Cold Boy

Cold Boy
Empat Puluh Dua


__ADS_3

Reo


Drrt drrt


Drrt drrt


Drrt drrt


"Re. Bangun, ada yang telepon nih."


Gue tersadar dari tidur gue dan membuka mata perlahan begitu ada suara yang ngebangunin gue.


"Tante Bianca kok disini?" tanya gue sambil ngebenerin posisi tidur.


"Kebetulan tante nggak ada jadwal hari ini, Reo. Dan mama kamu sendiri yang minta tante buat nemenin kamu buat sementara waktu." Jelas tante Bianca. Gue ngangguk sambil ngucek mata.


"Eh itu tadi ada yang nelpon kamu loh, Re." Ucap tante Bianca. Gue ngelirik ke atas nakas yang dimana tersimpan hp gue.


Gue ambil hp gue dari sana dan terlihat ada beberapa panggilan tak terjawab dari Rira.


Gue jadi keingat suara kemarin. Gue belum sempet nanya lagi kedia. Mungkin sekarang dia bakal jelasin.


Gue telepon balik dia.


"Hallo kak Reo. Gimana kabar kak Reo? Baik - baik aja kan?"


Tanya dia begitu teleponnya dia angkat.


"Gue baik - baik aja." Jawab gue.


"Syukur kalo gitu. Maaf ya, Kak, kemarin aku nggak jadi ngejenguk kakak. Soalnya tiba - tiba kak Satria ngajak rapat osis dan aku nggak boleh absen, jadinya aku nggak bisa ke kak Reo. Dan pas aku mau ngabarin, tiba - tiba hpku mati karena semalaman lupa di cas. Trus pas malemnya mau ngabarin, tiba - tiba hp aku ketinggalan di kak Satria karena di anter pulang. Maafin aku ya, Kak." Jelas Rira panjang lebar.


"Jadi yang kemaren suara cowok itu Satria?" tanya gue to the point.


"Eh? Emang kak Satria nelpon ke kakak?"


"Gue nelpon ke lo dan yang ngejawab laki - laki." Jelas gue.


"Ohiya, Kak. Mungkin itu kak Satria yang angkat. Maaf ya, Kak."


"Iya, udah. Lo nggak usah minta maaf terus. Udah sampe sekolah?" tanya gue.


"Ini baru nyampe, Kak."


"Yaudah sekolah dulu sana, belajar yang bener." Perintah gue.


"Iya, Kak. Kakak juga cepet sehat ya, bair bisa sekolah lagi."


"Gue bakal cepet sembuh."


"Oke kalau gitu aku tutup teleponnya ya, Kak. Assalammu`alaikum."


"Wa`alaikumsalam."


Setelah balasan salamdari gue, Rira matiin teleponnya dari sebrang sana.


"Pacar ya?" tanya tante Bianca. Gue mengangguk.

__ADS_1


"Rira temennya Kani?" tanya tante Bianca lagi.


"Iya, Tan." Jawab gue kembali.


"Owh. Dia anaknya ramah ya, sopan lagi. Cocok lah sama kamu." Puji tante Bianca, gue tersenyum senang.


"Nah sekarang minum obat, biar cepet sembuh terus bisa sekolah lagi! Hehe." Seru tante Bianca sambil nyodorin obat dan segelas air ke gue.


"Ini obat sebelum makan. Abis itu tunggu tiga puluh menit baru makan nasi, makan obat yang setelah makan deh." Jelas tante Bianca.


"Makasih, Tante." Ucap gue.


"Iya Reo. Sama - sama."


Gue pun meminum obat yang di kasih oleh tante Bianca.


Setelahnya, gue simpan gelas di atas nakas beserta hp yang baru aja gue gunain.


"Tan, kapan Reo bisa pulang?" tanya gue.


"Pas kamu sembuh lah." Jawab tante Bianca.


"Kapan Reo sembuh?" tanya gue kembali, tante Bianca melirik ke arah gue.


"Ya, ketika tulang kamu udah tersambung lagi."


"Gimana cara mempercepat nya?"


Tante Bianca terlihat berfikir sebentar allu ngelirik lagi ke arah gue.


"Kamu mau ikut terapi?" tanya tante Bianca.


^^^


Pulang sekolah kemudian.


Serira


"Ra, kamu mau ke kak Reo?" tanya Kani.


"Iya, Kan. Kenapa?" tanyaku balik.


"Aku ikut, soalnya mama aku juga ada di sana nunggu kak Reo." Jawab Kani.


"Owh, gitu. Yaudah ayok! Sebelum terlalu sore." Ajak ku setelah selesai mengemas barang.


"Yuk."


Aku dan Kani pun keluar dari kelas dan mengikuti arus murid lain yang juga akan pulang kembali ke habitat masing - masing.


"Rira!" panggil seseorang, aku melirik ke arah belakang.


"Ra, kumpul dulu bentar ya?" ajak kak Satria secara tiba - tiba.


"Kok tiba - tiba, Kak?" tanya ku.


"Ada hal mendadak yang harus kita omongin." Jawab kak Satria.

__ADS_1


"Tapi Kak, aku harus ke kak Reo sekarang." Ucapku.


"Lo kok mentingin orang lain di banding sekolah sendiri?!" sentak pelan kak Satria kepadaku, aku mengerutkan dahi sambil sedikit mundur.


"Eh! Anggota osis lo tuh banyak! Nggak cuman Serira doang!" balas Kani sambil mendorong bahu kak Satria kasar.


"Diem lo! Gue nggak punya urusan sama lo." Tegas kak Satria menepis tangan Kani.


"Eh nggak bisa! Masalah Rira itu masalah gue juga! Lo berani nyentuh dia?! Langkahin dulu mayat gue!" sentak Kani cukup keras membuat semua orang berdatangan untuk melihat kita.


"Kan, udah Kan, ditahan emosinya." Ucapku menarik tangan Kani untuk segera mengakhiri perdebatan ini.


"Jadi lo mau gue langkahin mayat lo?" tanya tajam kak Satria kepada Kani.


"Iya!"


"Sorry. Walau lo cewek tapi permintaan lo gitu, gue kabulin." Jawab kak Satria sambil melangkah maju ke arah Kani.


Aku yang semakin takut dengan apa yang akan di lakukan oleh kak Satria berusaha menarik Kani untuk mundur. Namun egonya lebih tinggi dari ketakutannya.


"Lo pikir karena lo cowok gue takut?!" tantang Kani balik.


"Kani, jangan Kani! Please Kani jangan!!" seru ku sambil tetap menarik tangannya.


Kani langsung menebas tangan ku dan mulai bersiap tarung dengan kak Satria.


Aku semakin panik di buat itu.


Murid - murid sekitar hanya menonton tanpa melerai. Bahkan ada juga yang memvidiokan.


"Cupu banget sih lawannya cewek kurus, pendek lagi." Ucap seseorang menghentikan langkah kak Satrai.


"Ganti sama gue aja mau nggak?" tawar orang itu lagi.


Aku melirik ke orang itu yang terdengar dari suara nya adalah seorang anak laki - laki.


Dan benar saja, itu adalah kak Vans, salah satu ketua geng yang terkenal nakalnya.


"Gue nggak punya urusan sama lo." Tegas kak Satria.


"Tuh cewek juga nggak punya urasan sama lo tapi lo terima." Balas kak Vans.


"Bayangin aja, Nyet! Dia lawan cewek kayak cuman nyentil satu semut. Dia lawan lo kayak nyentil satu harimau. Mana mau dia lawan lo." Timbal teman lainnya, kak Tio.


"Iya. Ketua osis sekarang modal ngomong doang, otak isian juga lebih bagus gue." Tambah kak Exel.


"Maju." Ucap kak Satria menerima tantangan kak Vans.


Kak Vans yang berada di atas bangku koridor itu turun dan melepas tasnya lalu melemparnya ke sembarang arah.


"Harus gue yang maju? Tadi pas si Kani perasaan lo yang maju." Ucap kak Vans.


Kak Satria pun melangkah maju.


Aku sangat takut dengan apa yang akan terjadi.


Lebih masalahnya lagi, semua guru telah pulang tak tersisa karena ada guru lain yang meninggal dunia.

__ADS_1


Aku melirik ke arah teman - temannya dan di jawab dengan istilah tangan yang berarti 'tenang, semua bakal baik - baik saja'.


Bugh!


__ADS_2