
Kenzo sudah bersiap meninggalkan rumah dengan menyeret koper besar di tangannya. Meskipun Sekar sudah menghalangi kepergiannya yang mendadak, Namun Kenzo tak mau menunda kepergiannya.
"Paling tidak Pergilah besok pagi, Ini sudah malam Ken," ucap Sekar yang kembali membujuk putranya.
"Ken sudah katakan Mih, Ken tidak bisa menundanya lagi."
"Setidaknya sampai Papih mu pulang, Mungkin sebentar lagi Papih pulang, Papih hanya bilang ingin keluar mencari makanan."
"Sampaikan saja salam Ken pada Papih, Dan sebelum ke Singapura mampirlah ke apartemen Ken."
"Kenapa sih Ken, Kenapa kamu bersikeras sekali, Apa yang sebenarnya terjadi, Bukankah kamu mengatakan setelah liburan hubungan mu dan Nasywa akan kembali normal seperti dulu meskipun tak bisa saling memiliki seutuhnya, Lalu kenapa sekarang kamu ingin buru-buru pergi seperti ingin menghindarinya?"
Kenzo hanya bisa menarik nafas dalam-dalam dan menyingkirkan tangan Sekar dari gagang koper yang di peganginnya.
"Ken pergi dulu Mih." Kenzo mendaratkan kecupannya di kening Sekar dan masuk ke mobilnya.
Kini Sekar hanya bisa menatap kepergian Kenzo tanpa tau penyebab utama kenapa Kenzo pergi mendadak tanpa mau menunggu esok hari.
•••
Setelah pemeriksaan selesai. Dokter memberikan resep obat pada Hasna yang harus di tebus. Dokter mengatakan tidak ada yang perlu di khawatirkan karena Nasywa demam biasa dan hanya butuhbanyak istirahat. Namun Hasna tau betul jika Nasywa bukan hanya sakit secara fisik, Melainkan sakit secara batin yang tidak bisa di deteksi oleh seorang Dokter.
Setelah Dokter pamit pulang, Herman menyuruh Hasna menebus obat di apotek, Tapi Hasna yang khawatir Hasna akan siuman dan mencarinya menolak perintah suaminya dan balik menyuruh Herman yang pergi.
__ADS_1
"Kenapa tidak Mas saja, Bagaimana nanti kalau Nasywa siuman dan mencariku?"
"Kan ada Aku, Sama saja kan, Aku juga Bapak nya."
"Tapi Mas, Ini sudah malam, Akan lebih baik jika Mas yang beli, Masa ada laki-laki di rumah, Seorang wanita yang harus keluar rumah?"
"Memangnya kenapa, Banyak kok wanita yang keluar di tengah malam, Apa lagi tujuan mu jelas untuk membeli obat, Lalu apa masalahnya! Apa kamu tidak ingin melihat putri mu sembuh?"
Hasna terhenyak mendengar Herman yang meninggikan suaranya. Perasaan aneh yang sempat Hasna rasakan semakin bertambah tatkala Herman lebih ngotot menjaga Nasywa daripada membeli obat untuk nya.
Melihat tatapan penuh curiga dari Hasna, Herman mengalihkan pandangannya dan beranjak dari duduknya.
"Berikan pada ku, Kamu tidak akan pernah mendengar apa yang suami mu katakan," ucap Herman sambil merebut resep obat di tangan Hasna dan keluar dari kamar.
Setelah Herman pergi, Hasna semakin merasa cemas karena kecurigaannya. Namun mengingat momen-momen indah bersama Herman, Hasna langsung menepis kegelisahan yang ada di hatinya.
•••
Pagi harinya Nasywa terbangun dari tidurnya. Hasna yang semalaman tidur menemani Nasywa langsung beranjak bangun memegang kening, pipi serta leher untuk memeriksa suhu tubuhnya.
"Kamu sudah siuman Sayang?"
"Sejak semalam Nasywa sudah siuman ibu, Tapi Nasywa lihat ibu sudah tidur."
__ADS_1
"Kenapa tidak membangunkan ibu, Kamu kan sejak pulang liburan belum makan."
"Nasywa tidak ingin mengganggu ibu, Ibu terlihat begitu lelah."
Mendengar ucapannya, Hasna begitu terharu dan memeluk Nasywa.
"Maafkan ibu ya Sayang, Kamu begini gara-gara ibu."
"Ini bukan kesalahan ibu, Semua sudah takdir dari yang Maha Kuasa, Maafkan Nasywa sudah membuat ibu khawatir dan terus merasa bersalah." Sekuat tenaga Nasywa berusaha tegar di depan ibunya. Ia tidak ingin ibunya terus merasa sedih dan merasa bersalah melihat kondisinya.
"Kalau begitu ibu ambilkan makan ya, Setelah itu minum obat."
Nasywa menganggukkan kepala dan kembali mengingat perpisahannya dengan Kenzo.
Melihat Hasna keluar, Herman langsung masuk ke kamar Nasywa untuk menanyakan kondisinya. Ia langsung duduk di tepi ranjang dan meletakkan punggung tangannya di kening Nasywa.
"Bagaimana keadaan mu Sayang, Apa kamu sudah merasa lebih baik?"
"Nasywa sudah tidak papa Pak." dengan perasaan risih, Nasywa menurunkan tangan Herman dari kepalanya. Namun Herman kembali memegang pundak Nasywa dengan gerakan mengusap turun ke lengannya.
"Semalem Bapak khawatir banget loh lihat kamu jatuh pingsan."
"Nasywa hanya kelelahan Pak, E... Bapak bisa tolong panggilkan ibu, Nasywa sudah sangat lapar." Nasywa kembali menyingkirkan tangan Herman dan beralasan sangat lapar agar bisa mengusir Bapak tirinya.
__ADS_1
Sejak ia masuk SMA, Nasywa memang merasa Ayah tirinya sering kali menunjukkan kasih sayang yang berlebih kepada dirinya hingga terkadang membuatnya takut. Namun saat Nasywa selalu berusaha berprasangka baik pada Herman dan berpikir jika Herman menyayanginya hanya sebatas kasih sayang Bapak terhadap anaknya.
Bersambung...