Cold Boy

Cold Boy
Sepuluh


__ADS_3

Leo terjadi diam, menatap lurus kedepan. Reo ngelihatnya sedikit merasa aneh. Ia mengikuti arah tatapannya, namun tak ada apa-apa disana. Akhirnya Reo menyadarkan Reo untuk melanjutkan komunikasi yang sudah terhenti.


"Le!"


Leo tersadar lalu melirik kanan kiri lalu ke arah Reo. "Hah, Kenapa Ri?"


Reo memutar mata malas. "Lo kenapa sih?"


"Nggak papa sih, gue cuman kaget aja sama lo yang mau sama adik gue." Jelas Leo membuat Reo sendiri juga bingung.


"Emang kenapa kalau gue suka sama adik lo?" tanya Reo memastikan. Leo berfikir sejenak.


"Ya.., kalau lo sama adik gue, Ririn sama Kakak lo dong?"


Reo langsung memasang wajah datarnya saking bete dengan saran Leo. "Kenapa muka lo gitu?"


Reo menghela nafas kasar.


"Apa sih hukuman bagi orang yang mau ngebunuh orang?" tanya Reo dengan serius. Leo terlihat berfikir.


"Hm.., se-tau gue hukum membunuh orang dalam semua agama itu haram. Bagi negara apa lagi. Mungkin hukumannya bisa sama-sama mati." Jawab Leo. Reo mengangguk.


"Kalau gue ngebunuh lo berarti nggak papa kan?" tanya Reo kembali.


"Ya sama lah! Lo bakalan mati juga sama gue. Owh lo mau mati bareng sama gue? Pasti lo nggak tahan kan? Sama siksaan Kakak lo? Makanya lo maunya hidup bareng sama gue di akhirat nanti? Eh tapikan, gue yang di bunuh? Pastinya gue masuk surga dan lo masuk neraka! Nggak jadi bar—"


"Lo kan hewan, kenapa gue mesti masuk neraka?"


^^^


"Kaniiii!" teriak Serira memasuki kelas dengan wajah yang sudah merah padam.


"Hm,"


"Kani! Kani! Tolong Kani!" seru Serira menggoyang–goyangkan tubuh Kani.


"Ck, kenapa sih Ra.., tadi katanya kamu mau ngasih kue ke kak Reo lewat kak Rio, tapi kok kamu ekspresinya malah gitu se-akan akan kamu ngasih ke mak Reonya langsung." Tanya Kani sambil menebak apa yang baru saja terjadi.


"Justru memang itu Kani, sayang! Aku malah ngasih ke orangnya langsung!!" jawab Serira membuat Kani yang sedang sibuk dengan novel di tangannya langsung menatap Serira dalam. "Lo ngasih ke orangnya langsung?"


Serira mengangguk sesuai kenyataan.

__ADS_1


Kani menatapnya semakin dalam. "Kenapa?" tanya Serira.


"Bukannya kak Reo tadi pulang gara–gara sakit ya?" tanya balik Kani, Serira berfikir sejenak.


"Sebenernya waktu di kolidor, banyak banget orang yang ngomongin tingkah kak Rio yang mirip sama kak Reo. Tapi aku belum percaya karena aku belum liat langsung. Dan ketika aku ngobrol sama dia, emang bener–bener kerasa gitu, hawa ilmu hitam yang menggoda milik kak Reo itu terasa sama aku! Dan pas aku tanya, dengan polosnya dia bilang kalau dia itu kak Reo! Ya ampun Kani! Aku malu banget dong! Muka aku sampai merah di sana!" jelas Serira panjang lebar kepada Kani yang juga fokus mendengarkan.


"Hm, kenapa Kak Rio bisa jadi Kak Reo ya?" tanya Kani kembali. Serira mengangkat bahu tidak tahu.


"Kayaknya aku harus cari perbedaan antara Kak Reo sama Kak Rio deh biar aku bisa bedain!" seru Serira. Kani mengangguk.


"Ihhh! Kani! Kok ngangguk doang sih!"


Kani melirik Serira. "Terus aku harus apa? Koprol gitu? Salto?"


Serira tersenyum kikuk. "Kalau nengkarak boleh nggak?"


Kani memutar matanya malas. "Ya.., ntar aku cari tahu cara ngebedain kakak beradik itu." Ucap Kani membuat senyum di wajah Serira kembali mengembang.


"Makasih Kani! Lopyuuu," Serira memeluk Kani sebangai tanda kasih sayangnya kepada Kani. "Iya.., masama."


^^^


Reo pulang ke rumahnya sebelum sekolah bubar. Karena ia juga bingung ingin menjadi siapa disana. Memjadi Reo salah Rio salah. Akhirnya ia putuskan untuk pulang dengan alasan kalau Reo masuk rumah sakit.


Rio mengerutkan dahinya. "Lah? Terus kalo lo di sini, lo udah apa?"


Reo merebahkan tubuhnya di sofa empuk yang berada di ruang keluarga. "Mama ayah mana?" tanya Reo.


"Eh! Kebiasaan kalo nanya malah di tanya balik!" seru Rio yang ikut duduk di sofa sebrang Reo.


"Kebiasaan kalo di tanya jawabnya ngawur." Balas Reo. Rio menghela nafas berat.


"Mereka masih di rumah sakit. Mama bakalan pulang sekarang jadi Ayah lagi bantuin beres–beres." Jelas Rio yang dibalas anggukan oleh Reo.


"Tumben tas lo gendut." Ucap Rio melihat tas Reo yang berisi sesuatu selain buku. Reo ikut melirik tasnya yang disimpan diatas meja.


"Tadi adik kelas ngasih kue." Jawab Reo. "Adik kelas?" tanya Rio kembali, Reo mengangguk.


"Ngasih langsung? Tumben di terima."


"Gue kan lagi jadi lo Kuya!" seru Reo menoyor kepalanya.

__ADS_1


"Owh! Serira? Oh iya–iya. Gue lupa terus mau ngasih kuenya ke lo. Abis setiap gue mau ngasih ke kelas lo, lo nggak ada. Gue mau ngasih ke kamar lo, lo udah molor. Ya akhirnya gue makan juga tu kue." Jelas Rio yang menurut Reo jujur.


Reo hanya membalasnya dengan anggukan ringan dan kembali menikmati ketenangan sejenak.


"Lo cobain deh kue nya! Itu enak banget loh! Dia bilang itu dia sendiri yang buat Kak!"


"Lo makan aja sendiri." Jawab Reo.


"Ih lo mah suka jual mahal gitu! Mama Ayah kan ngizinin kita buat kenalan sama cewek! Apa lagi lo! Pasti wajib lah kenalin cewek ke Mama sama Ayah, secara lo kan anak pertama, masa iya lo ke susul sama gue." Sindir Rio tajam, tapi Reo terkekeh.


"Sama siapa lo so–soan mau nyusul gue?" tanya Reo balik. Rio mendekati diri Reo.


"Sama Ririn lah!"


"Haha! Pede amat lo kayak yang baru di lamar."


"Hi.., orang sirik kan gini! Makannya, tuh si Rira lo terima aja. Lo kan mau cewek yang mengagumi lo nya dalam diam nggak sompral–sompral. Udah ketemu nih, sekarang mau lo apain?" tanya Rio serius. Reo mengangkat bahu enteng.


"Ck! Punya kakak gini amat! Terbuat dari apa si lo!" seru Rio mulai kesal. Tapi ini yang Reo suka dari dulu. Mungkin ini salah satu alasan mengapa Reo selalu irit bicara, untuk memjahili adiknya juga.


"Harusnya gue apa in?" tanya balik Reo.


"Kawinin bisa kali?"


Reo langsung nampar wajah Rio hingga Rio meringis saking sakitnya.


"Galak banget sih!"


"Lo ngomong jangan sompral! Ketahuan orang diturunin lo tahtanya!" ancam Reo membuat Rio was–was.


"Hehe, kagak lah! Gue mah bercanda.., lo apain?"


"Ck! Males mikirin cewek." Reo hendak bangun dari duduknya namun tiba–tiba Rio mencekal tangannya.


"Lo kok gitu sih sama cewek? Lo nunggu di jodoin sama Mama ya? Karena lo suka anaknya Tante Bian?"


Reo memutar matanya malas.


"Sejak kapan gue suka dia?" tanya balik Reo.


"Sejak kemarin! Lo anter dia sampai ke rumah malem–malem dan—"

__ADS_1


"Ssst! Jangan banyak bacot! Nggak guna!" Reo menepis tangan Rio dan mengambil tas nya. Kemudian ia berjalan menuju lantai atas, tempat dimana kamar nya berada.


"Kak! Lo itu jadi cowok harus jentle dong! Masa ada cewek yang mengagumi lo dalam diam lo malah diem aja? Lo terima kuenya lagi! Gue juga tahu, tadi lo berangkat bareng sama dia kan Kak? Ayolah! Lo itu jangan jadi pecundang yang bisanya cuman ngasih harepan aja sama orang la—ADOH!"


__ADS_2