Cold Boy

Cold Boy
Enam Puluh Lima


__ADS_3

Reo masih terduduk di samping makam ibunya yang masih basah itu.


Ririn dengan Rio masih berada disana menemani. Sedangkan para orang tua memilih untuk pulang mengurusi persiapan kematian Jessica yang lainnya.


Rio menggendong adik kecilnya yang masih tidur terlelap. Dia juga berusaha untuk menenang kan Reo yang masih belum mengikhlaskan kepergian sang ibunda.


"Re, pulang, lo belum makan dari kemaren." Ucap Rio yang ikut jongkok di pinggir makam ibunya.


"Lo duluan aja, gue masih mau disini." Jawab Reo yang tidak lepas pandangannya dari batu nisan sang ibunda.


Rio menghela nafas berat sambil melirik ke arah Ririn dan berusaha meminta bantuan kepadanya.


Ririn ikut jongkok di samping Reo.


"Re, kalau lo nangis terus-terusan itu malah buat ibu lo makin sedih karena lo nggak bisa ikhlasin dia buat pergi ke yang maha kuasa. Dia udah seharusnya disana, dia juga udah meninggal di posisi yang terbaik, Re. Kalau lo ikhlasin ibu lo, pasti dia makin tenang. Karena dengan lo nangis ataupun diem disini, itu nggak bakal buat ibu lo balik, Re." Ujar Ririn dengan panjang lebar yang tentunya disimak baik-baik oleh Reo.


Reo menundukan kepalanya sejenak dan bangkit dari jongkoknya.


Rio dan Ririn yang melihatnya langsung tersenyum senang dan ikut bangkit.


"Gue bakal pertimbangin keinginan terakhir dia. Dan inget baik-baik, gue lakuin ini karena gue sayang ibu gue." Jelas Reo sejelas-jelasnya sambil pergi meninggalkan Rio dan Ririn yang paham jelas apa yang dikatakan oleh Reo.


^^^


Esok harinya.


"Ra, gue mau ke rumah Rio dulu." Ucap Leo meminta izin kepada Serira karena hanya ada wanita itu yang berada di rumahnya.


Serira yang mendengarnya langsung bete karena pasalnya ia juga ingin sekali ikut melayat ke kediaman Reo itu.


"Kenapa?" tanya Leo yang melihat perubahan mimik muka Serira dengan begitu cepat.


"Aku juga pengen ikut." Pinta Serira dengan memelas membuat Leo yang seharusnya kasihan malah kebingungan.


"Emang kenapa? Kalo mau ikut-ikut aja, gue kira lo udah pergi sama Kani." Balas Leo sambil menyeletingkan jaketnya.


"Kalau gitu aku ikut nggak papa ya?" tanya Serira memastikan.


"Iya nggak papa, cepetan lo siap-siap." Titah Leo yang kembali duduk di sofa untuk menunggu Serira yang akan bersiap-siap.


"Oke!" seru Serira dengan semangat sambil berlari ke arah kamarnya.


Leo membuka ponselnya dan melihat ada notifikasi dari seseorang yang tak lama mencadi mantan kekasihnya itu.


Tersirat rasa penasaran yang tinggi untuknya mengetahui isi pesan tersebut, namun secara tiba-tiba Serira mengejutkannya membuat ia tak jadi membaca pesan tersebut.


"Ayuk! Aku udah siap." Seru Serira bersemangat.


Dilihatnya penampilan Serira yang tertutup membuat Leo tertegun sendiri. 


Ia memakai hijab berwarna putih dengan gamis putih yang sedikit terlihat lebar di tubuhnya yang kecil. Serira juga mengaitkan hijabnya untuk menutupi dada yang terlihat jelas seperti anak-anak pasantren.


"Ayok, Kak, keburu telat!"  tegur Serira yang menyadarkan lamunan Leo.

__ADS_1


"Adik kakak cantik banget." Puji Leo membuat Serira malu sendiri.


"Yaiyalah, adik siapa dulu!" balas Serira dengan penuh semyuman.


"Yaudah ayok!" ajak Leo menarik tangan Serira dan membawanya keluar.


.


.


"Semoga keputusan kamu nggak ganjil." Ucap Putra yang mendengar keputusan Reo atas pilihan yang ibunya berikan itu.


Reo mengangguk pelan.


"Gue yakin ini terbaik buat lo!" seru Rio memperkuat keputusan Reo, Reo pun menoleh.


"Lo ng--"


"Nggak, Re. Gue sama sekali nggak keberatan. Malah kalau ini terjadi, gue bisa main sama dia sepuasnya." Jelas Rio sejujurnya yang membuat Reo sedikit tenang.


Namun ada satu hal lagi yang ganjal membuat dirinya tak yakin mengambil keputusan ini.


Diliriknya Ririn yang sedang membantu ibunya menyiapkan makanan untuk para tamu yang akan segera berdatangan untuk membacakan doa agar Jessica bisa tenang di alam sana.


"Lo mikirin apa lagi selain Ririn?" tanya Rio yang melihat keraguan di wajah Reo.


Reo menatapnya dengan penuh penjelasan membuat Rio langsung terpaham dengan pengertian itu.


"Lo bilang dia udah sama Satria? Lo nggak boleh rebut sesuatu dari orang lain, Re." Ujar Rio membantu Reo untuk meyakini keputusannya.


 "Gue udah yakin kalau gue bakal nikah sama Ririn." Ucap Reo dengan tegas membuat sang adik yang kini mendengarnya tersenyum bahagia.


"Gitu dong! Baru kakak gue!' seru Rio menepuk pelan pundak Reo, sang pemilik pundak pun ikut tersenyum.


"Walau pernikahan ini atas keinginan mama, lo juga harus tetep mencoba buat cinta sama Ririn." Titah Rio berharap agar kakaknya bisa hidup bahagia bersama sahabat sejatinya itu.


"Bakal gue coba." Jawab Reo, Rio mengangguk.


"Eak.. eakk!" suara tangisan bayi yang terdengar jelas membuat Reo dan Rio langsung melirik ke arah sumber suara.


"Susunya dimana sih? Kok gue cari di dapur sama di kulkas nggak ada?" tanya Ririn yang tengah menggendong adik kecil bernama Ria itu.


"Gue angetin di microwave." Jawab Reo.


Ririn mengangguk lalu berjalan kembali meninggalkan mereka menuju dapur.


"Gue bantu ayah sambut tamu ya." Pamit Rio yang dibalas anggukan oleh Reo.


Rio pun pergi juga meninggalkan Reo dan menyambut para tamu yang sudah berdatangan.


"Assalamualaikum." Ucap seseorang yang langsung dijawab berbarengan oleh semua orang yang berada di rumah itu.


"Vans, Johan, Exel, Tio, sini Reo lagi bengong disana." Ujar Rio memberitahu keberadaan orang yang mereka cari.

__ADS_1


"Thanks, Ri." Balas Vans, Rio mengangguk.


Mereka berempat pun berjalan menuju Reo yang masih menggenggam kitab suci al-qur'an itu.


"Re, kita turut berduka cita ya." Ucap Vans beserta teman-temannya.


Reo yang baru tersadar langsung menenggak dan tersenyum.


"Thanks."


Mereka semua ikut duduk di lantai yang dialasi oleh karpet itu disebelah Reo.


"Gimana permintaan almarhumah ibu lo?" tanya Johan memulai percakapan.


Reo seperti mengiming-iming terlebih dahulu sebelum menjawab kepastiannya.


"Lo raguin apa, Re? Serira? Dia kan idah jelas sama orang lain." Ucap Vans menyadarkan Reo. Reo menghela nafas pelan.


"Gue tau, tapi rasanya berat ngelepas dia." Jawab Reo jujur membuat semua temannya tertegun.


"Gue kasih saran, Re. Kalau emang lo masih cinta sama Serira, sebelum penyesalan datang mending dari sekarang." Jelas Exel membantu meyakinkan keputusan Reo.


"Bener, Re. Kalau misalnya lo udah jadi sama Ririn tapi ternyata Serira nggak jadi sama Satria, gimana?" sambung Tio yang berada dipihak Exel.


"Trus kalau si Rira jadi sama si Satria gimana?" tanya Vans dengan nyolot.


"Ya kan nggak salahnya nanya dulu baik-baik." Ujar Tio mengelak.


"Katanya kemaren si Reo mau tanya si Riranya pergi." Balas Vans ikut mengelak membuat Tio terskak sendiri.


Johan yang berada diposisi netral hanya menyimak pembicaraan mereka dengan seksama.


"Almarhumah juga pasti nggak maksa, Re. Dia pasti pengen ngejodohin lo karena lo udah putus sama si Rira dan nggak mau dapet cewek yang nggak baik. Coba aja sekarang lo pikirin lebih afdol biar mantep." Saran Johan kini telah turun tangan.


"Gue setuju!" seru seseorang yang tiba-tiba saja datang ke perkumpulan mereka.


"Leo, kapan lo dateng?" tanya Tio keheranan.


"Gue setuju sama lo, Jo. Karena selama masa pe-move on-an, adek gue nggak lupain lo sama sekali." Jelas Leo berusaha membantu adiknya.


Reo yang makin bingung hanya memijat pelipisnya yang terasa sudah semakin berat.


"Re, pikirin baik-baik sebelum lo nyesel." Ujar Leo kembali.


Reo kini berpikir keras tentang keputusannya.


Memilih antara hati dan ibunya.


Ini sangat sulit baginya. Namun ini juga bisa sebagian memberi kebahagiaan kepada ibunya yang belum sempat ia bahagiakan.


Masa iya dia mau memikirkan hatinya sendiri sedangkan ibunya sudah mengorbankan banyak sekali pengorbanan untuk dirinya.


"Gue milih permintaan ibu gue."

__ADS_1


Hallo readersku. Maaf crazy upnya cmn 4 eps, ditunggu eps selanjutnya! Semoga kalian semua dalam keadaan sehat ya. Thank you♡


__ADS_2