
Rio membawa Kani dan Serira ke rumah Ririn seperti perintah kakaknya. Camila yang mendapat kabar bahwa anaknya di culik lagi langsung gelisah.
Ia tak ada hentinya untuk terus menangis dan menangis karena cemas dengan keadaan anak sulungnya.
Dia teringat saat dimana Ririn di culik dan Reo sebagai penyelamat mendapatkan banyak luka karena mencoba menyelamatkan anaknya.
“Jessi..”
“Tenang, Camila. Mereka pasti baik – baik saja.” Ucap Jessica mencoba ikut menenangkan.
“Gimana kalau Reo lebih parah kayak dulu?!” tanya Camila makin khawatir.
“Camila.., Reo itu laki – laki! Wajar aja kalau dia yang lebih parah!” seru Jessica. Camila mengeleng.
“Reo nggak boleh kenapa – napa, Jess..,” lirih Camila.
Rio menunduk mendapati dirinya yang hanya diam ketika orang yang di cinta sedang dalam bahaya.
Dulu pun, ketika Reo dan Ririn di culik, dia hanya diam seperti pecundang. Dan kini, hari ini pun terjadi.
Dia hanya dia sambil berusaha menenangkan kedua wanita paruh baya yang menangisi anaknya masing – masing.
Namun, dia juga tidak ingin menjadi adik yang tak patuh kepada kakaknya. Dia juga tidak ingin menyusahkan kakaknya yang sedang kesulitan.
“Kak Rio.., mama Kak Rio manggil,” ucap Serira menyadarkan lamunan Rio. Rio melirik ke arah mamanya.
“Ngapain kamu diem di situ?! Buatin Tante Camila minum dong!” seru Jessica. Rio mengangguk dengan cepat dan langsung pergi ke dapur untuk membuatkan minuman hangat agar Camila bisa lebih tenang.
“Kak..,” panggil seseorang. Rio menoleh.
“Biar Rira bantu.”
~~
Reo
“Hujan.” Ucap Ririn sambil ngulirin tangannya ke awan. Gue ngelirik ke arahnya.
“Banjir.”
Ririn natap gue. “Ck! Lagi gini masih aja bercanda!”
Gue melirik ke awan, mendung.
Sekarang ini gue dan Ririn udah berhasil keluar dari gudang sekolah.
Karena tawuran itu terjadi di deket Sma 1, jadi gue dan Ririn aman dari serangan tawuran.
Keadaan sekarang juga bener - bener sepi karena semua orang udah pulang ke alamnya masing – masing.
“Kita pulang naik apa?” tanya Ririn, gue ngangkat bahu.
“Jalan aja yuk!” ajak dia. Gue melirik lagi ke dia. “Kayak dulu.”
Gue tersenyum lalu ngangguk. Dia langsung tarik tangan gue dan kita jalan di pinggir jalan sambil hujan - hujanan.
“Dingin ya!”
“Iya.” Jawab gue.
Ririn ngehembusin nafas kasar.
“Gimana lo mau dapet pacar kalo nggak peka gitu!” seru Ririn, gue menoleh.
“Kalo cewek bilang gitu, lo harusnya kasih jaketnya!” sambungnya.
“Nggak mau. Gue juga dingin.” Jawab gue balik.
“Ck! Mana ada cew—“
“Kayaknya cuman lo yang nggak mau sama gue, dan gue nggak mau sama lo. Jadi nggak ada pengaruhnya kalau gue nggak perhatian ke lo.” Jelas gue. Ririn mengangguk. “Iya juga.”
Gue berjalan sambil natap lurus kedepan. Gue masukkin tangan ke jaket karena merasa hawa dingin udah menyentuh kulit gue.
Gue jalan lebih dulu dari Ririn karena dia lama banget jalannya. Gue jalan agak cepet karena hujan udah makin keras dan tiba – tiba ada petir juga.
Gue jadi inget kalau Ririn tuh takut sama petir. Gue mencoba noleh buat tahu kabar dia sekarang yang lagi di tengah – tengah petir.
__ADS_1
“Rin lo—“
“Ririn!!”
~~
Serira
“Maaf ya Tante, Rira nggak bisa lama – lama di sini. Rira udah di cari sama mama Rira.” Jelas ku kepada Tante Camila dan Tante Jessica yang sedang khawatir ini.
“Iya Rira, nggak papa kok. Makasih ya udah kesini.” Jawab Tante Jessica. Aku tersenyum ramah kemudian mengambil tangan mereka untuk salam.
“Assalammu`alaikum.” Salam ku.
“Wa`alaikumsalam.” Jawab semua serempak. Aku pergi dari rumah besar milik Kak Ririn itu dan masuk ke dalam mobil pribadi yang sudah menjemputku.
Aku melihat di dalam mobil ada Bibi dan Kak Leo yang berpakaian sangat lusuh. “Kak Leo kenapa?”
“Dia abis tawuran. Untung aja bibi ketemu dia, jadi dia nggak ngelanjutin aksi konyolnya itu.” Jelas Bibi. Aku menoleh ke arah belakang.
“Kak Reo gimana, Kak?!” tanyaku dengan khawatir.
“Dia nyari Ririn.” Jawab Kak Leo.
“Udah ketemu?” tanyaku kembali. Kak Leo mengangguk. “Alhamdulillah.”
“Emangnya Reo kenapa, Ra?” tanya bibi.
“Kak Reo nyelamatin Kak Ririn yang di culik, Bi!” jawab ku dengan seru.
“Ya ampun.., ngapain culik – culik segala?!” tanya Bibi dengan seru juga.
“Aku kurang tahu, Bi. Tapi itu cara yang kekanak – kanakkan kan?” tanyaku balik. Bibi mengangguk.
“Semoga mereka baik – baik aja ya,” ucap bibi. “Aamiin.”
~~
Reo
“Oh, mungkin calon keluarga ya?”
Apaan sih ni suster, stres apa abis ngurus orang pingsan?
“Tolong bayar asuransinya sebelah sini.” Perintah suster itu. Gue mengangguk dan mengikuti suster dari belakang.
Setelah sampai di meja administrasi, suster itu langsung ngetik – ngetik di komputernya.
“Pasiennya mau di ruangan mana?” tanya suster itu.
“Vip.” Jawab gue. Suster itu mengangguk lalu mulai ngetik lagi.
“Sus, dia kenapa?” tanya gue. Suster itu berhenti ngetik dan melirik ke arah gue.
“Dia hipotermia.” Jawab suster.
“Penyakit apa itu Sus?” tanya gue kembali.
“Kedinginan.” Jawab suster lagi. Gue mengangguk mengerti. “Totalnya lima juta.”
Gue ngeluarin dompet dan ngasih kartu atm ke susternya. Suster itu ngegesek kartunya dan minta gue buat ngetik sandinya.
“Pasiennya tinggal di sini selama dua malam, sehabis itu boleh kembali ke rumah.” Jelas suster, gue mengangguk.
“Terimakasih.” Ucap suster itu sambil ngasih kartu atmnya ke gue. Gue mengangguk lalul berbalik badan.
“Reo!!”
Gue menenggak.
“Reo! Mana Ririn?!” seru Tante Camila.
“Ririn masih di Icu. Bentar lagi di pindahin kok Tan.” Jawab gue.
“Kamu baik – baik aja kan, Re?” tanya Tante Camila lagi. Gue mengangguk.
“Kamu pulang ya, Re. Ganti baju terus makan. Tadi mama udah suruh Rio buat masak makan untuk kamu.” Perintah mama. Gue mengangguk.
__ADS_1
“Iya, Ma.” Jawab gue.
Gue mengambil tangan kedua wanita di hadapan gue dan menyalaminya satu – satu.
“Assalammu`alaikum.”
“Wa`alaikumsalam.”
Gue berbalik badan melangkahkan kaki menuju keluar gedung rumah sakit. Gue memesan taxi online karena motor gue masih ada di sekolah dan mungkin bakalan di anter sama temen gue.
Nggak perlu nunggu lama, taxi itu udah dateng. Gue masuk kedalam dan supir pun melajukan mobilnya.
~~
Gue masuk ke dalam rumah dan nengok ke kiri gue yang di sanaudah ada temen – temen gue yang lagi pada duduk sambil makan cemilan.
“Nah! Udah pulang ternyata!” seru Exel.
“Gue mandi dulu.” Ucap gue, semua mengangguk.
Gue berjalan menuju kamar di lantai dua dengan sedikit terburu – buru. Setelah sampai di kamar, gue buka baju sambil berjalan masuk ke dalam kamar mandi.
Gue bersihin diri gue sebentar lalu pakai baju kembali.
Tok tok tok.
“Masuk.” Perintah gue ketika ngedenger ada yang ngetuk pintu.
Seseorang masuk kedalam kamar dengan sopan.
“Maaf, Aden. Ayahanda memanggil Aden.” Ucap pelayan itu.
“Nanti saya ke sana.” Jawab gue. Dia mengangguk lalu pergi dari kamar gue.
Gue sisir sembarang rambut gue yang basah dan pergi keluar buat liat temen – temen lagi pada ngapain.
Gue turun tangga dan sempet liat ke arah ruang keluarga, di sana nggak ada ayah.
“Mungkin di kamar kali ya?” tanya gue sendiri. “Ntaran aja deh.”
Gue melanjutkan perjalanan gue buat turun dari tangga dan liat keadaan temen – temen gue.
“Iya, Om. Kayaknya itu juga.” Ucap Exel. Ayah mengangguk.
Gue samperin mereka dan duduk di samping ayah.
“Kenapa, Om? Nanya itu?” tanya Keyno, gue mengerutkan dahi.
“Eh.., nggak papa nanya doang. Kalian lanjutin mainnya dah, om masuk dulu.” Pamit ayah. Semua mengengguk dan ayah pun pergi.
“Tadi lo nggak di apa – apain kan?” tanya Johan, gue mengangguk.
“Baguslah. Kita sempet khawatir soalnya secara mendadak mereka kabur dari tawuran.” Jelas Keyno.
“Kabur?”
Keyno ngangguk.
“Kayaknya mereka tahu lo yang udah nyelametin Ririn, jadi mereka lebih menting cari lo dari pada ikut tawuran.” Jelas Keyno lagi.
“Terus sekarang gimana?” tanya gue.
“Lo sih nggak masalah. Tapi di sini, posisi Ririn kayaknya bakal lebih bahaya!” seru Johan, Keyno mengangguk setuju.
“Lo harus jaga dia, Re!” seru Exel.
Gue langsung menggeleng. “Gue bukan bapaknya.”
“Ck! Bukannya itu calon adek ipar lo!” seru Johan.
“Iya! Masa lo mau adik lo ngejomblo gara – gara si Ririn di culik?!” sambung Exel.
Gue tetep menggeleng.
“Kenapa?” tanya Keyno, gue melirik sambil sedikit terkekeh.
“Gue berniat deketin cewek.”
__ADS_1