Cold Boy

Cold Boy
Lima Puluh Tujuh


__ADS_3

"Mulai sekarang kita putus!" tegas Serira yang membuat Reo maupun Leo tak percaya mendengarnya.


"Ra, lo jangan ngambil keputusan begitu aja." Ujar Leo berniat menyadarkan Serira.


"Nggak, Kak. Aku beneran mau putus sama dia karena dia itu cowok brengsek!" seru Serira sambil menunjuk Reo yang sedang menatapnya tak percaya.


"Ra, tenangin dulu diri lo baru mutusin mau udahan apa bertahan." Ucap Leo kembali agar adik satu - satunya ini tidak menyesal dikemudian hari.


"Aku nggak pernah mau bertahan sama cowok egois kayak dia!"


"Oke. Kita putus." Tegas Reo yang langsung pergi menuju motornya dan menaikinya.


Ia memakai helm kemudian menyalakan mesin, lalu menjalankan motornya untuk keluar dari rumah besar milik keluarga Serira.


Leo menatap kepergian Reo dengan bersedih hati. Sedangkan Serira merasa sedikit sakit didalam hatinya ketika Reo pergi setelah mengatakan itu, bukannya mempertahankan hubungan mereka.


Leo melirik kearah adiknya dengan sedikit kesal lalu melirik kearah Satria yang keadaannya tidak terlalu buruk.


"Lo mau gue antar pulang?" tawar Leo dengan sinis.


Satria menggelengkan kepalanya kaku lalu berdiri dari duduknya.


"Ra, gue pamit pulang, lo cepet - cepet minum obat ya, takutnya masuk angin." Pamit Satria, Serira pun membalikan badannya.


"Iya, Kak, kakak juga cepet - cepet obatin lukanya nanti--"


"Lo masuk ganti baju." Tita Leo memotong omongan Serira tanpa menatapnya sedikit pun.


Serira yang merasa bahwa kakaknya ini kecewa padanya juga merasakan sedikit kesakitan karena ternyata sang kakak tidak berada didalam pihaknya.


"Cepet." Tegas Leo kembali.


Serira menundukan kepalanya tak bersemangat lalu berjalan masuk kedalam rumah.


Leo tak mengusik keberadaan Satria. Ia ikut masuk kedalam rumah menyusul Serira tanpa memperdulikan keadaan Satria sama sekali.


^^^


Reo menancap gas kendaraannya sekencang mungkin untuk melepaskan amarah yang sedang memuncak didalam dirinya.


Dia menyelip beberapa kendaraan yang ada di depannya walau sempat ada beberapa kendaraan yang hampir tertabrak oleh dirinya sendiri.


Sudah tiga jam lebih ia mengendarai motornya mengelilingi kota.

__ADS_1


Ia memutuskan melepas semua amarahnya itu ke tempat yang sudah menjadi langganannya terdahulu, club.


Reo sudah asing dengan tempat ini. Bahkan ia juga akan berpikir kalau teman - temannya dan para pelayan club ini akan lupa kepadanya, tapi ternyata.


"Weits, guys! Lihat siapa yang datang!" seru salah seorang Pria berbaju rapih dengan jas dan dua kancing atas yang terbuka.


"Wah, Reo sudah come back. Pasti ada traktiran nih!" sambung Kevan sambil berharap.


"Pesen semua yang lo mau." Ucap Reo yang langsung disambut senang oleh teman - temannya itu.


"Lo kenapa, Re?" tanya Kazu melihat Reo yang berekpresi kusut.


Reo meminum minuman yang baru saja diberi oleh pelayan dengan sekali tegukan lalu melirik kearah Kazu.


"Nggak papa." Jawab Reo.


Kazu terkekeh pelan mendengar jawaban konyol dari mulut Reo.


"Masalah keluarga atau apa lagi? Perasaan udah begitu lama lo nggak dateng lagi kesini karena udah terlalu bahagia." Ucap Kazu sambil menggoyang - goyangkan gelasnya.


Reo menatap gelas berisi alkohol dengan tatapan pasrah.


"Gue abis putus." Jawab Reo jujur membuat Kazu sedikit tenang.


Kazu bangkit dari duduknya dan menepuk pelan punggung temannya itu.


Reo meneguk kembali alkoholnya, kali ini dengan perlahan karena dia sudah merasa terpengaruh oleh alkohol.


Pelayan yang ada dihadapannya pun mengisi gelas Reo kembali atas instruktur Reo sendiri.


Reo menegaknya lagi dan terusĀ  - terusan meminta tambahan.


"Re, lo mau nambah sampai mati?" tanya Kevan begitu melihat Reo sudah keder dan hampir tak sadarkan diri.


"Gue nggak akan mati." Jawab Reo asal.


"Udah jangan dikasih lagi." Titah Kevan kepada pelayan, ia pun mengangguk.


"Re, lo udah lama nggak minum jadi jangan terlalu kebanyakan takutnya lo mabuknya lama." Ujar Kevan, Reo menelungkupkan kepalanya di atas meja.


"Gue anter lo ke apartemen. Nginep sehari disana abis tuh lo pulang." Ucap Kevan yang sudah menjadi langganan Reo menyembunyikannya dalam keadaan mabuk.


Kevan mengangkat tubuh Reo dan melingkarkan tangan Reo ke pundaknya, lalu berjalan keluar club menuju parkiran mobil.

__ADS_1


Kevan menyimpan tubuh Reo didalam mobil begitu mereka sudah sampai di parkiran.


Setelah selesai membaringkan tubuh Reo di kursi belakang, Kevan berjalan menuju kursi pengemudi dan menjalankan mobilnya menuju apartemen yang biasa ia pesan untuk Reo.


^^^


Serira memandangi langit malam di balkon kamarnya.


Ia menatap bintang - bintang yang menghiasi kegelapan itu membuat kesan yang baik didalam langit malam sendiri.


Serira mengingat kembali kejadian beberapa waktu lalu yang membuatnya sedikit merasakan tidak enak saat ini.


Mungkin apa yang dikatakan kakaknya itu benar, kalau dia ini tidak mengambil keputusan dengan benar melainkan karena emosi semata.


Leo yang melihat adiknya sedang merenung itu sedikit kasihan namun juga kecewa karena pengalaman cinta yang ia rasakan juga kini dirasakan oleh adiknya sendiri.


Leo menghampiri Serira yang sedang duduk itu lalu memeluknya dari belakang.


"Lo nggak seharusnya menyesali semua, Ra, semua udah kehendak tuhan." Ucap Leo menenangkan Serira.


Serira yang mendengar perkataan kakaknya hanya bisa menutup mata sambil merasakan sepoian angin yang meniup wajahnya.


"Gue kemaren pas mutusin Lea gitu, Ra, pake emosi, jadinya nyesel gini." Jelas Leo yang membuat Serira membuka matanya dan melirik ke arahnya.


"Kakak mutusin Lea karena emosi?" tanya Serira tak percaya, Leo pun menganggukan kepalanya.


"Gue denger dia jalan sama cowok lain, padahal gue sendiri nggak tanya atau apa dulu malah langsung mutusin. Makanya tadi gue sempet tenangin lo biar semua hal yang terjadi sama gue nggak terulang sama lo." Jelas Leo kembali.


Serira mulai meneteskan kembali air matanya begitu mendengar cerita kakaknya yang ternyata telah ia ulang.


Ia menjadi sedikit menyesal karena telah memutuskan hubungannya itu dengan sebelah pihak tanpa memikirkan pihak lainnya.


"Udah lah, lo nggak usah sesali. Mungkin ini yang disebut takdir. Kalau lo jodoh sama dia kan siapa tahu aja." Ucap Leo menenangkan Serira dengan mengelus puncuk kepalanya.


"Aku minta maaf, Kak." Ucap Serira.


"Ssst, nggak usah minta maaf. Ini emang udah takdir kamu kok." Balas Leo.


Serira mengembangkan senyumnya sambil kembali memeluk kakak tercintanya.


"Makasih kakak udah mau jadi kakak sekaligus temen terhebat Rira walau Kani yang lebih hebat. Aku bersyukur banget bisa punya kakak dihidup aku." Ucap manis Serira membuat Leo juga ikut mengembangkan senyumannya.


"Gue juga berterima kasih sama lo, walau gue bukan kakak kandung dan identitas ibu gue nggak baik di mata lo, lo tetep anggep gue kakak bahkan kayak kakak kandung lo sendiri." Balas Leo sambil memeluk erat adiknya itu.

__ADS_1


"Tetap jadi kakak aku ya." Pinta Rira.


"Pasti dan akan selalu." Jawab Leo.


__ADS_2