Cold Boy

Cold Boy
Empat Puluh Tiga


__ADS_3

Bugh.


Satu pukulan pun melayang di pipi kak Satria membuat aku dan Kani ikut meringis melihatnya.


"Gue tahu lo nggak mungkin ngawalin nonjok karena lo takut kan? Anak - anak share vidionya ke guru dan mereka langsung pecat lo karena udah berantem sama anak sekolah?" lantang kak Vans sambil maju kembali mendekat ke arah kak Satria.


"Cupu banget ketua osis sekarang. Perasaan gue dulu sering gelut sama ketua osis." Sambung kak Vans kembali.


Memang.


Yanga aku dengar dari kakak kelas yang ada di sini, kak Vans itu bukan hanya sebagai ketua dari pelaksanaan tawuran namun juga sebagai buronan para osis sekolah.


Pasalnya, dia selalu saja melanggar peraturan yang membuat ketua osis disini jengkel dan mereka berantem sampai babak belur.


Namun sekolah sama sekali tidak menyalahkan ketua osis yang memukulnya karena mungkin itu sudah tindakan yang pantas untuk kak Vans terima.


"Cupu banget takut di pecat! Padahal ketua osis dulu selalu di banggain kalo berantem sama gue." Panas kak Vans memancing emosi kak Satria.


"Iya bener. Perasaan sampai sekarang nggak pernah ada guru mecat ketua osisnya. Masa dia takut sih, cupu banget!" ucap seseorang yang sedang menonton di sana.


"Takutnya di belakang! Pas depan guru manis banget biar di puji!" sambung temannya yang ikut bergosip namun terdengar jelas oleh semua orang.


"Cowok banci, manisnya depan doang!"


Dengan mimik muka yang sudah terlihat dendamnya, kak Satria langsung melayangkan sebuah pukulan kepada kak Vans tepat di rahangnya.


Kak Vans tersenyum kecil sambil terkekeh kepada kak Satria.


"Udah?"


Kak Satria langsung menghantap kembali muka kak Vans dengan seluruh tenaga yang ada di dalam dirinya menunjukan darah segar yang keluar dari hidung dan mulut kak Vans.


Tak mau kalah, kak Vans membalas pukulan itu sampai kak Satria terjatuh ke bawah tanah.


Kak Vans mengambil kerah baju kak Satria dan menggiringnya ke tengah lapang untuk lebih berleluasa bergelutnya.


Satu pukulan mendarat di perut kak Vans membuat dia sedikit lemas.


Kak Vans membalas pukulan itu tepat di rahang kak Satria membuat darah segar dari kak Satria juga mengalir.


Semua murid langsung berkumpul mengelilingi lapangan termasuk aku dengan Kani.


"Kak! Pisahin dong tolong!" pinta ku kepada kak Johan, temannya kak Vans.


"Susah, Ra. Tunggu aja mereka beres sendiri." Jawab kak Johan.


"Nggak bakal beres - beres dong, Kak!" seru Kani.


"Ntar juga beres sendiri." Sambung kak Tio.


Kani memutar matanya malas karena temannya kak Vans tak berguna sama sekali.

__ADS_1


Ia pun nekat ke tengah lapang yang sebelumnya sudah aku cegat namun Kani tetap mengotot menghampiri kak Vans dan kak Satria yang masih saling menonjok.


"Kak! Udah--aakh!" teriak Kani yang langsung tertidur di tanah.


"Kanii!!" Teriakku yang terkejut melihat Kani yang ikut terpukul oleh kak Vans saat Kani menarik kak Vans.


Aku berlari ke tengah lapang untuk menghampiri Kani.


Aku mengguncangkan tubuh Kani sambil memanggil namanya.


"Kan!! Kani!! Kani bangun!!" Teriak ku.


Aku menyingkirkan beberapa helai rambut Kani yang menutupi wajahnya.


Tampak jelas di lihat bahwa wajah Kani memucat dan terdapat memar di pipinya.


"Rira. Biar kakak bantu." Ucap seseorang sambil menarik tubuh Kani.


Aku melihat menenggak dan melihat bahwa orang itu adalah kak Ririn.


"Ayo anak tandu, bawa Kani!" perintah kak Ririn kepada anggota pmrnya.


Yang di suruh pun langsung mengangkat tubuh Kani ke tandu darurat dan membawanya ke ruang uks.


"Kak, aku boleh liat Kani ya?" tanya ku.


"Boleh, Rira. Kamu boleh sambil temenin dia." Jawab kak Ririn. Aku tersenyum berterima kasih dan berjalan mengikuti anggota pmr yang mengangkat tubuh Kani.


Kak Vans dan kak Satria pun mengikuti langkah kak Ririn yang berjalan lebih dulu.


Aku melihat Kani yang sedang di obati oleh pengurus uks. Sedangkan kak Vans di obati oleh kak Ririn dan kak Satria oleh sahabatnya kak Ririn.


Tak lama dari pengobatannya, Kani terbangun dan aku pun langsung menghampirinya.


"Kan, kamu nggak papa kan?" tanyaku dengan sedikit khawatir.


Kani mengangguk sambil tersenyum. "Aku nggak papa kok, Ra."


"Syukur lah. Kamu kuatkan buat pulang?" tanyaku kembali untuk memastikan.


"Kuat kok, tenang aja."


"Kan. Sampai rumah lukanya di kompres lagi ya biar nggak bengkak." Ucap kak Ririn menghampiri kami.


"Iya, Kak. Makasih."


"Yaudah kalian duluan pulang ya, kalau kamu nggak kuat kamu bisa numpang ke kakak, mau?" tawar kak Ririn.


"Nggak usah, Kak. Aku sama Rira mau ke rumah sakit dulu kok, ke kak Reo." Tolak Kani halus.


"Kalau ada apa apa kasih tau kakak ya?"

__ADS_1


"Iya Kak."


"Kalau gitu kita duluan ya kak Ririn. Makasih udah ngebantu Kani." Pamit ku sambil membantu Kani turun dari ranjang.


"Sama - sama Rira. Hati - hati di jalan ya." Jawab kak Ririn. "Oke Kak."


Aku dan Kani pun pergi berdua melewati teman - teman kak Vans.


"Ohiya, Kak. Bilang makasih juga ya ke kak Vans. Maaf udah buat dia babak belur." Ucap ku sembari melewat.


"Iya, Ra. Hati - hati." Jawab kak Exel. Aku pun membalas dengan mengangguk dan tersenyum.


^^^


Kami kini sudah sampai di gedung rumah sakit.


Oh ya. Sebelum ke rumah sakit, kita mampir terlebih dahulu ke mini market yang ada di dekat rumah sakit. Tidak banyak yang di beli, hanya sekedar roti, susu, dan sereal untuk meningkatkan nafsu makan kak Reo.


Aku dan Kani berjalan dengan tidak begitu terburu - buru karena melihat keadaan Kani yang sedikit memprihatinkan.


"Aku nggak papa, Ra." Ucap Kani yang seolah tahu apa yang sedang aku pikirkan.


"Tapi tadi kamu di pukulnya sampai jatoh, Kan. Aku khawatir kamu kenapa - napa." Balasku.


"Uuuuu, so sweet banget si." Ucap Kani.


"Bukan so sweet, Kan. Jadi geli ah!" seru ku.


"Haha. Iya deh, sekarang mah udah beda kan udah punya pacar."


"Pacar?" ucap ku ulang.


"Jangan bilang kamu belum bales tembakan kak Reo." Ucap Kani, aku terkekeh pelan.


"Udah lah, Kan. Aku masih kurang familiar aja sama kata pacar." Jawabku.


"Iya lah. pertama kali punya pacar juga." Ejek Kani.


"Nggak papa, yang penting sekarang punya pacar." Balasku sambil menjulurkan lidah.


Aku dan Kani pun tertawa bersama.


Tak terasa kini kita berada di depan ruangan kak Reo.


Aku mengetuk pintu ruangan itu dan langsung membukanya begitu ada yang membalas dari dalam.


"Assalammu`alaikum." Ucapku dengan Kani secara bersamaan.


"Wa`alaikumsalam. Sini Rira, Kani." Ajak tante Jessica yang juga berada di dalam ruangan itu.


"Makasih tante." Ucapku. Tante Jessica mengangguk sambil tersenyum.

__ADS_1


"Ya ampun Kan?! Kok pipi kamu lebam?!"


__ADS_2