Cinta Yang Haram

Cinta Yang Haram
Pencarian


__ADS_3

Sudah seharian penuh, Kenzo masih terus menelusuri jalanan ibu kota. Ia tidak tau harus mencarinya di mana lagi mengingat Nasywa yang baru pertama kali ke Jakarta dan tidak mengenal siapa pun. Melaporkannya kepada polisi tentu laporannya tidak akan di terima mengingat Nasywa baru menghilang beberapa jam dari apartemennya. Karena merasa tidak tau lagi kemana ia harus mencari, Kenzo menghentikan mobilnya di pinggir jalan. Ia menundukkan kepala di gagang setir menyesali pertengkarannya dengan Nasywa.


"Andai saja semalam Aku tidak bersikap kasar padanya, Tentu Nasywa tidak akan pergi meninggalkan ku." batinnya.


Setelah cukup lama terdiam. Kenzo mengangkat wajahnya dan mengingat Bu Hasna. "Apakah Nasywa pulang ka Malang?" batinnya.


"Tapi itu tidak mungkin, Pak Herman hampir menodainya. Nasywa tidak mungkin kembali ke rumah itu, Tapi jika tidak ke sana kemana lagi Nasywa bisa pergi?" Kenzo memukul setir mobilnya dengan kesal. Tak tau lagi harus mencari Nasywa di mana.


"Ponsel?" Kenzo teringat untuk menghubungi Nasywa dengan ponselnya. Namun belum sempat ia menekan nomornya netranya tertuju pada benda pipih di bawah jok. Kenzo pun mengambil benda pipih yang berwarna hitam itu dan memperhatikan dengan seksama.


"Ini kan ponsel Nasywa..." Kenzo kembali merasa frustrasi. Harapan satu-satunya yang seharusnya bisa jadi jalan penghubung mereka kini tertinggal di mobilnya.


"Sekarang kemana lagi Aku harus mencari?" Kenzo menyandarkan kepalanya sambil memijit pelipisnya. Kemudian ia kembali memandang ponselnya dan memutuskan untuk menghubungi Bu Hasna untuk memastikan apakah Nasywa pulang kesana ataupun tidak.


"Hallo Bu Hasna." sapa Kenzo begitu Bu Hasna mengangkat ponselnya.


"Hallo Nak Kenzo."


"E... Bagaimana kabar Bu Hasna?"


"Ibu baik Ken, Tapi Nasywa..." ucapan Hasna terhenti oleh tangisnya.


"Nasywa kenapa Bu?"

__ADS_1


"Sudah lebih dari tiga hari Nasywa belum juga pulang Ken."


"Jadi benar Nasywa tidak pulang?" batin Kenzo.


"E... Apa Bu Hasna sudah coba lapor polisi?"


"Mas Herman sudah melaporkannya. Tapi belum ada hasil."


"Pak Herman? Mana mungkin dia melaporkan tentang hilangnya Nasywa, Dia kan yang pertama kali menjebak Nasywa dan hampir menodainya." batin Kenzo lagi.


"Nak Ken..."


"Ya! E... Aku turut sedih atas hilangnya Nasywa. Semoga Nasywa bisa segera di temukan."


Setelah panggilan berakhir. Kenzo semakin tak tau harus mencarinya di mana. Terlebih matahari yang mulai terbenam menyembunyikan cahayanya. Membuat Kenzo semakin merasa frustrasi.


"Minumlah..." seorang pria dengan perawakan tinggi, Berkulit putih serta mata yang sedikit sipit memberikan teh hangat pada seorang gadis yang terus meneteskan air matanya.


"Terimakasih," ucap gadis itu mengambil gelas teh dari tangan pria tersebut.


Pria tersebut tidak bertanya lagi dan membiarkan gadis tersebut menangis hingga membuat hatinya merasa lega. Dan benar saja, Setelah gadis itu merasa lega, Gadis itu mengangkat wajahnya dan menatap pria yang ada di hadapannya.


"Terimakasih, Jika kamu tidak menolongku Aku tidak tau malam ini harus tidur di mana."

__ADS_1


"Sama-sama N.. Naz..?"


"Nasywa."


"Oh ya, Sama-sama Nasywa, Kebetulan Aku melintas dan melihat mu terus menangis sepanjang jalan. Bagaimana mungkin Aku membiarkan gadis cantik seperti mu menangis sendirian di jalan?"


"Aku hanya beruntung dengan kecantikan ku, Tapi tidak dengan nasib ku," Nasywa kembali menunduk sedih.


"Langit tidak selamanya mendung. Begitupun dengan nasib setiap manusia yang tidak selamanya menyedihkan. Ada saatnya kebahagiaan itu akan datang, Percayalah."


"Terimakasih Tuan Edward."


Ya pria yang menolong Nasywa saat Nasywa lari dari apartemen Kenzo adalah Edward yang tak lain sahabat Kenzo sendiri. Nasywa mau ikut dengan Edward dengan syarat Edward tidak akan pernah mengatakan keberadaannya kepada Kenzo. Meskipun awalnya ia tidak percaya dengan ucapan Sekar yang mengatakan mereka hanya saudara sepersusuan. Namun dengan pengakuan Nasywa yang membenarkan hal tersebut, Membuat Edward percaya jika mereka hanya saudara sepersusuan dan tidak lebih dari itu.


"Jangan memanggilku Tuan. Bahkan Aku dua tahun lebih muda dari Kenzo," saut Edward.


Nasywa hanya tersenyum masam. Kemudian kembali menundukkan kepalanya.


"Nasywa-Nasywa... Marah sama Abang sendiri aja kaya marah sama pacar," ucap Edward tersenyum menggelengkan kepalanya.


"Maafkan Aku Edward, Lebih baik kamu mengetahui jika kami hanya saudara yang sudah seperti Abang Adik. Aku tidak ingin siapa pun tau betapa rumitnya kisah cinta kami akibat persu'suan ini." batin Nasywa yang sengaja menyembunyikan hubungan sebenarnya dengan Kenzo.


Bersambung...

__ADS_1



Kenalin Babang Edward ☺️


__ADS_2