalanya di pundak Herman.
"Hmm... Ambilah ini, Aku sudah membeli alat test kehamilan dari tiga merek yang berbeda, Biar akurat."
__ADS_1
"Iiih Mas antusias banget sih, Emang Mas bener bahagia ya kalau Aku benar-benar hamil?"
"Kenapa bertanya seperti itu, Ya jelas Aku sangat bahagia, Aku kan menunggunya sudah tujuh tahun lebih."
Mendengar kata-kata manis yang keluar dari mulut Bapak tirinya, Membuat Nasywa tak tahan dan langsung membuka pintu kamar mandi.
Ckleekkk...
Herman dan Hasna terjejut melihat Nasywa yang basah kuyup dengan pakaian lengkap.
"Sayang... Kamu kenapa, Kok mandi pakai baju begini?" tanya Hasna heran.
"Nasywa buru-buru Bu, Tadi gerah banget." jawab Nasywa asal dan langsung berlari ke kamarnya.
"Tidak perlu, Mungkin dia sedang sedih teringat Kenzo."
"Ya Mas benar, Baiklah kalau begitu, Aku testpack dulu ya."
Herman mengangguk dan menunggu Hasna di depan kamar mandi.
Ia terus melihat pintu kamar Nasywa yang tertutup rapat. Ingin rasanya ia berbicara dengan Anak tirinya tersebut. Namun keadaan tak memungkinkan untuk ia mengatakannya sekarang.
Tak lama kemudian Hasna keluar dengan membawa tiga alat test kehamilan yang di beli oleh Herman. Dengan memasang wajah sedih Hasna memberikan benda pipih itu kepada suaminya. Herman yang melihat kesedihan di wajah Hasna langsung mengusap lembut pipinya.
"Kenapa kamu terlihat sedih, Apa hasilnya negatif?"
__ADS_1
"Lihatlah sendiri," ucap Hasna sambil mengerucutkan bibirnya.
Herman pun melihat ke-tiga benda pipih itu dan terbelalak melihatnya.
Hasna yang melihat ekspresi wajah Herman tertawa puas dan mencubit pipinya.
"Hasna ini?" tanya Herman terlihat tak percaya.
Hasna mengangguk-anggukan kepalanya. Ia sengaja memasang wajah sedih untuk menggoda suaminya. Tapi ekspresi wajah Herman berbanding terbalik dengan kata-kata manis yang terucap dari bibirnya.
"Mas... Kok diam saja, Bukankah sebelumnya Mas begitu tidak sabar, Tapi kenapa sekarang bengong aja?"
"E... Aku hanya benar-benar tak percaya Sayang, E... Maksud ku Aku sangat bahagia, Kemarilah." Herman meraih tubuhh Hasna dan memeluknya.
Sementara Nasywa yang sudah mengganti pakaiannya dan keluar dari kamarnya tertegun melihat kebahagiaan ibunya.
"Ibu terlihat sangat bahagia, Aku tidak bisa mengatakan apa yang sudah coba Bapak lakukan kepada ku, Aku tidak bisa merenggut kebahagiaannya" batin Nasywa.
Hasna yang melihat Nasywa berdiri di depan pintu kamarnya langsung melepaskan pelukan Herman dan berlari memeluk putrinya.
"Sayang... Ibu sangat bahagia, Meskipun kamu sudah dewasa dan jarak usia kalian akan begitu jauh, Ibu harap kamu juga bahagia menerima kehadiran calon adik mu."
"Ya. Tentu ibu, Nasywa bahagia jika ibu bahagia." Nasywa memeluk ibunya dengan sedih. Ia tidak tau keputusannya untuk tidak memberitahukan apa yang coba Herman lakukan padanya benar atau salah.
Bersambung....
__ADS_1