
Dengan mengenakan celana kulot berwarna putih dengan atasan tanktop crop dan di padu padankan dengan blazer ungu berlengan pendek, Nasywa menenteng tas nya untuk berpamitan kepada ibunya.
"Ibu... Nasywa pergi dulu ya liat kerjaan," ucap Nasywa sambil mencium tangan ibunya.
"Ini udah sore loh, Memangnya tempat kerjanya tidak jauh?"
"Nggak kok Bu, Paling satu jam juga sampai."
"Baiklah kalau begitu hati-hati ya." Hasna memeluk Nasywa dengan erat, Ia merasa senang melihat Nasywa yang tidak lagi menangisi perpisahannya dengan Kenzo dan bersemangat melakukan aktivitasnya.
"Ibu hati-hati selama sendirian di rumah, Salam untuk Bapak."
"Iya Sayang, Kamu juga hati-hati."
Setelah berpamitan Nasywa dengan motor matic nya bersiap meninggalkan rumah. Ia melempar senyum kepada ibu yang berdiri menunggu kepergiannya. Hasna pun membalas senyuman putrinya dan melambaikan tangan padanya seiring Nasywa pergi meninggalkannya. Entah kenapa setelah melihat kepergian Nasywa tiba-tiba Hasna merasa ada sesuatu yang mengganjal di hatinya. Namun Hasna segera menepisnya dan menganggap itu hanya keresahan biasa.
•••
Setelah menempuh perjalanan lebih dari satu jam, Nasywa menghentikan motornya di sebuah ruko. Namun bukan seperti butik yang Pak Ibnu sebutkan, Melainkan hanya ruko tua yang tak terawat.
"Apa Aku salah alamat?" batin Nasywa yang kemudian mengambil ponsel dari tasnya untuk menghubungi Pak Ibnu.
Tuuutttt.... Tuuutttt... Tuuutttt
Cukup lama Nasywa menunggu panggilannya di jawab oleh Pak Ibnu hingga membuat Nasywa mulai merasa resah karena hari yang semakin sore. Namun ia tidak menyerah dan terus mencoba menghubungi hingga akhirnya panggilannya di jawab oleh Pak Ibnu.
"Ya Mbak Nasywa..."
__ADS_1
"Pak Ibnu, Aku sudah sampai di alamat yang Anda berikan, Tapi aku tidak melihat butik di sini?"
"Memang butiknya bukan di sini Mbak, Ini hanya gudang penyimpanan barang dan tempat tinggal kami, Kan Mbak Nasywa mau diskusi dengan istri saya dulu, Setelah itu kita bersama-sama ke butik."
"Oh ya ampun, Aku pikir Aku yang salah alamat, Maafkan Aku jadi berpikiran buruk pada Anda."
"Tidak masalah Mbak Nasywa, Sekarang masuklah pintunya tidak di kunci."
Nasywa menutup panggilan teleponnya dan bergegas menuju pintu.
Dengan sangat perlahan Nasywa membuka pintu dan melihat setiap sudut ruangan yang nampak sepi seperti tak berpenghuni.
"Ruko ini seperti tidak di tempati." batin Nasywa yang masih di ambang pintu dan tak berani masuk. Nasywa yang mulai merasa takut dan berpikir ada yang tidak beres, Berniat meninggalkan ruko tersebut. Namun belum sempat ia keluar, Ia di kagetkan oleh suara yang tidak asing di telinganya.
"Masuklah Nasywa..."
"Bapak...!"
"Bagaimana Bapak bisa disini, Dimana Pak Ibnu?"
"Hallo Mbak Nasywa, Katanya Mbak Nasywa sedang mencari pekerjaan ya?" Herman berakting dengan suara yang menelpon Nasywa dan mengaku bernama Ibnu.
Nasywa yang mulai paham melangkah mundur sembari menggelengkan kepala dengan rasa takut dan kecewa.
"Hahahaha... Ada apa Nasywa apa kamu merasa takut?"
"Jadi semua ini hanya jebakan Bapak?"
__ADS_1
"Aku pikir Bapak sudah benar-benar berubah tapi ternyata Bapak sedang merencanakan sesuatu yang lebih besar dari sebelumnya. Aku tidak bisa tinggal diam lagi Pak, Ibu harus tau ini." Nasywa berbalik badan mencoba lari dari ruko tersebut. Namun dengan cepat Herman menarik pergelangan tangan Nasywa dan menyeretnya masuk.
Kemudian dengan kasar Herman menghempaskan tubuh Nasywa ke sofa usang yang ada di ruangan tersebut.
"Aww..." ringis Nasywa.
"Silahkan katakan pada Ibu mu, Tapi sebelum itu biarkan Aku menikmati tubuh mu terlebih dahulu." Herman langsung berusaha menci'um Nasywa dengan bertumpu pada kedua tangannya.
"Lepaskan! Lepaskan!" sekuat tenaga Nasywa mencoba memberontak. Kedua tangannya terus memukuli dada Herman sementara kedua kakinya menendang tubuhnya yang mencoba menindihnya.
"BHUG...!!!"
"Awh..."
Nasywa yang berhasil menjauhkan Herman dari dirinya. Kembali mencoba lari ke arah pintu. Namun lagi-lagi Herman mengejarnya dan menarik rambutnya hingga Nasywa menjerit kesakitan.
"Ahwww..."
"Kau berrani melawan ku? Begini kah cara mu membalas semua pengorbanan ku yang sudah membiayai sekolah mu dari kamu sekolah dasar?" dengan mengatupkan giginya Herman terus menarik kuat rambut bagian belakang Nasywa hingga membuat Nasywa merasakan perih yang tak tertahankan.
"Aku tidak akan melupakan jasa Bapak kepada ku, Tapi tidak dengan cara ini Aku harus membalasnya." tangis Nasywa.
"Kamu harus membalasnya dengan cara ini, Karena Aku tidak ingin balasan apapun selain dengan tubuh mu." dengan kasar Herman kembali menjatuhkan tubuh Nasywa. Dengan bringas Herman mulai menci'umi tubuh anak tirinya tersebut tanpa belas kasihan.
"Akan kah takdir membiarkan kesucian ku terenggut olehnya?" batin Nasywa yang merasa tubuhnya semakin lemah.
Bersambung..
__ADS_1