Cold Boy

Cold Boy
Sembilan Belas


__ADS_3

Serira


Aku merebahkan tubuhku di kasur sambil menghembuskan nafas dengan tenang ketika mengetahui keadaan Kak Reo dan Kak Ririn yang selamat lahir batin dari Kani.


Aku memejamkan mataku untuk mengingat kembali wajah tampan Kak Reo yang terus mengganggu pikiranku.


Apa lagi tadi, ketika aku baru saja sampai sekolah bertemu dengan Kak Reo dan saling memberikan senyuman manis. Aaaaaaahh!! Makin sukaaaa!!


Ting!!


Aku menoleh ke atas nakas yang di atasnya terletak hpku. Aku meraih hp itu dan menyalakannya.


“Ra!”


Aku mengerutkan kening ketika mendapat pesan dari Kani. Tak biasanya orang itu mengirimku pesan, biasanya dia langsung menelpon ku bila itu juga tidak penting.


“Apa?”  jawabanku.


Ting!


“Temenin gue makan yuk! Mumpung besok minggu.”


Aku tersenyum senang ketika Kani mengajakku makan, em.., lebih ke main sih.


Aku senang karena kebetulan bibi tidak masak dan mama sedang kerja di luar sehingga tidak ada makanan di rumah. Terlebih lagi Kak Leo malah pergi bersama pacarnya tanpa memperdulikan nasib cacing di perut ku.


“Ayok!”


Ting!


“Oke! Aku tunggu di restoran biasa ya!”


Aku hanya membaca pesan itu tanpa membalasnya. Aku bangkit dari tiduranku dan langsung masuk ke dalam kamaar mandi untuk berganti pakaian.


Setelah memakai baju dengan cantik, aku mengoleskan bedak bayi dan lip balm ke wajah ku agar tidak terlihat terlalu polos.


Aku keluar dari dalam kamar dan menuruni tangga.


Aku juga memberikan pesan terlebih dahulu kepada mama dan bibi ku agar mereka tidak khawatir dengan kepergianku.


Setelah mengunci pintu, aku pergi keluar gerbang dan menunggu keberadaan taksi yang akan melewat.


~~


“Kan!” panggilku ketika melihat Kani yang kini sedang duduk sendiri sambil mengoprek handphone barunya. Kani membalasnya dengan lambaian tangan dan tersenyum kepadaku.


Aku menghampiri meja Kani dan duduk di hadapannya. “Kamu udah pesen?”


“Belum, aku nunggu kamu.” Jawab Kani, aku mengangguk.


“Kita makan yang pedes yuk! Udah lama nggak makan pedes!” ajak Kani.


“Kayaknya.., dua hari yang lalu kita makan samyang deh.”Jawab ku.


“Itu kan samyang carbonara, Ra. Nggak ada pedes pedesnya!” bela Kani, aku menggeleng.


“Kita minum habis satu galon, Kan! Sampai di marahin amang gojek karena kita terus – terusan pesen minum ke amang yang sama.” Jelas ku.


“Duh.., pedesnya jangan yang kayak samyang aja! Pasti kuat kan?” tanya Kani, aku mengangguk.


“Oke.., pesen pasta ini aja.” Ajak Kani, aku mengangguk.

__ADS_1


“Kita minumnya milkshake ya?” tawar Kani, secepat kilat aku menggeleng. “Why?”


“Entar gendut, Kani! Jangan minum manis di malam hari ah!”


“YA AMPUN RIRA! KAMU ITU SEKARANG 39 KG, MAU SEKURUS APA LAGI MINTA DIET SEKARANG HAH?!”


“Ish, ssstt!! Jangan berisik, Kan! Ini umum!” tegurku.


“Abis ngajak baku hantam banget sih, udah kurus masih mau diet!” ketus Kani.


“Hehe.., iya deh iya, kita minum milkshake coklat ya,” kalah ku sambil berusaha menenangkan Kani.


“Nah! Gitu kek dari tadi!” serunya, aku tersenyum.


“Sudah aku tulis. Kamu mau pesen apa lagi?” tanya Kani, aku menggeleng. “Cukup aja segitu.”


“Hm.., gimana kalau hari ini kita mukbang! Biar lo nggak terlalu kurus! Ya?! Ya?!” ajak Kani. Aku menghembuskan nafas kasar, setelah itu mengangguk pasrah.


“Oke!! Mari kita pesan lagi!” seru Kani sambil menulis lagi beberapa makanan yang recomended di sini.


~~


Reo


“Re. Ayah cuman menegaskan ulang lagi untuk menjaga ibu serta adik kamu. Kamu tahu kan? Mama kamu itu keadaannya sangat lemah. Jadi kamu harus ngejaga dia dengan penuh perhatian. Ayah harap kamu juga nggak


nentang keinginan dia, papa akan berangkat besok.” Jelas Ayah dengan formal. Gue mengangguk mengerti dengan tanggung jawab besar yang akan gue bawa ini.


“Kamu juga yang rajin ya, Re. Ajak adik kamu ke hal baik juga, ayah harap kamu orang seperti itu.” Sambung ayah lagi.


“Reo bakal jaga mama dan Rio ketika Ayah nggak ada.” Tegas gue, ayah mengangguk.


Gue dan ayah sama – sama terdiam di kursi ruang keluarga.


“Kalo bisa, lo buat ibu sama adik lo akur lagi.” Pinta ayah.


“Bakal Reo coba.”


“Kalo lo mau tahu, ibu lo tuh orangnya emang nyakitin di hati tapi nyelametin di perbuatan. Jadi kalo ibu lo ngerencanain sesuatu, pasti ada yang terbaik yang tersisip.” Jelas ayah, gue mencoba memahami setiap


katanya.


“Terutama Rio. Pasti ibu lo nggak benci sama dia, Cuman ibu lo pake cara keras buat ngedidik orang selemah itu. Jadi di sini keduanya salah. Ibu lo terlalu keras dan adik lo terlalu lemah.” Sambung ayah lagi.


“Lo nggak di didik keras sama ibu lo karena gue udah ngedidik lo. Gue dan ibu lo bagi tugas. Kalo gue nanggung lo dan dia nanggung adik lo. Jadi nggak usah aneh kalo ibu lo keliatan benci sama adik lo.”


Gue terus mengangguk makin paham dengan sifat mama yang sulit di tebak. Memang sebenarnya, waktu kecil gue sama sekali nggak di sentuh mama melainkan ayah.


Tapi seiring berjalannya waktu, mereka malah bertukar. Mungkin gantian kasih sayang?


“Makan malam dah siap.” Ucap Rio. Gue dan ayah pun bangkit dari duduk dan berjalan menuju meja makan.


“Nah.., sini pangeran – pangeranku. Mama masak makanan yang spesial karena terakhir makan malam bersama Ayah!” seru mama.


Semua duduk di tempat masing – masing dan Jessica mulai memberikan makanan ke anaknya satu – persatu.


“Duh.., coba kalian cepet nikah! Jadi mama nggak usah capek – capek terus layanin kalian!” seru mama.


“Keluar sma juga gue nikahin.” Jawab ayah.


“Kenapa nggak pas lagi sekolah kayak waktu lo sih?!”

__ADS_1


“Emangnya anak kita udah mapan kayak gue waktu sma?” tanya balik ayah.


“Lo lagi ngehina anak – anak gue?!”


“Mereka juga anak gue.”


“Gue yang lahirin!”


“Gue yang buat!”


Gue dan Rio memilih ngambil makan sendiri karena kalo nunggu perdebatan ayah dan mama ini, nggak akan pernah selesai!


~~


Gue merasa kali ini gue lagi apet dengan hp. Geu terus memainkan hp sambil tengkurep di kasur. Gue juga sempet download beberapa game biar gue nggak jenuh mainin hp.


Tok tok tok.


“Masuk.”


Pintu terbuka perlahan lalu di tutup lagi. Gue nggak sempet lihat orang yang dateng karena lagi fokus main game. Nggakk lama dari itu pun, kasur gue sedikit bergerak.


“YOI FOKUS AMAT MAIN NYA!”


Gue ngelirik sedikit orang yang baru aja berniat ngagetin gue, tapi gue nggak kaget.


“Apa.” Jawab gue singkat sambil ngelanjutin main hp.


“Katanya Paman kangen aku..,”


Gue matiin hp dan ngelirik ke arahnya.


“Kita itu sepupuan, ngapain lo panggil paman sambil so imut gitu?!” tegas gue.


“Aelah!! Gue kan lalgi belajar jadi cewek seutuhnya!!” balas dia buat gue memutarkan mata malas.


“Transgender mana bisa.”


“Ish!! Gue nggak transgender bege!! Minta baku hantam lo!”


“Pergi lo sana! Nggak berguna!” gue ngedorong muka Lea untuk ngejauh dari gue.


“Jinca!! Lo masih nggak ada sopannya! Penerus tahta juga!”


“Lo sirik? Gue yang jadi penerus tahta?” tanya gue sedikit ngejailin dia. Karena dari dulu dia pengen baget jadi raja. Tapi sayangnya, dia cewek.


“Lebih tepatnya, istri raja.” Jawab dia penuh percaya diri, gue terkekeh.


“Jadi, lo mau jadi istri gue?” tanya gue sambil ketawa.


“Enak aja! Sudi najis ya gue nikah sama lo! Mening kagak nikah seumur hidup gue!!” sentaknya heboh. Dan gue tertawa keras.


“Punya sepupu gini amat! Perasaan Kak Rio nggak gini ke gue!”


“Kurang ajar! Lo manggil ke Rio pake ‘Kak’ sedangkan ke gue nggak!” sentak gue.


“Siapa lo mau gue sebut Kakak?” tanya Lea sambil so cantik.


“Liat entar! Gue punya istri cantik sirik lo!”


“GUE NGGAK TERTARIK SAMA ISTRI LO!!”

__ADS_1


__ADS_2