
“Eh,bapak – bapak salah paham! Saya ini kakak dia, saya mau paksa dia buat pulang nggak sekolah soalnya dianya lagi sakit, tapi dianya nggak mau dan maksain diri buat sekolah.” Jelas Kak Leo yang meluruskan salah paham ini.
“Owh, bapak kira kamu mau nyulik.” Ucap salah satu bapak.
“Iya, untungnya bukan.” Sambung bapak satunya lagi.
“Yaudah, kita duluan ya, Dek. Neng, jangan maksain diri kalau sakit. Di rumah aja.” Pamit bapak pertama sambil menyuruhku istirahat. Aku hanya menanggapinya dengan anggukan dan senyuman.
Setelah kedua bapak – bapak itu pergi, aku menatap Kak Leo yang sudah memasang muka kasihan padaku.
“Kak! Mukanya jangan gitu dong! Ngerendahin tau!”
“Ya Allah, ngerendahin dari mananya, Rira. Gue cuman kasian sama lo.” Jelas Kak Leo membuatku makin kesal.
“Ih! Kakak! Aku tuh nggak mau di kasihanin!!” Sentakku.
"Trus? Lo maunya di apain? Lo kan emang posisinya harus di kasihanin." Balas Kak Leo dengan polosnya.
Aku memutarkan mata malas sambil berdengus kesal.
"Kakak mau nganter aku kemana sekarang? Sekolah? Rumah? Apa tempat gelut?!"
"Lo mau gelut?"
"Ck! Aku pulang sendiri!" aku hendak berjalan melewati Kak Leo namun langsung di tahan olehnya.
"Iya, ayok gue anter. Sensi banget ya ampun." Ucap Kak Leo mengelus pelan rambutku.
Kak Leo menaiki motornya dan memasang helm di kepalanya. Aku ikut naik ketika Kak Leo sudah menyalakan mesin motor.
Tak lama dari itu, Kak Leo melajukan motornya kembali menuju rumah kami.
^^^
"Rio!!"
Sang pemilik nama langsung bangkit dari duduknya dan tersenyum ke arah sang ibu yang datang menghampirinya.
"Gimana keadaan Reo?!" tanya Jessica setelah berada di depan Rio.
"Mama bakal jadi orang pertama yang tau keadaan kakak." Jawab Rio.
"Hah?"
"Rio belum masuk ruangannya, Mah. Mama masuk aja dan mastiin sendiri." Jawab Rio dengan lebih jelas.
"Kamu belum masuk?" tanya Jessica kembali memastikan.
__ADS_1
"Iya ,Ma. Rio belum masuk ruangan."
"Kamu kok belum masuk ruangan sih?! Nanti kalau Reo butuh sesuatu gimana?!" sentak Jessica tepat di depan muka Rio.
Rio hanya diam memejamkan matanya sambil mengatur nafas yang sedikit tak karuan.
"Gimana sih! Adik nggak guna banget kamu!"
Jessica langsung masuk ke dalam ruangan tanpa memperdulikan efek dari perlakuannya itu kepada anak kedua nya.
Ia berjalan mendekati kasur yang berisi Reo dengan seprai putih bersih.
"Mah." Panggil Reo. Jessica tersenyum gemetar melihat keadaan sang anak tercinta.
"Reo..,"
Reo merentangkan tangannya dengan pertanda kalau dia ingin di peluk.
Tanpa ada jeda, Jessica langsung datang mendekap Reo dengan isakan tangis yang sudah pecah.
"Ma, jangan nangis." Ucap Reo sambil mengelus pundak ibunya.
"Mama khawatir sama kamu, Reo. Mama takut kamu kenapa - napa." Jawab Jessica dengan isakkan tangis.
"Mama liatkan sekarang? Reo baik - baik aja." Jelas Reo sambil menunjukkan badannya.
"Itu cuman luka kecil, Ma." Ucap Reo.
"Kecil apa! Patah tulang itu, Reo!" seru Jessica.
"Kan cuman patah, Ma. Nggak copot." Balas Reo.
"Ck, nggak ada bedanya kamu sama bapak kamu." Ucap Jessica mengalah.
"Kan emang fakta?"
"Iya, iya fakta. Kamu udah minum obat dari dokter?" tanya Jessica, Reo menggelengkan kepalanya.
"Minum dulu dong, Sayang." Perintah Jessica.
"Obatnya aja nggak ada, Ma. Gimana mau minum.
"Oh belum ada? Bentar bunda suruh adik kamu buat beli obat dulu." Ucap Jessica yang di balas anggukan.
Jessica keluar dari ruangannya lalu menyuruh Rio untuk membeli obat.
Rio yang baru saja selesai dengan memainkan hpnya, langsung bergegas ke apotek untung mencari obat yang harus di beli.
__ADS_1
Setelah menyuruh Rio, Jessica langsung kembali ke ruangan Reo.
Reo
"Tante Bianca sama tante Camila mau kesini. Mungkin agak siangan atau sore sekalian
sama Ririn." Ucap mama sambil ngebuka plastik warp di piring yang berisi makanan dari rumah sakit ini.
"Nggak kecepetan?" tanya gue yang merasa belum enakkan sama sekali.
"Kecepetan apa?" tanya balik mama.
"Reo kan beres operasi, nggak bisa gitu istirahat dua sampai tiga hari nggak ada yang ngelongok gitu." Jelas gue. Mama diem sambil nyiapin makanan gue.
"Ma..,"
"Telat Reo. Mereka udah di jalan."
Mama langsung pergi ke wc buat cuci tangan dan sibuk nyiapin makanan gue.
"Ma.., katanya kesininya nanti siang atau sore?" tanya gue memastikan.
"Tadi mama di kabarin kalo mereka otw sekarang." Jawab mama yang dari tadi gue liat nggak megang hp sama sekali.
"Bisa gitu, Ma?"
"Bisa dong! Ini bisa buktinya." Jawab mama.
Gue menggelengkan kepala sambil sedikit terkekeh dengan tingkah mama.
Mama menyodorkan sesendok bubur dengan tahu. Gue melahapnya pelan dan terukirlah senyuman di wajah mama.
"Reo gitu aja mama seneng ya?" tanya gue.
"Seneng banget. Mama bersyukur kamu nggak kenapa - napa, Reo. Mama udah khawatir banget kalau sampai kamu kenapa - napa." Jawab mama, gue tersenyum.
"Reo juga seneng bisa punya mama yang sayang banget sama Reo." Balas gue yang buat mata mama berkaca - kaca.
"Mama jangan nangis."
"Hah.., nggak Reo. Mama nggak nangis," jawab mama sambil ngelap air matanya.
"Nggak nangis tapi menangis?"
Mama tertawa pelan sambil mengelap air matanya.
"Jangan pernah tinggalin mama ya, Reo." Pinta mama, gue tersenyum.
__ADS_1
"Gak akan pernah Reo ninggalin mama. Seumur hidup sampai mati."