
Serira
Aku turun dari motor kak Leo dan membuka helm.
Aku memberikan helm itu dan membenari rambutku yang terasa berantakan.
"Mau gue anter ke kelas?" tawar kak Leo.
"Nggak." Jawabku sambil mengaca sebentar.
"Nggak apa gue anter lo." Ucap kak Leo kembali sambil turun dari motor.
"Pasti mau modus ya?!" tebak ku. Kak Leo melirik.
"Kok adek gue pinter banget sih! Bisa tau kakak nya punya tujuan apa?!"
Aku memutarkan bola mataku malas.
"Kakak! Kakak itu udah punya pacar! Masa mau modus lagi sih?! Aku bilangin Kani loh!" seru ku.
"Lah, pacar gue kan Lea, ngapain bilang ke Kani?" tanya kak Leo.
"Karena Kani sahabatnya Lea." Jawabku.
"Ohiya ya. Eh jangan lah! Yaudah lo ke kelas sendiri aja lah." Ucap kak Leo pasrah.
"Emang dari jaman jahiliyah juga aku mah mau sendiri! Nggak ada faedahnya juga di anterin cuman ke kelas doang." Balas ku lalu meninggalkan kak Leo seorang diri.
Aku berjalan keluar parkiran dan masuk ke dalam gedung sekolah.
Seperti pada hari Kamis biasanya, semua murid memakai baju batik.
Menurut ku baju batik adalah baju ternyaman yang sudah ku beri penghargaan.
Hampir dari semua seragam sekolah yang pernah ku pakai, baju batik lah yang ter the best.
"Kani!" panggil seseorang dari belakang ku.
Aku melirik ke arah belakang dan tersenyum ketika melihat bawa itu kak Satria.
"Iya kak Satria?" jawabku.
"Kamu ikut osis mau ya?" tanya kak Satria, aku mengerutkan alis.
"Kok tiba - tiba, Kak? Aku aja nggak pernah ikut kumpulan begitu, kok bisa jadi osis?" tanya balik ku.
"Nilai kamu bagus, Ra. Kepsek bilang, dia ngerecomendasiin kamu buat jadi osis baru di sekolah ini." Jelas kak Satria. Aku berfikir sejenak.
"Mau ya?"
__ADS_1
Aku melirik ke arah kak Satria.
"Yaudah deh. Tapi kalo aku jarang kumpulan nggak papa ya? Soalnya aku harus jagain kak Reo kali - kali." Jawabku. Kak Satria mengangguk.
"Sip. Ntar gue kabarin lagi kalo ada informasi tentang kumpulan. Thanks ya, Ra. Gue duluan." Pamit kak Satria sambil melambaikan tangan.
"Iya, Kak, sama - sama." Balasku.
Setelah kak Satria menghilang dari pandangan, aku melanjutkan perjalananku menuju kelas.
Tak butuh banyak waktu, aku akhirnya sampai di kelas.
Aku melihat sudah banyak murid - murid kelasku yang sudah datang.
Bahkan, Kani pun sudah menempati tempat duduknya, yaitu di sebelah tempat duduk ku.
Aku menghampiri dia dan duduk di sebelahnya.
"Kani fokus banget baca novelnya." Ucapku yang memberhentikan aktivitas Kani.
"Kamu kok baru dateng, Ra?" tanya Kani.
"Emang aku telat ya, Kan?" tanya ku balik.
"Kalo guru on time, kamu telat lima belas menit." Jawab Kani sambil melihat jam tangannya.
"Wah?! Masa?! Tadi aku berangkat pada jam biasa kok. Oh, atau mungkin karena kak Satria tadi ya? Perasaan kita ngobrol nggak lama deh." Ucap ku sambil berfikir.
"Oh, itu tadi aku kebengkel dulu sama kak Leo. Bannya kempes, jadi datengnya--"
"Woe! Aku udah ganti topik, Ra!" seru Kani.
"Ganti topik? Jadi apa?" tanyaku.
"Ngapain kamu ngobrol sama kak Satria?" tanya ulang Kani.
"Owh. Itu, tadi kak Satria nawarin aku buat ikut jadi anak osis. Dan aku terimah deh." Jelas ku.
"Kok langsung kamu terima?"
"Ya habis itu permintaan dari pak kepsek langsung, jadi aku terima deh. Kalo aku tolak kan kesannya nggak sopan banget." Jawab ku lagi.
"Osis tuh kan sibuk banget, Ra." Ucap Kani.
"Iya, Kan. Aku tahu kok. Aku cuman mau coba - coba aja. Lagian kan cuman satu periode doang, satu tahun, jadi aku boleh dong cari pengalaman dari sana." Balasku kepada Kani yang masih menyimak.
"Iya, Ra. Tapi kamu juga harus inget waktu ya. Kalau ada kumpulan sampai malam, mending kamu pulang lebih dulu." Saran Kani, aku mengangguk.
"Oke Kani, aku bakal ikutin saran kamu. Thank you..," jawabku sambil memeluk Kani.
__ADS_1
"You're wellcome."
Reo
"Mau makan aja ngeribetin orang!"
"Lea! Kamu nggak boleh ngomong gitu!" sentak tante Putri. Gue terkekeh melihat dia di marahi.
"Bun, jangan bela dia terus deh!" lawan Lea.
"Kamu juga jangan ngejek dia mulu! Kamu ini tau dia lagi sakit juga!" balas tante Putri, Lea akhirnya diem.
"Gue nggak pernah maksa lo buat ikut ke sini. Mau pulang? Silahkan, gue nggak ngelarang." Ucap gue ngelerain pertengkaran mereka.
"Ya, tapi inget aja, uang jajan bunda potong!" seru tante Putri, gue tertawa puas.
"Aw!" ringis gue.
"Puas lo orang sengsara?!" sentak Lea sambil nyubit gue.
"Apa si lo nyubit - nyubit!" balas gue.
"Suruh siapa lo ketawain gue?!"
"Suruh setan lo!"
"Eh! Kalian malah berantem lagi. Yaudah lah, Lea. Kamu pulang aja sana! Ngeribetin aja di sini." Perintah tante Putri.
"Aku lebih sayang uang jajan." Ucap Lea.
"Iya, nggak mama potong. Udah sana pulang!" usir tante Putri. Lea pun pergi dari ruangan gue.
"Aduh, maaf ya, Reo. Gara - gara tante bawa Lea kayaknya darah kamu naik." Ucap tante Putri, gue terkekeh.
"Nggak kok, Tante. Reo baik - baik aja." Jawab gue. Tante Putri tersenyum tenang.
Dia pun ngeberesin alat makan di nakas dekat kasur gue.
"Mama kamu bentar lagi lahiran loh, Re." Ucap tante Putri, gue ngelirik.
"Baru empat bulan, Tan. Masih lama." Balas gue.
"Suka nggak kerasa loh kalo mengandung, tiba - tiba udah besar aja." Balas tante Putri balik.
"Iya, emang."
"Apa yang kamu harapin dari adik kamu, Re?" tanya tante Putri.
Gue berfikir sejenak dan menemukan jawabannya.
__ADS_1
"Semoga dia nggak ngebunuh mama."