
Sudah beberapa kontak yang Nasywa hubungi. Namun tidak ada satupun yang bisa membantunya mendapatkan pekerjaan. Ia juga sudah menghubungi tempat kerjanya yang dahulu. Namun tempat kerjanya yang dulu sudah menemukan pengganti dirinya.
Di sisi lain Nasywa yang melihat jam dinding masih menunjukkan pukul sepuluh pagi, Belum berani keluar karena Bapak tirinya bilang akan berangkat kerja pukul sebelas siang. Untuk menahan perutnya yang terasa lapar Nasywa berbaring dan memejamkan mata berharap setelah ia terbangun nanti Bapak tirinya sudah berangkat kerja.
Tak terasa Satu jam lebih Nasywa tidur tanpa gangguan apapun.
Ia pun membuka mata dan menoleh ke arah jam dinding.
Melihat jam yang menunjukkan hampir pukul setengah dua belas Nasywa langsung turun dari ranjang dan keluar dari kamar untuk mengisi perutnya yang sudah ia tahan sejak pagi.
Namun baru saja ia mengambil nasi ke dalam piringnya. Ia di kejutkan oleh suara Bapak tirinya.
"Nasywa..."
"Bapak!" Nasywa langsung menoleh ke belakang melihat Herman yang sudah berdiri tak jauh darinya.
"Kok baru keluar kamar sih, Bapak sudah nungguin kamu dari pagi untuk makan bersama loh."
__ADS_1
"E... Bukanya Bapak bilang akan berangkat kerja jam sebelas?" Nasywa balik bertanya pada Herman. Padahal ia mengira Herman telah pergi sehingga ia merasa aman di rumah sendiri.
"Iya tapi kamu sejak pagi gak keluar kamar lagi, Jadi Bapak merasa khawatir dan memutuskan untuk tidak bekerja saja."
Nasywa yang melihat Bapak tirinya mulai bergerak maju mendekatinya melangkah mundur untuk menghindarinya. Namun hanya dua langkah saja ia bisa menghindari Bapak tirinya karena di belakangnya terdapat meja makan yang menghalangi.
Dengan wajah tenang, Herman terus mendekati Nasywa dan menyentuh rahang bawahnya.
"Bapak!" Naswa langsung memundurkan wajahnya.
"Tentang lah Nasywa Bapak hanya ingin memastikan apa kamu baik-baik saja atau tidak."
Beda dengan Nasywa yang begitu ketakutan. Herman justru mulai menunjukkan tatapan penuh syahwat terhadap Anak tirinya tersebut.
"Bapak... Lepasin." Nasywa mencoba melepaskan tangannya dari cengkraman tangan Bapak tirinya. Namun cengkraman itu begitu kuat sehingga Nasywa tak mampu melepasnya.
"Naswaaa..." dengan memejamkan mata dan menghirup aroma tubuh Nasywa, Herman mulai mendekat mencoba menangkup wajahnya.
__ADS_1
"Bapak!" Nasywa menepis kedua tangan Herman hingga membuat Herman kembali membuka matanya.
Nasywa semakin merasa takut melihat kedua mata Herman yang memerah serta tatapan penuh naf'su. Dan benar saja, Herman tidak bisa lagi menahan hasratnya dan langsung mencoba menci'um bibir Nasywa.
"Bapak, Lepasin! Apa yang Bapak lakukan!" sekuat tenaga Nasywa menghindari Bapak tirinya yang terus memaksakan kehendaknya.
"Nasywa... Bapak tidak tahan lagi..." dengan nafas yang memburu, Herman yang telah menangkup wajah Nasywa terus berusaha menci'um nya. Namun Nasywa yang sejak tadi mencoba menggapai sesuatu di belakangnya langsung memukul kepala Herman dengan piring yang berisi nasi yang belum sempat ia makan.
"Aww!" Herman memegangi kepalanya. Meskipun tak berdarah namun pukulan yang cukup keras mampu membuat ia melepaskan Nasywa.
Nasywa yang melihat kesempatan ini, Langsung lari meninggalkan dapur. Namun dengan cepat Herman langsung menarik Nasywa dan menjatuhkannya di sofa.
"Aku sudah cukup bersabar dan bersikap lembut pada mu Nasywa, Tapi kau memaksa ku berbuat kasar pada mu!" Herman memegang kedua pergelangan tangan Nasywa untuk mengunci pergerakannya.
Sementara tubuhnya yang bertumpu kepada kedua lututnya telah mengungkung Nasywa hingga membuatnya Nasywa tak bisa bergerak lagi kecuali kepalanya yang menggerakkan kepalanya ke kanan dan ke kiri.
"Jangan lakukan ini, Nasywa anak Bapak, Kasihan ibu..." Nasywa mengiba dengan air mata yang terus mengalir deras di sudut matanya. Namun Herman yang telah di kuasai naf'su bira'hinya tidak mempedulikan tangisannya dan terus berusaha merenggut kesucian Anak tirinya tersebut.
__ADS_1
Bersambung...