Cold Boy

Cold Boy
Enam Puluh Enam


__ADS_3

"Gue milih permintaan ibu gue." Tegas Reo membuat semua tercenggang sendiri.


Mereka tahu kalau Reo kini telah berbohong kepada hatinya sendiri. Namun apa yang bisa mereka buat, mungkin mereka hanya akan memberi kesempatan sendiri untuk Reo agar bisa berpikir sendiri.


"Re, ayo kita mulai pengajiannya." Ucap Putra menghampiri anaknya yang sedang berkumpul bersama teman-temannya itu.


Reo mengangguk lalu bangkit dari duduknya dan berjalan menuju ruang yang sudah diisi oleh banyak tamu.


Teman-temannya tidak menunggu apapun. Mereka memilih untuk menyusul Reo dan duduk tenang sambil mengikuti untuk melantunkan ayat suci al-Qur'an.


^^^


Pengajian telah selesai dilaksanakan.


Serira beserta Kani ikut membantu Ririn dengan ibunya dan ibu Kani untuk membereskan segala perlengkapan yang telah mereka pakai.


Serira dengan Kani bertugas untuk mencuci piring-piring, sedangkan Ririn dengan ibu-ibu menyapu ngepel di ruang yang telah dipakai.


"Kamu yang sabunin aku yang bilas." Ujar Kani mengajak untuk bekerja sama.


Serira mengangguk semangat lalu melakukan tugas seperti arahan Kani.


Mereka berdua terhanyut dalam dunia mereka. 


Mengobrol, menggosip, bercurhat, semua mereka rundingkan sambil mencuci piring.


Sesampai mereka tidak menyadari ada pemilik rumah yang datang tanpa diundang.


Reo memperhatikan kedua gadis yang sedang bersama itu.


Ia berniat untuk membawa segelas air putih untuk menghilangkan rasa hausnya, namun langsung ia urungkan begitu ia melihat ada Serira disana.


Reo memutar arah jalannya menuju kolam renang dan mendapati Ririn disana yang sedang menjemurkan karpet.


Reo melirik ke arah lain untuk memastikan bahwa hanya ada mereka disana.


Saat merasa sudah aman, ia pun menghampiri Ririn.


Reo tak langsung menyapa, melainkan memperhatikannya terlebih dahulu sampai Ririn sendiri yang menyadari ada kehadiran seseorang selain dirinya disana.


"Kenapa?" tanya Ririn mengintrupsi keberadaan Reo yang tidak diundang sama sekali.


"Gue mau ngomong soal permintaan ibu gue." Jawab Reo, Ririn mengalihkan pandangannya.


"Gue nggak maksa, tapi gue sangat berterima kasih kalau lo mau ngabulin permintaan beliau." Ujar Reo dengan sejelas-jelasnnya.


Ririn menghela nafas berat lalu melirik kembali ke arah Reo.


"Justru gue yang nggak maksa, Re." Balas Ririn, Reo mengerutkan dahinya heran.

__ADS_1


"Gue nggak terpaksa." Jelas Reo.


"Itu cuman apa kata logika lo. Lo nggak dengerin apa kata hati lo yang sebenarnya.


Ibu lo kayak gini juga pasti karena dia punya alasan. Alasan dimana posisinya dia nggak tahu kalau lo masih ada rasa sama Serira, gitu kan?" balas Ririn kembali mengelak jawaban Reo.


Reo menghembuskan nafasnya pelan.


"Gue udah nggak punya rasa apa-apa lagi sama dia. Sekarang fokus gue cuman lo, kalau lo nggak setuju it's fine, gue nggak bakal nikah." Jawab Reo kembali dengan penuh keyakinan.


Ririn yang mendengarnya hanya bisa menghela nafas sambil memijat pelipisnya.


"Waktu sampai beres UN, lo bisa putusin keputusan ini selama UN berlangsung." Ujar Ririn yang langsung meninggalkan Reo tanpa memperdulikan apapun.


Reo yang mendengar ucapan Ririn hanya menerimanya dengan diam sambil berpikir bahwa ia tidak perlu berpikir panjang lagi karena ia sudah membulatkan keputusannya tersebut.


Serasa sudah tidak ada kepentingan, Reo membalikan badannya untuk kembali kedalam rumah atau mungkin berdiam diri didalam kamarnya.


Namun ketika ia hendak melangkah, langkahnya terhenti ketika melihat Serira sedang berdiri diambang pintu dengan tatapan datar ke arahnya.


Reo sempat dibuat bingung namun akhirnya dia melanjutkan langkahnya.


"Kak Reo bakal nikah sama kak Ririn?" tanya Serira begitu Reo sudah ada didekatnya.


Reo terhenti saat mendengar pertanyaan itu. 


"Iya." Jawabnya datar tanpa melirik ataupun membalikan badan.


"Karena keinginan gue." Jelas Reo yang langsung pergi dari sana tanpa memperdulikan Serira yang kini sudah terisak ditempat.


Air mata sebelah kanan mengalir terlebih dahulu dibanding sebelah kiri, menandakan bahwa ia sedang menangis kecewa dengan ke adaan yang menimpanya.


Ia begitu tak menyangka bahwa semua ini bisa terjadi pada dirinya. Orang yang dia cintai itu justru akan menikah dengan wanita lain yang artinya sudah tidak akan pernah bersama dengannya lagi.


Ia menepuk-tepuk dadanya yang terasa nyeri.


Ia juga mengeluarkan segala tangisannya dan merasa tak perduli jika ada yang melihatnnya sekarang ini.


Serira menatap ke arah langit yang tengah turun hujan. Seperti mengekspresikan keadaannya saat itu membuat Serira makin hanyut kedalam kesedihannya.


Ia melangkah masuk kedalam rintikan deras hujan. Membasahi kerudung serta gamis yang sedang ia pakai saat itu.


Ia memejamkan matanya lalu menenggakan kepala agar rintikan itu bisa membasuh wajah sedihnya dengan kebahagiaan semata.


Mungkin inilah yang harus ia dapatkan, meninggalkan akan ditinggalkan. Maka dari itu, lebih baik dirinya bertahan dalam kesakitan untuk sementara waktu dari pada harus mendapatkan kesakitan itu untuk selamanya.


Selama masih bisa mendengar, tidak ada salahnya untuk mendengar. Selama masih ada hati untuk memaafkan, semua itu tidak salah untuk dilakukan.


Pertahankan sampai akhir, jika merasa sudah diakhir namun tetap saja tidak bahagia, lepaskan biarkan dia pergi sendiri.

__ADS_1


Kita tidak bisa membawa apa yang bukan milik kita. 


Maka dari itu, ikhlaskan semua yang telah terjadi karena sesungguhnya ini adalah kehendak tuhan yang terbaik.


^^^


Reo baru saja selesai membersihkan dirinya dari keringah yang telah mengumpul deras di tubuhnya.


Ia melihat ke arah kasurnya yang seperti ada sesuatu disana.


Reo menghampirinya dan melihat jelas bahwa adik bungsunya, Ria, kini sedang tertidur lelap di ranjang besarnya.


Reo melirik kekanan dan kiri mencari seseorang yang mungkin ada di ruangan itu namun nihil, tak ada seorang pun disana.


Ia naik ke atas kasurnya dengan perlahan dan mendekatkan dirinya dengan seorang bayi yang sangat terlihat tenang itu.


Ia mengelus pelan kepala kecil Ria dengan ekspresi yang datar.


Antara rasa benci dan kasih sayang, namun sesuai firasatnya dahulu ia tidak ingin memiliki seorang adik kembali.


Namun ternyata, ibunya lebih memilih meninggalkan mereka dan menggantinya dengan Ria.


Entah bagaimana besarnya nanti bayi yang sedang ia elus itu, tapi sesuai amanah ibunya ia harus menjaganya sampai ia dijaga oleh orang lain.


"Lo satu-satunya kenangan dari mama, jangan pergi tanpa pamit lagi." Ucap Reo berbisik.


Ia pun mengecup dahi bayi tersebut yang tentunya secara perlahan dengan penuh perasaan.


"Nurut sama gue ya, gue bakal jagain lo baik-baik." Sambungnya kembali yang kini mengelus kembali kepala Ria yang masih terdapat rambut halus.


Tok tok tok


"Re," panggil Rio ketika membuka pintu kamar Reo, Reo pun melirik ke arah tersebut.


"Kenapa?" tanya Reo.


Rio memasuki kamar Reo dan melihat kalau adiknya kini sedang dibelai oleh Reo.


"Huh, gue kira lo mau makan Ria." Ucap Rio khawatir, Reo memutarkannya matanya malas.


"Gue tadi nitip Ria disini soalnya kamar gue lagi dipake sama para ciwi." Jelas Rio ikut naik ke atas kasur Reo dan hendak membawa Ria dari sana.


"Mau apa?" tebas Reo memeluk adik bungsunya.


"Mau bawa Ria lah." Jawab Rio yang sudah jelas.


"Ria malam ini sama gue, lo keluar sana." Titah Reo, Rio memutar matanya malas.


"Dia belum mandi, tante Camila mau mandiin dia bareng-bareng sama Albi." Jelas Rio, Reo bangkit dari tidurannya lalu dengan hati-hati menggendong Ria.

__ADS_1


"Gue juga mau belajar ngemandiin dia." Ucap Reo, Rio tersenyum senang.


"Yaudah kuy!" seru Rio berjalan keluar kamar Reo terlebih dahulu.


__ADS_2