
Nasywa yang termenung seorang diri di dalam kamar teringat pada Ibunya. Meskipun ia begitu membenci perilaku bapak tirinya. Namun ia tidak bisa mengabaikan ibunya begitu saja. Ia pun menoleh kesana-kemari mencari ponselnya yang sejak semalam entah kemana.
Di tempat tidur, Di antara pakaian yang semalam ia pakai dan setiap sudut kamar Nasywa tak menemukannya.
"Di mana ponsel ku?" di dalam pencariannya itu Nasywa di kagetkan oleh bunyi bel pintu. Karena berpikir itu Kenzo, Nasywa bergegas membukakan pintu untuknya. Namun alangkah terkejutnya Nasywa yang datang bukannya Kenzo melainkan Sekar dan Clarence yang berdiri di ambang pintu. Mereka sama-sama terkejut satu sama lain dan tak menyangka akan kembali bertemu setelah sekian lama. Apalagi di apartemen Kenzo yang begitu jauh dari kota kelahiran Nasywa.
Sekar menelisik penuh curiga kepada Nasywa yang hanya mengenakan kemeja panjang Kenzo seatas lututnya. Tatapan itu membuat Nasywa begitu tidak nyaman apalagi mengingat apa yang sudah mereka lakukan tadi malam. "Oh Astaga apa yang akan terjadi, Apa yang akan Tante Sekar pikirkan." batin Nasywa yang kemudian mengalihkan pandangannya kesana kemari.
"Apa kita akan berdiri saja disini? Nasywa apa kamu tidak akan membiarkan kami masuk?" tanya Clarence.
"E... Maafkan Aku Om, Tante... Masuklah."
Dengan sangat tidak nyaman. Nasywa duduk di depan mereka. Ia terus sibuk mengulurkan kemejanya agar menutupi pa'ha nya. Hal itu semakin membuat Sekar curiga dan menunjukkan tatapan tidak sukanya.
"Sejak kapan kamu disini?" pertanyaan Sekar kini terdengar sinis. Beda seperti saat Nasywa akan menjadi menantunya dulu.
"Baru semalam Tante."
"Lalu kemana Kenzo?"
"Dia bilang ingin membeli sesuatu."
Sekar tak lagi bertanya dan membuang muka ketidaksukaannya.
Hal itu sangat di rasakan oleh Nasywa mengingat selama ini Sekar begitu baik dan lembut padanya. Namun itu bukan kesalahannya mengingat dirinya yang kini hanya memakai kemeja laki-laki dan berada di apartemen laki-laki tentu orang tua manapun akan berpikir sama seperti Sekar. dan Nasywa memaklumi hal itu.
Sementara Kenzo dan Edward masih sibuk memilih pakaian dalam untuk Nasywa. Mereka masih berdebat soal model ukuran hingga warna. Kehadiran mereka ditambah dengan perdebatannya tentu menjadi pusat perhatian mengingat sebagian besar pengunjung adalah kaum hawa, Tak terkecuali dengan pelayan outlet yang terlihat menahan senyumnya.
__ADS_1
"Loe lihat itu! Semua orang memperhatikan kita, Menatap kita dengan aneh." lirih Kenzo sambil mengeratkan giginya.
"Biarkan saja, Kan sudah biasa kita jadi pusat perhatian. Namanya juga orang ganteng."
"Tutup mulut mu! Sekarang cepat ambil itu dan cepat pergi dari sini."
"Sepertinya ini pas. Sangat seksi dan menggoda, Ssshhh..." ucap Edward menjembreng salah satu cela'na da'lam berwarna merah dengan tali kecil.
"Jangan sambil di bayangin juga!" Kenzo meraup kasar wajah Edward yang terlihat mesum sekali.
Edward hanya terkekeh. Cuek sekali dia meskipun para kaum hawa sampai malu sendiri melihatnya.
Setelah memilih beberapa stel. Mereka bergegas ke kasir. Namun sebelum mereka sampai ke kasir, Kenzo melihat pakaian dalam yang begitu menarik pikiran nakalnya. Tidak mau Edward meledeknya, Secara diam-diam Kenzo mengambil cela'na da'lam Gstring Sexy yang bagian bawahnya di hiasi Mutiara. Sialnya melihat saja membuat juniornya menggeliat. Bayangan percintaan semalam kembali membuat tubuh Kenzo seperti tersengat aliran listrik.
"Ahhh sial! Aku benci dengan pikiranku." batin Kenzo merutuki dirinya sendiri.
"E... Pergilah, Tunggu gue di luar."
"Memangnya kenapa?"
"Jangan banyak tanya, Pergi sana atau gue pecat!"
"Enak aja main pecat-pecat, Gue juga punya saham di perusahaan kali meskipun gak sebanyak loe, Hehehe..." meskipun membantah ucapan Kenzo. Namun Edward menuruti permintaannya agar menunggunya di luar.
Setelah pembayaran selesai, Mereka lanjut membeli beberapa stel pakaian formal, Pakaian santai hingga baju tidur. Lagi-lagi Edward menggoda Kenzo saat melihat lingerie transparan yang di lihatnya begitu seksi.
"Ken... Loe gak pengin beliin ini?" tanyanya terkekeh.
__ADS_1
"Edward! Kenapa sih loe gak nikah aja biar otaknya gak mesum terus?!"
"Hahahaha justru kata orang kalau udah nikah makin mesum."
Kenzo menggelengkan kepalanya dan meninggalkan Edward untuk membayar semua belanjaannya.
Setelah membeli semua keperluan untuk Nasywa. Mereka meninggalkan mall dan kembali ke apartemen.
Sepanjang perjalanan, Kenzo begitu bahagia dan tak sabar untuk melihat Nasywa memakai pakaian yang ia pilih sendiri. Ia tidak akan mengambil pusing lagi dengan status mahram mereka. Yang terpenting saat ini ia bisa bersama wanita yang begitu ia cintai.
"Ngapain sih loe, Senyum-senyum sendiri kaya orang gila?" tanya Edward yang melihat sahabatnya itu terus tersenyum.
"Mau tau aja urusan orang!"
"Loe mah gitu, Minta di temenin tapi gue gak di anggap ada."
"Salah sendiri pagi-pagi ke apartemen gue."
Mereka terus berdebat banyak hal hingga sampai di apartemen.
Dengan begitu banyak belanjaan yang mereka bawa. Edward sampai kepayahan membawa semua barang-barang tersebut, Sementara Kenzo hanya melenggang santai dengan satu paper bag kecil di tangannya.
"Ini tidak adiiiiiill..." triak Edward.
"Jangan banyak protes, Cepat jalan!"
Entah kenapa Edward senang sekali menempel Kenzo meskipun Kenzo seringkali memperlakukannya seperti asisten pribadinya.
__ADS_1
Bersambung...