
Bu Hasna yang merasa cemas karena Nasywa belum juga memberinya kabar, Kembali mengutarakan kekhawatirannya pada Herman. Berharap suaminya itu mencari putrinya yang sudah lebih dari 24jam tak pulang ke rumah.
"Ini sudah lebih dari 24jam Mas, Apa mas sudah mendapat kabar dimana keberadaan Nasywa?"
Herman hanya berdecak kesal mendengar kekhawatiran Hasna.
"Apa sebaiknya kita lapor polisi saja ya Mas?"
Mendengar kata polisi, Herman yang tidak sedang makan tidak juga minum, Tersedak air liurnya sendiri.
"Mas..." ucap Hasna memegang punggung Herman.
"Apa, Polisi?" tanya Herman sambil menyingkirkan tangan Hasna.
Hasna mengangguk-anggukan kepala dan merasa bingung dengan reaksi Herman.
"Kamu pikir polisi akan memproses aduan orang miskin seperti kita?
Jangan harap Hasna. Biarpun kita lapor. Paling di prosesnya beberapa bulan kemudian." lanjut Herman mencoba mengisi keraguan pada pikiran Hasna.
"Tapi Mas, Kita tidak mungkin kan berdiam diri saja seperti ini, Hasna anak gadis, Bawa motor, Bagaimana kalau terjadi sesuatu padanya."
"Arghhh sudahlah, Dia sudah dewasa Hasna, Mengkin dia tidak butuh kita lagi dan pergi dengan laki-laki yang bisa menjamin hidupnya daripada hidup dengan kita!"
__ADS_1
"Mas! Kok bisa-bisanya Mas berpikir seperti itu bukannya khawatir?"
Melihat tatapan penuh curiga dari Hasna. Herman mengalihkan pandangannya dan meralat perkataannya. "E... Maksud ku mungkin dia sudah dapat kerja dan sekarang sedang menginap di rumah temannya. Kamu jangan khawatir, Aku akan mencarinya." Herman langsung meninggalkan Hasna untuk menghindari Hasna yang terus menanyakan tentang Nasywa.
•••
Kenzo yang melihat Mamihnya berdiri di depan pintu kamar Nasywa, Melangkah begitu saja tanpa bicara sepatah katapun. Dengan sabar Sekar mengikuti Kenzo yang masuk ke kamarnya dan berhenti di tepi balkon dengan sikap dinginnya.
"Jadi ini alasan mu menolak perjodohan dengan putri Tuan Henry?"
Kenzo memalingkan wajah dari Mamihnya menunjukkan rasa ketidak sukaannya. Memang sejak ia berpisah dari Nasywa, Sekar sangat gencar sekali menjodohkan Kenzo dengan Tania, Putri dari koleganya di Singapore.
"Kenzo... Mamih sedang bicara dengan mu!"
"Dan Ken sudah berkali-kali menolak dengan tegas perjodohan ini. Ken sudah katakan sekalipun Ken tidak bisa menikah dengan Nasywa tapi Ken tidak akan pernah menikah dengan wanita manapun!"
"Tidak semua orang memiliki penerus, Banyak orang yang hidupnya sebatang kara tapi mereka tetap bahagia dengan caranya."
"Aku tidak akan pernah bisa membujuk Kenzo dengan cara apapun. Hanya Nasywa yang bisa melakukan ini." batin Sekar yang kemudian meninggalkan kamar Kenzo dan kembali ke kamar Nasywa.
Tok... Tok... Tok...
Ckleekkk...
__ADS_1
"Tante..."
"Tante ingin bicara serius dengan mu." dengan tatapan tegas, Sekar langsung nyelonong melewati Nasywa yang masih berdiri di ambang pintu.
Dengan perasaan tegang dan langkah perlahan, Nasywa berdiri mendekati Sekar yang sudah duduk di sofa.
"Sekarang dengarkan Aku Nasywa, Kamu tau betul jika cinta kalian tidak akan bisa berakhir di pelaminan. Sementara waktu terus berjalan Aku tidak ingin putraku terus-menerus hidup dalam kondisi seperti ini, Aku ingin putraku memiliki pendamping hidup yang bisa ia nikahi dan memberinya keturunan. Tapi itu tidak akan pernah terjadi selama kamu masih ada bersamanya..." Sekar menjeda ucapannya menatap tajam Nasywa.
Nasywa yang tau betul maksud dari perkataan Sekar terasa batinnya begitu sesak mengingat apa yang sudah ia lakukan bersama Kenzo pada malam itu.
"Nasywa..."
"E... Ya Tante..."
"Tante tau kamu anak baik, Dan Tante yakin kamu juga tidak ingin kan Kenzo terus terusan seperti ini, Tentu kamu ingin melihat Kenzo bahagia iya kan?"
"E... Iya Tante." Nasywa mengiyakan setiap perkataan Sekar meskipun hati dan perasaannya tercabik-cabik.
"Maka dari itu, Tante ingin kamu melakukan sesuatu."
"Melakukan apa Tante?"
"Lakukan apapun Nasywa, Yang terpenting Kenzo setuju untuk menikah dengan pilihan kami."
__ADS_1
Bagai disambar petir di siang hari, Nasywa begitu terkejut mendengar apa yang Sekar katakan.
Bersambung...