
Serira
Aku turun dari mobil kak Satria setelah berpamitan kepadanya.
Aku menunggu kak Satria pergi di depan gerbang. Tak lama dari itu, dia pun pulang.
Aku memutar balikan badan ku untuk segera masuk ke dalam rumah dan cepat - cepat mengabari kak Reo.
"Rira, abis dari mana aja pulang malem? Telepon juga nggak di bales!" tanya mama begitu aku masuk ke dalam rumah.
"Iya, Ma. Maafin Rira. Tadi Rira di palsa kumpulan osis jadi Rira pulang malam. Hp Rira juga mati, Ma, jadi nggak bisa ngabarin." Jelasku sambil menghampiri mama dan bibi yang sedang membereskan meja makan.
"Kalau kamu ada apa - apa, kabarin sebelumnya, biar kita nggak ikut khawatir." Timbal bibi.
"Iya, mama kan khawatir sama kamu. Apa lagi kamu anak cewek, nggak baik sayang pulang malem - malem gini!" seru mama kembali.
"Iya, Ma, Bi, aku minta maaf. Janji Rira nggak bakalan ulang lagi kok." Ucap ku memelas.
Mama dan bibi menghembuskan nafas gusar.
"Yaudah kamu bersihin diri kamu, abis itu makan. Kamu pasti laperkan? Mama udah pisahin makanan buat kamu." Printah mama yang membuat senyuman di wajahku terlukis.
Aku langsung menghampiri mama kemudian memeluk nya dan mencium pipinya.
"Uh, sayang mama."
"Ih, bau. Mandi sana!" seru mama. Aku memanyunkan bibirku lalu menjauhkan diri dari mama.
"Bau - bau juga cantik ya!" balasku.
"Yaiyalah. Anak mama yang mana yang jelek?" tanya mama.
"Kak Leo." Jawabku polos.
"Heh! Itu bukan anak kandung mama." Balas mama.
"Berarti jelek kan, Ma?"
"Udah, Rira. Cepet mandi sana! Ntar kalo kakak kamu denger marah loh!" seru bibi menakut - takuti ku
"Iya, Rira ke atas. Bye."
Aku pun jalan menuju tangga dan menaikinya satu persatu dengan langkah tak terlalu semangat.
"Apa ya? Kayaknya aku ada yang kelupaan deh." Gumam ku sendiri sambil berfikir jernih, apa yang membuat pikiranku tak berhenti berpikir.
"Apa karena aku belum ngabarin kak Reo ya?" tanya ku kepada diri sendiri.
"Ah, cek hp dulu deh."
Aku pun melepas tas ku dari punggung dan memindahkannya kedepan.
Aku menggeledah isi tasnya untuk mencari keberadaan hpku yang seingatku terakhir aku simpan ditas.
__ADS_1
"Kok nggak ada ya?"
Aku mencoba kembali untuk mencari hpku. Tak hanya di tas tapi juga di saku seragam.
"Ih, kok nggak ad--"
^^^
Drrt drrt.
Satria melirik ke bangku sebelahnya karena ia meresa mendengar suara handphone di sana.
"Ya, ampun. Itu kan hp Serira. Aduh, dah jauh lagi." Ucapnya sendiri sambil sesekali fokus kepada jalan raya.
Ia meraba bangku penumpangnya itu untuk mengambil hpnya dan menjawab panggilan suara yang baru saja memanggil.
"Hallo, Ra." Jawab Satria yang berpikir bahwa itu adalah Serira.
Tak ada jawaban lagi setelah Satria menjawab.
Dia kemudian menjauhkan hpnya dan melihat nama yang baru saja mematikan sambungan itu.
"Oh, Reo ternyata. Salah manggil dong gue tadi." Gumamnya sendiri.
Satria menyimpan kembali hpnya dan mulai fokus berkendara agar tidak terjadi apa - apa.
^^^
"Suara siapa tadi?" gumam gue pelan.
Gue terbangun dari tidur gue karena kepikiran Rira.
Tadinya gue mencoba buat misscall dia, mastiin apa dia selamat apa nggak sampai rumah.
Tapi begitu tadi gue nelpon, suara yang gue denger bukan suara cewek, tapi suara cowok.
Gue kenal pasti Leo yang suaranya sama sekali bukan itu. Dan anehnya lagi, dia malah manggil nama Ra.
"Siapa itu?" tanya gue lagi ke diri sendiri.
Drrt drrt.
Gue kembali melihat ke ponsel gue dan melihat di layar nya ada telepon dari Rio.
Gue angkat teleponnya dan nempelin hp gue ke telinga.
"Kak, mama pendarahan!"
Gue ngerutin dahi kemudian ngedarin pandangan gue.
"Mama ada dimana?" tanya gue.
"Mama ada di rumah, Re. Tadi dapet telepon dari ayah kalo nenek meninggal dunia!"
__ADS_1
Gue terdiam melamun.
"Aku bawa mama ke rumah sakit deket rumah. Kakak sendiri dulu di rs nggak papa?" tanya Rio.
"Rio lo nggak usah pentingin gue. Bawa mama ke rumah sakit dan jangan sampai mama kenapa - napa." Perintah gue.
^^^
Serira
"Kakak!! BAntuin lah!!" seru ku ke kak Leo yang sendari tadi hanya bermain game di hpnya.
"Ck! Tinggal beli lagi, Ra. Susah banget aelah!" balasan kak Leo yang sama seklai tak ku harapkan.
"Ck! Kak! Disana tuh banyak kenangannya tau!" seruku kembali.
"Aelah kenangan apa. Hidup lu kek gitu - gitu aja perasaan." Cerca kak Leo.
"Ih! Adalah pokoknya. Foto - foto aku sama Kani." Jawabku yang tidak sepenuhnya jujur.
"Ya salah lo sendiri jorok nyimpen." Ucap kak Leo.
"Ih! Punya kakak nggak guna banget! Kerjaannya main game teruss tiap hari! Kalau ngasilin duit sih boleh aja, tapi ini malah ngabisin duit coba!" ejekku panjang lebar.
"Emang lo ngasilin apa dari hp lo itu, hah?!" balas kak Leo.
"Jangan salah ya! Aku ngetik buku dan ngasilin uang pake hp yang lebih murah dari kakak tapi lebih bermanfaat!"
"Eh! Percuma ngasilin duit tapi nggak bagi - bagi ke gue!" bela kak Leo.
"Ya mau gimana ngasihnya coba?! Orang hpnya juga hilang!" seruku.
"Ck. Yaudah bawain macbook gue. Cari di sana." Perintah kak Leo, aku pun tersenyum senang.
Aku bangun dari kasur kak Leo lalu membawakan macbooknya yang berada di meja belajarnya yang pastinya jarang di gunakan.
Aku pun kembali ke kasur dan memberikan macbooknya kepada kak Leo.
"Nih."
Meniac!
Aku langsung merebut hp kakak ku dan menyembunyikannya di belakang badan.
"RIRA!! SATU LAGI GUE SEVAGE RIRA!!" teriak kak Leo lebay.
"Kak, lacak dulu hp aku!"
"RA PLIS RA, ITU TINGGAL GUE SAMA SI NANA RA YANG IDUP. MUSUH NYA TINGGAL--"
Defeat.
"Ya tuhan, kenapa gue punya adik kayak dia!!"
__ADS_1