Cold Boy

Cold Boy
Tamat


__ADS_3

Acara perpisahan telah berlangsung dengan sangat meriah.


Tidak hanya murid yang menikmati pesta itu, namun para guru juga sangat senang berada disana.


Kepala sekolah yang akan pensiun juga memberika banyak sekali kenangan kepada para gurunya agar bisa memberikan kesan perpisahan yang baik.


Kembali kepada para murid, mereka semua kini sedang menikmati penampilan yang diadakan oleh eskul kesenian musik dan tari.


"Lentur bener badannya." Puji Exel.


"Jelas, dilatihnya kan gitu ya Jo, lo pernah liat sama gue." Ujar Tio.


"Iya, keras parah." Sambung Johan.


"Keras juga hasilnya bagus." Balas Vans.


"Iya, keren juga mereka." Puji Exel kembali.


"Kak Vans." Panggil seseorang membuat sang pemilik nama melirik.


"Eh, jadi ke sini toh?" tanya Vans setelah mendapati Kani yang kini berada dihadapannya.


"Iya lah, masa aku nggak dateng." Jawab Kani.


"Nih, buket buat kakak." Sambungnya sambil memberikan buket berisi bunga merah yang sangat indah itu.


"Makasi sayang." Ucap Vans.


"Sirik lo semua pasti!" seru Johan yang melihat teman-temannya itu memperhatikan Vans dengan tajam.


"Kamu sendiri ke sini?" tanya Vans.


"Aku sama Rira, cuman dia nunggu di depan." Jawab Kani.


"Kok nggak diajak ke sini?" tanya Vans kembali.


"Dia nggak bawa apa-apa, jadi nggak enak katanya." Jelasnya.


"Nggak papa asal bawa diri, Reo nunggu nih!" nyinyir Exel yang sudah bisa merasakan aura rindu dari Reo.


Reo yang dituduh itu hanya terdiam sembari berterima kasih banyak kepada Exel didalam hati.


"Yaudah kalau gitu aku jemput dulu Riranya." Ujar Kani langsung berbalik badan.


Namun langkahnya langsung terhenti ketika melihat ada Serira tak jauh dari mereka sedang berjalan menghampiri. 


Ia juga membawa beberapa buket bunga untuk dibagikan.


"Happy gradulation kakak-kakak, ini buket buat kalian." Ucap Serira sambil menyodongkan semua buketnya.


"Eh, serius buat kita, Ra?" tanya Tio memastikan. Serira mengangguk mengiakan sambil sedikit merasa malu.


"Thanks." Ucap Reo sambil membawa buket terakhir yang tersisa.


"Sama-sama." Balas Serira.


"Tadi katanya dia nggak bawa apa-apa." Nyinyir Vans kepada Kani membuat Serira menoleh.


"Eh, didepan gerbang ada yang jualan buket, Kak, jadi aku sekalian beli disana." Jelas Serira ketika Kani hendak bertanya.


"Owh, dadakan toh." 


Serira mengangguk singkat.


"Nggak bakal di foto dulu nih? Kenangan epic loh!" seru Tio mengangkat kameranya.


"Sini biar aku yang foto." Tawar Serira mengulurkan tangannya.


"Nih, makasih ya, Ra." Ucap Tio kembali. Serira tersenyum lalu menjauhkan diri dari para lelaki itu.


Kani merapihkan barisan untuk lelaki yang akan melakukan sesi foto agar fotonya terlihat lebih menarik dan bagus.


Setelah rapih, ia langsung pergi dari sana menghampiri Serira.


"Oke, siap ya, satu.. dua.. tiga."


Cekrek.


^^^


Tujuh tahun kemudian.


Reo tersenyum menatap foto yang ia cetak beberapa tahun lalu.


Foto dimana ia bersama ke empat temannya itu merayakan kelulusan bersama.


Bahkan tidak hanya foto bersama teman-temannya, ia juga mencetak foto bersama mantan kekasihnya yang masih belum bisa ia lupakan itu.


Reo menghela nafas sambil menyandarkan dirinya ke kursi kantor yang sangat nyaman.

__ADS_1


Tok tok tok.


"Masuk." Titah Reo.


Seseorang pun datang memasuki ruangan Reo dengan sopan dan perlahan.


"Pak, untuk penerbangan ke Indonesia sudah saya atur sebaik mungkin. Keberangkatan pukul enam sore sekarng, jadi Bapak masih punya waktu luang untuk bersantai setelah miting." Jelas Serkertaris Reo yang setia itu.


Reo mengangguk sambil tersenyum senang.


"Terima kasih, Jax." Ucap Reo.


"You're wellcome. Saya permisi undur diri." Pamit sekertaris itu yang langsung di izinkan oleh Reo.


Reo menatap kembali fotonya bersama Serira.


Ia mengusap pelan foto itu sambil tersenyum melihat keindahan wajah Serira.


"Serira, maafin gue udah nyakitin lo. Tapi semoga kali ini gue nggak akan pernah ngasih luka lagi sama lo." Ucap Reo sendiri kepada foto yang sedang ia genggam itu.


Kepergiannya selama tujuh tahun untuk sekolah dan pekerjaan itu bukan termasuk hal yang dibilang sebentar.


Itu sangat lama bagi Reo yang sudah menyimpan rindu sangat besar kepada cinta pertamanya.


Dan entah dorongan dari mana, ia kini meminta sekertarisnya untuk mengatur jadwal kepulangannya setelah menitik karir dimasa yang terbilang cukup muda.


Mungkin ini sudah saatnya ketika dia menghampiri cinta yang sebenarnya.


Drrt drrt.


Reo melirik ke arah ponselnya yang terdapat panggilan disana.


Ia langsung mengangkat telepon itu ketika melihat nama yang tercantum disana adalah Ririn.


"Hallo kakak!" seru panggilan sebrang.


"Hallo Ria sayang." Balas Reo dengan senang.


"Kakak jadi kan pulang ke sini?" tanya Ria dengan suara khas anak-anak itu.


"Iya, Ria, kakak pulang sore dari sini." Jelas Reo.


"Lama nggak, Kak, perjalanannya?" tanya Ria kembali.


"Lumayan lama, Ria, kamu sabar ya." Ucap Reo dengan lembut.


"Yah, kok lama sih, padahal aku pengen banget ketemu kakak." 


"Udah, Ria, kakak kamu pasti sibuk."  Suara seseorang yang sedang berada didekat Ria.


"Ria, kasihin teleponnya ke kak Ririn ya." Titah Reo membuat Ria mendengus kesal.


"Yaudah Ria mau main sama Albi aja, dah Kakak." Pamit Ria yang langsung memberikan ponselnya kepada Ririn.


"Hallo, Re."


"Rin, Ria baik-baik aja kan?" tanya Reo.


"Baik kok, Re, lo nggak usah khawatir. Dia disini juga akur banget sama Albi jadi nggak kesepian." Jelas dari sebrang sana.


"Syukur. Makasih Rin." Ucap Reo.


"Sama-sama, Re." Balas Ririn.


"Sorry juga gue nggak jadi sama lo."


"It's okey, that's your choice."


"Thanks."


"Iya, Re. Gue tutup teleponnya ya, kalau udah mau berangkat kabarin aja."  Ucap Ririn,


"Oke."


"Assalammu'alaikum."


"Wa'alaikumsalam." Jawab Reo yang langsung memutuskan teleponnya.


Ia kembali merebahkan dirinya diatas kursi sambil memejamkan matanya.


Tok tok tok.


"Mohon maaf, Pak, miting akan dimulai lima menit lagi." Jelas sekertarisnya mengingatkan Reo.


Lelaki itu pun langsung membuka matanya dan membawa berkas yang diperlukan untuk miting. Lalu pergi keluar ruangan menuju ke ruangan miting.


^^^


Seorang gadis kini tengah memandang rintikan hujan yang sedang bersenandung diluar jendela.

__ADS_1


Ia terduduk sambil meminum kopi yang telah ia buat sendiri di cafe miliknya.


Pelanggan sedang sepi saat itu. Tak ada juga orang yang berniat menepikan kendaraannya untuk sekedar meneduh sambil meminum kopi.


Para karyawannya juga tengah bersantai karena mereka pun tidak memiliki tugas untuk di kerjakan.


Serira memalingkan tatapannya ke gelas berisikan kopi itu. 


Ia tiba-tiba menjadi teringat seseorang yang sudah lama tidak ia temui. Apa mungkin dia sedang merasakan rindu yang sudah membara lama didalam hatinya?


Serira menarik ponselnya yang ada di meja lalu membuka galery yang ada disana.


Fotonya bersama Reo masih ia simpan sebagai kenangan walau lelaki itu mungkin sudah tidak akan bisa ia gapai lagi.


Tak terasa, Serira menitikan air matanya karena sudah berada di titik ujung kerinduan.


Ia lalu membuka diary yang ada di ponselnya lalu mengetik sebuah pesan yang tak bisa ia kirim kepada penerimanya.


*Dear my first love,


I miss you. I really miss you. Can we happy together again*?


"Mbak, sudah jam sebelas malam apakah cafenya masih akan buka?" tanya seorang karyawan yang sendari tadi tak berani untuk mengganggu kesendirian Serira.


"Ya ampun kok kalian nggak bilang udah jam segini?" seru Serira yang langsung bangkit dari duduknya.


"Maaf, Mbak, kita nggak mau ganggu ketenangan Mbak." Jawab karyawan itu dengan merasa bersalah.


"Yaudah sekarang semuanya bantu tutup toko abis itu pulang ke rumah masing-masing ya." Titah Serira yang langsung dikerjakan oleh seluruh karyawannya.


Serira senang karena dia mendapatkan karyawan yang benar-benar kompeten dalam bekerja. Mereka semua tidak pernah mengecewakan dirinya ataupun para pelanggan sekalian.


Selang beberapa waktu, semua karyawan yang telah selesai menutup toko langsung berpamitan kepada Serira.


"Mbak kami duluan ya, hati-hati Mbak bawa mobilnya." Ucap salah satu karyawan Serira.


"Iya, Dek, kalian pun hati-hati ya." Balas Serira dengan senyuman hangat.


"Assalammu'alaikum, Mbak."


"Wa'alaikumsalam."


Serira menatap kepergian para karyawannya itu sampai mereka hilang dari parkiran cafenya.


Setelah benar-benar tak terlihat, ia baru mendekati mobilnya yang terparkir tak jauh dari dirinya.


Ia membuka kunci mobil tersebut dan menarik pintunya. Namun aktivitasnya terhenti begitu melihat bayangan seseorang yang terpantul dari kaca mobilnya.


Sempat sedikit panik dan takut dengan bayangan tersebut, namun Serira membranikan diri untuk melihat siapakah orang yang berada dibelakangnya itu.


Ia melirik tanpa menunggu aba-aba dan langsung terdiam begitu melihat siapa orang yang sendari tadi menunggu dirinya.


Ya, dia adalah orang yang selalu ada dalam pikirannya. Bahkan belum lama ini, orang itu telah merasuki pikirannya sesampai ia sendiri lupa waktu untuk mempulangkan para karyawannya yang sudah letih kelelahan.


"Kak Reo."


Reo tersenyum hangat ketika orang yang ia cintai itu masih mengingat dirinya. Ia masih diam di tempat dengan menatap lembut wajah Serira yang terpapar sinar terang lampu.


Sedangkan Serira, ia tanpa sadar menitikan air matanya tak kuasa menahan sedih. Ia menutup mulutnya tak percaya dengan keberadaan cinta sejatinya yang berasa tidak nyata itu.


Reo ikut tertegun melihatnya. 


Ia langsung menghampiri gadis itu dan memeluknya dengan sangat erat sambil menitikan air mata kerinduan.


"Kak Reo." Rintih Serira yang berada didalam pelukan hangat Reo.


Reo tak membalas sapaan dari Serira itu.


Dia masih memeluk wanita itu dan menelengkupkan kepalanya di bahu Serira untuk menahan air mata yang sudah keluar.


"Aku rindu."


Tubuh Reo seketika bergetar ketika mendengar pernyataan itu.


Ia juga sangat rindu, sangat sekali sesampai dia sendiri benci kepada pekerjaannya yang selalu mengundur jadwal pertemuannya.


Serira yang merasakan itu memejamkan mata ikut menikmati pelukan yang sedang mereka lakukan bersama.


Mereka sama-sama hanyut karena merasa nyaman dengan itu semua.


Namun tak lama, Reo melepaskan pelukan itu lalu menatap Serira lembut.


Ia mengelus-elus pipi Serira sambil tersenyum dan berkata.


"Will you marry me?"


--The And--


Coming soon, Warm boy.

__ADS_1


Tunggu bonus capternya ya my readers! Love you all.


__ADS_2