Cold Boy

Cold Boy
Empat Puluh Tujuh


__ADS_3

Reo dan kawan - kawan kini telah selesai melakukan ujian try out.


Mereka memutuskan untuk menongkrong terlebih dahulu di warung langganan mereka untuk merefrsh kan otak.


"Gila, baru pelajaran Indonesia aja susahnya kayak ngerjain bahasa arab!" seru Tio yang notabennya tidak menyukai sastra.


"Ah, lo! Bahasa sendiri aja cupu!" ledek Exel.


"Emangnya nilai Indonesia lo seratus?! Gue liat paling besar juga empat puluh ya!" balas Tio sambil menunjuk Exel.


"Malah gelut, Nyet! ucap Johan meleraikan keduanya.


"Eh, besok pelajaran apa ya?" tanya Vans sambil membuka buku pelajaran yang kini ada di genggamannya.


Semua terperanjat kaget dengan apa yang baru saja Vans tanya kan dan lakukan saat ini.


Masa iya, seorang ketua komplotan tawuran bisa taubat menanyakan pelajaran yang sebelumnya tidak pernah ia pelajari sama sekali.


Vans menenggak karena kebingungan pertanyaannya tak kunjung di jawab. Ia keheranan karena temannya malah menatapnya dengan tatapan yang sulit di artikan.


"Apa sih lo pada?!" sentak Vans risih.


"Sejak kapan lo berubag?" tanya Johan yang tak menyangka perubahan teman lamanya itu.


"Mungkin.., sekitar sebulan yang lalu." Jawab Vans enteng.


"Apa aja perubahan yang lo lakukan?" sambung Tio bertanya.


"Solat lima waktu, solat ke mesjid, ngaji abis subuh sama magrib, bantu orang tua, ngurus adek bayi, ngerjain tugas, belajar pelajaran yang belum gue pelajari, ba--"


"Cukup Sob! Gue nggak tahan dengernya." Potong Exel.


"Kenapa lo bisa berubah tiba - tiba?" tanya Reo yang sendari tadi hanya menyimak.


Semua langsung menatap Vans penasaran seolah tak mau ketinggalan informasi yang benar - benar sangat berharga.


Vans yang tadinya berbicara langcar mendadak kaku dan tak bisa bicara.


"Ayo! Apa yang lagi lo sembunyiin dari kita!" ancam Exel dengan menyodorkan garpu ke arah Vans.


"Jangan bilang lo berubah karena mau mati!" sambung Tio.


"Nggak lah! Gila! Eh nggak tau juga sih. Tapi gue berubah bukan karena inget mati lah, lol." Jawab Vans sedikit kesal.


"Terus kenapa?" tanya ulang Johan.


Vans melirik temannya satu persatu untuk meyakini diri bahwa dia akan mengucapkan hal yang sudah lama ia pendam ini.


"Gue..," ucapnya masih dengan sedikit ragu.


"Nggak usah ragu lah, Sat! Ngomong aja!" ucap Reo geram. Semua langsung fokus kembali.


"Gue suka sama seseorang."


Semua langsung mengerutkan alisnya.


"Kenapa lagi?" tanya Vans lelah.

__ADS_1


"Keknya lo suka seseorang itu dah biasa dah." Ucap Tio.


"Nggak ada spesial - spesialnya lagi." Timbal Exel.


"Nyesel gue dengernya." Sambung Johan.


"Alasan clasic." Tajam Reo.


"Eh, Bangcat! Lo pada semua yang pengen tau! Pas udah tahu malah nggak peduli!" seru Vans yang tidak terima dengan perlakuan teman - temannya itu.


"Abis garing banget tau nggak!" protes Exel.


"Bener! Kayak kerupuk baru di goreng!" sambung Tio.


"Ya, kan beda bang Toyib! Sekarang gue suka sama orangnya yang baik - baik! Nggak ***** kayak manta - mantan gue!" bela Vans.


"Cih! Angin dari mana lo suka anak baik - baik." ledek Johan.


"Nih! Kanan gue." Jawab Vans sambil menunjukan matanya ke arah Reo yang sendari tadi sedang menyimak.


"Lah?! Lo suka sama si Rira?!" tanya Tio heboh.


Semua langsung memutar bola mata malas.


"Ya kagak dia nya ogeb!" seru Reo geram.


"Temennya." Jawab Vans santai.


^^^


"Aku yang bayar deh!" seru Rira yang kini sudah mengeluarkan dompetnya.


"Ih, apaan sih." Rira langsung menjauh dari Kani sebelum kesalah pahaman terlewat.


Kani yang melihatnya hanya terkekeh pelan sambil kembali ke posisi sebelumnya.


Ting!


Notif handphone Kani pun berbunyi.


Ia langsung melirik ke arah hpnya dan melihat ada pesan dari nomor yang tak dikenal.


"Siapa ini?" tanya Kani sendiri.


*"Save no gue." *


Kani semakin mengerutkan alisnya ketika melihat profil nomor itu adalah foto seseorang yang gelap alias seluet.


"Becanda ah."


Kani pun menyimpan handphonenya kembali tanpa berniat membalas atau mungkin menyimpan nomor seseorang yang tak ia kenal itu.


"Gue Vans. Anak kelas 12 ips 1."


Kani melirik kembali ponselnya dan melihat pesan terakhir yang baru saja diterima.


"Oh!! Si Vans toh!" hebohnya sendiri.

__ADS_1


Ia pun mulai mengetik pesan balasan.


"Oh, oke Kak."


"Kenapa si Kan? Heboh banget?" tanya Rira datang - datang.


"Heboh paan?" tanya balik Kani.


"Tadi kamu ngomong 'Oh!! Si Vans toh!!' itu kedenger sampai meja kasir loh!" seru Rira, Kani langsung membelakan matanya dan menutup mulutnya.


"Emang iya, Ra?!" tanya Kani panik.


"Nggak." Jawab Rira enteng.


"Ih! Ngeselin banget punya temen!" Kani langsung memukul Rira kesal.


"Haha! Abis mukanya kocak banget kayak baru dapet undian!" ejek Rira, Kani mendengus kesal. "Dapet apa sih?"


"Ini, kak Vans minta save back." Jawab Kani sambil mengotak atik handphonenya.


"Ohh."


"Udah beres bayarnya?" tanya Kani. Serira mengangguk.


"Yuk kerumah kamu dulu abis itu ke rumah aku." Ajak Kani, Serira pun mengangguk kembali dan ikut bangun dari duduknya.


^^^


"Hati - hati ya, Ra." Ucap Naya, ibu Serira.


"Iya, Ma. Rira berangkat dulu ya." Pamit Serira sambil mencium tangan ibunya.


"Kani juga, Tante." Ucap Kani yang ikut menyalami tangan Naya.


"Mo di anterin nggak?" tawar Leo yang baru saja keluar dari kamar.


"Mau lah!" terima Rira dengan seru.


"Yok." Ajak Leo yang jalan terlebih dahulu.


"Kita berangkat, Ma, assalammu`alaikum." Ucap Serira dengan Kani secara bersamaan.


"Wa`alaikumsalam."


^^^


"Terus gue jawab apa lagi?" tanya Vans ketika menuruti perintah teman - temannya untuk mengechat WhatsAppnya Kani.


"Cewek terlalu rumit." Ucap Exel. Semua pun mengangguk mantap.


"Dah lo diemin dulu buat saat ini. Kalo di lanjutin ntar dia jadi ilfeel." Saran Reo yang di setujui oleh teman - temannya.


"Bener, kasi dulu jede buat dia biar terbiasa dulu sekontak sama lo, jangan langsung gercep chatan." Saran Tio.


"Yaelah lo ngomong gitu kek udah punya pacar aja!" ejek Vans.


"Et! Jangan salah! Gue di tolak karena terlalu gercep Nyet!" ketus Exel, semua pun menertawakannya.

__ADS_1


"Oke kalau gitu gue kasi jeda sampai ujian gue selesai." Ucap Vans yang langsung di beri semagat oleh semuanya.


__ADS_2