
"Ya ampun Kan?! Kok pipi kamu lebam?!" teriak tante Bianca ketika Kani menyalami tangan ibunya.
"Biar aku yang jelasin tante." Ucapku setelah selesai menyalami para tante.
"Kenapa, Ra?" tanya tante Jessica.
"Tadi Rira sama Kani baru keluar dari ruang kelas dan mau segera pulang buat ke rumah sakit. Tapi ternyata kak Satria maksa Rira buat kumpulan osis padahal kemarin udah. Rira nolak tapi kak Satria malah ngegas, jadi di bales sama Kani. Abis tu ..." aku menceritakan segalanya secara rinci kepada tante Bianca dan tante Jessica mengenai hal yang baru saja terjadi.
"Ini semua salah Rira tante." Ucapku.
"Nggak kok Rira, ini bukan salah kamu. Ini kecelakaan yang nggak sengaja kok. Udah, yang penting Kani nggak papa kan?" tanya tante Jessica.
"Aku nggak papa kok, Tante, Mama." Jawab Kani meyakinkan.
"Nah, yaudah kalo nggak papa kita makan dulu, abis tu pulang ya, kalian pasti capek." Ucap tante Bianca. Aku dan Kani pun mengangguk.
Aku melihat ke arah ranjang pasien dan tak melihat keberadaan kak Reo di sana.
"Tante, kak Reonya kemana?" tanyaku.
"Reo di ajak kembarannya jalan - jalan. Sambil cari terapi yang cocok buat mempercepat penyembuhannya." Jawab tante Jessica. Aku pun ber oh ria sambil membantu tante Bianca menyiapkan makanan. "Bentar lagi juga pulang kok, Ra." Sambung tante Bianca. Aku pun mengangguk sambil tersenyum.
"Tante Jessica duduk aja, biar kita yang nyiapin." Ucap Kani.
"Iya, Tante. Tante pasti kecapean sambil bawa bayi di perut." Sambungku.
Tante Jessica pun tersenyum.
"Yaudah kalo kalian larang tante diem." Jawab tante Jessica.
"Giliran sama anak - anak kamu nurut, Jess." Nyinyir tante Bianca. Kami pun tertawa pelan.
^^^
Reo
"Emang masih sakit Re?" tanya Rio.
"Sakit lah! Belom aja sebulan gue di rawat." Jawab gue.
"Kalem ae lah. Gue cuman nanya sensitif banget." Ketus Rio karena gue jawabnya judes.
"Gimana lo sama Rira?" tanya Rio lagi.
"Gue pacaran." Jawab gue simpel.
"Wih! Baru kenal dah pacaran. Gue kapan ya?" tanya dia nggak tahu ke siapa.
"Cupu lo, nembak aja nggak bisa." Ejek gue.
__ADS_1
"Bukannya nggak bisa. Tapi Mama bilang dia pengan jodohin lo sama Ririn, jadinya gue nggak berani buat nembak dia." Jelas Rio, gue ngelirik ke arahnya.
"Kapan?" tanya gue.
"Sejak duluuuu banget. Makannya sampai sekarang gue nggak berani nembak dia." Jelas Rio lagi.
"Tembak aja, siapa tahu nggak jadi." Jawab gue asal.
"Kalau jadi gimana?" tanya Rio ngemastiin.
"Gue tolak."
"Sesimple itu kah hidup lo? Bukannya lo bakal turutin apa aja yang mama suruh?" tanya Rio tak percaya.
"Gue tahu lo nggak bakal terima kan?"
Rio langsung diem dan pura - pura ngefokusin pandangannya ke jalanan.
"Kalo emang mama nyuruh gitu gue nurut aja, tapi sampai sekarang mama nggak ngomong ke gue." Jelas gue.
Rio ngelirik dikit ke gue dan berusaha fokus lagi ke jalanan.
"Gue nggak mau ada perdebatan di keluarga kita sendiri. Gue nggak mau kita renggang hanya karena hal sepele. Apa lagi kita udah mau punya adek, kita harus bisa ngasih contoh yang baik buat dia."
"Gue nggak biasa nguruh adek, mungkin dengan bantuan lo, gue bisa bimbing adek gue." Ucap Rio buat gue terkekeh sendiri.
"Kita didik dia bareng - bareng. Itu pinta mama." Balas gue.
"Lo terapi sebulan bisa sembuh, jadi masih bisa ikut un." Ucap Rio.
"Gue bakal hoomschooling sementara." Balas gue.
"Lo dah pinter, kagak usah belajar lagi lah."
"Kalo ada materi baru tetep aja gue nggak bisa p a." Ketus gue sambil mukul pelan kepalanya.
"Gue juga pengan dong sepintar lo, kenapa susah banget ya?" tanya dia.
"Lo harusnya ngikut ke apa yang lo bisa, bukan ngikut orang. Ririn ipa mau ipa, padahal nggak ada bakatnya sama sekali lo di sana." Ejek gue.
"Gue kan pengen ngabulin cita - cita mama yang belom tercapai." Jawab Rio kecewa. Gue langsung terkekeh kencang.
"Sejak kapan mama cerita dia punya cita - cita?" tanya gue balik.
"Alah, anak durhaka lo! Mama cerita pas lagi masak sama gue! Lo anak pemales mana mungkin bisa bantu." Ejek Rio balik.
"Berisik lo!" sentak gue.
Yang di sentak bukannya mikir malah ketawa. Gue muter mata males sambil ngedarin pandangan ke jendela.
__ADS_1
^^^
"Assalammu`alaikum." Ucap gue dengan Rio begitu sampai di ruangan gue.
"Wa`alaikumsalam." Jawab orang dalem serempak.
"Nah, udah pada pulang nih. Gimana pendaftarannya, Ri?" tanya mama sambil ngehampirin kita.
Gue melihat ke arah kursi sofa yang ada di ujung ruangan, ternyata di sini juga ada Rira.
Gue ikut senyum pas dia ngelempar senyum ke gue.
"Kata dokter terapinya tiga kali seminggu. Senin, Rabu, Jumat. Reo ngambil jadwalnya pas malem jadi Rio bisa bantu nganter dia, Ma." Jawab Rio ke mama.
"Oh, yaudah. Reo kamu istirahat sekarang ya, mau mandi dulu?" tawar mama, gue menggeleng. Karena gue ke luar cuman sebentar dan itu pun nggak ngeluarin banyak keringat, jadi mending nggak usah mandi dari pada ngabisin air.
"Yaudah, Rio bantu kakak kamu pindah ke kasur." Perintah mama yang langsung di turutin sama Rio.
Gue di dorong lagi sama Rio ke deket kasur dan di pangku lalu dibaringin perlahan di ranjang.
"Sini, Ra." Panggil gue.
Rira senyum abis tu bangkit dari duduknya dan jalan ngehampirin gue.
"Gimana kabar kak Reo?" tanya Rira sambil duduk di kursi yang ada di deket ranjang.
"Gue bakal sembuh sebulan kedepan." Jawab gue.
"Bagus kalau gitu. Semoga sebelum sebulan kak Reo bisa sembuh ya." Ucap halus Rira sambil senyum. "Aamiin."
"Tiga bulan lagi kan un, terus kak Reo tamat sma. Kira - kira kak Reo mau terusin sekolah kemana?" tanya Rira kembali.
Gue sedikit menimbang - nimbang untuk menjawabnya atau tidak. Karena udah lama gue bermimpi buat sekolah ke luar negeri.
"Gue belum berfikir kesana, Ra." Jawab gue.
"Oh, kak Reo pasti mau sekolah ke luar negeri kan?" tanya dia lagi, gue ngerutin dahi.
"Kok lo bisa tahu?" tanya gue balik.
"Em.., aku nebak aja sih, Kak. Kalau kak Reo mau ke luar negeri kenapa nggak langsung jawab aja?"
"Gue takut lo kecewa." Jawab gue. Rira senyum lagi.
"Aku nggak bakal kecewa kok, Kak. Aku justru bangga, kak Reo mau ngegapai cita - citanya sampai keluar negeri." Jelas dia yang entah kenapa buat hati gue sedikit tenang.
"Gue nggak bakalan lama ninggalin lo." Ucap gue ngeyakinin dia.
Rira ngangguk dan tersenyum.
__ADS_1
"Aku bakal selalu percaya kok sama kak Reo."