Cold Boy

Cold Boy
Empat Puluh Lima


__ADS_3

Satu bulan kemudian.


“Kaki kak Reo beneran udah bisa jalan?” tanya Rira sambil melihat gerak gerik Reo yang mulai berjalan tanpa tongkat seperti sebelumnya.


“Udah, Ra. Ini buktinya gue bisa jalan.” Jawab Reo meyakinkan.


“Tapi jalan kakak belum lancar, aku pegangin ya?” tawar Rira sambil merangkul lengan Reo.


Reo terkekeh sambil melihat Rira.


“Bilang aja mau gandengan.” Godanya membuat muka Rira sedikit memerah.


“Ih, nggak gitu, Kak. Aku cuman mau jaga kak Reo. Kalau kakak keseleo gimana? Aku nunggu sebulan lagi dong buat jalan – jalan kayak gini lagi sama kak Reo.” Ujar Rira sambil memanyunkan bibirnya.


Reo yang gemas melihatnya langsung mencubit pelan hidung Serira.


“Gue bisa seimbangin diri, Ra. Lo tenang aja.” Ucap Reo meyakinkan Rira.


“Yaudah kalo gitu nggak usah aku pegang ya.” Rira hendak melepaskan pegangannya kepada Reo namun buru – buru Reo mengambilnya kembali.


“Nggak usah di lepas, gue udah nyaman.”


Serira langsung menundukan kepalanya malu agar Reo tidak bisa melihat muka Rira yang sebenarnya sudah seperti kepiting rebus.


“Besok gue udah bisa sekolah lagi, jadi lo nggak usah repot – repot jengukin gue terus.” Jelas Reo, Rira pun mengangguk paham.


“Berarti kak Reo udah harus ikutan try out dong?” tanya Rira, Reo mengangguk.


“Baru juga masuk.”


“Gue udah belajar kok, lo nggak usah khawatir.” Ujar Reo.


“Pada dasarnya kan kakak pinter, nggak usah belajar juga kayaknya bisa.” Ucap Rira asal.


“Iya juga ya, ngapain gue belajar.” Reo berfikir keras.


“Ih, jangan di anggep serius lah, Kak, aku kan cuman bercanda.” Sambungnya Rira, Reo tertawa lepas.


“Lo juga mau uas kan?” tanya balik Reo, Rira mengangguk lemas.


“Kok nggak semangat?” tanya kembali Reo.


“Ya.., abis gimana ya. Ada beberapa pelajaran ips yang nggak aku ngerti. Karena pada dasarnya, aku masuk ipa itu buat ngindarin pelajaran ips, eh ipsnya malah jadi lintas minat.” Keluh Rira dengan kecewa.


Reo terkekeh sambil mengacak – acak rambut Rira gemas.


“Itu biar lo nggak ngestak di satu jurusan makanya di ajarin juga di berbagai jurusan." Jelas Reo membuat Rira sedikit mengerti kepada tujuan pembelajaran itu. "Kalo lo mau, gue ajarin yang susahnya." Tawar Reo.


Rira langsung menatap Reo tak percaya.


"Kenapa?"


"Kakak beneran mau ngajarin aku pelajaran yang aku nggak bisa?" tanya ulang Rira memastikan. Reo pun mengangguk dengan penuh percaya diri.

__ADS_1


"Beneran kakak mau?"


"Iya, Rira. Gue ajarin lo sampai bisa." Jawab Reo lebih tegas.


"Tapi kan kakak juga harus belajar buat un." Ucap Rira yang memperkirakan waktu.


"Un kan nggak semua pelajaran di bawa, Ra. Cuman sebagian aja. Gue juga nggak seharian penuh belajar. Lagian pas sama lo gue juga bisa sambil ngulang pelajaran kelas sepuluh." Jelas Reo panjang lebar. Rira pun ber oh ria sambil menganggukan kepalanya pelan.


"Duduk dulu ya, Kak, kita istirahat sebentar." Ucap Rira sambil menuntun Reo berjalan menuju kursi taman.


"Aku beliin es krim ya buat kak Reo."


Reo mengangguk lalu mengodok pesaknya dan mengeluarkan dompet. Ia mengeluarkan beberapa lembar uang dan memberikannya kepada Serira.


"Ini untuk apa?" tanya Rira begitu menerima uangnya.


"Buat lo beli es krim." Jawab Reo tenang.


"Nggak usah, Kak, pake uang aku aja." Ucap Rira sambil berusaha mengembalikan uang Reo.


"Ada ya cewek traktir cowok?" tanya Reo sambil menyinyir. Rira mendengus kesal.


"Yaudah kalo gitu aku beli dulu." Ucap Rira sambil pergi menuju salah satu tukang es krim.


Reo yang melihatnya hanya tertawa gemas. Dia bersyukur mempunyai pacar yang lucu seperti itu. Mungkin itu adalah salah satu cita - citanya dalam memiliki pasangan?


"Rira?" panggil seseorang ketika Rira sedang memilih es krim.


"Aku Lea, masa lupa?" ucap orang itu mengingatkan Rira.


"Oh.., Lea? Gimana kabarnya? Kok jarang liat?" tanya Rira sambil tersenyum ramah.


"Baik kok, Ra." Jawab Lea ramah.


"Kenapa jarang main lagi sama kak Leo?" tanya Rira kembali sambil mengambil beberapa es krim.


Lea tertawa kecut sambil membuang muka.


Rira yang melihatnya mengerutkan alis kebingungan. "Kenapa, Le?"


"Kita putus, Ra. Lo nggak tahu?"


Rira membelakan matanya terkejut dengan pernyataan yang baru saja Lea katakan.


"Kok putus?!"


"Ya, mungkin kakak lo bosen. Gue juga nggak tau pasti." Jelas Lea seperti tak niat menjelaskan.


"Ya ampun, aku nggak tau. Mungkin nanti aku bisa tanya ke kak Leo." Ujar Rira.


"Haha, nggak usah. Lo lagi apa di sini sendiri?" kini Lea yang bertanya kepada Serira.


"Oh, aku lagi jalan - jalan aja. Nggak sendiri kok sama kak Reo. Tuh." Jelas Rira sambil menunjuk keberadaan Reo yang juga sedang memperhatikan mereka.

__ADS_1


"Oh sama Reo."


"Iya nih, buat kamu." Ucap Rira sambil memberikan sebungkus eskrim corn rasa cokelat.


"Wah, makasih banyak Ra." Balas Lea.


"Sama - sama, Le. Ayok ikut duduk." Ajak Rira. Lea pun mengangguk dan mengikuti langkah Rira.


"Ini, Kak." Ucap Rira sambil memberikan es krim rasa vanila kepada Reo begitu dia sampai di hadapannya.


"Gimana, Re? Kaki lo dah mendingan?" tanya Lea sambil menyapa.


"Udah baik juga." Jawab Reo.


"Alhamdulillah, tapi masih sedikit kurang seimbang." Ucap Rira bantu menjawab.


"Iya deh, yang selalu ada di sisinya mah pasti yang lebih tahu." Ujar Lea sambil menggoda.


Rira tersenyum malu sambil menundukan kepalanya.


"Lo sendiri ke sini?" tanya Reo.


"Sama siapa lagi? Orang gue biasa sendiri." Jawab Lea sambil memakan es krimnya.


"Kok nggak ngajak temen?" kini Rira ikut bertanya.


"Nggak begitu deket. Mereka juga kadang sibuk sama pacar sendiri kalo di weekend." Jelas Lea, Rira ber oh ria sambil menganggukan kepalanya mengerti.


"Untung ketemu kita, jadi lo nggak sendiri." Ucap Reo.


"Iya, tapi gue jadi nyamuk."


"Eh nggak kok," ucap Rira meyakinkan.


"Tau jadi nyamuk masih diem."


Rira langsung menyenggol pelan lengan Reo yang menandakan kalo dia tidak boleh berucap seperti itu.


"Iya, gue pulang. Ra gue duluan ya, kayaknya nyokap gue juga udah nungguin." Pamit Lea sambil bangkit dari duduk nya.


"Oh, yaudah kalo gitu hati - hati di jalan ya, Le." Jawab Rira sambil tersenyum.


"Iya, Ra. Btw, thanks ya es krimnya. Gue pamit, bye."


"Bye." Balas Rira ketika Lea pergi dari hadapannya.


"Kok lo kasih dia juga, Ra?" tanya Reo.


"Kita harus berbagi, Kak. Apalagi sama orang yang lagi patah hati." Jelas Rira, Reo mengerutkan keningnya.


"Patah hati?"


"Iya, Lea sama kak Leo baru aja putus."

__ADS_1


__ADS_2