
Serira dengan Leo kini telah sampai ditujuan mereka.
Cafe Coya adalah langganannya tongkrongan bagi anak-anak SMA se-usia mereka.
Serira dengan Satria telah duduk di kursi dekat jendela dan memesan minuman untuk sekedar basa-basi.
"Oke, Ra, ini struktur organisasinya." Ucap Satria sambil memberikan sebuah map kepada Serira.
Serira menerimanya lalu membuka map tersebut dan membacanya sekilas.
"Ketua tahun berikutnya ada tiga calon, Yusuf dengan Wahyu, Bahrul dengan Jeni, dan Fitrah dengan lo, setuju kan?" jelas Satria yang langsung dipikirkan oleh Serira.
"Ini pertama kalinya aku masuk organisasi, Kak, masa langsung dijadiin calon?" tanya Serira berusaha meyakini keputusan yang Satria ambil. Satria langsung terkekeh atas pertanyaan Serira.
"Ra, gue mutusin ini tuh nggak sendirian. Beberapa guru dan tim inti juga ikut ngebantu, jadi udah dipastiin kalau ini nggak ada yang salah." Jawab Satria mantep, Serira tersenyum samar.
"Lagian juga ngelihat kinerja kamu selama kurang lebih sebulan ini juga udah lumayan, Ra, buat ukuran anak baru, jadi lebih baik lo coba walau hanya jadi wakil ketua." Sambung Satria kembali meyakini Serira.
"Yaudah kalau gitu aku coba, Kak." Ucap Serira membuat Satria senang.
"Nah, gitu dong!" seru Satria sambil mengacak-acak rambut Serira.
Serira hanya tersenyum kikuk sambil gugup karena telah diperlakukan seperti itu oleh Satria.
"Permisi, pesanannya." Ucap salah satu pelayan cafe sambil membawa pesanan Serira dan Satria.
"Makasih, Mbak." Ucap Satria begitu pelayan memberikan pesanannya.
Pelayan itu mengangguk lalu kembali ketempat asalnya.
^^^
"one, two, three, four!"
Jeng..
Alat musik saling berirama melantunkan sebuah nada yang sudah mereka susun sebelumnya secara masing-masing.
Reo yang juga bermain gitar bersiap-siap untuk mengeluarkan suaranya sebagai pokok dari musik yang mereka mainkan.
Setelah lagu sudah masuk, Reo langsung melantunkan suara indahnya mengikuti alunan nada.
Semua langsung saling menikmati irama yang mereka mainkan itu dengan senyum puas.
Mereka memaikan lagu itu kurang lebih selama tiga menit. Dan setelah latihan beberapa kali, mereka istirahat sejenak untuk melepas penat.
"Kan enak kalau kompak." Ucap Exel.
"Dari kemaren juga lu yang salah, Sat!" seru Tio.
"Ih, abangnya nggak nyalem." Balas Exel, Johan, Vans, dan Reo pun hanya menggelengkan kepala.
"Lagu udah pas, tinggal matengin." Jelas Reo, Vans mengangguk.
"Masih dua hari lagi kok, lumayan lama buat latihan." Ujar Vans.
"Semua juga udah hafal nada, jadi lebih gampang." Sambung Johan.
"Okey dah, hari ini latihan sampai malem lagi?" tanya Tio setelah meneguk air putihnya.
__ADS_1
"Nggak usah, hari ini sampai sini aja biar nggak drop." Jawab Reo, semua mengangguk setuju.
"Yaudah, abis makan kita pulang." Ucap Exel sambil menaikan kedua alisnya dan menampilkan senyum kuda. Semua memutar mata malas.
"Ayolah, Re, gue belum makan dari TK nih!" rengek Exel yang sudah kelaparan.
"Ini rumah saudara gue, bukan rumah gue." Jawab Reo acuh.
Ceklek.
Pintu ruangan itu terbuka menampilkan sesosok gadis seumuran mereka dengan pakaian ala rumaha.
"Re, mama gue dah masak, ajak temen-temen lu makan sekarang." Ucap Lea yang langsung meninggalkan tempat itu begitu sudah menyampaikan informasi sesuai yang diperintahkan oleh ibunya.
Exel yang mendengar itu langsung semangat empat lima bangkit dari tempatnya dan diikuti oleh teman-temannya yang lain.
"Kan, lo pada tadi nggak mau gue minta makan, sekarang udah ada malah ngikutin!" nyinyir Exel kesal, semua membalasnya dengan cengiran tanpa dosa.
"Udah ayo." Ajak Reo yang berjalan terlebih dahulu keluar ruangan musik.
Ia turun ke ruang meja makan yang diikuti oleh teman-temannya dan duduk manis disana.
"Nih, tante bikin pasta buat kalian, semoga suka ya." Ucap Putri sambil memberikan piring besar berisikan pasta keju.
Semua langsung berebutan mengambilnya hingga habis membuat Putri sedikit menggelengkan kepalanya.
"Maaf, Tante." Ucap Reo yang dibalas kekehan oleh Putri.
"Nggak apa, Re, tante juga pasti ngerti kok, karena anak tante juga cuman cewek jadi agak kaget sama anak cowok, hehe." Jawab Putri yang justru malah terhibur. Semua langsung menerima dengan senang hati.
"Makasih Tante." Ucap para lelaki itu. "Sama-sama."
"Yaudah tante tinggal ya." Sambungnya kembali yang langsung disauti oleh Reo cs itu.
^^^
"Kakak lagi ngapain?" tanya Serira begitu masuk ke kamar Leo yang sedang dilanda kebisingan.
"Gue lagi ngapalin not buat ujian praktek, Ra." Jawab Leo sambil memetik gitarnya
"Oh, ujian praktek seni?" tanya Serira, Leo mengangguk.
"Coba lo yang nyanyi, Ra, gue mainin gitarnya." Titah Leo.
"Lagu apa, Kak?" tanya Serira kembali.
"Lagu yang melow, soalnya gue bakal nampilin lagu melow." Jawab Leo, Serira pun berfikir sejenak.
"Lagu yang suka lo nyanyiin belakangan terakhir, apa itu?" tanya Leo.
"Oh, bila rasa ku ini rasamu, itu?"
"Nah, iya itu! Coba lo nyanyiin." Ujar Leo sambil bersiap-siap memetikan gitarnya, Serira mengangguk semangat dan mencoba menyesuaikan nadanya.
"Langsung reff ya."
Leo memetikan gitarnya sesuai nada yang sering ia dengar dari kamar Serira bila melewat. Serira menunggu sesuai nada dan akhirnya masuk kedalam nyanyiannya.
"Bila.. rasa ku ini rasamu.."
__ADS_1
Leo tersenyum mendengar suara adiknya yang sangat lembut itu.
"Sanggupkan engkau.. menahan sakitnya.. terkhianati cinta yang kau jaga.."
Serira mencoba lebih menghayati lagunya agar bisa menjadi lebih bagus.
"Coba.. bayangkan kembali, betapa hancurnya.. hati.. ini.. kasih.. semua telah terjadi.."
Leo mulai memetikan gitarnya pelan menandakan bahwa lagu akan segera berakhir.
"Aku memang ter..lanjur mencintai.. mu.."
Leo berhenti memetikan gitarnya dan tersenyum ke arah Serira.
"Jangan galau lagi ya?" pinta Leo secara langsung.
Serira terdiam mendengar suruhan kakaknya. Ia masih teringat kejadian yang membuat hatinya hancur itu.
"Ra." Panggil Leo, Serira melirik.
"Iya, Kak?"
"Jangan pikirin orang lain lagi, yang udah lepas biarin lepas, jangan sampai mengulang luka yang sama." Ujar Leo berusaha meyakini adiknya itu.
"Iya, Kak. Bakal selalu aku coba." Balas Serira dengan penuh keyakinan.
"Nah, gitu baru adik gue!" seru Leo merangkul Serira dengan penuh kasih sayang.
Yang dirangkul pun tersenyum senang sambil membalas rangkulannya.
^^^
"Re, katanya mama ngelahirin sehabis kita UN!" seru Rio yang tidak sabar akan kedatangan calon adiknya itu.
"Kenapa nggak nanti aja?" tanya Reo yang malah tidak bersemangat.
Rio memutar matanya malas dengan balasan yang diberikan oleh Reo.
"Lo napa nggak seneng sih, mau punya adik lagi!" seru Rio kembali.
"Ada lo juga gue nggak mau." Jawab Reo menusuk hati Rio.
"Anjer, jahat banget gue punya kakak." Ucap Rio tak menyangka.
Reo mengabaikan ucapan adiknya itu dengan bermain hp.
"Eh, Gisel dimana ya?" tanya Rio yang baru sadar kalau wanita itu tidak ada beberapa dari hari yang lalu.
"Lo bilang sendiri dia balik ke orang tuanya?" tanya balik Reo membuat Rio tersadar.
"Ohiya lupa." Ucap Rio sambil cengengesan. Reo tak banyak mengubis dan hanya bermain ponsel.
"Mama bilang kita cariin nama yang cocok buat adik cewek kita, Re!" seru Rio mengguncangkan tubuh Reo membuat pria itu malas sendiri.
"Kasih aja nama Jubaedah." Jawab Reo asal.
"Ih, bagus-bagus adik cewek satu-satunya dikasih nama Jubaedah." Ketus Rio tak setuju.
"Lo pikir sendiri kalau nggak setuju." Balas Reo kembali, Reo memutar matanya malas.
__ADS_1
"Namanya samain kayak kita, Re. Lo Reo, gue Rio, adik cewek kita?" Rio berpikir keras sambil mencari nama yang bagus yang berada di otaknya.
"Ria."