Cold Boy

Cold Boy
Dua Puluh Satu


__ADS_3

“Kani!! Lo juga di sini?” panggil seseorang membuat aku dan Kani melirik.


“Eh—iya, Kak Rio. Halo Kak Ririn,” jawab Kani sambil tersenyum. “Halo, Kani, Rira.”


“Halo, Kak.” Balasku yang ikut tersenyum kepada Kak Ririn dan Kak Rio.


“Eh, kalian liat Reo sama Lea nggak?” tanya Kak Rio, kami buru – buru mengangguk.


“Tadi ke warung yang di sana, Kak. Kayaknya sarapan dulu.” Jawab Kani.


“Woke! Thanks Kan, Ra. Kita duluan ya!” seru Kak Rio.


“Iya, Kak. Hati – hati, jagain pacarnya tuh!” balas Kani. Aku tertawa pelan.


Kak Rio mengacungkan jari jempolnya sambil berjalan menjauhi kita.


Aku melirik Kani. “Tadi kamu mau ngomong apa, Kan?”


Reo


“Ah masa iya sih! Lo nggak adaniat suka sama dia! Cantik gitu, putih, langsing! Masa nggak minat si lo! Apa jangan – jangan, lo gay ya?!”


Gue memijat hidung gue yang terasa sakit banget akibat celotehan Lea yang bener – bener nusuk otak gue.


“Brisik banget si, lo!”


“Ya abis masa bisa gitu loh! Lo nggak suka sama Serira itu! Cantik banget lo! Polos – polos gitu.., cocok sama muka barbar lo!” seru Lea lagi. Gue makin pusing sama omongan dia yang dari tadi muji Serira. “Kenapa nggak lo aja yang pacarin?”


“Gue normal, hello! Gue masih suka cowok!” sentak dia, gue tertawa pelan.


“Hm.., atau mau gue bantu buat buka hati lo?” tanya Lea, gue langsung ngelirik ke arahnya sambil ngerutin dahi.


“Iya, raga lo kan menolak buat suka sama Serira. Gimana kalau gue buka hati lo biar lo juga mikirin perasaan!”


“Ngomong apa sih, lo!”


Lea langsung muter mata malas dan ngelihin pandangannya dari gue.


“Woi! Di sini rupanya Tuan Pangeran dan Tuan Putri sarapan!” panggil seseorang yang nggak perlu di perkenalkan lagi.


“Lama amat.” Ucap Lea.


“Gue jemput Ririn tuh pake mobil! Bukan burok!” jawab Rio.


“yaudah makan sono!” balas Lea.


Rio langsung duduk di sebelah gue dan Ririn di sebrangnya. Gue ngaduk – ngaduk teh manis yang ada di depan gue sambil natap teh manisnya.


“Nggak usah di liatin juga kali, tuh, teh manis. Bukan Serira juga!” seru Lea, gue langsung berhenti dari aktivitas gue dan natap dia lekat.


“Woah! Lo udah mulai suka sama Rira, Kak?!” sambung Rio. Gue muter mata gue malas.


“Iya! Lo tahu, Ri? Pas malem gue ke kamarnya, dia motah sambil manggil nama – nama Serira!” seru Lea lagi, Rio  langsung ngebelakkin matanya sambil senyum lebar.


“Masa?! Wah – wah! Kakakku ini suka cewek juga akhirnya!”


Gue ngalihin pandangan dari mereka semua yang terus ngomongin gue sama Serira. Gue melihat ke arah orang –


orang yang lagi lari di sekeliling lapangan. Sampai akhirnya, gue menemukan seseorang yang baru aja di jodo – jodoin sama gue.


Deg.


“Serira baik kok, Re. Lo nggak salah pilih.”

__ADS_1


Gue melirik ke sumber suara. Ternyata itu Ririn yang ngomong.


^^^


Jessica melipat beberapa pasang baju sang suami untuk di bawa ke tanah suci besok. Ia tampak sedih ketika dia


harus di tinggalkan oleh suaminya dengan keadaan hamil muda.


Berbeda dengan dahulu, dia selalu di manja ketika hamil muda. Apa pun yang Jessica minta, dalam sekejap saja


sudah ada di depan mata.


Jessica menatap sang suami. Sekarang umurnya sudah tiga puluh enam tahun, tapi masih saja terlihat sangat


tampan di mata Jessica.


Sudah bukan rahasia lagi kalau seorang ibu hamil muda ini sangat mencintai suaminya yang juga sayang padanya.


“Maaf ya, aku nggak bisa jaga kamu ketika anak ketiga kita ada di perut kamu.” Ucap Putra penuh kasih sayang


sembari mengelus pelan pucuk kepala istrinya.


“Iya, nggak papa. Emangnya kamu lupa ya? Aku kan punya dua pengawal setia.” Jawab Jessica, Putra tersenyum.


“Seandainya mereka nggak nurut sama perintah kamu, jangan paksa mereka ya? Kasian kalo harus ngerasain hidup seperti kita.” Jelas Putra membuat senyuman yang tadinya terukir jelas di wajah Jessica kini memudar.


“Kita udah sering bicarain ini. Mereka udah kita kasih segalanya selama delapan belas tahun, masa mereka nggak mau balas budi?” tanya Jessica tak terima. Putra memeluknya.


“Bukan begitu cara kita meminta balas budi. Cukup mereka sendiri yang sadar, dan kamu sebagai ibu menyadarkan mereka.” Jelas Putra kembali membuat Jessica bungkam.


Reo


Gue terharu melihat keharmonisan antara nyokap dan bokap gue. Mereka bilang mereka di jodohin, tapi gue rasa nggak.


Gue turun ke bawah buat ketemu sama Rio dan membahas omongan mama barusan.


“Kenapa?” tanya Rio ketika gue duduk di pinggirnya. Gue melirik.


“Gimana cara kita balas budi ke mereka?” tanya gue membuat Rio ngerutin dahi.


“Kenapa? Mama kecewa lagi sama kita ya?” tanya balik Rio, gue mengangkat bahu.


“Lo tahu kan, mama itu alasan kita hidup?” ucap gue. Rio ngangguk.


“Ulang tahun mama kan masih lama, Kak.” Jawab dia, gue mutar mata malas.


“Kita jangan kasih hadiah pas ulang tahun doang! Emang mama ngasih kita kasih sayang pas kita ulang tahun?”


“Ya.., gimana ya, Kak. Aku bingung sendiri sama keinginan mama. Mama tuh selalu mengungkapkan keinginan dengan makna terserat yang buat gue bingung harus ngebulinnya gimana.” Jelas Rio yang membuat gue mikir agak seras. “Gimana makna nya?”


“Mama bilang, kalo kita mentingin ego sendiri, salah satu hidupnya akan mati.” Jawab Rio. Gue ngerutin dahi.


“Mama bilang gitu?” tanya gue, Rio ngangguk.


“Maksud mama apa ya? Ada yang di sembunyiin sama mama?” tanya Rio membuat gue juga makin bingung.


“Apa.., ada yang di sembunyiin dari mama?”


^^^


Serira


Aku merebahkan diriku dengan penuh kepuasan. Akhirnya, setelah mengitari lapangan yang luasnya seperti lapangan sepak bola sebanyak dua puluh kali, aku bisa tidur dengan tenang dan nyaman.

__ADS_1


Untung saja aku di berikan kasur senyaman ini, kalau nggak aku sudah siap buat minta pertanggung jawaban ke Kani karena udah buat aku lelah.


“Besok udah hari senin aja. Kayak cepet banget gitu hari.” Gumamku sendiri sambil mengoprek boneka kecil pemberian bibi Sania.


“Kalau misalnya hari berjalan cepat, kesempatan aku bakal dikit dong?!”


Aku langsung bangun dari rebahanku dan khawatir dengan yang baru saja aku katakan.


“Kalau aku nggak dapet Kak Reo sebelum dia keluar dari sekolah, maka tidak akan dapet lagi!” seru ku.


Aku khawatir setengah mati dan sangat sulit untuk berfikir. Dalam ke khawatiranku, tiba – tiba saja ada yang mengetuk pintu.


“Masuk.” Jawabku.


Setelah jawabanku, muncullah sesosok pria jangkung yang menunjukkan wajah jahilnya kepadaku.


“Kak Leo jangan ngajak bercanda ah! Aku lagi pusing nih!” seru ku yang sudah tahu dengan niat Kak Leo.


“Hehe, pusing kenapa adikku?! Mau abang bawain ke dokter?!” balas Kak Leo, aku memutar mata malas.


“Aku nggak sakit!”


“Lah, terus kenapa pusing?”


“Aku lagi mikirin masa depan aku, Kak!”


Kak Leo yang mendengarkan penjelasanku langsung mendekat dan duduk di kasur dengan wajas yang cemas.


“Kenapa masa depan lo, Ra?! Lo mau jadi tkw?!”


Aku membelakkan mata ketika Kak Leo selalu menawarkan jasa tkw kepadaku. Aku mencubit perutnya yang membuat dia meringis.


“Iya, iya. Kenapa adik cantikku?” tanya Kak Leo dengan lembut.


“Aku ngerasa, hari – hari makin cepet, Kak.” Jawabku.


“Mungkin itu karena lo pakai waktu itu dengan Cuma – Cuma. Kalau lo pakai waktunya dengan belajar atau pun kerja, waktu yang lo pakai itu berasa lama karena ada manfaat nya.” Jelas Kak Leo membuat aku bungkam.


“Kalau selama ini lo cuman main – main nggak jelas, waktu itu bakal berjalan begitu aja.”


“Terus aku harus ngapain, Kak?” tanyaku.


“Ya belajar lah! Katanya mau nerusin rumah sakit papa, tapi belajar aja nggak.” Kak Leo mendorong mukaku pelan membuat aku sempat meronta – ronta.


“Maksud aku bukan mengarah ke cita – cita, Kak! Aku mengarah ke cinta pertama aku yang sampai saat ini belum juga aku dapatkan!”


Kak Leo langsung terdiam sambil menatapku dengan menahan tawa.


“PFT! Bwahahaha! Lo mikirin si Reo? Emang di pikirin balik?”


“Ih!! Kan! Kalau sama Kakak tuh nggak ada yang bener!”


Aku langsung ngalihin pandangan aku dengan muka bete.


“Haha, iya, iya maaf. Jangan marah dong!” bujuk Kak Leo, namun aku tetap tidak peduli.


“Jangan marah.., mau kakak bantu nggak nih?!” aku langsung melirik ke arah Kak Leo dan memastikan apakah benar dia sudah siuman.


“Bener, bakal gue bantu.”


“Beneran?”


Kak Leo mengangguk dengan lembut. Tak perlu banyak waktu aku terdiam, aku langsung menghamburkan pelukanku ke Kak Leo saking senangnya.

__ADS_1


“Terima kasih Kakakku!!” seruku sambil mengeratkan pelukan.


__ADS_2