Cold Boy

Cold Boy
Empat Belas


__ADS_3

Serira terkejut dengan teriakan yang berasal dari Leo. Serira mendengar suara motor yang berhenti dibelakangnya, Serira dan Kani pun melirik ke belakang. Lalu terdiam membeku ditempat.


"Re! Parah lo!" teriak Leo, Serira mengerutkan dahi.


"Nggak bakal gue tabrak!" balas Reo.


"Terus lo mau apa?" tanya Leo sedikit menyentak.


"Tanggung jawab." Jawab Reo sambil melirik dan menatap ke arah Serira. Dengan secepat kilat, wajah Serira kembali memerah saking malunya.


"Tanggung jawab apa? Lo ngamilin ad-"


"Bacot! Diem lo!" sentak Reo memberi tatapan tajam kepada Leo membuat Leo terdiam.


Reo kembali menatap Serira dan memberi kode agar Serira naik ke motor besar yang sedang Reo tumpaki itu.


Serira melirik ke arah Kani yang dibalas anggukan. Serira menelan salivanya susah payah lalu berjalan perlahan menaiki motor Reo.


Tidak mungkin semua orang diam! Mereka semua langsung menggosipi Serira dan juga ada yang merekam! Serira hanyan menunduk malu sambil menutup wajahnya menggunakan tangan.


Tidak lama dari itu, motor melaju cepat ke arah yang benar.


~~


Diperjalanan Serira dan Reo hanya saling terdiam. Membelah jalanan dan angin berhembus pun sudah cukup untuk mereka melewati perjalanan itu.


Sekitar lima belas menit mereka menempuh perjalanan sejauh lima kilo meter. Biasanya Serira bisa sampai setengah jam jika naik angkot, namun itu hanya lima belas menit. Keahlian Reo bermain motor memang hebat!


Serira turun perlahan dari motor Reo yang masih terdiam.


"Sekarang lo satu rumah sama Leo?" tanya Reo ketika membuka helmnya. Serira mengangguk.


"Jarang bareng sama dia?" tanya Reo kembali, Serira menggeleng.


"Kak Leo nganterin pacarnya dulu baru pulang." Jawab Serira dengan senyum ramah. Reo mengangguk dan hendak memakai helmnya.


"Eh ada tamu?" ucap seseorang tiba-tiba yang membuat aktivitas Reo terhenti.


"Ini temen aku Bi, Kak Reo." Ucap Serira memperkenalkan Reo.


Reo menyimpan helmnya lalu turun dari motor. Mengulurkan tangannya untuk bersalaman dengan Sania, adik mama Serira.


Sania mengulurkan tangannya juga dan disalami oleh Reo.


"Masuk dulu Reo, bibi udah masak buat makan. Tapi si Leo malah makan di luar. Yuk makan yuk!" ajak Sania sambil menarik tangan Reo pelan.


"Nggak usah Tante, saya makan di rumah aja." Tolak Reo lembut.


"Nggak boleh nolak! Cepet ayo!" seru Sania dan langsung menarik Reo untuk masuk kedalam rumah.


~~


Mereka duduk berempat di meja makan. Serira, Reo, Sania, dan sepupu Serira yang masih berusia lima tahun, Nesie.


Ntah keheningan yang tercipta sekarang, cara makan Reo itu memang benar-benar anggun!


Dari adat sendok yang nyamperin bukan mulut, duduk tegak tanpa menyandar tangan ke meja, dan suara mulut yang tidak terdengar sama sekali.


Sania menyenggol tangan Serira dan berbisik.


"Dia turunan bangsawan?"

__ADS_1


Ohiya! Aku baru teringat kalau Kak Reo adalah seorang pangeran dari keluarga bangsawan!


Serira mengangguk untuk menjawab pertanyaan Sania. Sania ikut mengengguk mengerti lalu melanjutkan makannya.


Setelah selesai makan, mereka semua tidak langsung meninggalkan meja makan namun berbincang dulu sebentar.


"Bibi baru tahu kamu anak bangsawan Reo." Ucap Sania membuka pembicaraan.


Reo tersenyum.


"Gimana kehidupan bangsawan? Seru?" tanya Sania.


"Lebih rumit dari hidup biasa Tante. Mungkin lebih enak hidup miskin."


Serira dan Sania langsung terbelak kaget dengan jawaban Reo. Hidup miskin? Mana ada yang mau!


"Kamu ini gimana Reo! Orang pengen kaya kok kamu malah mau miskin."


"Kalau memeang nggak ada kesirikkan antara keluarganya dalam harta, Reo nggak keberatan."


Benar! Kehidupan orang kaya memang seperti itu.


Berebut warisan untuk membahagiakan hidupnya. Mungkin jika miskin, tak ada hal yang perlu direbutkan.


"Oh, Bibi mengerti. Kamu-"


"San? Ada tamu?"


Mereka semua yang sedang di meja makan langsung melirik kebelakang melihat ke arah sumber suara yang baru saja ada itu.


"Iya Nay, kayaknya calon mantu kamu," jawab Sania yang langsung mendapat pelototan dari Serira.


Reo tersenyum lalu mengangguk.


Naya menghampiri Rei.


"Oh, ini calon menantu mama?"


~~


"Makasih tante atas makanannya. Maaf nggak bisa terlalu lama." Ucap Reo setelah selesai menyalami Naya dan Sania.


"Nggak kok Reo, kapan-kapan ke sini lagi ya."


Reo mengangguk dan langsung menaiki motor. Memekai helm dan melirik ke arah Serira.


Serira melambaikan tangannya sambil tersenyum ke arah Reo.


*Deg.


Kenapa gue suka senyumnya ya*?


Reo menangkis semua fikiran buruk dan langsung menacap gas saat itu juga.


Di perjalanan, ia merasa jantungnya terus ngedetak saat ia mengingat senyuman Serira tadi. Reo menggelengkan kepala untuk menyadarkan diri sendiri bahwa yang ia fikirkan itu salah.


Jarak rumah Reo rupanya tidak terlalu jauh dari rumah Serira. Cukup enam kilo meter, Reo sampai dalam waktu sepuluh menit.


Sebenernya jika Reo sendiri, jalan ke mana-mana itu pasti akan cepat. Karena jika ia kecelakaan


yang pastinya hanya ia yang terluka. Tapi jika ia membawa seseorang, sepertinya agak takut jika disuruh tanggung jawab.

__ADS_1


Reo turun dari motor setelah sampai di halaman rumah. Tidak lupa juga melepas helm. Reo melihat ada banyak mobil yang terparkir di halaman rumahnya, mungkin teman-teman Putra berkumpul lagi.


Reo melangkah kan kakinya masuk ke rumah dan benar saja, baru sampai di ruang tamu sudah banyak bapak-bapak yang berdiskusi ria.


"Assalammu'alaikum."


"Wa'alaikumsalam. Wah! Reo sini!" seru Farel sambil melambaikan tangannya.


Reo mengangguk dan berjalan menghampirinya. Menyalami satu-satu tangan mereka dan duduk disebelah Farel.


"Ohiya gue mau ngasih tahu, *****!" seru Farel.


"Ngasih tahu apa-an?" tanya Putra.


"Si Camila hamil lagi!" seru Farel.


"Aduh-aduh! Ini Muhtaz rajin amat!" balas Jeri.


"Lo nggak liat Putra? Dia udah mau tiga anak juga." Bela Muhtaz.


"Gue tiga dalam dua kali coba. Lo dua dalam seribu kali coba kan?" tanya Putra.


"Aduh! Ganas amat Pak Muhtaz ini!" tambal Farel.


"Dari pada lo! Nggak nyoba sama sekali!"


Reo hanya diam dengan pembahasan yang bapak-bapak obrolkan itu. Sejauh ini ia tidak mengerti, sebenernya apa yang lagi mereka bicarakan itu.


"Ck! Cot amat ah! Ada anak kecil juga." Sentak Farel.


"Biarin, pelajaran! Iya nggak Put?" tanya Jeri. Putra mengangguk.


"Kamu dah ngerti kan, Re?" tanya Farel kepada Reo, Reo mengerutkan dahi.


"Ngerti apa, om?" tanya Reo balik.


"Sanggama?"


"Ck! Frontal amat lo! Ketahuan emaknya entar!" Jeri mendorong pelan kepala Farel.


"Sanggama itu apa?" tanya Reo kembali.


Hening.


Setelah pertanyaan itu keluar dari mulut Reo, semua om-om yang ada di sana langsung terdiam menatap lekat Reo.


"Gimana gue punya cucu kalau gini, Put?" tanya Muntaz.


"Itu loh, Re! Yang suka di mimpi basah!" jawab Jeri. Reo mengerutkan dahi sambil sedikit geli. "Ciuman?"


Semua langsung memalingkan wajah dari Reo dan berusaha menenangkan diri.


"Ajarin, Put! Lo kan ahlinya!" seru Farel.


"Jeri aja, istrinya dokter." Jawab Putra.


"Lah, iya, dia kan di jodohin sama dokter? Udah lah! Entar juga di ajarin istrinya." Ucap Jeri.


"Masa cewek yang ngajarin sih! Enggak banget!"


"Ajarin sekarang aja." Muhtaz angkat bicara. "Re.., sanggama itu..."

__ADS_1


__ADS_2