Cold Boy

Cold Boy
Lima Puluh Lima


__ADS_3

Hari - hari telah berlalu begitu cepatnya.


Reo bersama teman satu angkatannya telah menyelesaikan ujian try out.


Mereka memilih untuk pulang langsung ke rumah masing - masing untuk beristirahat karena sudah selama seminggu otak mereka itu di pakai dengan sangat keras.


Reo memarkirkan motornya di teras rumah seperti biasa.


Ia pun menyimpan kunci motornya di lemari terkunci lalu berjalan keluar teras menuju rumah utamanya.


Reo sedikit keheranan begitu melihat ada sebuah mobil asing terparkir di halaman rumahnya.


Ia menyerngit untuk mencari memori tentang siapa pemilik mobil yang terparkir di depan rumah utamanya ini.


Reo melangkahkan kakinya untuk masuk kedalam rumah dan terkejut begitu melihat rumah tidak ada satu pun orang.


Reo tak mengambil pusing hal itu. Ia langsung berjalan keatas kamarnya yang berniat untuk membersihkan diri dari keringat yang sudah menumpuk sendari tadi.


Rio dengan Gisel berjalan melewati teras dan terkejut begitu melihat motor Reo terparkir cantik disana.


"Itu motor Reo!" saut Rio menyadarkan Gisel.


Gisel melirik kearah garasi motor dan melihat keberaan benda yang baru saja Rio ucapkan itu.


"Iya! Berarti Reo udah pulang kan?" tanya Gisel dengan wajah gembiranya.


Rio menganggukan kepalanya dan memberikan ekspresi yang sama agar Gisel merasa senang.


"Aku udah sepuluh tahun nggak ketemu sama Reo, pasti dia makin ganteng sekarang!" seru Gisel sambil membayangkan tampang Reo yang sudah lama tidak ia lihat itu.


"Ganteng lah! Liat adeknya aja ganteng gini." Balas Rio memuji dirinya sendiri.


"Ih, kepedean banget si. Orang aku muji Reo juga!" ketus Gisel, Rio terkekeh pelan.


Gisel menghembuskan nafas seperti berusaha menenangkan dirinya yang grogi.


"Lo kok tegang gitu kayak mau diinterview aja." Ledek Rio.


"Ih, bukan gitu!" seru Gisel tak terima.


"Terus kenapa?" tanya Rio menatap Gisel, Gisel pun tersenyum malu.


"Kok malah senyum gitu?" tanya Rio keheranan.


Gisel melirik Rio dan berfikir untuk memberi tahu rahasia kecilnya yang sudah lama ia pendam itu.


"Jangan kasih tahu siapa - siapa janji?" tawar Gisel sambil mengacungkan kelingkingnya. 


Rio yang merasa bahwa mungkin rahasianya juga tidak begitu penting jadi Rio membalas acungan kelingking Gisel dengan kelingkingnya.


"Janji."


Gisel tersenyum senang dan menarik kembali kelingkingnya.


"Sebenernya dari dulu aku suka sama Reo!"


^^^

__ADS_1


Serira bersama Kani kini sedang berada di sekolahan untuk membawa barang yang sempat tertinggal di ruang kelasnya.


Serira berjalan terlebih dahulu karena dia lah pemilik dari barang yang tertinggal itu.


Ia memasukin ruang kelasnya lalu mendekati bangku yang ia tempati dan menundukan kepala untuk melihat isi didalam kolong mejanya.


"Ada nggak, Ra?" tanya Kani begitu sampai didalam kelas.


"Nggak ada, Kan." Jawab Rira kecewa.


"Coba kamu inget - inget lagi terakhir kamu pakai tempat pensil kamu itu dimana." Ujar Kani yang membuat Serira kembali berfikir keras.


"Waktu itu aku sempet belajar di rumah, eh nggak - nggak. Waktu pas kita mau manggil bu Tini tuh kan tempat pensil aku nggak ada ya, waktu itu aku inget ada di.., hmm.., emm.., oh! Di kak Reo, Kan! Ia di kak Reo!" seru Serira yang baru saja mengingat keberadaan tempat pensilnya.


"Kenapa bisa disana?" tanya Kani.


"Waktu itu aku belajar bareng sama kak Reo soalnya kak Reo juga mau ngulang pelajaran kelas sepuluh, nah disana kita pake peralatan tulis dari aku soalnya kak Reo cuman punya satu pulpen." Jelas Serira yang langsung diterima baik oleh Kani.


"Yaudah kalau gitu kita ke rumahnya sekarang." Ajak Kani membalikan tubuhnya.


"Yaudah aku kabarin dulu kak Reonya." Ucap Serira sambil membuka ponselnya.


"Eh, nggak usah Ra. Kamu kan udah lama nggak ketemu dia mending kasih suprise." Ujar Kani yang langsung disetujui oleh Serira.


"Oke kalau gitu kita beli kue dulu buat kak Reo." Balas Rira berjalan menghampiri Kani.


"Dia kan nggak ulang tahun, Ra." Ucap Kani.


"Nggak papa, Kan. Kak Reo kan suka kue." Jelas Serira mengetik pesan ke ponselnya.


"Yaudah deh, terserah kamu aja."


"Jadi sekarang ke toko kue kamu dulu?" tanya Kani, Serira mengangguk semangat.


"Oke."


^^^


"Jangan dulu diganggu, Sel. Reo pasti masih capek, biarin dulu istirahat sebentar." Jelas Rio ketika Gisel ingin menghampiri Reo yang sedang beristirahat di kamarnya.


"Iya, yaudah aku mau tunggu di kamar aku aja." Ketus Gisel dengan kecewa.


"Nah gitu dong." 


Rio duduk tenang di sofa ruang keluarga sambil menyalakan televisi yang berada dihadapannya itu.


"Aku ke kamar dulu ya Rio." Pamit Gisel.


"Iya, Sel." Jawab Rio sambil mengganti saluran tvnya.


Gisel pun berjalan menaiki tangga dan masuk kedalam kamarnya yang terletak tak jauh dari kamar Reo.


Beberapa puluh menit berlalu, Rio hanyut dalam kesenangannya sampai tidak menyadari ada seseorang yang terus - menerus memencet bel rumahnya.


"Telepon aja kak Reonya ya, Kan." Ucap Serira yang sudah tidak sabaran.


"Jangan ke kak Reonya dong, Ra, ketahuan dong. Ke kak Rio aja." Ujar Kani yang langsung dituruti oleh Serira.

__ADS_1


Ia menekan nomor Rio dan menghubunginya. Tak lama telepon pun tersambung dan Serira mengawali pembicaraannya.


"Hallo kak Rio." 


"Eh, iya Ra kenapa?" tanya Rio dari sebrang.


"Ini Kak, aku sama Kani ada didepan rumah mau ketemu kak Reo. Tapi kak Rio jangan bilang - bilang sama kak Reo kalau aku ke rumah." Jawab Serira sambil memberi perintah.


"Oh, didepan. Maaf - maaf nggak kedengeran, kakak kesana sekarang." Balas Rio yang langsung memutuskan sambungannya.


"Udah, kak Rio otw kesini." Ucap Serira, Kani mengacungkan jempolnya.


Tak lama dari itu, Rio membuka gerbang rumahnya dan langsung melihat keberadaan kedua wanita yang tersenyum kearahnya.


"Aduh maaf ya, tadi belnya nggak kedengeran." Ucap Rio.


"Nggak papa kok, Kak, nggak lama juga." Balas Kani.


"Yaudah sini pada masuk." Ajak Rio, Serira dengan Kani pun memasukin rumah Rio.


Mereka berjalan masuk ke ruang keluarga dan duduk di sofa yang sebelumnya Rio dudukan itu.


"Bawa apa, Ra?" tanya Rio yang melihat Serira membuka bungkusan yang ia bawa.


"Kue, Kak." Jawab Rira.


"Owh, pindahin nih ke piring ini." Ucap Rio memberikan piring yang kebetulan berada di meja ruang keluarganya itu.


"Beda ya udah punya pacar mah." Nyinyir Kani membuat Serira sedikit menjadi malu.


"Kak Reonya ada di kamarkan, Kak?" tanya Serira sambil membawa kue di tangannya.


"Iya, dari tadi dia belum keluar. Mungkin aja masih istirahat sekedar rebahan didalem kamarnya." Jawab Rio ramah.


"Oke, Kak, kalau gitu aku ke kamarnya dulu." Pamit Serira yang langsung diberi izin oleh Rio dan Kani.


Serira meninggalkan mereka yang akan bersiap - siap untuk menggosipkannya.


"Baiknya gue punya kakak ipar." Ucap Rio sambil melihat kepergian Serira.


"Baik kan temen gue." Ucap Kani membanggakan Serira yang dibalas tawa kecil dari Rio.


Serira mengembangkan senyumnya sambil mengatur deru nafas saat ia sudah tiba didepan kamar Reo.


Ia sedikit merapihkan penampilannya dengan pelan - pelan agar kue yang ia genggam tidak terjatuh.


Saat semuanya selesai dan nyawanya juga sudah berkumpul, Serira membuka pintu kamar Reo dengan sangat lebar dan memberi ucapan.


"Selamat selesai ujian kak Re--"


Reo langsung melirik kearah pintu kamarnya dan terbelak kaget ketika mendapati Serira yang sedang menatapnya sambil membawa kue di tangan kanannya.


Prak.


Piring berisikan kue yang Serira bawa itu jatuh dengan sendirinya kebawah membuat Gisel yang berada didalam dekapan Reo pun ikut melihat kearahnya.


"Rira." Panggil Reo yang masih belum berubah dari posisinya.

__ADS_1


Serira menjauhkan dirinya dari kamar Reo dengan air mata yang sudah jatuh deras di pipi putihnya.


"Rira!!" 


__ADS_2