
“Kak!!”
Gue langsung tersadar dari lamunan gue. “Hm? Apa?”
“Lo kenapa sih?! Abis dari perkumpulan om – om itu, lo jadi seneng bengong?!” tanya Rio nyantak gue.
Gue natap Rio dengan serius.
“Lo tahu sanggama, Re?” tanya gue, Rio ngebelak matanya lebar – lebar.
“Lo ngapain tanya begituan ke gue?!”
“Ck! Jawab yang bener!”
“Eh.., iya – iya. Ya gue tahu lah! Pelajaran biologi kelas sebelas kemarin di ajarin. Eh.., bukan itu tapi. Kayaknya gue bukan tahu dari guru deh.., tapi dari..,”
Rio keliatan lagi mikir keras buat nyari tahu dari mana dia tahu ilmu itu. “Ririn! Waktu itu dia kasih gue novel yang ada itunya. Dia bilang gue wajar aja mengetahui itu, jadi ya gue baca aja.” Jelas Rio.
“Novel apa?” tanya gue kembali.
“Hm.., gue lupa. Tanya aja sendiri sama Ririn.” Jawab dia, gue langsung dorong kepala dia asal.
“Emang kenapa sih?! Lo belum tahu tentang itu?” tanya Rio santai. Gue mengangguk.
“HAH?! SERIUS LO BELUM TAHU CARANYA BEGITUAN?! GIMANA GUE PUNYA PONAKAN ENTAR?!”
“Ck! Nggak usah teriak juga! Bukan hal penting!” seru gue.
“YA JELAS PENTING LAH SAT! MAU JADI APA LO TANPA ILMU ITU?!”
“Ya, makanya lo tahu kasih tahu gue lah!”
“Dih, males! Gue aja mempelajarinya sendiri! Manja lo! Padahal kakak juga!” sentak Rio.
Gue berfikir sejenak.
“Lo bahas itu sama para om tadi?” tanya Rio, gue mengangguk.
Rio ngebenerin posisi duduknya di ranjang dan ngedeketin gue yang duduk di sofa deket ranjang.
“Apa katanya?”
“Om Muhtaz bilang itu hubungan suami istri yang harus dilakuin pas udah nikah.” Jawab gue seadanya. “Terus?”
“Terus apa? Cuman di jelasin segitu doang.”
“Ck! Nggak seru!” seru Rio kecewa.
“Emang itu ngapain?” tanya gue kembali.
“Ada lah pokoknya! Lo harus cari tahu sendiri biar lo bisa ngerasain kenikmatannya! Gue pergi, bye!” Rio langsung lari keluar dari kamar gue dan sengaja membanting pintu cukup keras.
“Ck! Punya adik nggak berguna!”
Gue mengeluarkan hp dari pesak gue dan membuka aplikasi google untuk memecahkan rasa penasaran gue.
__ADS_1
Gue tulis kata yang masih terngiang – ngiang di pikiran gue di kolom serch dan nggak lama muncul
penjelasan yang di suarakan.
“Menurut penelusuran yang anda telusuri, sanggama itu adalah...”
Serira
Aku keluar dari kamar mandi dengan rambut yang basah. Ohiya, kalau di rumah Ayah, aku memakai baju di dalam wc karena wc di sini lantainya kering.
Aku duduk di kursi meja rias dan sempat melihat beberapa skincare juga makeup yang sudah tersusun rapi di meja rias.
Aku juga membuka laci meja itu dan terdapat beberapa alat untuk menghias rambut.
Aku mengeluarkan hairdryer dan memakainya untuk mengeringkan rambutku agar lebih cepat. Sebenarnya ini pertama kalinya aku menggunakan alat ini. oleh karena itu, aku mencobanya dengan sangat hati – hati.
Setelah selesai menggunakan hairdryer, aku mencoba beberapa skincare yang terlihat komplit dan sangat mahal ini.
“Yang pertama itu apa ya? Toner apa serum ya? Ini apa? Moisturizer di pakenya setelah apa? Essence?” tanyaku kepada diri sendiri.
“Masker dulu gitu?”
Aku menyerah dengan bertanya sendiri. Akhirnya aku membuka hpku dan mensearching urutan skincare yang harus aku pakai terlabih dahulu.
Aku membacanya satu persatu dan mengangguk paham.
“Oh.., di umur aku yang masih lima belas tahun belum boleh pake serum dan essence ya? Cuman boleh pake facial wash, toner, moisturizer sama suncreen?”
“Bedak juga lebih bagus bedak bayi biar nggak terlalu berat. Hm.., selama ini aku malah pake bedak salisil.”
Aku menyimpan hpku dan mulai mencari toner yang terlebih dahulu di pakai setelah mencuci muka. Setelah toner menyerap, barulah memakai
Karena aku tidak akan keluar, jadi pastinya aku tidak menggunakan sunscreen.
Setelah kegiatan skincare ku selesai, aku langsung
merebahkan tubuh mungilku di kasur besar yang kini menjadi sahabat terbaikku.
Manarik selimut dan berusaha memejamkan mataku untuk melanjutkan kehidupan di kemudian hari.
~~
Reo
“Re, kamu bantuin mama pulang sekolah nanti ya?” tawar mama yang sedang sibuk mengaduk – aduk masakan yang ada di katel.
“Bantu apa, Ma?” tanya gue.
“Pulang sekolah nanti kamu beli kue ke toko yang waktu itu kamu beli pas mama lagi sakit! Ingetkan?” tanya mama, aku sempat mengerutkan kening dan tak lama mengingat kembali.
“Iya, Reo inget, Ma.” Jawab gue.
“Iya. Kamu beli kue rasa coklat dua kotak, terus anterin ke rumahnya Tante Camila ya!” perintah mama. Aku mengangguk sambil memotong bawang.
“Itu bawangnya di cincang loh, Re! Bukan di potong tipis gitu!” seru mama.
__ADS_1
“Kan biasanya juga Rio yang bantu, Ma, bukan Reo.” Jawab gue.
“Kan Rio nggak ada! Kamu ini masa nggak bisa berubah jadi dia sebentar aja!” seru mama sewot. Gue mengatur nafas tenang.
“Huh.., mama tuh bukannya benci ya, Re, sama adik kamu,” jelas mama. Gue mengangguk sambil membenari potongan bawang.
“Mama tuh cuman khawatir jadi apa dia entar kalo
ketergantungan sama orang mulu!”
“Tante Putri kapan main ke sini, Ma?” tanya gue.
“Ih!! Reo! Kamu denger curhatan mama nggak sih?!” sentak mama. Aku mengangguk.
“Denger, Ma. Reo kangen Tante Putri.” Sambung gue.
“Kamu nggak kangen Tante Helena?” tanya mama, aku menggeleng.
“Durhaka banget kamu jadi ponakan!”
“Ck! Bukan gitu, Ma! Setiap kali Reo nganter Tante Helena tuh selalu diaku jadi pacarnya! Mentang – mentang dia awet muda, jadi manfaatin Reo kalau dia ketemu temen sekolahnya!” jelas gue dengan kesal.
“Hahaha! Kamu itu kok baperan?! Tante Helena gitu nggak serius kok!”
“Iya nggak serius. Tapi pas udahnya ketahuan temen – temen dan mitnah Reo, kalau Reo suka janda. Padahal kan Tante Helena itu penganut jomblo!”
“Ck! Ngomong tuh nggak pernah di rem ya! Do`ain kek, Tante kamu biar dapet jodoh! Ini malah ngeledek dia penganut jomblo!” sentak mama.
“Ya emang bener juga, Tante Helena penganut jomblo! Buktinya, kalah sama Tante Putri yang udah punya anak.” Jelas gue kembali.
“Duh! Berantem mulu kapan jadinya makan! Re! Udah sini lo! Adanya lo di dapur bukan ngebantu, malah ngelamain! Sini lo sama gue!” seru Ayah tiba –
tiba datang dan nyuruh gue pergi dari sana.
Gue ngikut perintah Ayah yang udah jalan duluan menuju ruang keluarga.
Dia duduk di kursi sambil mencet remot buat ganti saluran tvnya. Gue duduk di sampingnya dan memperhatikan setiap sudut wajahnya.
“Kenapa?” tanya ayah. Gue menggeleng.
“Kok muka Ayah nggak ada keriput?” tanya gue. Ayah terkekeh.
“Lo nggak usah khawatir! Kita nggak punya turunan keriput.” Jawab ayah. “Kenapa?”
“Ya, kayak lo sekarang. Lo jarang ketawa kan?” tanya ayah, gue mengangguk.
“Nah iya, dari sana.”
Gue mengangguk seolah mengerti dengan penjelasan ayah. Nggak lama gue ngelirik lagi ke arah ayah.
“Yah, Reo mau nanya.”
Ayah menoleh. “Nanya apa? Cara sanggama?”
Gue langsung ngejauhin muka gue dari ayah dan menatap ayah dengan sedikit ketakutan.
__ADS_1
“Haha, dari tatapan lo kayaknya lo udah tahu ya?” tanya ayah kembali. Gue menghembuskan nafas dengan kasar.
“Kalau Reo sekarang pacaran, nggak masalah kan?”