Cinta Yang Haram

Cinta Yang Haram
Permintaan Maaf


__ADS_3

Keesokan harinya saat Hasna sibuk mencuci pakaian. Herman mendekati Nasywa yang tengah berbenah di ruang tamu.


Nasywa yang terkejut akan kedatangan Herman yang sudah berdiri hanya beberapa denti darinya hampir saja berteriak. Namun dengan cepat Herman menempelkan jari telunjuknya ke bibirnya sendiri.


"Hsssttt! Jangan berteriak."


Nasywa terdiam menatap takut Herman sambil melirik barang-barang yang terletak di belakangnya untuk berjaga-jaga.


"Jangan takut Nasywa, Bapak datang ke sini hanya mau minta maaf kepada mu."


"Apa!" Nasywa seakan tak percaya dengan apa yang baru saja Herman ucapkan.


"Ya Nasywa, Bapak bener-bener minta maaf yah, Waktu itu Bapak benar-benar khilaf."


Nasywa masih terdiam dengan tatapan tak percaya.


"Nasywa, Entah setan apa yang merasuki Bapak saat itu sehingga Bapak bisa melakukan hal keji itu terhadap mu, Bapak benar-benar merasa malu pada mu Nasywa. Maafkan Bapak." Herman berlutut dan mencoba memegang kedua kaki Nasywa.


"Bapak!" Nasywa yang terkejut berjalan mundur dua langkah.


"Apa yang Bapak lakukan, Tidak seharusnya Bapak seperti ini, Bapak lebih tua dari ku, Tidak perlu bapak sampai menyentuh kaki ku."


"Ini perlu Nasywa bahkan jika perlu Aku akan menyentuh kaki mu di depan ibu mu, Yang penting kamu mau memaafkan Bapak."


"T-tidak Pak, Jangan katakan apapun pada ibu, Aku tidak ingin ibu terluka."


"Lalu apa yang harus Bapak lakukan agar kamu memaafkan bapak, Bapak tidak ingin seumur hidup merasa bersalah pada mu, Bapak juga tidak ingin rasa bersalah ini membuat Bapak mengabaikan ibu mu yang tengah mengandung."

__ADS_1


Mendengar hal itu dan melihat kesungguhan Herman, Akhirnya Nasywa memaafkan Bapak tirinya dan memberikannya kesempatan untuk memperbaiki kesalahannya.


"Baiklah..."


"Baiklah? Maksud mu kamu memaafkan Bapak?" tanya Herman memastikan.


"Ya, Aku akan anggap ini hanya sebuah kekhilafan yang Bapak tidak sengaja, Sekarang Bapak bangun dan bantu ibu, Buat ibu terus bahagia dan jangan pernah mengkhianatinya."


"Ya... Pasti... Sayang, Terimakasih telah memaafkan Bapak." dengan bahagia Herman meninggalkan Nasywa dan mengikuti apa yang Nasywa katakan. Ya itu membantu Hasna melakukan pekerjaan rumah.


•••


Sejak itu Herman benar-benar tidak lagi bersikap macam-macam pada Nasywa. Dan selama itu juga Nasywa bisa menjalani hari-harinya di rumah dengan nyaman dan tenang karena Bapak tirinya benar-benar berubah.


Hingga satu bulan berlalu Nasywa masih juga tidak mendapatkan pekerjaan. Dan selama itu juga ia tidak menghubungi Kenzo, Meskipun dalam hati terkadang sangat merindukannya ia berusaha keras untuk tidak lagi berhubungan dengan nya. Namun berbeda dengan hari ini. Hari ini ia begitu merindukannya dan tak bisa lagi menahan rasa rindunya. Dengan tangan gemetar ia menekan nama Kenzo di layar ponselnya.


Cukup lama Nasywa menunggu. Namun tidak ada jawaban dari Kenzo. Nasywa menutup ponselnya dengan perasaan sedih.


"Apa Ken sudah benar-benar melupakan ku,"


Dengan air mata yang menetes Nasywa membuka galeri ponselnya untuk melihat kenangan mereka berdua. Namun bukannya terobati, Rasa rindunya semakin besar ia rasakan.


"Tidak kah kamu merasakan kerinduan ku Ken...?" batin Nasywa yang semakin merasakan sesak di hatinya.


Beberapa saat kemudian tangisan itu terhenti saat ponselnya berdering. Dengan cepat Nasywa langsung menempelkan benda pipih itu ke telinganya.


"Hallo Ken..."

__ADS_1


"Hallo Mbak Nasywa..."


Nasywa yang tidak sempat melihat nama siapa yang masuk ke nomernya merasa kecewa mendengar suara orang lain bukannya Ken yang sedang ia nanti-nantikan. Ia melihat sesaat ke layar ponselnya dan melihat nomor tak di kenal yang menghubunginya.


"Ya.. Siapa ini?" ucap Nasywa dengan lemah.


"Saya Ibnu, Katanya Mbak Nasywa lagi cari kerja ya?"


"Iya betul."


"Kebetulan Saya sedang membutuhkan seseorang untuk membantu istri saya menjaga butik, Apa Mbak Nasywa bersedia?"


"E... Saya mau Pak, Saya mau," ucap Nasywa bersemangat.


"Tapi gajinya kecil loh Mbak Nasywa. Soalnya kami juga baru mulai merintis."


"Iya gak papa Pak, Berapa pun saya mau yang penting saya ada kerjaan daripada di rumah gak ngapa-ngapain."


"Syukurlah saya senang mendengarnya, Kalau begitu nanti saya kirim alamatnya ya, Dan Nanti sore Mbak Nasywa bisa langsung datang untuk berdiskusi dan melihat lokasi terlebih dahulu.


"Ia Pak, Terimakasih banyak."


Panggilan telepon pun berakhir. Nasywa begitu senang akhirnya setelah sekian lama ia mendapatkan pekerjaan yang akan membuatnya sibuk dan melupakan segala kepahitan dalam hidupnya. Namun senyum itu terhenti saat berpikir darimana Orang itu mendapatkan nomornya?


"Aaah... Aku kan menghubungi banyak orang untuk membantu ku mencari pekerjaan, Mungkin salah satu dari mereka memberikan nomor ku kepadanya." batin Nasywa menepis keraguannya sendiri.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2