Cold Boy

Cold Boy
Dua Puluh Empat


__ADS_3

Singkat cerita, gue sama anggota box lainnya udah beres ngelakuin latgab.


Gue ngelihat semua orang ngistirahatin diri dengan minum atau pun duduk di pinggir lapangan.


“Re, lo mau bawa adik gue ke rumah lo?”


Gue melirik ke sumber suara yang baru saja datang ngehampiri gue.


Gue mengangguk buat ngasih jawaban ke orang yang baru aja nanya.


“Mau apa?”


“Kayaknya gue nggak perlu ngejelasin ulang.” Jawab gue sambil menatap lurus ke arah depan.


“Basa basi dikit aelah, gini amat punya adik ipar.”


Gue ngalihin pandangan gue ke muka Leo dan natap tajam dia.


“Kenapa?” tanya dia pura – pura lugu.


“Maksud lo apa?” tanya gue mastiin kalo dia nggak bego.


“Gue nggak punya maksud, tuh.”


Gue terkekeh pelan sambil ngalihin pandangan ke depan lagi dengan malas.


“Bener kan? Lo suka sama adik gue?!”


Gue diem.


Itu yang terbaik sih dari pada harus buang tenaga buat jawab pertanyaan yang nggak logis.


“Diem artinya iya!”


“Gue nggak suka adik lo!” tegas gue.


“Masa sih? Kok gue nggak yakin ya?”


“Terserah lo!”


Gue langsung bangkit dari duduk gue dan berjalan agak cepet ke arah depan.


Udah kerasa hawa dimana semua orang memperhatiin perjalanan gue nyabrangin lapang. Tapi itu udah biasa gue laluin selama gue masuk sekolah umum.


Setelah sampai di tujuan gue tarik tangan Rira dan bawa dia ke parkiran.


“Mau langsung sekarang, Kak?” tanya Rira sambil ngikutin langkah gue.


“Iya.”


“Aku belum pamit sama anak – anak, Kak.”


“Gue juga belum.” Balas gue.


“Yaudah kalo gitu pamit dulu, Kak, dari pada kenapa – kenapa.”


Gue berhenti dari langkah gue dan belikin badan buat natap langsung muka Rira.

__ADS_1


Deg.


Gue terdiam sambil natap wajah Rira.


Nggak tau kenapa tapi, gue merasa tubuh gue beku seketika.


“Kak Reo nggak papa?” tanya Rira.


Gue ngedipin mata gue buat kembaliin kesadaran yang baru aja ilang.


Gue balikin badan lagi dan jalan duluan ninggalin Rira yang masih diem di tempat.


Serira


Aku berdecak kesal di tempat sambil natap punggung Kak Reo yang udah jalan lebih dulu ninggalin aku.


Dengan ekspresi sedikit kesal, aku nyusul Kak Reo sambil ngehentak – hentakin kaki.


Aku melihat Kak Reo udah siap di atas motornya. Pakai helm dan hodie randomnya yang selalu ganti setiap hari.


Aku mempercepat jalan agar Kak Reo tidak menunggu lama. Setelah sampai di pinggirnya, aku langsung naik ke atas motornya dan membenari posisi.


“Udah, Kak.” Ucap ku.


Nggak lama dari itu, Kak Reo ngelajuin motor pelan keluar dari pekarangan sekolah.


~~


Motor Kak Reo kini memasuki sebuah rumah besar yang di dominasikan dengan warna putih dan emas.


Memang terlihat jelas bagaimana istana yang kini di tempati oleh Kak Reo benar – benar indah dan besar, seperti istana – istana di dalam dunia film! Aku sampai tabjuk sendiri melihatnya.


Merasa di beri kode, aku inisiatif turun dari motor dan melihat kembali ke sekeliling rumah, sepi.


Kak Reo membuka helmnya dan turun dari motor besarnya.


“Masuk.”


Aku melirik ke arah Kak Reo yang sudah lebih dulu jalan menaiki tangga untuk masuk ke dalam rumah.


Aku mengikuti langkah Kak Reo dan ikut masuk setelah Kak Reo membuka pintunya.


Kesan pertama yang dapat aku simpulkan dari rumah ini adalah, sepi.


“Kok sepi, Kak?” tanya ku.


“Ini bukan pasar makanya sepi.” Jawab Kak Reo membuat aku ingin tertawa namun masih bisa aku tahan.


“Biasanya kan di rumah besar kayak rumah Kakak ini ada pembantunya, kok ini nggak keliatan sama sekali?” tanya ku sekali lagi untuk menghilangkan rasa penasaranku.


“Keluarga gue nggak manja.” Jawab Kak Reo simple, padat, jelas.


Aku hanya bisa membalasnya dengan membentukkan mulut berhuruf ‘o’ sambil mengangguk seolah puas dengan jawaban yang di berikan, padahal nggak.


“Reo udah pulang?”


Aku langsung melirik ke sumber suara yang terdengar sangat lembut dan tidak asing.

__ADS_1


“Eh, ini.., siapa?” tanya Tante Jessica seolah mencoba kembali mengingat – ingat aku di memorinya.


“Serira, Tante.” Jawab ku sambil tersenyum.


“Ah! Iya, Serira, ya.”


Aku mengangguk lalu mengambil tangannya untuk menyalimi tangan tersebut.


“Kenapa kamu bawa Serira, Reo?” tanya Tante Jessica kepada Kak Reo.


“Mama ngidam kue? Reo bawain chefnya.” Jawab Kak Reo membuat aku sedikit merasa gugup.


Tante Jessica melirik ke arah ku. “Serira bisa bikin kue?”


Aku mengangguk sambil tersenyum malu.


“Toko kue yang waktu itu pemiliknya Rira, Ma.” Jelas Kak Reo membuat aku tambah malu!


“Wah! Bagus dong kalau kamu kenal chef nya! Mama jadi bisa ngerasain terus kuenya sesuai sama kemauan mama.” Seru Tante Jessica dengan muka yang sangat cerah.


“Mama bilang aja ke dia.”


“Yaudah, kamu bersihin diri kamu ya, Reo. Serira, kamu nggak papa kan? Baru pulang latgab udah harus masak lagi?!” tanya Tante Jessica menatap dengan sedikit khawatir.


“Eh, nggak papa kok, Tante. Aku nggak cape sama sekali.” Jawab ku dengan sok tegar, padahal rapuh.


“Yaudah kalau begitu kita ke dapur, yuk!” ajak Tante Jessica yang langsung di terima baik oleh ku.


Karena dapur adalah salah satu tempat ku berkreasi, aku menjadikan tempat itu sebagai ruangan terpenting dari sebuah rumah.


Dan yang aku simpulkan dari dapur rumah Kak Reo adalah menabjukan!


Hampir sama dengan dapur yang ada di rumahku, namun dapur di rumah Kak Reo lebih estetik!


Seperti seseorang yang benar – benar handal dalam menata rumah.


“Kenapa, Serira?” tanya tante Jessica menyadarkan lamunanku.


“Eh, Tante, dapurnya bagus banget!” seru ku dengan sangat jujur.


“Haha, kamu bisa aja. Ini yang ngedesain ayahnya Reo, jadi bisa di bilang keinginan tante sendiri karena di desain sama suami tante.” Jelas tante Jessica membuat mata ku berbinar – binar.


“Woah! Ayah Kak Reo arsitek, Tante?” tanyaku dengan tabjuk.


“Iya, bahkan Reo juga mau ikutin profesi ayahnya.”


Jawaban tante Jessica seketika meluluhkan hatiku. Karena, AKU JUGA MAU SUAMI ARSITEK. (sama kok author juga pengen:”)


“Kaget ya? Beda sama Rio yang malah mau jadi dokter. Padahal di keluarga kita sama sekali nggak ada yang ngambil profesi itu.” Jelas tante Jessica kembali.


“Mungkin karena nggak ada itu Kak Rio mau ngambil jurusan kedokteran, Tante. Lagian kan kalo sama semua jurusannya nggak ada banyak yang untung.” Balas ku dengan iming – iming.


“Hm, mungkin kamu ada benernya. Yaudah, kita nggak usah bahas itu. Ayo ajarin tante buat kue yang enak banget itu!” seru tante Jessica membuat aku sedikit malu.


“Nggak enak banget kok, Tante. Enak aja, hehe.”


“Hahaha, kamu ini lucu ya.”

__ADS_1


“Hehe.” Aku berusaha menutupi wajah rona ku dengan menunduk.


__ADS_2