
Kenzo masih mematung. Tak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar, Hatinya benar-benar hancur oleh kenyataan yang harus ia terima. Hingga Nasywa dan Edward hampir menghilang di balik pintu, Kenzo baru terkesiap dan berlari mengejarnya.
"Kamu tidak bisa lakukan ini pada ku Nasywa!" pekiknya.
"Kenzo..." Tania mengejar Kenzo dan memegang tangannya. Melihat kepergian Nasywa dan Edward yang tak sedikitpun menoleh ke arahnya.
Dengan hati yang hancur berkeping-keping, Kenzo menjatuhkan diri ke tanah berlutut di tepi jalan meratapi nasibnya. Begitupun dengan Tania yang merasa iba mengusap pundak Kenzo dan membuat kepala Kenzo bersandar di pundaknya.
"Bersabarlah Ken... Semua akan berlalu..."
Edward yang sudah sampai di apartemen menyandarkan tubuhnya di sofa ruang tengah menunggu Nasywa mengambilkan air untuk mengompres lukanya. Tidak hanya air, Nasywa juga membawa kotak obat untuk membalut lukanya yang masih berdarah.
Dengan duduk di samping Edward, Nasywa mulai mengompres wajah Edward yang lebam-lebam akibat pukulan yang Kenzo layangkan.
Jarak yang begitu dekat membuat Edward terus menatap lekat Nasywa yang fokus mengompresnya, Bahkan saking dekatnya Edward dapat merasakan kehangatan hembusan nafasnya.
"Arghhh sial." batin Edward yang merasakan geliatan juniornya.
"Apa aku terlalu kencang?"
"Hah!" pertanyaan Nasywa membuyarkan angan-angan Edward yang tengah melayang jauh.
"Kamu terlihat memejamkan mata menahan sesuatu, Apa Aku terlalu kencang menekan dan membuat mu kesakitan?"
"E... Bukan seperti itu Nasywa, Aku hanya... Hanya.... E... Ya, Tubuh ku terasa sakit semua."
__ADS_1
"Maafkan Aku Edward, Ini semua gara-gara Aku, Jika kamu tidak menolongku..."
"Jika Aku tidak menolong mu, Kemana kamu mau pergi, Hmmm?"
Nasywa terdiam menatap Edward.
"Sudahlah Nasywa, Aku tidak papa, Kamu jangan merasa bersalah seperti itu." Edward mengusap sebelah pipi Nasywa yang tertunduk sedih hingga keduanya kembali saling menatap satu sama lain.
Karena tatapan itu, Lagi-lagi Edward di bikin canggung, Terlebih ia mengingat saat Nasywa mengatakan cinta padanya di depan Kenzo dan Tania.
"Nasywa, Soal ucapan mu di resto...?"
"E... Maafkan Aku Edward, Aku mengatakan itu agar Ken tidak lagi mengharapkan ku."
Edward yang sebelumnya berharap bahwa apa yang Nasywa ucapkan adalah kebenaran, Tersenyum getir mendengar pengakuan Nasywa.
"Tidak apa-apa, Aku mengerti."
Setelah itu keduanya kembali ke kamar masing-masing. Merenungi apa yang baru saja terjadi. Tak hanya Nasywa dan Edward yang tengah merenung sedih, Tapi Edward jauh lebih menderita dari mereka.
Sejak pulang dari resto, Kenzo hanya terduduk kemah di lantai dengan kepala bersandar di ranjangnya. Mengingat momen-momen indah kebersamaannya dengan Nasywa. Hingga sampai malam ini hatinya kembali di patahkan.
Tak terasa matahari mulai menampakkan sinarnya. Kenzo yang masih di posisi yang sama mengerjapkan mata karena terkena silaunya matahari yang menerobos masuk. Tubuhnya terasa lemah, Kepalanya terasa begitu berat mengingat kembali apa yang terjadi semalam.
"Seperti Edward yang mencintai ku, Aku juga mencintainya." kata-kata itu kembali terngiang di telinganya. Seakan tenaganya kembali pulih Kenzo langsung bangkit dan meraih kunci mobilnya.
__ADS_1
Ia bergegas meninggalkan kamar melewati kedua orang tuanya yang berada di meja makan.
"Ken... Mau kemana pagi-pagi begini?"
Tidak menjawab pertanyaan Mamihnya. Kenzo langsung meninggalkan apartemennya. Ia yang masih tidak terima dengan keputusan Nasywa bergegas menuju apartemen Edward.
•••
Herman yang merasa penasaran dengan nomor yang selalu menghubunginya tapi selalu mati saat ia mengangkatnya, Mulai merasa curiga jika nomer itu adalah nomor Nasywa, Dengan itu ia mencoba menghubungi nomor tersebut dan memberikannya pada Hasna.
"Bicaralah..." ucap Herman menyodorkan ponselnya.
"Siapa?"
"Kamu akan tau setelah kamu bicara dengan nya."
Dengan rasa penasaran. Hasna menempelkan benda pipih itu di telinganya dan menyapa terlebih setelah mengetahui panggilannya di angkat.
"Hallo..."
Cukup lama Hasna menunggu jawaban hingga suara lembut yang ia rindukan selama ini menjawab sapaannya.
"Ibuuu..."
"Hah, Nasywa?!" Hasna begitu haru, Seakan tak percaya jika yang ada di ujung telpon adalah putrinya yang selama ini menghilang.
__ADS_1
Sementara Herman yang mengetahui jika itu adalah Nasywa tersenyum senang. Otaknya mulai memikirkan langkah selanjutnya untuk membuat anak tirinya itu pulang tanpa mengungkapkan apa yang sudah coba ia lakukan pada Nasywa.
Bersambung....