
Serira datang ke sekolahnya dengan waktu yang sangat pagi, bahkan bisa dibilang terlelu pagi karena biasanya orang yang datang di jam segini adalah orang yang rajin.
Serira memiliki banyak alasan mengapa dia mau berangkat pagi ke sekolah.
Pertama untuk menghindari Reo, dan yang kedua adalah kembali ke yang pertama.
Serira duduk ditempat biasa ia dudukin sambil menyimpan tasnya diatas meja.
Tak lama dari kedatangan Rira, Vania dengan Fanya pun masuk kedalam ruang kelas dan sedikit terkejut melihat kedatangan Serira yang begitu pagi.
"Eh, Rira, tumben kamu dateng pagi." Ucap Vania sambil menghampiri Serira.
"Eh, Vania, iya nih, hehe, aku berangkatnya kepagian nggak lihat jam." Jawab Serira bohong.
"Oh, gitu. Kok muka kamu kayak pucet, Ra?" tanya Vania dengan kebingungan.
"Iya, Ra, pucet banget loh!" sambung Fanya.
"Ah, masa sih?" tanya balik Serira sambil meraba mukanya.
"Kamu diem di uks aja ya, nggak usah upacara." Pinta Vanya menarik tangan Serira.
"Eh, nggak usah, Van, aku baik - baik aja kok, aku kuat upacara." Jawab Serira menolak tawaran itu.
"Bener kata Vania, Ra, mending kamu diem di uks aja dari pada kenapa - napa." Sambung Fanya karena kasihan melihat kondisi Serira yang terlihat jelas kalau dia sakit.
"Aku beneran nggak papa, sumpah. Ntar kalau aku nggak kuat aku pasti izin kok." Jelas Serira meyakinkan teman - temannya.
"Bener ya? Aku bakal jaga di belakang kelas kita aja kalau gitu." Ucap Vania yang diangguki oleh Fanya.
"Iya, boleh." Balas Serira.
"Assalammu'alaikum."
Ketiga orang yang sedang berbincang itu pun melirik kearah pintu yang menunjukan ada Kani disana yang baru saja datang ke kelas.
"Loh, Rira, tumben." Ucap Kani, Serira tersenyum kearah Kani yang sangat dianehi olehnya.
"Kenapa, Ra?"
Serira mengeleng lalu terdiam kembali.
Kani yang paham kalau Serira itu ingin bercerita kepadanya namun sedang waktu tidak pas pun mendekati sahabatnya.
"Kamu pucet banget." Ucap Kani begitu duduk dipinggir Serira.
"Iya, kan, dibilangin nggak percaya." Timbal Vania.
"Tadi udah kita tawarin ke uks, Kan, tapi dianya nggak mau." Sambung Fanya.
Kani melirik kearah Serira dan bertanya melalui bahasa tubuh.
Serira memberi tahu Kani bahwa dia akan baik - baik saja jadi tidak perlu khawatir.
Kani yang sudah lelah mengatur keras kepala Rira pun mengiakan saja dan berdoa agar sesuatu yang tidak diinginkan tidak terjadi.
^^^
"Weh, gercep amat." Ucap Exel yang tidak percaya kalau ternyata Vans sudah dekat bersama Kani.
"Iya dong, nggak boleh ditunda - tunda. Gue suka dia suka, ya gue deketin lah!" seru Vans.
__ADS_1
"Awas lo deketin doang abistu tinggalin!" seru Johan sebagai teman kecilnya.
"Ih, takut banget."
"Btw nih, kok Reo diem aja." Ucap Tio yang sendari tadi memperhatikan Reo yang hanya terdiam.
"Kenapa, Re?" tanya Johan, namun Reo masih diam tak berkutik.
"Re, jan galau lah, lo marahan sama Rira?" tanya Exel langsung kepada intinya.
Reo mengangkat kepalanya lalu melirik teman - temannya.
"Gue putus sama dia."
Semua langsung tersentak begitu mendengar penjelasan Reo tadi.
"Ha, serius?" tanya Johan, Reo mengangguk.
"Kenapa?" tanya Tio juga.
"Ceritanya panjang." Jawab Reo.
"Yah, gue ngabarin kabar bahagia si Reo nggak bahagia." Ucap Vans kecewa.
"Ya, intinya kita nongkring aja pulang sekul, ngelepas penat Reo, eak." Ujar Exel.
"Bagus tuh, lama juga nggak ngumpul." Balas Tio.
"Ngumpulnya di cafe ya, biar elite dikit kali - kali." Sambung Johan.
"Yaelah, asalnya mau ngapel gue pulang sekolah." Jawab Vans sedikit kecewa.
"Ah, bucin banget lo, tunda dulu aja! Paling si Kani juga nemenin si Rira juga kan?" balas Exel.
"Oke, teman - teman, pulang sekolah ngumpul di kafe sebrang halte ditraktir Vans, titik!" seru Tio mengambil topinya lalu berjalan keluar kelas.
"Oke mantep, mari kita tunggu." Sambung Johan menyusul Tio.
"Weh, tungguin gue lah, Nyet!" seru Exel berlari.
"Eh, bangke banget semua temennya ditinggalin." Dengus Vans yang kemudian mengambil topinya di tas lalu berdiri.
"Ayo, Re, lo nggak bakal ikut upacara?" tanya Vans yang melihat Reo hanya duduk terdiam sambil menatap kosong kearah depan.
Reo yang tersadar langsung bangkit dari duduknya dan mengikuti Vans yang sudah berjalan terlebih dahulu.
^^^
"Mohon perhatian, upacara bendera akan segera dimulai. Masing - masing pemimpin barisan menyiapkan barisannya."
Semua murid yang berbaris di lapangan pun langsung merapihkan barisannya dan fokus menghadap kearah depan.
Kani tidak berjaga pmr kali ini. Ia lebih memilih untuk menjaga Serira di barisan yang takutnya melah terjadi hal yang tidak - tidak.
Upacara sudah mulai sampai kenaikan bendera. Semua peserta menaikan tangannya ke kepala dengan sebutan hormat dan menghadap ke bendera kebanggaan Indonesia, merah putih.
Serira yang mulai merasa pusing menurunkan kepalanya yang langsung ditanya oleh Kani.
"Pusing, Ra?"
"Kan, aku pindah kebelakang kamu ya, panas banget." Pinta Serira yang langsung disetujui oleh Kani.
__ADS_1
Mereka pun bertukar barisan menjadi Kani didepan Serira.
Serira hormat kembali dan menatap bendera namun ternyata tetap saja sang matahari menyinarinya begitu terang.
Serira menurunkan kembali kepalanya dan mendekat kearah Kani.
"Kani, aku putus sama kak Reo."
Bruk.
Kani membalikan badannya dan terkejut melihat Serira kini sudah tertidur di tanah.
"Pmr, pmr!" seru para murid yang berada didekat Serira.
Kani mendekati Rira dan langsung mengangkat kepalanya.
"Ra, Rira bangun!" seru Kani sambil menepuk pipi Serira pelan.
Pmr pun datang yang tidak membawa tandu darurat.
"Siapa yang pingsan?" tanya seorang siswa yang melihat sedikit keributan.
"Rira, Kak." Jawab salah satu siswi.
"Mana tandunya?" tanya Satria kepada anak pmr yang mendekati mereka.
"Itu, Kak, tandunya lagi dipakai buat angkut kakak kelas." Jawab Vania yang mulai khawatir.
Satria melirik Serira lalu mendekatinya.
"Biar gue yang angkat." Ucapnya kepada Kani, Kani mengangguk lalu sedikit menjahui Serira.
Satria menyelipkan tangannya di leher dan kaki Serira lalu mengangkat tubuh Serira dengan sedikit tenaga besarnya.
Ia pun membawa Serira menuju ruang uks yang diikuti oleh Kani dan juga Vania.
Ririn dengan secepat kilat membukakan pintu uks begitu melihat Satria membawa Serira yang tidak sadarkan diri.
"Loh, tandunya mana?" tanya Ririn kepada Vania yang berjaga di lapang.
"Dipakai, Kak."
"Oh, yaudah, kalian balik ke lapang aja biar Rira kakak yang tangani." Titah Ririn yang dituruti oleh Kani dan juga Vania.
Ririn memasuki uks dan menutupnya kembali lalu mendekati kasur yang baru saja diisi oleh Serira.
"Biar gue aja, Sat, yang jaga, lo balik ke lapang aja." Ujar Serira.
"Gue mau ikut nemenin disini." Pinta Satria, Ririn pun angkat tangan dengan kekeras kepalaan Satria.
"Yaudah serah lo."
Ririn pun melonggarkan dasi yang Serira pakai lalu membuka satu kancing paling atasnya agar Serira tidak merasa pengap.
Kemudian Ririn memberikan minyak kayu putih di leher Serira dan dibawah hidung agar Serira cepat tersadar.
Satria yang berada diujung ruangan hanya memperhatikannya dengan simak karena tujuannya disana hanya untuk menemani.
Setelah Ririn melakukan tugasnya, ia pun menarik selumut Serira sampai setengah tubuhnya lalu melirik kearah Satria.
"Gue bakal bawa teh anget dulu, lo jagain dia bentar." Titah Ririn, Satria mengangguk sambil tersenyum lalu berjalan mendekati ranjang Serira.
__ADS_1
Ririn pergi keluar uks dan Satria pun berdiri disamping ranjang.
Satria menatap wajah Serira tenang sambil tersenyum membayangkan sesuatu yang ada dipikirannya.