
Herman mengalihkan pandangannya kesana kemari seperti mencari sesuatu. Dan pandangannya itu terhenti pada kotak kecil yang terletak di atas meja rias. Dengan terus melirik Hasna, Perlahan Herman mendekati meja rias dan membuka kotak kecil tersebut.
Ia mengambil satu silet cukur miliknya dan kembali berdiri di samping Hasna.
"Ini beneran kamu nak?"
"Iya ibu ini Nasywa." Nasywa yang semula begitu bahagia seketika menghentikan senyumnya tatkala menyadari ibunya yang menelfon terlebih dahulu.
"Apakah Bapak sudah mencurigai ku dan menyuruh ibu menelpon ku?" batinnya.
"Nasywa, Kamu kemana saja Sayang, Kenapa Aaaaaaaaaaa...!" Hasna menjerit tatkala merasa ada sesuatu yang mengiris bo'kong nya.
"Ibu... Apa yang terjadi?" tanya Nasywa panik.
Herman langsung merebut ponsel dari Hasna dan memutus sambungan teleponnya.
"Ibu... Ibu.... Hallooo..." dari ujung telpon, Nasywa begitu khawatir mendengar jeritan ibunya. Sementara Herman langsung duduk di samping Hasna dengan sikap khawatirnya.
"Ada apa Sayang, Kenapa kamu berteriak?"
"Seperti ada sesuatu mengiris bo'kong ku, Perih sekali."
"Coba Aku lihat?" Herman meminta Hasna mengangkat sedikit bo'kong nya dan mengambil silet yang sengaja ia pasang untuk melukai Hasna.
"Astaga silet, Bagaimana silet ini bisa ada di sini?"
"Mas kali sembarangan naruh," ucap Hasna sambil menahan rasa perihnya.
"Mungkin saja Sayang, Aku kalau sudah lihat kamu rasanya jadi lupa semuanya."
"Masih sempat-sempatnya ngegombal."
"Hehehe sekali lagi Aku minta maaf Sayang, Sini biar Aku obatin." Dengan penuh perhatian Herman memberinya obat tetes keatas kapas dan meletakan di area luka yang masih mengeluarkan darahnya.
"Sekarang beristirahatlah."
"Tapi Aku belum sempat bicara pada Nasywa Mas..."
__ADS_1
"Jangan khawatir, Yang terpenting kita sudah tau kalau Nasywa baik-baik saja, Lebih baik sekarang kamu istirahat dulu."
Hasna menurut dan membaringkan tubuhnya. Sementara Herman dengan membawa ponselnya meninggalkan kamar dan mengangkat ponsel yang sejak tadi berdering.
"Hallo ibu," ucap Nasywa begitu telponnya di angkat.
"Hallo Nasywa Sayang..."
"Bapak..."
"Apa kabar Sayang, Kenapa baru menghubungi Bapak, Bapak sangat merindukan mu."
"Hentikan Pak, Sekarang berikan telponnya kepada ibu, Dan kenapa tadi ibu berteriak?"
"Itu hanya terapi kecil Nasywa."
"Apa maksud Bapak? Apa bapak sengaja menyakiti ibu?"
"Kamu yang memaksa Bapak melakukannya Nasywa."
"Itu tergantung pada mu Nasywa, Sekarang ibu mu hanya tergores silet, Siapa yang bisa menjamin jika hari esok ibu mu tidak akan tertusuk pisau?"
Mendengar ancaman itu Nasywa semakin menghawatirkan ibunya. Ia begitu takut jika Bapak tirinya akan benar-benar membuktikan ancamannya.
"Nasywa mohon Pak, Jangan sakiti ibu..."
"Jika kamu tidak ingin Aku melukai Ibu mu, Maka pulanglah dan jangan pernah mengatakan apa yang pernah Bapak lakukan padamu!"
"Apa?! Tidak Pak, Jika Nasywa pulang, Pasti Bapak akan kembali mengulangi perbuatan bejat Bapak kan?"
"Baiklah, Tidak usah pulang sampai ibu mu hanya tinggal nama yang tercetak di buku Yassin!"
Nasywa tercengang, Mendengar dari nada bicara Bapak tirinya, Sepertinya Herman tidak main-main dengan ancamannya. Namun meskipun begitu Nasywa tidak ingin gegabah dalam mengambil keputusan terburu-buru, Ia ingin meminta pendapat Edward yang selama ini sudah banyak membantunya.
"Tapi itu artinya Aku harus menceritakan jika Herman nyaris memperko'sa ku?" batin Nasywa ragu.
"Tapi itu lebih baik, Edward harus tau, Siapa tau dia bisa memberikan solusi atas permasalahan ku." Nasywa keluar dari kamarnya untuk mencari Edward. Namun ia tidak menemukan Edward di dalam kamarnya.
__ADS_1
"Selalu saja pergi tidak bilang-bilang." batin Nasywa.
Tak lama kemudian. Nasywa yang mendengar pintu di ketuk dari luar bergegas membukanya karena mengira itu Edward.
Ckleekkk....
"Edw..." Nasywa menghentikan ucapannya karena ternyata yang datang adalah Kenzo.
"Kamu sedang menunggu Edward?" tanya Kenzo sedih.
"Mau apa kamu kesini, Jangan membuat Edward salah paham."
"Hegh! Hebat sekali kamu, Setelah menghancurkan hatiku, Sekarang kamu memisahkan ku dari sahabatku?!"
"Kamu masih menganggapnya sahabat? Bukankah dia sudah menghianati mu?"
"Nasywa! Apa kamu sengaja melakukan ini untuk menyakiti ku?!" Kenzo mendorong tubuh Nasywa masuk hingga menabrak sofa.
"Aku tidak akan begini jika kamu mau menerima kenyataan bahwa kita tidak bisa menikah Ken!"
"Aku sudah menerimanya Nasywa! Aku menerima jika kita tidak bisa menikah, Tapi setidaknya biarkan Aku terus bersama mu."
"Itu yang tidak mungkin Ken, Kita tidak selamanya muda, Kelak jika kita menua, Kita akan membutuhkan pasangan, Anak-anak untuk menemani kita, Tidak cukup hanya dua orang saling menemani tanpa ikatan yang jelas."
"Kamu mengatakan ini apakah kamu akan menikah dengan Edward?"
"Setiap hubungan memiliki tahapannya, Jika kita sudah sampai ke tahap itu, Maka kami akan menikah."
Bak kaca yang hancur berkeping-keping Kenzo menahan air matanya yang hampir tumpah. Ia tak menyangka dengan mudah Nasywa telah melupakan semuanya tentang mereka.
"Baiklah, Jika kamu akan menikah dengan Edward, Aku juga akan menikahi Tania."
Seketika Nasywa merasa hatinya bagai tertusuk belati. Namun sekuat hati ia menahan air matanya agar tidak sampai terjatuh di hadapan Kenzo.
"Itu... Itu lebih baik, Dengan itu tidak akan ada lagi masalah diantara kita, Iya kan?" bibir Nasywa bergetar tatkala mengatakan itu. Rasanya ia sudah tidak bisa lagi menahan air matanya yang nyaris lolos dari matanya.
Bersambung...
__ADS_1