Cold Boy

Cold Boy
Lima Puluh Enam


__ADS_3

"Rira!!" teriak Reo ketika Serira sudah berlari pergi dari depan kamar Reo.


Reo yang melihat itu langsung mendorong Gisel untuk melepaskan pelukannya dan berlari sekencang mungkin untuk menyusul Serira.


Serira keluar dari kediaman keluarga Putra itu dengan mengabaikan panggilan dari Rio dan Kani yang keheranan karena Serira tiba - tiba pergi sambil menangis dengan begitu saja.


"Kak Reo! Rira kenapa!" tahan Kani ketika Reo melewat dihadapan mereka.


Reo yang terengah - engah dalam nafasnya menatap Kani dengan sedikit ketakutan.


"Dia ngeliat gue pelukan sama Gisel."


Plak.


Kani mendaratkan tamparan yang sangat keras di pipi Reo yang membekaskan tapak tangan di pipinya.


Reo hanya terdiam sambil menatap lantai setelah Kani menamparnya dengan cukup keras.


"Lo cowok punya otak nggak sih! Seminggu nggak ngasih kabar malah jalan sama cewek. Bukannya ngejelasin alasan malah ngehilang nggak bertanggung jawab!


Berusaha gue pertahanin kepercayaan Rira ke lo biar kalian nggak pernah renggang karena gue tahu pejuangan kalian sama - sama berat!


Nggak pernah nyempetin waktu buat ketemuan sampai akhirnya Rira sendiri yang nyamperin dan malah disambut dengan sebuah perselingkuhan? Sungguh fantastik!"


Sentak Kani sambil menyindir tajam hingga bergema keseluruh ruangan.


Ia membawa tas sorennya dan milik Serira lalu pergi begitu saja dari sana berdoa agar Serira tidak dalam bahaya.


"Re, apa yang lo lakuin?" tanya Rio lebih tenang,  Reo melirik kearah tangga.


"Suruh siapa cewek brengsek itu dibiarin lagi masuk ke rumah ini!" teriak Reo menggelegar sambil menunjuk kearah Gisel yang berada diatas tangga.


"Re, dia kan teman kecil kita." Jelas Rio.


"Kita? Gue nggak pernah punya teman kecil!" sentak Reo kembali lalu pergi dari sana dan hendak menyusul Kani yang sedang mengejar Serira.


Rio menahan kepergian Reo.


"Kalau lo kesana malah memperkeruh keadaan. Biarin Kani dulu yang nenangin Serira, saat waktunya tepat giliran lo yang jelasin sejelas - jelasnya." Ujar Rio yang hampir mendapan amarah dari Reo karena sudah berani menahan kepergiannya.


"Apalagi sekarang emosi lo lagi muncak, gue takutnya lo malah kebawa emosi." Sambung Rio kembali.


Reo menepis tangan Rio kasar lalu pergi dari hadapannya dengan tampang geram.


Gisel mendekati Rio dengan sedikit berhati - hati. Rio yang melihatnya hanya tersenyum dan hendak pergi dari sana.


"Cewek tadi siapa sih? Ganggu aku sama kak Reo aja!" ketus Gisel, Rio melirik kearahnya.


"Pacar Reo." Jawab Rio yang malah mengundang tawa Gisel dengan sangat keras.


"Masih pacarankan? Belum nikahkan? Kok gelagatnya kayak udah jadi istri sahnya aja." Ledek Gisel merendahkan.


Rio terkekeh pelan sambil berbalik menghadap Gisel.


"Lalu lo siapa Reo? Temen doangkan? bukan pacar ataupun istri? Malah disini lo keliatannya seperti..," Reo menggantung perkataannya sambil melirik Gisel dari atas sampai kebawah.


"PHO."

__ADS_1


^^^


Serira berlari sekuat tenaganya sambil menangis dibawah rintikan hujan yang mulai menderas.


Entah sudah dimana dia saat ini tapi yang jelas, ia bisa pergi jauh dari semua kenyataan yang sudah ada didalam pikiran terdahulunya.


"Aw!" ringisnya ketika Serira tersandung oleh batu dan terjatuh ketanah.


Suara petir langsung menyambar dan tak lama hujan besar pun datang.


Serira menangis sejadi - jadinya meratapi nasib yang baru saja ia alami.


Selama seminggu ini, ia menahan semua kecurigaan yang datang dengan semua pikiran baik dari Kani yang ternyata semua itu tidak ada benarnya sama sekali.


Reo mengkhianatinya, mengecewakannya, sekaligus menggagalkan usahanya.


Serira begitu kecewa kepada lelaki itu.


Ia memukul dadanya kasar untuk menahan sebuah isakan tangis yang sudah terasa sesak disana.


Tiba - tiba ketika didalam tangisan pecahnya, sebuah mobil mini berwarna putih melewat dipinggirnya dan berhenti ketika melihat Serira disana.


Pemilik mobil itu turun dari mobilnya dengan memakai payung dan berjalan mendekati Serira.


"Rira, kamu ngapain duduk disini sambil hujan - hujanan?" tanya Satria sambil berjongkok dipinggir Serira.


Satria membantu Serira berdiri dan memopongnya menuju mobil agar tidak kehujanan lagi.


Serira duduk di kursi sebelah supir sambil terdiam menatap lurus kearah depan.


Satria mengitari mobilnya dan masuk kedalam mobil lalu duduk di kursi pengemudi.


"Pake, Ra, ntar lo bisa masuk angin." Titah Satria membuat Serira tersadar dari lamunannya.


Ia memakai jaket yang Satria berikan dengan gemetar karena badannya sudah benar - benar basah kuyup.


"Lo kenapa, Ra?" tanya Satria ketika Serira sudah selesai memakai jaketnya.


Serira tidak menjawab.


Ia malah bengong menatap kearah jalan yang sama sekali tidak ada kendaraan.


Satria yang merasa bingung akhirnya memutuskan untuk membawa Serira pulang ke rumahnya agar keluarga di rumah tidak merasa khawatir.


^^^


"Nggak ada, Reo, Serira bilang dia mau ke sekolah ngambil tempat pensilnya yang ketinggalan terus belum pulang." Jelas Naya ketika Reo datang ke rumahnya.


"Reo boleh tunggu disini, Tante?" tanya Reo memintan izin.


"Boleh dong, sini masuk, tante panggilin Leo juga ya biar kamu ada temen." Jawab Naya sambil membuka pintu lebar.


"Makasih, Tan."


Reo memasuki rumah Serira dan mengikuti Naya yang megantarnya menuju ruang tamu.


Setelah sampai disana, Reo langsung duduk di sofa dan Naya pun meninggalkannya.

__ADS_1


Reo melirik ponselnya sekilas untuk melihat apakah ada pesan dari siapapun yang memberitahukan keberadaan Serira, namun tak ada satu pun.


"Uy, Re, ngapain lo kesini? Rira lagi ke sekolah sama si Kani." Ujar Leo yang datang dari kamarnya menghampiri Reo.


"Gue mau ngasih penjelasan sama lo, Le." Ucap Reo membuat Leo mengerutkan keningnya.


"Penjelasan apa?" tanya Leo.


"Sebenernya penjelasan ini harusnya buat Rira, cuman kayaknya dia nggak bakal denger mau itu gue ngejelasin sejelas apapun." Jawab Reo, Leo pun mengangguk.


"Jelasin semuanya ke gue." Titah Leo, Reo pun menarik nafasnya pelan kemudian menghembuskannya kembali. Reo pun mulai menceritakan segala ceritanya yang sudah ia sembunyikan dan tak berani untuk diungkapkan.


Satria sudah sampai di rumah Serira. 


Ia memasukan mobilnya kemudian memarkirkannya teoat didepan pintu utama.


"Ra, kamu bener nggak mau cerita?" tanya Satria yang penasaran dengan keadaan Serira saat ini.


Bukannya menjawab, Serira malah menangis sekencang - kencangnya karena sudah tidak kuat untuk ia tahan kembali.


Satria yang melihat itu terkejut dan langsung membawa Serira kedalam dekapannya dengan bermaksud untuk menenangkan gadis itu.


Serira yang mendapat perlakuan tersebut merasa sedikit tenang karena setidaknya ada orang yang masih perduli dengan keadaannya yang sedang hancur seperti ini.


Satria mengelus - elus kepala Serira yang masih menangis. Ia berharap dengan elusannya ini bisa membuat Serira berhenti menangis dan menceritakan semua kesedihannya.


Tapi acara berpelukan itu tidak berlangsung lama.


Tiba - tiba pintu mobil Satria dibuka paksa oleh Reo dan langsung menarik paksa Satria untuk keluar dari dalam mobilnya.


Reo memberikan satu tonjokan keras kepada Satria membuat orang yang terpukul itu terjatuh ke tanah dan mengeluarkan darah segar dari dalam mulutnya.


Belum puas melampiaskan emosi, Reo menarik kembali Satria untuk bangun dan memberikan tinju ke pipinya yang belum tertinju oleh Reo.


Satria jatuh kembali ke tanah dan hampir kehilangan kesadaran.


Leo yang melihat itu langsung mendekati Reo dan berusaha untuk menahannya agar tidak melakukan pukulan lagi.


Serira yang baru turun dari mobil langsung menghampiri Satria yang sudah tergeletak di tanah dengan lemas dan lesu.


"Kak Satria bangun!" seru Serira mengangkat kepala Satria dan menepuk - nepuknya ketika Satria memejamkan matanya.


"Rira jauhin dia." Titah Reo dengan sedikit emosi karena Serira menyimpan kepala Satria dipangkuannya.


Serira mengabaikan perintah Reo dan malah terus bertanya keadaan Satria kepada Satria sendiri.


"Ra, dengerin gue atau gue sendiri yang tarik lo." Tegas Reo kembali yang masih tidak Serira pedulikan sama sekali.


Karena sudah sangat geram dengan kelakuan Serira, Reo mendekatinya dan menarik paksa Serira agar gadis itu bisa menjauh dari Satria.


"Apaan si lo!" sentak Serira yang sangat dikejutin oleh Reo dan Leo.


"Ngapain lo atur - atur hidup gue!" sentaknya kembali sambil menarik paksa lengannya yang dicekal.


"Gue pacar lo."


"Mulai sekarang bukan!" teriak Serira yang membuat Reo sangat terkejut.

__ADS_1


"Apa?"


"Mulai sekarang kita putus!"


__ADS_2