Cold Boy

Cold Boy
Tiga Puluh Sembilan


__ADS_3

Serira


"Baik kalau begitu saya akhiri forum sampai di sini. Terima kasih bagi semua yang sedah menyempatkan hadir. Wassalammu`alaikum." Tutup kak Satria. Semua pun menjawab salamnya dan berdiri dari kursi masing - masing, begitu pula dengan aku.


"Rira. Lo pulang bareng gue ya?" tawar kak Satria. Aku menggeleng sambil tersenyum.


"Nggak usah, Kak, ngerepotin. Aku bisa pulang sendiri. Makasih atas tawarannya." Tolak ku lembut.


"Nggak ngerepotin kok. Gue kan udah maksa lo buat ikut kumpulan, padahal lo harus ngejenguk Reo." Jelas kak Satria.


"Nggak papa ya, gue anter lo? Buat ngilangin rasa bersalah gue sama lo. Please." Pinta kak Satria sambil memelas.


Aku sempat berfikir sejenak.


Jika aku pergi bersama kak Satria malam - malam begini, apa tidak akan ada yang curiga?


"Ayok! Ntar keburu malem." Ajak kak Satria kembali.


Aku pun mengangguk menerima karena berfikir lagi, tidak akan ada orang yang berfikir macam - macam karena kita juga tidak akan macam - macam.


Aku membuntuti kak Satria dari belakang menuju parkiran mobil. Ya, sepertinya kak Satria membawa mobil sekarang.


Dia berhenti di mobil Brio berwarna putih dan membuka kunci mobilnya menggunakan remot di kunci mobil.


Kak Satria membuka pintu penumpang di samping pengemudi dan mempersilahkan aku masuk.


"Makasih, Kak." Ucapku. Kak Satria mengangguk lallu tersenyum.


Setelah aku sudah masuk dan duduk dengan nyaman, kak Satria menutup pintu nya kemudian mengelilingi mobil dan duduk di bangku supir.


"Rumah lo dimana?" tanya kak Satria.


"Eh, kita ke rumah sakit aja, Kak. Aku mau ngejenguk kak Reo." Jawabku, kak Satria mengerutkan dahinya.

__ADS_1


"lo masih mau ke rumah sakit walau udah malam begini?" tanya kak Satria kekmbali.


"Kak Reo pasti udah nunggu dari tadi. Dia pasti khawatir soalnya aku terakhir kirim pesan otw ke rumah sakit. Tapi karena batre hp aku low, jadinya aku nggak bisa kabarin lagi." Jelas ku kepada kak Satria. Dia malah menggelengkan kepala.


"Pulang aja ya? Besok - besokan masih bisa ngejenguknya. Kalau sekarang mending lo istirahat dulu, ya?"


"Aku masih kuat kok kalau cuman buat ke kak Reo." Jawabku kembali.


"Ra, Reo juga pasti udah tidur, istirahat. Kalau lo kesana sekarang kan kesannya ngeganggu." Jelas kak Satria.


"Emang gitu, Kak?" tanya ku. Kak Satria menganggukan kepala.


Aku sebenarnya tidak setuju dengan pendapat kak Satria. Tetapi, jika di pikir - pikir bisa jadi juga kak Reo sedang istirahat saat ini dan kedatanganku malah mengganggu waktu istirahatnya.


"Yaudah deh, Kak. Sekarang kita pulang ke rumah aja." Jawabku.


"Oke. Jalan lewat?"


^^^


Reo


"Reo, kenapa belum tidur?" tanya mama sambil ngeberesin baju gue yang baru aja dia bawa dari rumah.


"Tadi, Rira bilang dia otw ke sini. Tapi sampai sekaran gbelum kesini. Nggak ada kabar lagi." Jawab gue sambil menggenggam hp.


"Rira ada urasan mendadak kali, trus hpnya ketinggalan atau lowbet. Positif thingking aja. Kalo ada apa - apa pasti udah ngabarin dari tadi." Jelas mama mengusir pikiran negatif gue.


"Sampai malem gini ya urusannya?" tanya gue.


"Kamu bakal tau ketika Rira udah ngabarin nanti. Tunggu aja, Reo. Rira pasti ngabarin kamu kok." Ujar mama lagi kini sambil ngedeketin gue dan ngelus kepala gue.


"Kamu sayang banget ya sama Rira?" Tanya mama, gue terdiam.

__ADS_1


"Apa alasannya?" tanya mama kembali.


Gue berfikir sejenak buat nyari alasan kenapa gue bisa suka sama Rira.


"Mungkin karena dia orang pertama yang suka ke Reo secara diam - diam?"


"Kalo secara diam kenapa kamu bisa tahu?" tanya balik mama, gue terdiam lagi. Mama pun tersenyum.


"Di dunia ini, yang namanya cinta dalam diam itu nggak ada yang pernah bisa lakuin kecuali Siti Fatimah dan Ali. Mereka saling mencintai dalam diam sampai setan aja nggak tahu perasaan mereka masing - masing." Jelas mama.


"Coba kamu pikir lagi, alasan kenapa kamu bisa suka sama dia." Pinta mama, gue pun berpikir.


Gue mencari seluruh kelebihan dari Rira. Jika soal paras, dia emang nggak secantik cewek seangkatan gue yang sering nembak gue nggak jelas. Rira lebih sederhana dan keliatan cantik walau nggak pake make up di wajahnya.


Dia juga termasuk orang yang malu - malu, entah kenapa gue lebih suka yang begitu daripada yang blak blakan nggak sopan.


Gue lebih suka cewek sopan yang pendiem, bukan cewek aktif yang ketawanya dia tebarin kesemua orang.


Apalagi biasnya yang kayak gitu di sukain banyak laki laki, jadi gue nyari yang berbeda.


"Udah, Mikirnya jangan kepanjangan! Lanjutin besok aja, sekarang tidur ya." Ucap mama nyadarin lamunan gue,


"Ayo tidur."


"Tapi dia belum ngabarin." Jawab gue.


"Besok juga bisa, Reo. Sekarang udah malem. Dokter bilang kan kamu harus banyak istirahat! Ayo sana tidur!" seru mama sambil narik selimut gue sampai dada.


"Iya."


Gue pun memposisikan tidur gue senyaman mungkin dan mencoba untuk menutup mata.


Nggak lama dari itu, gue pun tertidur.

__ADS_1


__ADS_2