
Sementara Bu Hasna yang terus memikirkan keberadaan Nasywa jatuh sakit karena terus memikirkannya. Sudah lebih dari satu minggu Bu Hasna terbaring lemah tak berdaya. Terlebih dalam kondisinya yang tengah hamil membuat Bu Hasna semakin memprihatinkan.
"Di minum vitamin nya," ucap Herman sembari menyodorkan vitamin dan air putih pada Hasna.
"Aku gak mau Mas, Aku ingin tau keberadaan Nasywa. Ini sudah satu bulan lebih, Kenapa masih tidak ada kabar darinya?" tangis Hasna.
"Kan sejak awal Aku sudah bilang, Jika polisi tidak akan memproses laporan orang biasa seperti kita, Jika di proses pun akan membutuhkan waktu berbulan-bulan." dalih Herman.
"Sudahlah Hasna, Kamu fokus saja pada kehamilan mu, Jika kamu terus begini Aku bosan ngurusinnya!" dengan kesal Herman meninggalkan kamar.
Hasna semakin menangis pilu mengingat Herman yang menjadi satu-satunya sandaran keluh kesahnya mengatakan hal yang begitu menusuk hatinya.
•••
Di kamarnya Nasywa mondar-mandir memegang ponsel yang di belikan oleh Edward. Sudah beberapa kali ini ia mencoba menghubungi ibunya. Namun selalu saja Herman yang mengangkat sehingga ia harus mematikan kembali sambungan teleponnya sebelum bisa bicara pada ibunya.
Ckleekkk...
Nasywa terkesiap melihat Edward membuka pintu kamarnya.
"Maaf Aku sudah mengetuk beberapa kali tapi kamu tak menjawab."
"Oh... E... Maafkan Aku, Aku sedang melamun."
__ADS_1
"Jangan sering melamun nanti Aku bisa masuk ke dalam pikiran mu."
Nasywa tersenyum tipis mendengar Edward yang semakin sering menunjukkan sinyal perasaannya.
"Kalau begitu Aku berangkat kerja dulu, Kamu hati-hati kalau mau berangkat."
Nasywa menganggukkan kepala dan menatap Edward hingga menghilang di balik pintu.
Setelah Edward pergi, Nasywa baru memiliki ide untuk menyuruh Edward menelfon ibunya agar bisa mengetahui kabarnya. Dengan cepat ia pun berlari mengejar Edward. Namun ia sedikit terlambat karena begitu ia sampai di parkiran, Edward telah melaju cepat menggunakan mobilnya. Dengan rasa sedikit kecewa Nasywa kembali masuk ke dalam.
•••
Setelah merasa tenaganya kembali pulih, Kenzo beranjak bangun merapikan kemeja dan jasnya yang berantakan untuk bersiap meninggalkan kamar. Sementara Tania yang berdiri di sampingnya terus memperhatikan pria pujaannya tersebut. Sudah lebih dari satu minggu ia berada di Jakarta namun Kenzo tidak pernah mau menatapnya secara intens.
"Kenzo... Kenzo..." tertatih-tatih Tania mengimbangi langkah Kenzo yang begitu cepat. Namun tak sedikit pun Kenzo mempedulikannya dan terus melangkah turun menuju resepsionis.
"Bisa beri tahu saya atas nama siapa kamar yang saya tempati?" tanya Kenzo sambil mengembalikan kunci kamarnya.
"Sebentar Tuan."
Setelah menunggu kurang dari sepuluh menit petugas pun mengatakan jika kamar yang Kenzo tempati atas namanya. Masih tidak yakin dengan itu, Kenzo berbisik dan melirik Tania yang berdiri tidak jauh darinya.
"Apa gadis itu yang mengantar ku kemari?"
__ADS_1
"Mohon maaf Tuan, Semalam bukan saya yang bertugas."
Kenzo menghelai nafas kasar dan meninggalkan meja resepsionis tanpa mempedulikan Tania yang terus membuntutinya.
"Kenzo... Bisakah kita sarapan dulu?"
"Pergilah sendiri, Jangan terus membuntuti ku!"
"Kenzo... Ingat kondisi mu."
"Aku tidak peduli dengan kondisi ku, Bahkan jika Aku mati, Itu akan lebih baik!" Kenzo sampai di mobilnya dan bersiap masuk. Namun Tania menahannya dan berdiri tepat di hadapannya.
"Kenzo! Sampai kapan kamu mau menyiksa dirimu sendiri demi wanita yang belum tentu memikirkan mu?"
"Tutup mulut mu! Jangan pernah berpikir buruk tentang Nasywa."
"Kenzo... Jika dia memikirkan mu, Dia tidak akan menghilang begitu saja dari mu, Dia tidak akan membiarkan mu terpuruk sendirian seperti ini."
Kenzo terdiam mendengar apa yang Tania katakan. Kata-katanya cukup membuat hatinya ragu akan perasaan Nasywa yang pernah ada untuk nya.
"Kenzo... Aku tidak ada maksud buruk, Aku juga tidak memaksa mu untuk segera menerima ku, Tapi setidaknya anggap Aku sebagai teman mu agar kamu tidak merasa sendirian."
Kenzo menatap Tania yang terlihat begitu tulus menawarkan persahabatan tanpa memaksa dirinya untuk menerima perjodohan mereka.
__ADS_1
Bersambung...