
Kanzo menghentikan tangisnya dan menatap Nasywa dengan lekat. Begitupun dengan Nasywa yang mengangkat wajahnya menatap dalam Kenzo. Tatapan yang begitu dekat hingga hidung keduanya beradu berpindah turun menjadi penyatuan bibir.
Dengan mata terpejam, Mereka saling mengecup lembut dengan penuh perasaan, Hanya kecupan tanpa luma'tan membara seperti malam itu.
Beberapa menit berlalu, Nasywa dan Kenzo tersentak oleh suara langkah kaki seseorang yang memasuki kamar tersebut.
Keduanya saling menatap sesaat dan secara bersamaan menoleh ke arah pintu. Melihat Edward yang sudah berdiri di sana, Mereka membelalakkan mata dan langsung kembali berdiri menatap Edward dengan tegang.
Edward melangkah mendekati mereka dengan tatapan dinginnya.
Kemudian tanpa bicara, Ia meraih tangan Nasywa dan mengusap air matanya.
"Penghulu sudah datang, Keluarlah."
"Edward..." Nasywa menatap Edward bingung. Ia pikir Edward akan marah besar karena melihat apa yang ia dan Kenzo lakukan. Tapi nyatanya Edward tidak marah. Hanya tatapan misterius yang tidak bisa di artikan.
"Keluarlah para Bridesmaid sudah menunggu mu di depan pintu."
Tanpa membantah ucapan Edward, Nasywa mengangguk dan keluar kamar, Dua orang Bridesmaid menyambut Nasywa dan menggandeng tangannya menuju meja akad.
Kini hanya tinggal Edward dan Kenzo di ruangan itu. Saling memandang dengan pikirannya masing-masing.
"ini terakhir kali loe nemuin calon istri gue secara pribadi, Jika loe ingin menemuinya lagi, Loe harus minta izin terlebih dahulu sama gue."
"Edward..."
"Tidak perlu menjelaskan! Gue sudah lihat, Dan apa yang gue lihat tidak pernah salah." Setelah mengatakan itu, Edward langsung meninggalkan Kenzo dan menyusul Nasywa ke meja Akad.
Tidak ada yang bisa Kenzo lakukan selain melangkah keluar untuk menyaksikan Wanita yang begitu ia cintai menikah dengan sahabatnya. Kenzo duduk di samping Tania dan kedua orang tuanya yang turut hadir disana.
Melihat Pak Penghulu sudah memulai khutbah pernikahan, Sekar mencondongkan tubuhnya kepada Kenzo untuk membisikkan sesuatu.
__ADS_1
"Nasywa sudah melanjutkan hidupnya. Kini giliran mu Ken..."
Ucapan Sekar terasa seperti air garam yang menyiram lukanya yang ternganga. Begitu perih ia rasakan bebarengan dengan Pak Penghulu yang menjabat tangan Edward dengan mengucapkan lafal ijab.
"Coba sekali saja kamu perhatikan Tania, Dia tidak kalah cantik dari Nasywa, Dia juga pintar dan yang terpenting dia adalah kolega bisnis Papih." lanjut Sekar.
Kenzo menghelai nafas dan menoleh ke arah Tania.
Tania yang menyadari tatapan Kenzo. Menoleh ke arahnya dan melempar senyum termanisnya. Melihat senyum Tania, Kenzo membalas dengan senyum tipisnya.
Sementara dari meja akad Nasywa melihat Kenzo dan Tania yang saling memandang dengan senyum. Seolah tak peduli dengan acara yang tengah mereka hadiri.
"Sah...?"
"Sah... Sah..."
Kata sah dari penghulu dan para saksi bukan hanya mengagetkan Nasywa yang terus menatap Kenzo. Tapi Kenzo dan Tania juga tersentak dan kembali menatap meja akad.
"Jadi sekarang Aku sudah resmi menjadi istri Edward?" batin Nasywa.
"Jadi sekarang Aku sudah benar-benar kehilangan Nasywa?' batin Kenzo.
Keduanya terus saling menatap dari kejauhan hingga Sekar menarik tangan Kenzo untuk memberikan ucapan selamat kepada Nasywa dan Edward.
"Ayo Ken, Kenapa kamu malah bengong,"
"Tania, Kamu juga Sayang.."
Tanpa bisa menolak, Kenzo mengikuti kedua orang tuanya untuk memberikan ucapan selamat kepada Edward dan Nasywa.
Dengan senyum sumringah, Edward menggenggam tangan Nasywa dan memintanya naik ke atas pelaminan untuk menyambut ucapan selamat dari para tamu.
__ADS_1
Silih berganti para tamu menjabat tangan mereka hingga tiba giliran Kenzo dan keluarganya.
"Nasywa..." Sekar memeluk Nasywa dan mengusap-usap punggungnya.
"Selamat untuk mu Nasywa, Maafkan Tante jika Tante pernah salah kepada mu."
"Sama-sama Tante, Nasywa juga minta maaf."
Kemudian Sekar memberikan ucapan pada Edward dan di ikuti oleh suaminya.
Kini Kenzo dan Edward saling berhadapan dengan tegang. Namun melihat Tania berdiri di samping Kenzo. Edward tersenyum dan membuka pembicaraan.
"Kalian terlihat sangat serasi."
Mendengar hal itu Nasywa langsung menatap kearah mereka.
Fisik Tania yang cantik putih dan tinggi semampai memang sangat cocok bersanding dengan Kenzo. Ada sedikit rasa nyeri di sudut hatinya. Namun begitulah kenyataannya. "Mereka memang terlihat sangat cocok." batin Nasywa.
Tania hanya senyum malu-malu menatap Kenzo mengatakan sesuatu. Tapi Kenzo tidak mengucapkan satu kata pun selain ucapan selamat untuk sahabatnya itu.
"Semoga bahagia," ucap Kenzo.
"Terimakasih, Semoga tidak akan ada orang ketiga didalam rumah tangga kami."
Mendengar ucapan itu, Kenzo langsung beralih kepada Nasywa dan menjabat tangannya.
"Selamat untuk mu Nasywa, Tetaplah bahagia."
Nasywa hanya terdiam sedih dan melepaskan tangan Kenzo dengan berat hati. Nasywa terus menatap punggung Kenzo yang turun dari pelaminan di ikuti oleh Tania yang terus mengekor di belakangnya.
Bersambung...
__ADS_1